Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 58


__ADS_3

Terbitnya matahari yang masih malu-malu tetap memberikan energi.


sengaja Grace bangun dari tidurnya di waktu tersebut untuk segera pergi sebelum Leo bangun dari tidurnya.


sejenak Grace terpaku saat melihat Leo masih terlelap di sofa ruang TV yang berada di dekat kamar dimana dirinya tidur semalam.


Grace melangkah dengan pelan menghampiri Leo untuk mengusap lembut rambutnya sebelum pergi.


Cup.. satu kecupan di kening Leo.


"Sorry.. " lirihnya.


Alarm berdering di ponsel Leo membuatnya terbangun. Ia menggeliat penuh semangat sebab orang yang selalu di rindukannya berada di sana.


matanya menyipit melihat pintu kamar Grace terbuka lebar membuat


Leo segera mencari keberadaan Grace di sana dan hasilnya nihil.


kemudian bergegas menuju garasi untuk mengecek mobil Grace namun tak Ia dapati.


"Agrhh.. " Leo mengacak rambut kasar merasa frustasi sebab rasa bersalah serta penyesalan kembali menghantuinya.


Leopun bersiap untuk bersekolah setelah sebelumnya menelpon Exel untuk menjemputnya mengingat mobilnya ditinggal disekolah.


Exelpun datang menjemputnya.


Exel menatap iba Sohibnya yang terlihat kacau, terlebih Leo selalu kurang tidur sejak bermasalah dengan Grace. begitupun dengan asupan makanan yang kurang membuat berat badannya turun drastis.


dan untuk itu seorang Exel berusaha mencukupi asupan untuk Sohibnya, apapun caranya Exel lakukan demi Leo.


Exel pikir rencana yang dilakukannya kemarin berhasil, tapi nyatanya Ia harus ekstra berusaha keras untuk menyatukan mereka.


Exel sendiri mulai paham dengan sifat Grace yang keras kepala membuatnya harus bersabar. begitupun dengan Leo yang dinilainya lamban, itulah mengapa dirinya harus turun tangan di tengah masalah rumah tangga sohibnya, mengingat orangtua Leo enggan membantu.


"Bini lo cabut kapan..? " tanya Exel seraya memberikan helm pada Leo.


Leo hanya menggeleng sebab tidak tahu dan saat menanyakan kepada Lilispun sama tidak tahunya, malah Lilis sendiri tidak mengetahui jika semalam Leo membawa Grace pulang.


"Jangan nyerah Le.. " ucap Exel seraya melajukan motornya.


Sepanjang perjalanan Leo hanya terdiam memikirkan nasib percintaannya bersama Grace yang sama sekali tidak ada kemajuan.


Leo sudah berusaha untuk meraih kembali cinta Grace yang tak kunjung di sambutnya.


Menggapai hati Grace kembali tak semudah dahulu ketika mereka belum mengenal satu sama lain, dengan mudahnya Grace menyatakan perasaan cinta untuknya.


Dirinya tak menyangka jika kesalahpahaman membuatnya harus berjauhan dengan Istri yang sangat dicintainya.


Rasa rindu untuk membelai rambutnya terobati walau hanya sekejap namun begitu berkesan bagi dirinya saat ini.


Iapun menyadari telah menancapkan duri yang sangat tajam di hati Grace membuatnya terluka tiada obatnya.


Setibanya di sekolah, Exel di buat heran oleh Leo yang tak kunjung turun dari motornya.


"Kenapa Le..? " tanyanya membuyarkan lamunan Leo.


Namun Leo hanya menggelengkan kepala seraya turun dari motornya.


Exel menyipitkan matanya saat Leo membuka helmnya,


"Lo abis nangis ..? " tanyanya dengan cemas.


"Kelilipan.. " timpal Leo membuang mukanya.


"ck.. pake helm fullface bisa kelilipan.." gumam Exel menggeleng mengikuti langkah Leo.


"El.. Gimana ponakan kita..? Sehat kan? " tanya Ari penuh semangat menghampiri keduanya.


"Gue bapaknya.. " timpal Leo ketus membuat kedua sohibnya terkekeh.


"Iya dah.. Gimana anak lo sehat kan? " tanya Ari kembali.


Leopun mengangguk mengulas senyuman membayangkan hari kemarin dimana dirinya bisa mendengar detak jantung sang buah hati,


"Anak gue sehat, kuat sekuat Ibunya.. " ucapnya dengan bangga.


"Syukur dah.. Sekarang papinya mau apa..? Ada uncle Ari yang selalu siap jabanin.. "


ucap Ari menepuk dadanya bangga.


"Ehem.. Nyolong mangga lagi mau gak uncle..? " goda Exel membuat Ari bergidik


" enggak kan Le.. ? Lo gak mau nyuruh gue buat nyolong.. "


ucap Ari memelas membuat Exel terkekeh menoyornya.


"Gue yang mau nyolong.. " timpal Leo santai membuat Ari melongo membayangkan kejadian sial yang pernah menimpanya.


"Lo jangan gila Le, mau masuk bui..? Malu-maluin aja lo, bos bengkel anak Sultan kena kasus pencurian.. "


timpal Ari nyerocos tanpa jeda, sementara Exel semakin terkekeh melihat kepanikan di wajah Ari.


"Gue mau nyolong hati istri gue.. " ucap Leo ketus melengos meninggalkan keduanya.


"Anying.. Garing banget lo.. " teriak Ari tak terima dengan lelucon sohibnya sebab telah membuatnya panik.


Grace tengah asyik membaca buku di kelasnya, sementara kedua sahabatnya asyik dengan ponselnya masing-masing.


Silvie menyikut Megan saat melihat Leo masuk kedalam kelasnya.


"Grace.. Suit.. Suit.. " panggil Silvie pelan melemparkan penghapus ke arah Grace.


"Hmm.. "


Grace masih asyik dengan bukunya tak menyadari jika Leo sudah duduk disampingnya.


"Sayang.. " Leo mengusap pelan perut Grace membuatnya terhenyak dan langsung menepis tangan Leo.


"Makasih buat nasi gorengnya.. " ucap Leo pelan seraya memandang wajah Grace, namun yang di tatap memalingkan wajahnya dan tak menyahuti.

__ADS_1


"Ini vitaminnya ketinggalan.. "


Leo menyodorkan kantong kecil berisi beberapa obat untuk kandungan Grace yang di dapatnya kemarin.


Grace menyambar kasar kantong tersebut dari tangan Leo seraya bangkit untuk pindah duduk menjauh dari Leo.


Leo hanya bisa menghela napas mengelus dada mencoba bersabar menghadapi Grace, memang salahnya lah Grace bersikap seperti itu.


Leopun segera keluar merasa tidak enak sebab semua teman sekelas Grace sedari tadi memperhatikan keduanya dan juga bertepatan dengan bunyi bel tanda pelajaran akan segera di mulai.


"apa gak ada kesempatan lagi buat gue grace..? " batinnya saat menoleh kearah Grace.


semua teman sekelas Grace menatap iba Leo yang berlenggang keluar dengan lemas, terlebih kedua sahabat Grace yang merasa gagal membujuk dan mengingatkan Grace untuk menerima Leo kembali.


...****************...


Sepanjang jam pelajaran Leo tidak fokus dengan penjelasan Guru di depan, Guru memanggilnya pun tak di hiraukan.


"Leonard.. Silahkan keluar dan rapikan semua buku di perpustakaan.." titah sang guru setengah berteriak membuyarkan lamunan Leo.


Leopun mengangguk segera bangkit dari duduknya, namun bukan hanya dirinya yang berdiri melainkan kedua sohibnya ikut berdiri berniat menemaninya menjalani hukuman.


Leo yang mengerti akan maksud kedua sohibnya, menggeleng menatap sendu kearah keduanya mengisyaratkan jika dirinya tidak perlu ditemani.


dengan ragu keduanya pun kembali duduk menuruti keinginan Leo. tetapi keduanya setia memperhatikan kepergian Leo sampai benar-benar jauh dari pandangan mereka.


Sementara di kelas lain, sama halnya dengan Leo, Grace juga mendapatkan hukuman dari guru sebab mendapati dirinya tertidur saat pelajaran berlangsung, hukuman yang didapatnya pun sama seperti Leo, yakni merapikan buku di perpustakaan.


____


Leo menghela napas panjang setelah selesai merapikan satu rak buku sebab dirinya merasa lelah.


Iapun memutuskan duduk sejenak untuk beristirahat sampai tak sadar dirinya terlelap.


Tak lama Grace masuk kedalam perpustakaan tersebut,


seketika dirinya diam mematung saat mendapati Leo di sana tengah duduk dengan kepala yang bertumpu di meja baca.


Gracepun memulai merapikan buku-buku di rak lainnya tanpa memperdulikan kehadiran Leo.


Merasa ada seseorang selain dirinya, Leo membuka mata perlahan, Ia terkejut mendapati Grace tengah sibuk merapikan buku di rak paling atas dengan menaiki tangga.


Iapun menghampirinya dengan penuh rasa khawatir.


"Sayang.. "


Grace tersentak membuatnya hilang keseimbangan, beruntung dengan sigap Leo menangkap tubuhnya.


jantung keduanya berdetak tak beraturan saat kedua pasang mata saling bertemu dan menatap.


Grace buru-buru menepis tangan Leo yang mendekapnya,


"Sayang.. gapapa? " tanya Leo pelan mencoba meraih tangan Grace, namun Grace dengan cepat menepisnya


"Sayang duduk aja.. Gak usah dilanjutin.. " ucap Leo seraya melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.


"Gak usah sok peduli lo, jangan mentang-mentang kemarin lo nemenin gue ke dokter bisa seenaknya lo..


Jangan lo harap gue mau balik lagi sama lo.. "


ucap Grace dengan lantang menatap tajam ke arah Leo membuat aktivitasnya terhenti.


Leo terdiam menunduk tak mampu menyahuti, tetapi matanya mulai merah menahan sesuatu ingin keluar.


Brakkk..


Grace membanting pintu dengan keras saat keluar meniggalkan Leo seorang diri.


Leo tersentak dengan tingkah Grace tersebut, membuat tubuhnya seketika bergetar lunglai dan kakinya sudah tidak dapat menopang lagi.


Leo terduduk lemas bersandar di rak buku seraya menundukkan kepala tak mampu lagi menahan air matanya yang keluar tanpa aba-aba.


"Sebenci itu lo sama gue Grace.. "


Leo menangis sesenggukan tak perduli jika ada orang yang melihatnya saat ini.


Saat ini Leo terlihat begitu lemah nyaris menyerah, usaha yang selama ini untuk meraih kembali cinta Grace terasa hanya sia-sia.


🍃🍃🍃


Saat waktu istirahat Grace asyik berbincang melempar candaan di kantin bersama kedua sahabatnya sambil menyantap makan siangnya tanpa beban dan dosa yang di perbuatannya tadi terhadap Leo suaminya.


Sementara disudut kantin kedua sohib mencoba membujuk Leo yang terlihat kacau untuk segera makan.


"Le.. dimakan dong, dari tadi lo anggurin.. "


ucap Exel menatap tak tega dengan sohibnya, tetapi Leo terus saja menggeleng menolak.


"Lo mau makan apa Le..? biar gue cariin.. Lo mau mangga..? Gapapa dah gue nyolong.. "


Ari sama tak teganya mencoba untuk menghibur Leo, namun lagi-lagi Leo menggeleng menolak.


Exel menghela napas mencoba sabar menghadapi Leo, Iapun terus berusaha menyuapi Leo, masa bodoh dengan keadaan sekitarnya.


"Lo harus makan Le.. Lo harus punya tenaga, gimana mau lindungin anak istri lo kalo lo lemah kayak gini.. "


ucapnya lembut seraya menyodorkan sendok di mulut Leo.


mendengar itu, akhirnya Leo mau membuka mulutnya dan menerima suapan dari Exel.


Exel dengan semangat dan antusias terus menyuapi Leo, Ia merasa lega setidaknya dirinya berhasil memberi asupan untuk sohibnya itu.


sementara Ari menahan tawanya melihat pemandangan di hadapannya, ngin sekali Ari mengejek kedua sohibnya yang terlihat romantis, namun merasa bukan waktu yang tepat. Ia sendiri merasa lega sebab Leo mau menyantap makannya.


"Apa gak ada lagi harapan buat gue..? "


ucap Leo dengan lirih seraya menunduk.


"Lo harus terus berusaha Le.. Kita ada buat lo.. "

__ADS_1


timpal Ari menepuk bahu Leo, sementara Exel mencoba menyuapi nya kembali.


"Kenapa begitu sulit buat gue dapetin hatinya lagi.. Dia sama sekali gak mau maapin gue.. "


Leo mulai terisak.


" Lo gak boleh nyerah Le, gue yakin dia mau nerima lo lagi, lo hanya perlu berusaha lebih keras"


ucap Exel menyeka airmatanya.


"Gue gak berharga dimatanya.." Leo kembali menunduk lemas.


Ari menghela napas, merasa tak ingin adegan sekarang berkelanjutan sebab Ari tak ingin kedua sohibnya terlihat lemah jauh dari kesan cool,


"Sabar Le, Kita berdua ada buat lo.. Lo catat itu.. "


Ucapnya dengan serius menepuk kembali bahu Leo.


Leo menggeleng, "Gue udah buang waktu kalian buat ngurusin gue.. " ucapnya dengan lirih.


Sementara Exel dan Ari menggeleng kompak tak setuju dengan ucapannya,


"Lo itu prioritas buat kita Le.. mereka juga ngerti.. " ucap Exel meyakinkan di angguki Ari.


Leo menatap keduanya dengan nanar secara bergantian,


"Thanks.. Lo berdua selalu ada buat gue.. Sorry gue selalu jadi beban kalian.."


"Yaelah Le.. Lo kayak baru kenal kita aja, dari kecil kita udah terbiasa berbagi suka maupun duka.. "


timpal Ari sok bijak merangkul bahu Leo.


namun lagi-lagi Leo menggeleng,


"Sekarang lo bedua boleh fokus urusin percintaan kalian.. Biarin gue urus sendiri masalah gue.."


Ucap Leo dengan serius, sementara kedua sohibnya hanya bisa mengangguk pasrah.


"Yaudah lo abisin makannya.. " ucap Exel kembali menyuapi Leo, tetapi kali ini Leo menyambar sendoknya hendak makan sendiri.


Leopun menyantap makanannya dengan lahap, Exel benar, Ia harus punya banyak tenaga agar bisa melindungi istri dan calon anaknya.


🍃🍃🍃


Tiba waktu pulang.


Sepanjang perjalanan Grace terus bersenandung tanpa beban mengikuti iringan musik di audio mobilnya.


Grace menepikan mobilnya saat merasa ada kendala, "sial.. "


Leopun menghampiri Grace yang sedang menendang ban mobilnya penuh emosi.


"Kenapa sayang..? " tanya Leo cemas.


Grace menghela napas kasar,


"Ngapain si lo ngikutin gue mulu.. "


ucapnya kesal menatap tajam Leo.


"Gue gak mau lo kenapa-napa Grace.. "


ucap Leo memberanikan diri meraih tangan Grace, dan langsung di tepis oleh Grace, lagi.


"Gue gak butuh perhatian lo.. Udah sana lo pergi jauh-jauh dari kehidupan gue.. "


timpal Grace setengah berteriak tanpa memperdulikan keadaan sekitar.


Leo menghela napas mengelus dada,


"Grace.. Sampai kapan lo mau jauhin gue..? Apa yang harus gue lakuin agar lo mau terima gue lagi..? "


Grace menyunggingkan senyuman mendengar pertanyaan Leo,


"Gue mau lo pergi dari kehidupan gue dan gak usah ganggu gue lagi..gue gak butuh lo.."


ucapnya kesal penuh kebencian.


"Ijinin gue buat anterin lo Grace.. bagaimanapun lo Istri gue, lo tanggungjawab gue Grace.. "


Grace semakin menjadi-jadi mendengar kata istri,


"Istri lo bilang..? mari kita akhiri semuanya Leo..


Lo pergi dari kehidupan gue, Biarin gue hidup tenang sama anak gue."


dengan cepat Leo menggeleng menolak,


"Gue gak mau Grace.. Gue gak mau pisah sama lo.. ayo Grace kita pulang, biar mobil lo orang gue yang urus.. "


Leo kembali meraih tangan Grace, namun lagi-lagi Grace menepisnya dengan kasar


"Pergi gak lo..? minggir..!!! Gue mau pulang.. "


ucap Grace dengan lantangnya seraya mendorong Leo.


Leo menatap sendu punggung Grace yang berjalan meninggalkannya, namun tiba-tiba matanya membola saat ada mobil melaju cepat kearah Grace,


"Grace..!!! Awas... "


.


.


.


Sritttt...... Bruggghhhh..


.

__ADS_1


.


"Leoooooo....!!!! "


__ADS_2