Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 80


__ADS_3

GRIMES HIGH GEAR.. nama bengkel besar yang kini berpindah kepemilikan sekaligus pengelola atas nama Grace Permata Puri.


Hadiah anniversary pernikahan dari Leo yang terkesan sederhana namun tidak bagi Grace si pecinta otomotif itu, menerima dengan suka hati nan penuh ucap syukur.


Bengkel yang memperkerjakan para mantan narapidana dan juga pekerja yang hanya lulusan pendidikan rendah, tetapi mampu membawa kemajuan bengkel tersebut semakin berkembang dengan pesat.


ya itulah kelebihan Leonard, yang merintis sendiri usaha dengan merangkul beberapa orang yang sulit mendapat pekerjaan dengan status mereka.


kehadiran Grace di sana malah semakin membuat bengkel tersebut semakin maju, terbukti dengan semakin banyaknya pelanggan tetap yang menyukai hasil modifikasi khusus dari tangan Grace.


kecintaannya terhadap dunia otomotif membuatnya terlihat berguna bukan..?


GRIMES HIGH GEAR, di sinilah saat ini Grace berada, dengan setelan wearpack yang menutupi tubuhnya.


Grace memang lebih suka terjun langsung mengerjakan pekerjaan yang seharusnya para montir lakukan.


hobi, alasannya yang kuat jika para montir mencegahnya terlebih Leo sendiri membiarkan Grace melakukan hal tersebut. biarkan saja memang dia keras kepala, begitulah kiranya ucapan Leo yang membuat para montir mengangguk patuh.


Grace yang terlihat sedang sibuk dengan pasiennya, tiba-tiba di kejutkan dengan kehadiran seseorang di sana,


" hey.. ternyata lo kerja di sini..?"


" eh.. kak Aldo, iya kak gue kerja disini.."


sahut Grace begitu enteng seraya mengelap tangannya yang penuh noda oli, sementara montir lain menggeleng menahan tawa. sudah biasa memang bos mereka itu merendah.


" oh.. pantes lo ogah gabung di BEM, sibuk ternyata.." ucap Aldo mangut-mangut.


" ya begitulah.. oh ya, motor lo bermasalah kak..?" ucap Grace menebak akan urusan Aldo disana.


" eh iya.. kayaknya ada problem, tarikannya gak enak.." timpal Aldo seraya menepuk motornya.


" hmm.. bentar biar gue liat.." ucap Grace antusias memeriksa motor milik Aldo,


selang berapa menit Grace mampu menemukan penyakit motor tersebut,


" lo baru naek kelas ya..?"


tanya Grace disusul kekehan membuat Aldo kikuk menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal,


" ini lo asal geber.. " lanjut Grace, sementara Aldo hanya mangut-mangut,


" iya gue masih awam kalo masalah moge.." timpal Aldo santai seraya memperhatikan Grace yang sibuk dengan motornya,


" hemm.. lo ini latah tren.." sahut Grace enteng mengejek seniornya,


" iya deh yang maha tau seputar moge, lupa gue kalo montir cantik di hadapan gue ketua.."


" sotoy lo.. mereka langganan bengkel ini, ya sekaligus temen gue juga sih.." kilah Grace memotong ucapan Aldo.


" kalo gitu, boleh dong gue jadi temen lo, kan gue udah jadi pelanggan di sini."


timpal Aldo sumringah. duh cewek mana sih yang tidak tertarik dengan pangeran kampus yang satu ini. Grace jawabannya, Ia sama sekali tidak pernah tertarik sama sekali dengan cowok lain sebelum dan sesudah mengenal Leo di kehidupannya.


...----------------...


sementara di tempat lain yakni di kedai milik Ari, ketiga sohib tengah berbincang seraya menyantap makanan di sana.


Leo baru saja menerima pesan berupa poto Grace yang terlihat akrab dengan seorang pria asing,


" lo pada tau gak ini cowok siapa..?" tanya Leo seraya menyodorkan ponsel pada kedua sohibnya.


Keduanya mengerutkan dahi mencoba mengingat siapa yang di maksud oleh Leo,


" elah.. itu presma si Aldo.. lo pada pikun apa..?" sahut Ari bangga sebab berhasil mengingat seseorang.


" ck.. ngapain gue nginget orang yang gak penting.." timpal Exel dingin di angguki Leo setuju.


" ngapain tuh cowok kesana..?" ucap Leo dengan nada kesal,


" mau jajan seblak.." sahut Ari santai langsung mendapat toyoran dari kedua sohibnya.


" maksud gue selain nyervis motor, tujuan tuh cowok apaan..?" timpal Leo geram,


" yak paling mau deketin bini lo.. kalo gak bujuk dia buat gabung di BEM.." sahut Ari santai.


" wajar sih, bini lo cakep.. eits santai dong bro.." ucap Ari terjeda taklala mendapat tatapan tajam dari Leo.


" ck.. gak puas apa udah di di tolak.." gumam Leo.


" tau si Megan juga bilang tuh cowok ngajak mulu buat gabung di BEM, kurang anggota kali ya.." sahut Ari dengan nada bercanda.


" hmm.. iya kali, kita aja yang udah nolak mentah-mentah masih di ajak.." timpal Leo.


" lo berdua malah ributin si Aldo, aturan lo pada mikirin orang yang ngirim poto itu, maksudnya apa..?"


sahut Exel dengan nada serius dan malah mendapat tanggapan gelak tawa dari kedua sohibnya.


" lah bego.. pasti fans alay lah.. secara sohib gue satu ini banyak peminat, yagaya.."


timpal Ari cengengesan tanpa dosa di angguki Leo yang terkekeh menepuk dada bangga.


sementara Exel mendengus kesal,


" ck.. blagu.."

__ADS_1


🍏🍏🍏🍏


Hari sudah gelap bertepatan dengan tutupnya beberapa ruko tak terkecuali bengkel milik Grace,


" nih.. buat abang-abang jajan.. gue tau lo pada bosen makan di kafe sebelah.. "


Grace menyodorkan uang komisi atau tips yang di dapat hari ini dari pelanggan untuknya.


" ini haknya si bos.." ucap Romi salah satu montirnya,


" gak papa buat lo pada hangout.."timpal Grace santai.


" tapi ini kebanyakan bos.." sahut Romi di angguki yang lainnya.


" udah gak papa.. gue megang konci shock hari ini aja udah seneng.. udah sono pada seneng-seneng.."


" si bos gak papa di tinggal sendiri..?" tanya Romi kembali yang sudah pasti tau jawabannya.


" hemm.. thanks.. buat loyalitas kalian.." sahut Grace tersenyum ramah.


" sama-sama boss.. kita juga makasih buat kebaikan si bos.." sahut Romi di angguki yang lainnya.


" udah sono cabut.. keburu tuan Leonard dateng.." sahut Grace sok ngusir dengan mengibaskan tangannya.


🍷🍷


penampilan Grace sudah rapih kembali setelah membersihkan dirinya, karena malas meladeni ocehan dari Leo nantinya.


" sial.. pake mati lampu segala.." gumam Grace kesal karena suasana tiba-tiba gelap.


Grace melangkah keluar dari ruangan kerjanya di bantu cahaya dari ponselnya untuk menerangi langkahnya.


krek..krek..


suara gesekan benda pada rollingdor yang sudah menutup itu membuat Grace terkesiap.


jujur, Grace sedikit takut dengan suara tersebut secara hanya ada dirinya di sana.


" Leo.. lo di sana kan.. bercanda lo gak lucu.." umpat Grace sok kesal padahal panik bukan main.


Grace terus melangkah mencari saklar lampu, dan Ia berhasil menemukannya hingga ruangan tersebut langsung terang kembali.


tetapi tiba-tiba Grace di kejutkan dengan kehadiran tiga orang misterius yang penampilannya tertutup. dan Grace menyimpulkan bahwa mereka adalah komplotan perampok.


" mau apa kalian..?" tanyanya dengan gugup sebab mereka menghampiri Grace hingga tersudut.


alih-alih mendapat jawaban dari ketiganya, Grace malah mendapat serangan langsung dari mereka.


" pengecut lo semua.. beraninya keroyokan.." umpat Grace dengan berteriak membalas serangan dari mereka. sementara ketiganya membabi buta menyerang Grace tanpa mengeluarkan sepatah kata.


brugg..brugg..brugg.. satu dua tiga tumbang ditangan Grace membuat keadaan bengkel semakin berantakan.


" cabut.." perintah salah satu dari mereka tentunya sambil meringis kesakitan.


sementara Grace menyeringai walaupun bibirnya terluka juga pergelangan tangannya yang cedera akibat pelintiran keras dari mereka, tetapi Ia masih bisa menyunggingkan senyuman.


betapa lemahnya lawan yang berada di hadapannya sekarang.


satu yang membuat mereka kalah, yakni tendangan maut Grace.


" tapi kita belum bikin tangannya patah.."


" iya bos.. mukanya aja belum hancur.." sahut teman yang lainnya membuat Grace membola sebab asumsinya salah.


" siapa yang udah nyuruh kalian buat celakain gue..?"


tanya Grace geram seraya mencengkram kerah salah satu dari mereka. sayang sekali, mereka hanya bisa menggelengkan kepala.


" jawab bangsat..!!! atau gue patahin leher lo.." umpat Grace geram yang tangannya beralih pada leher orang tersebut.


wiuwww.. 🚓🚓🚔🚓


suara sirine polisi membuat Grace yang hendak membuka topeng dan mematahkan leher orang tersebut langsung terkejut sekaligus lengah,


bugghh.. satu tendangan membuat Grace tersungkur dan ketiganya langsung berlari terbirit-birit.


" woyy.. jangan lari lo.." umpat Grace turut lari keluar hendak mengejar mereka.


sialnya mereke menghilang begitu cepat dan suara sirine polisipun tak di dapatinya.


" Grace lo gak papa kan..?" tanya seseorang dengan raut khawatir menghampiri Grace yang ngosngosan.


" gue gak papa.. lo ngapain kesini lagi..? jangan bilang kalo suara sirine polisi itu ulah lo..?" tanya Grace penuh selidik.


" eh.. sorry, gue mau bantuin lo barusan.. tapi gue gak jago berantem .." ucap Aldo kikuk, aibnya sebagai presma sekaligus pangeran kampus di ketahui Grace saat ini.


" hah.. ide konyol lo udah ngalangin gue buat matahin leher mereka.."


sahut Grace ketus merasa belum puas karena sedikit lagi Ia mengetahui siapa dalang di balik semua ini.


" cih.. cantik-cantik judes.. bukannya bilang makasih udah gue tolongin.." timpal Aldo tak kalah ketusnya.


" ck.. nolongin tuh harusnya ikut terjun habisin mereka.. baru itu gentleman.. btw.. lo balik kesini mau ngapain..?"


" tadinya gue mau.."

__ADS_1


" Grace.. lo gak papa..?" tanya Leo menjeda penjelasan Aldo.


Leo datang bersama kedua sohibnya juga sebagian anggotanya.


" menurut lo..?" sahut Grace kesal karena Leo terlambat menemuinya, padahal Ia sudah menghubungi Leo dengan tombol darurat tepat saat kedatangan tiga pria misterius tadi.


" sorry.. gue gak sempet buka hape, tadi ke rumah dulu, cio demam abis imunisasi.." gumam Leo yang langsung memeluk Grace.


Lucio, alasan Grace kini bisa mengangguk paham.


Leo meraih wajah Grace yang terdapat luka itu, " terus penjahatnya mana sekarang..?" tanya Leo yang wajahnya berubah geram.


" mereka kabur gara-gara gue.." sahut Aldo membuat Leo dan yang lainnya menoleh ke arahnya.


" eh.. thanks ya bang.." ucap Ari mengurai ketegangan pada wajah kedua sohibnya.


" iya gara-gara dia.. gue gak bisa patahin leher tuh orang.."


Grace mengadu pada Leo tentang kejadian barusan termasuk aksi Aldo yang katanya heroik itu dengan berceloteh lantang bak anak kecil yang selamat dari penculikan membuat yang lainnya terkekeh.


" konyolkan..?" lanjut Grace enteng menunjuk Aldo dengan dagunya.


" udah.. yang penting lo selamet.." ujar Leo menenangkan Grace yang pasti belum puas itu.


" ya Grace.. kita semua tau lo mampu ngelawan sendiri.." sahut Exel tersenyum meremehkan saat lirikannya tertuju pada Aldo.


" yoi.. suhu di lawan.." celetuk salah satu anggota di angguki setuju oleh anggota lainnya.


" ya tapi gue belum puas kalo mereka belum mampus.." sahut Grace geram langsung terbungkam oleh jari Leo yang terletak di bibirnya.


" shutt.. cio butuh lo.." bisiknya lembut membuat Grace mengangguk.


" oke semuanya bisa balik.. lo bedua mampir dulu ke rumah.. dan buat lo bang, gue ucapin makasih banyak.." ucap Leo di angguki semua.


" walaupun telat.." sarkas Exel yang kembali melirik Aldo.


" bego.. kita juga telat.." sahut Ari kesal sebab merasa Exel tertular Silvie dengan kejulitannya.


semuanya sudah bubar meninggalkan Grace bersama Leo cs,


" Le.." panggil Grace.


" hmm kenapa.."


" gendong.." ucap Grace dengan manja membuat kedua sohib memalingkan wajahnya terutama Ari yang berlagak ingin muntah.


Leopun dengan senang hati menggendong Grace menuju mobilnya.


" bagian mana aja yang kena sama perampok tadi..?" tanya Leo yang kini duduk di bangku belakang bersama Grace.


" no.. mereka bukan perampok.. mereka sengaja mau nyerang gue, dan lo tau? mereka mau bikin wajah gue rusak.." ujar Grace antusias membuka suara.


" mau ngerampok gimana, mereka salah tempat dan korban.."


celetuk Exel dari depan, jelas Ia tahu bahwa tadi bukan aksi perampokan karena walaupun keadaan bengkel berantakan, tetapi tidak ada barang yang hilang.


hanya saja baik Exel maupun yang lainnya hanya ingin Grace tidak terlalu panik.


" terus mana yang sakit sekarang.." sahut Leo mengalihkan.


" ini.." jawab Grace ketus mengangkat kedua tangannya yang cedera.


" ck.. itu karma karna lo udah dosa sama suami.." sahut Leo enteng membuat kedua sohibnya menggeleng terkekeh.


" nyebelin, bukannya kasih apresiasi kek, muji kek.. aturan gue naik sabuk ini, tangan gue cedera aja masih bisa lawan mereka..." timpal Grace mendelik.


" naik kemana lagi sih Grace.. lo hebat gak ada duanya.." sahut Exel terkekeh.


" naik ke atas ranjang kali El.." sahut Ari cengengesan.


bukan tanpa alasan ketiga sohib tersebut bergurau terdengar menyebalkan bagi Grace, mereka tidak ingin Grace trauma atas kejadian tadi, ya.. walaupun mereka tau Grace kuat, tetap siapa yang tau akan mentalnya.


...*****...


malam semakin larut hingga kedua sohib pamit pulang.


nihil, hasil penyelidikan mereka nihil karena cctv bengkel maupun area tersebut sengaja di retas.


" gak usah lebay deh.. dua orang aja cukup Le.."


protes Grace pada Leo yang hendak mengerahkan seluruh anggota untuk mengawalnya.


" okeh.. lima orang, kalo gak gue bakalan cabut kebebasan lo.."


sahut Leo dengan tegas membuat Grace kalah telak apalagi mulai sekarang Ia membutuhkan Leo untuk mengerjakan pekerjaan intimnya karena tangannya cedera.


" gak usah cemberut gitu.. udah sekarang lo istirahat, keburu gue hilap.." ucap Leo mengacak gemas rambut Grace.


...----------------...


Grace terbangun di waktu dini hari, napasnya tersengal karena baru saja mengalami mimpi buruk lagi mengenai keselamatan keluarganya.


ting..


pesan masuk lagi-lagi dari nomor yang tak di kenal melampirkan sebuah poto membuatnya terbelalak mengumpat kesal.

__ADS_1


****ini baru permulaan****..


__ADS_2