Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 105


__ADS_3

Hari bahagia yang di nantikan tiba tepat hari ini.


Lolita menatap dirinya di pantulan cermin. gadis itu tersenyum kala melihat gaun pengantin yang dikenakannya sangat pas ditubuhnya. Ia tampak lebih cantik dengan polesan tipis di wajahnya, tak lupa rambut indahnya yang di sanggul beserta mahkota yang tersemat melengkapinya.


" wiihh.. kakak cantik banget.. " ucap Audrey yakni adik dari Lolita yang kini berjalan menghampirinya.


Lolita tersenyum pada sang adik di pantulan cermin.


" gaunnya pasti mahal.. Lo beruntung kak.. " lanjut Audrey kembali.


Lolita menganggukkan kepalanya. Dia membenarkan apa yang diucapkan adiknya. Lolita memang beruntung jika diperistri oleh seorang Wilson.


" Lo beruntung gak ikut keseret bos lo.. "


deg.. seketika senyuman diwajahnya berubah murung. Lolita sudah biasa mendengar ucapan pedas dari sang adik, akan tetapi kali ini rasanya begitu menusuk. Lolita seolah menari di atas penderitaan orang lain.


" adikmu gak usah didengerin nak.. " sahut sang Nenek yang baru masuk dan tidak sengaja mendengar percakapan kedua cucunya.


" iya nek.. " ucap Lolita seraya tersenyum. tetapi jiwanya tak sejalan, dia gelisah memikirkan nasib mantan bosnya. bisa-bisanya Ia bahagia, sedangkan sang bos mendekam di penjara.


" Audrey, jaga perasaan kakakmu. ini hari bahagianya.. " ucap nenek dengan suara lembut.


" belain aja terus kak Lita nek.. " sahut Audrey ketus.


" Loh, nenek bukan belain kakakmu nak.. " Nenek mengusap bahu Audrey, namun gadis itu langsung menepisnya.


Nenek menggeleng melihat sikap Audrey. gadis itu selalu iri dengan kakaknya, bahkan dia tidak pernah bersyukur dengan apa yang kakaknya perbuat. selama ini semua biaya hidup termasuk biaya sekolah, Lolitalah yang menanggungnya.


Audrey bangkit dari duduknya, dengan sengaja Ia menabrakkan bahunya dengan sang kakak yang tengah mematung.


" terserah apa kata nenek.. "


...-------...


Sementara di tempat lain, Grace sedang bersantai di belakang rumahnya selepas makan.


" sayang, ayo siap-siap.. " ucap Deti menghampiri menantunya.


" kayaknya Grace gak berangkat mah.. "


" Loh.. kenapa..? Leo aja udah siap sayang.. "


deg. Grace tercekat, Dia kesal dan marah terhadap Leo, bisa-bisanya suaminya itu akan pergi tanpa mengajaknya lebih dulu. Grace tidak rela jika Leo pergi tanpa dirinya, terlebih nanti di sana ada Silvie yang pasti akan mencuri perhatian suaminya.


Grace harus berangkat ke acara tersebut. tetapi Ia melupakan sesuatu,


" tapi Grace gak ada gaun mah.. "


" tenang.. mamah udah siapin.. "


" beneran mah..? "


Deti mengangguk, " udah sana siap-siap.. "


" tapi mamah yang dandanin yah.." Grace tidak mau jika Leo yang melakukan itu, bisa-bisa suaminya besar kepala.


" iyah... "


Gracepun bersiap bersama Ibu mertua yang antusias mendandaninya.


" di bikin cantik mah.. kalo bisa kalahin pengantin.. menor menor dah.." ucap Grace sengaja meninggikan suara saat Leo berdiri di pintu kamar tersebut.


Sontak Leo melongo, lehernya terasa tercekat saat Grace meliriknya dengan tatapan sinis.


dalam hatinya Leo meringis, dia tidak bisa protes sama sekali.


sementara Deti terkekeh, " kamu selalu cantik sayang.. kalo menor malah keliatan tua, tipis aja yah.. "


Grace mengangguk pasrah sambil cemberut. sementara Leo menahan kedutaan di bibirnya. setidaknya ucapan Deti sudah mewakilinya.


Tak lama kemudian suara deru mobil memasuki halaman rumah.


" ayo sayang.. Papah udah dateng.. " ajak Deti.


ketiganyapun keluar rumah menghampiri Hendri yang baru saja turun dari Mobilnya.


Hendri yang hendak menyerahkan kunci mobilnya kepada Leo, urung saat Deti mengedipkan matanya.

__ADS_1


" eits.. di belakang.. mamah kangen sama papah, kita juga mau romantis keless.. "


Deti mengusir halus putranya yang hendak duduk di bangku depan sebelah Hendri.


Leo bergidik geli dengan tindakan kedua orangtuanya, bisa-bisanya mereka yang tua memamerkan kemesraan di depan pasangan yang sedang bermasalah.


Dia melirik kesamping dimana Grace duduk di sebelahnya dengan cuek. sial istrinya itu semakin cantik dan juga menggoda. sayangnya Grace sedang mengabaikannya.


Ya, sepanjang perjalanan, Grace memilih mendengarkan musik dengan headset yang melekat di telinganya. sama halnya dengan Leo, Grace juga muak melihat Hendri dan Deti bermesraan, mereka tampak sengaja menyindirnya.


.


.


.


.


Mobilpun tiba di pelataran gedung acara tersebut.


Leo turun terlebih dulu mengikuti apa yang dilakukan sang Ayah memperlakukan permaisurinya, keduanya kompak membukakan pintu untuk istrinya.


walaupun Leo tahu jika Grace sedang mengabaikannya, tetapi Ia berusaha untuk bersikap seperti biasa.


Leo terbelalak saat dirinya mengulurkan tangan ke arah Grace, dia tidak salah kan? Grace yang memiliki gengsi tinggi dan bersikap dingin sedari tadi kini meraih uluran tangannya dengan lembut.


kemudian Leo mengikuti kemana arah lirikan mata Grace, rupanya di sana mobil Exel sohibnya juga baru tiba.


Leo tersenyum penuh kemenangan saat Grace merekatkan genggaman tangannya, lantas Iapun meraih pinggang istrinya. Dia tahu kehadiran Silvie membuat Grace merasa cemburu, maka dari itu, Leo tidak ingin membuang kesempatan emas untuk bermesraan dengan istrinya.


" aaa.. babang tampan..!!! " teriak Silvie seraya berlari kecil membuat siapapun yang melihatnya meringis ngilu termasuk Exel. Dia sudah mewanti-wanti istrinya agar tidak bertingkah berlebihan mengingat kandungannya masih lemah.


Sementara Grace yang melihat Silvie menghampiri suaminya, rasanya ingin sekali menoyor kepala seraya mengomelinya karena geram. Hanya saja Grace harus jadi wanita terhormat dihadapan para petinggi kampus, mengingat Ia merupakan istri dari pemilik kampus tersebut.


" ayo Sil.. " ajak Exel merasa tidak enak dengan Grace.


" gue mau bareng babang tampan.. " sahut Silvie dengan nada manja.


Grace berusaha tersenyum dengan elegan menahan perasaan dongkol juga kesal terhadap Silvie. bagi Grace sahabatnya itu terlalu mendramatisir sikap ngidamnya.


sedang Leo meringis kala Grace menggenggam erat tangannya dengan kuat, dia tidak bisa melawan. Leo bisa apa jika istrinya terbakar cemburu.


...-------...


Sementara Lolita hanya mampu menundukkan kepalanya, dia tidak berani membalas tatapan Wilson untuknya. Pria itu terlihat gagah dan tampan hari ini. bagi Lolita Wilson terlalu sempurna menjadi pendampingnya.


" Silahkan dipakaikan cincinnya... "


suara pembawa acara membuat keduanya terkesiap.


lantas Wilsonpun menyematkan cincin pernikahannya di jari manis Lolita, begitupun sebaliknya secara bergantian.


cup.. Wilson mendaratkan bibirnya di kening Lolita membuat gadis itu terkejut seraya memejamkan matanya. ini kali pertama ada seorang pria yang mengecup keningnya.


Wilson mengecup keningnya dengan lembut dan penuh perasaan membuat Lolita tidak mampu berkata menggambarkan rasa bahagianya.


" selamat yah nak, semoga kalian bahagia selalu.. " ucap Ester dengan haru.


Keduanya mengangguk kompak " iya bu.. amiin.. ".


" nak Wilson, titip Lita, tolong jaga dia dengan baik.. sebelumnya terimakasih Nak Wilson mau nerima segala kekurangan cucuk Nenek.."


" nenek tenang aja, saya akan menjaga cucu Nenek sebaik mungkin.. " sahut Wilson terdengar lembut dan tulus.


Nenek tersenyum, kemudian beralih menatap Lolita dengan haru, dia tidak mampu mengatakan apapun lagi saat cucunya langsung memeluknya.


.


.


.


Keduanya kemudian berdiri menyambut para tamu undangan yang memberikan ucapan selamat secara bergantian.


Wilson tidak ragu menarik pinggang Lolita di hadapan semuanya.


Sikap manis yang ditunjukkan Wilson membuat para kaum jomblo seperti rekan seprofesinya meronta-ronta. tak hanya itu, yang memiliki pasangan pun ikut meringis menyaksikan keromantisan tersebut terlebih Grace.

__ADS_1


Wanita itu terlihat beberapa kali memalingkan wajahnya,


" sial.. dosen dingin juga bisa hangat kek gitu, persis kayak sodaranya.. " gumamnya. Dia melirik sekilas ke arah Leo yang ternyata tengah memperhatikannya.


" ahhh.. pak Wilson sosweet banget sih, jadi pengen.. " celetuk Silvie manja, namun tatapan wanita itu mengarah pada Leo.


dan itu membuat Grace lagi-lagi kesal terhadap sahabatnya.


Grace menahan diri untuk tidak menanggapi Silvie, diapun hanya bisa tersenyum tipis. Grace tidak ingin berdebat dengan siapapun saat ini.


" bang suapin.. " ucap Silvie merengek kepada Leo.


sontak Gracepun melotot, begitupun dengan Exel juga Leo. mereka berharap ngidamnya Silvie untuk sementara di tahan sepanjang acara tersebut.


tidak lucu jika Leo menyuapi istri orang di depan para tamu undangan yang notabene jajaran petinggi kampus, sementara disampingnya ada istrinya sendiri.


" Sil.. jangan aneh-aneh dulu napa.. " ucap Exel menahan kesalnya.


" ya tapi kan ini kemauan anak kita bang.. " sahut Silvie santai.


" sama Sil, anak gue juga gak mau papinya nyuapin cewek lain selain maminya.. " sahut Grace geram.


" kenapa..? biasanya juga babang tampan mau nyuapin gue, iya kan bang...? " timpal Silvie tak mau kalah menatap sinis ke arah Grace, kemudian beralih menatap Leo dengan hangat. kontras sekali perlakuan wanita itu.


" ya tapi gak disini juga bego.. " ucap Grace menoyor kepala Silvie, Dia mencoba bersabar mengakrabkan diri kembali dengan sahabatnya. walupun tak dapat dipungkiri hatinya sungguh sakit.


" ish.. bodo.. " sahut Silvie sewot. kemudian Wanita itu membuka mulutnya meminta Leo menyuapinya.


Grace melirik ke arah Leo dan Exel secara bergantian, Dia menunggu reaksi dua pria tersebut. Dia ingin tahu mereka memihak kepada Siapa, dirinya atau Silvie yang penuh drama.


Jantung Grace terpompa dengan cepat, begitupun darahnya terasa mendidih. Dia sudah tidak bisa menahan kemarahannya lagi kala Exel mengangguk mengisyaratkan Leo mau melakukannya.


" Gue pulang duluan.. "


setelah mengatakan itu, Grace langsung bangun dari duduknya dan pergi begitu saja. mereka benar-benar jahat, tidak memikirkan perasaannya. padahal jika berdalih tentang ngidam, Grace pun sama tengah hamil, dan dia membutuhkan lebih banyak waktu dari suaminya.


Leo yang melihat Grace pergi, Iapun berlari mengejar istrinya keluar.


" Sil.. diem.. biarin dia ngejar bininya.. " Exel mencekal lengan Silvie yang hendak mengejar Leo. Exel tidak akan membiarkan Silvie berlari mengingat kandungannya lemah, mengajaknya ke acara tersebut pun merupakan tolerir yang susah.


Exel bingung, disini posisi yang salah memang Dia juga Silvie. tetapi jika mengenai hal ngidam, dia bisa apa.


" lepasin.. gue mau di suapin babang tampan.. " Silvie menepis lengan Exel dengan kasar kemudian berlari mengejar Leo.


.


.


.


.


.


Grace berdiri di depan gedung tersebut menunggu taksi online yang dipesannya.


Rasa sesak yang Ia tahan sedari tadi kini dikeluarkan lewat tangisan pilu. Grace tak habis pikir kenapa Leo mau melakukannya, padahal keadaan rumah tangganya sedang dalam masalah. dan Pria itu memilih menuruti kemauan sahabatnya tanpa memikirkan perasaannya sedikitpun.


" Sial.. kenapa lama banget sih.. " gumam Grace kala menatap layar ponselnya.


" ayo kita pulang bareng.. "


Leo mencoba meraih tangan Grace, namun wanita itu langsung menepisnya.


" Grace maafin gue.. " ucap Leo terdengar lirih.


" bang.. babang tampan.. "


Leo dan Grace menoleh kompak ke sumber suara tersebut.


" lo urus dulu sono cewek yang selalu diprioritasin sama lo.. " ucap Grace dengan sinis seraya menyunggingkan senyuman.


Leo menggeleng menolak, Iapun meraih tangan Grace mengajaknya untuk pulang, dia tidak perduli dengan Silvie yang terus saja berteriak mengejarnya. biarkan kali ini Exel yang mengurusnya.


sedang Grace, menyeringai kala langkah Silvie semakin mendekat. Grace menerima ajakan Leo, dia ingin menunjukan betapa lebih berhaknya Dia dibandingkan Silvie.


" bang.. tunggu..!!! "

__ADS_1


blughhh...


" Sil.. Silvie.. "


__ADS_2