
" Kapan lagi orang susah duduk di kursi beginian iya gak.. " ucap Ari santai membuat Leo menggeleng dengan ulahnya itu.
Ya, dengan lancangnya Ari mendudukkan dirinya di kursi kebesaran milik Shaw. Dia seberani ini sebab kesal dengan ulah kedua besan yang sudah mengerjainya habis-habisan.
Tidak ada yang menegur atau keberatan dengan perilaku lancang Ari yang kini berlagak seperti bos besar duduk memutar-mutar kursi kebesaran tersebut. Hanya Leo yang merasa jengah dengan kelakuan sohibnya. jelas Leo merasa tidak enak dengan Shaw yang notabennya adalah rekannya di dunia bisnis. Maka dari itu ingin sekali rasanya Leo menyeret Ari namun tercekal oleh Exel.
" Biarin aja, ribet lo.. " bisik Exel membuat Leo menghela napasnya pasrah. memang ada-ada saja kelakuan Ari yang terkesan norak itu, padahal jika dipikir sohibnya itu sama seperti dirinya yang merupakan anak dari kalangan atas.
derrrrtttt.. Panggilan masuk ke ponsel milik Exel, hingga Pria itu menyeringai setelah tahu siapa yang menelponnya.
" Bini lo nih telpon.. " ucapnya sambil menunjukkan ponsel ke arah Ari. sialnya sohibnya itu malah acuh memutar kursi hingga membelakanginya.
Seketika Exel menyunggingkan senyuman dan langsung mengangkat panggilan tersebut,
" Hi bie.. kenapa? " suara Exel terdengar lembut untuk lawan bicaranya di sebrang sana yang tak lain adalah Megan.
Exel bahkan mengabaikan kehadiran ayahnya juga mertuanya sendiri hanya untuk memanas-manasi Ari. dan sialnya lagi sohibnya itu masih cuek dan asyik dengan dunianya sendiri.
Sementara Leo, pria itu langsung menendang kaki Exel tepat dibagian tulang keringnya hingga sohibnya itu meringis. Bisa-bisanya Exel membuat candaan di hadapan orang tuanya, tidak lucu.
" si kermi pingsan... " ucap Megan tanpa basa-basi dan malas menanggapi bualan Exel.
di tempat duduknya Ari terkekeh pelan, dia tidak ingin tertipu lagi. Dia mengira jika itu hanya akal-akalan Megan dan Silvie untuk mendapat perhatiannya, ck.
" Ini lagi yang mau ngeprank kagak ngotak banget.. "
hening, tidak sahutan dari siapapun membuat Ari langsung memutar kursinya hingga mata pria itu membola sempurna.
" Wah sialan gue ditinggal... "
...*...
sementara ditempat lain, Megan tampak uring-uringan di depan ruangan dimana sahabatnya tengah ditangani. klinik terdekat dari tempat Silvie tak sadarkan diri.
" bisa kena omel si El nih.. " gumamnya sambil menggigit jari cemas. dia tahu betul bagaimana posesifnya seorang Exel jika mengenai keselamatan orang-orang yang disayanginya, apalagi ini istrinya sendiri.
tadi, ketika diperjalanan, pandangan Silvie tiba-tiba kabur saat membawa motor milik Megan. motorpun oleng seiring tak sadarkannya Silvie. dan Megan dengan reflek menurunkan kaki jenjangnya untuk menahan motor sekaligus tubuh Silvie, sayangnya tenaganya kurang sehingga keduanya terjatuh.
belum kering bibir Megan, dia dibuat terbelalak kala melihat kehadiran sosok yang ditakutkan akan mengomelinya itu.
" gila, pake bawa pasukan segala lagi.. " lirihnya gemetaran. melihat ayah dan mertua dari Silvie, membuat nyali Megan semakin menciut rasanya. apalagi melihat raut wajah dari mereka semua, betapa khawatirnya mereka dengan kondisi Silvie.
" lo gak papa kan bie..? " Sebuah lengan kekar menariknya dan membawa Megan ke dalam dekapan orang yang memiliki lengan kekar tersebut membuat Megan terkesiap dan semakin gugup.
" Lo gak papa kan..? " Ari, pria itu dengan cepat menghampiri Megan sebelum istrinya menjadi bahan amukan Exel sohibnya, sesuai dengan apa yang dibayangkannya tadi. Dia melupakan bahwasanya keduanya tengah saling mendiamkan satu sama lain, yang terpenting sekarang Ari harus menenangkan kepanikan istrinya itu.
__ADS_1
Megan menggeleng di dekapan Ari, mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja dan suaminya itu tidak perlu mengkhawatirkannya.
Bagaimanapun juga Ari seorang suami yang peka, ya walaupun terkadang menyebalkan, namun kali ini pria itu bisa merasakan bagaimana panik dan juga ketakutannya istrinya itu.
" Gak papa, gue yang maju kalo si El marahin lo.. " bisiknya sambil mengusap-usap punggung Megan agar istrinya itu merasakan ketenangan.
" Woah, ayahnya Ray punya kekuatan teleportasi.. cepet banget lo nyampenya.. " celetuk Grace yang sudah tiba disana bersama yang lainnya. Dia jelas heran mengapa Ari lebih dulu sampai dari pada mereka, mengingat tadi pria itu masih tampak mengomel kala yang lainnya pergi dari dari ruang kerja Shaw.
Ari sama sekali tidak minat menyahuti Grace, dia malah menatap Exel sohibnya penuh ancaman dan menyembunyikan Megan di balik punggungnya.
Melihat itu, Exel malah menggeleng terkekeh pelan.
" Cih, emangnya elo siapa aja lo sabet lo omelin.. " ucapnya pada Ari yang terlihat berusaha melindungi Megan. Exel seolah tahu apa arti tatapan dari Ari, itu sebabnya Dia bisa berucap demikian.
" Keluarga pasien..? " seorang Dokter tiba-tiba keluar dari ruangan Silvie membuat atensi yang lainnya mengarah ke sana, tak terkecuali Exel yang langsung mendekati dokter tersebut.
" Saya suaminya dok.. " ucap Exel kepada dokter tersebut, tetapi tatapan tajamnya menyoroti ayah dan mertuanya yang baru saja hendak membuka suara bahwa mereka keluarga pasien. ck enak saja mereka mendahuluinya.
Exel kemudian segera masuk ke dalam ruangan Silvie untuk melihat keadaannya dan diikuti Shaw dan juga Berwin.
Setelah kepergian tiga orang tersebut, Aripun lantas melepaskan dekapannya buru-buru sebab mungkin Megan sudah tidak membutuhkannya lagi, mengingat tidak ada kemarahan dari Exel untuk istrinya itu.
" mau kemana lo..? " tiba-tiba saja Megan menarik kerah jaket Ari yang hendak pergi dari sana.
" Mau balik lah, ngapain lama-lama disini, nyembuhin si kermi juga gak bisa, lagian ada laki ama bokapnya, mertuanya juga malah.. " sahut Ari sewot dan melepaskan tangan Megan dengan kasarnya hingga membuat istrinya itu mendengus kesal.
" Lo bawa motor sendiri kan, lagian lo gak kenapa kenapa juga kan..? "
dengan santainya Megan melepaskan jaket yang dikenakannya dan menyingkap kaosnya membuat Ari langsung melotot sempurna.
" Lo liat, nih.. nih.. nih.. " Megan menunjukkan beberapa luka lecet di tubuhnya terkecuali di kakinya mengingat Ia mengenakan celana jeans sehingga susah untuk memperlihatkannya.
" ck, motor gak papa..? " celetuk Ari sok tak peduli, padahal dia sempat melirik Leo takut-takut sohibnya itu melihat aurat istrinya. Beruntung sekali Leo langsung memalingkan wajahnya ke sembarang arah hingga membuat Ari merasa lega.
" Sialan lo malah nanyain motor, palanya ampir putus noh.. " timpal Megan kesal membuat Grace dan Leo menggeleng terkekeh.
" Obatin dulu luka lo Me, lo ngerasa gak papa karna emang masih baal aja.. " Grace ikut menimpali di tengah-tengah perdebatan sahabatnya itu.
" Lah ini sakit.. " sahut Megan tiba-tiba merengek membuat Ari memutar bola matanya jengah.
Kemudian tanpa babibu lagi Ari menggendong Megan ala bridal style dan pergi menuju ruangan penanganan lainnya.
Sementara Leo dan Grace masih menggeleng terkekeh melihat tingkah dua manusia itu, sampai pandangan mereka tak sengaja bertemu.
" Apa, mau di gendong juga...? " tawar Leo percaya diri sekali membuat Grace mendelik sebal.
__ADS_1
" Gue masih ngambek sama lo yah.. " sahut Grace ketus namun sukses membuat Leo tergelak, ada-ada saja ngambek ko bilang-bilang.
" kalo mau ngambek sama Tuan takur sono, sekalian sama om Berwin si biang kerok.. "
" Bodo amet, lo juga sama aja ngeselin.. "
" Tapi ngangenin.. "
" idih pedegile.. "
Sementara di dalam ruangan Silvie, kini Exel menangis haru. bagaimana tidak, rupanya Dia di percaya kembali oleh Sang Pencipta yang menitipkan malaikat kecil didalam perut istrinya. Ya, rupanya Silvie tengah mengandung, dan setelah kecelakaan tadi keberuntungan masih memihak istrinya, Silvie terlihat baik-baik saja. tentu saja, karena Megan sudah pasang badan untuk sahabatnya itu.
" Kita beneran mau punya anak bang..? " tanya Silvie seolah tidak percaya. pasalnya Dia tahu betul dengan kondisi rahimnya yang akan sulit untuk kembali mengandung setelah dirinya dulu keguguran.
Exel mengangguk mengiyakan, Dia meyakinkan agar istrinya itu percaya akan keajaiban.
" ini anugrah dari Tuhan, kita harus menjaganya dengan baik sayang.. "
sontak saja Silvie langsung menjerit histeris membuat dua pria tua langsung beringsut panik.
" Abang panggil Silvie sayang? "
" Cih... " celetuk Shaw dan Berwin dengan kompak.
teriakkan histerisnya Silvie sampai terdengar keluar hingga membuat Grace dan Leo yang masih berdebat itu langsung masuk kedalam dengan wajah mereka yang panik.
" Ada apa..? Lo kenapa Sil..? " tanya Grace ngos-ngosan.
" gue hamil Grace.. " sahut Silvie sedikit berdusta, jelas saja Ia tidak akan memberitahu pasal panggilan Exel barusan. yang ada dia jadi bahan bullyan sahabatnya.
" selamat ya Sil.. " tiba-tiba saja Grace menangis haru dan membawa Silvie ke dalam pelukannya. Dia jelas ikut bahagia jika akhirnya sahabatnya dipercaya kembali mencari seorang ibu.
sementara Leo dia memberi selamat dengan mengusap bahu Exel penuh bangga.
" gimana kalo kalian tinggal lagi sama kita, biar mamimu jagain Silvie El.. " celetuk Berwin di angguki setuju oleh Shaw, keduanya tentu tidak ingin kejadian buruk terulang kembali kepada Silvie.
" iya bener, sekalian kau kerja lagi di perusahaan papi.. " timpal Shaw di balas anggukan oleh Berwin.
tau ekspresi Exel bagaimana? yaps, dia menyunggingkan salahsatu sudut bibir atasnya. bagaimana bisa mereka dengan mudahnya memberi penawaran setelah dirinya hampir kehilangan akal sehat akibat ulah mereka berdua.
" no, biarin El jaga Silvie sendiri, biarin El ngidupin istri El dari keringet El sendiri.. "
Oke, kita lihat saja bagaimana cara Exel memperlakukan Silvie nantinya. dan untuk Silvie, bersiap-siaplah menghadapi kegilaan seorang Exel yang akan lebih posesif terhadapnya.
" lo mau dicebokin pake soda juga si El bakal jabanin Sil.. "
__ADS_1
" bacottt... "