Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 81


__ADS_3

pagi beraktivitas kembali dengan kondisi yang berbeda pada diri Grace yang tersiksa, namun begitu menguntungkan bagi si mesum Leonard seperti sekarang yang dengan senang hati membantu Grace mandi.


" beneran kan lo gak bilangin ke mama sama papah..? " tanya Grace kesekian kalinya untuk memastikan jika Leo tidak mengadu kepada kedua orangtuanya pasal kejadian semalam.


" hmm.. " jawab Leo singkat, Ia lebih asyik menggosok tubuh Grace yang membuatnya candu itu.


melihat mainan kesukaannya yang semakin mengkel membuat mata Leo berbinar dan siap untuk melahapnya,


" oh shiiit.. kasar banget lo.. " umpat Leo yang langsung mendapat sikutan dari Grace tepat di kepalanya.


" lagian bukannya gosok yang bener.. " sahut Grace ketus.


" Grace mending kita bolos aja yah.. tangan lo kan masih sakit.. " pinta Leo dengan melas.


" ck.. modus lo.. gue hari ini ada kuis ogah banget gue kalo harus ketinggalan.." timpal Grace ketus, dia sudah bisa menebak singa di depannya saat ini tengah lapar.


ada alasan lain yang mengharuskan Grace berangkat ke kampus hari ini, sebab dirinya akan mengundurkan diri sebagai asisten Wilson hari ini juga.


" malah bengong lo.. buruan bantu gue.. '" lanjut Grace kembali melihat Leo yang malah terpaku.


🍏🍏🍏


pagi ini Grace benar mengerjakan segala hal di bantu oleh Leo, termasuk merias diri yang terbilang cukup gampang sebab Leo hanya memoleskan sedikit pelembab di wajah Grace juga lipblam pada bibirnya.


setelah urusan intimnya selesai, keduanya keluar dari kamar di sambut oleh ke empat sahabatnya yang katanya solid tapi julid itu.


" anjay.. karma begitu instan.." goda Silvie disusul kekehan dari Ari juga Megan, sementara Exel yang sedang sibuk dengan Lucio hanya bisa menggeleng.


" brisik lo.. " sahut Grace ketus menatap Silvie tak suka.


" udah ayo pada makan dulu isi energi.." ajak Leo mengalihkan.


" lo berdua kali ah yang belum isi energi, kita mah udah full.." ejek Ari cengngesan.


" prett.." sahut Megan ketus.


" mampus.." ujar Leo.


" ya elah bie, lo buka kartu aja.. malem kan lo tidur duluan.." gumam Ari kesal.


" sorry Me.. gara-gara gue, pangeran lo pulang larut.."


ucap Grace merasa bersalah lagi-lagi mereka harus menomorduakan kehidupannya.


" anjir apaan si lo.." sahut Megan.


" udah ayo pada makan dulu.." ajak Leo kembali mengalihkan.


" kuy.. btw Grace lo harus cobain masakan gue.. bisa jadi selagi tangan lo sakit gue yang masak.."


ucap Silvie santai membuat yang lainnya terkekeh kecuali Grace yang terdiam dengan wajah yang langsung pucat pasi membayangkan rasa masakan Silvie.


melihat itu Megan langsung menoyor gemas kepala Silvie,


" bokiss.. kermi lo denger Grace.." sahut Megan membuat Grace bernapas lega.


" Cio sama mba dulu yah.. uncle mau sarapan dulu.." ucap Ratna seraya mengambil si kecil dari gendongan Exel.


gerak-gerik Ratna membuat Grace kembali teringat akan pesan gambar semalam.


...------------...


Grace melahap makanannya bersama Leo yang telaten menyuapinya, namun atensi Grace tertuju pada Ratna yang sedang menimbang si kecil di pinggir kolam belakang.


" mba.. ajak Cio masuk.. bejemurnya udahkan sama El tadi.."


teriak Grace membuat yang lainnya terkejut termasuk Ratna yang nyaris melepaskan Lucio di gendongannya.


" aduh mba itu gimana sih..? hati-hati dong, entar kalo Cio jatuh gimana.." teriak Grace kembali dengan wajahnya yang geram,


" heh monyet.. lo yang udah bikin si mba terkejut.. jantung gue aja berasa mau copot gila.." sahut Silvie kesal di angguki Megan.


" tau tumben-tumbenan ni anak jadi nyonya antagonis.." timpal Megan santai.


" gak dapet jatah kali.. jadi mode maungnya on.." sahut Ari enteng tanpa dosa langsung mendapat sorotan tajam dari kedua sohibnya.


" cih.. keenakan kalo gue baekin terus bisa ngelunjak.. " sahut Grace ketus tepat saat Ratna masuk dan melangkah melewati meja makan tersebut.


" sorry mba.. nyonya khodamnya lagi keluar.." ucap Ari tersenyum ramah pada Ratna dan mendapat sikutan dari Megan, sementara Ratna hanya mengangguk tersenyum walaupun sempat terkejut akan ucapan majikannya yang baru di dengar itu.


" ini bukan diri lo Grace.." ucap Leo kesal.


" iya gue setan yang menjelma jadi bini lo.." sahut Grace ketus membuat keempat sahabatnya menggeleng jengah sebab perdebatan antara kedua insan pasti di mulai.


" gue gak suka kalo lo bersikap kayak barusan.." ucap Leo mencoba tenang.


" yang nyuruh buat lo suka siapa..?" sahut Grace enteng.


Leo menghela napas, " kalo si mba gak betah karena sikap lo gimana.."


" ya bagus.." sahut Grace acuh.


" bukan gitu Grace.." timpal Leo hendak menyuapi Grace kembali, namun Grace menggeleng dengan cepat.


" belain aja dia.. udahan.. gue udah gak selera makan.." ucap Grace ketus membuang wajahnya.


" gak selera tapi abis.." goda Leo seraya menunjukan piringnya yang sudah kosong.


sontak Gracepun terbelalak setengah mati menahan malu,


" setan kan yang makan..?" sahut Ari enteng di angguki yang lainnya.


selepas makan bersama yang penuh drama itu, merekapun bergegas berangkat ke kampus yang kebetulan jam mereka sama.


mereka berangkat menggunakan motor walaupun sebelumnya Leo mengajak menggunakan mobil, tapi si keras kepala Grace enggan jika harus menaiki mobil karena alasan malas dengan macet nantinya.

__ADS_1


sesampainya di parkiran kampus, Exel buru- buru menghampiri motor Leo hendak membantu Grace yang kesusahan turun. namun seseorang yang mendahuluinya menghentikan langkah Exel sejenak kemudian melanjutkan kembali niatnya sebab orang tersebut bukannya membantu Grace malah Leo yang di bantunya.


dan itu membuat Exel menyerit heran.


" thanks bang.." ucap Grace santai membuyarkan lamunan Exel yang tak hentinya menatap pria tersebut yang tak lain adalah Aldo.


" hmm.." sahut Exel singkat.


sebelum berpisah menuju kelasnya masing-masing, Leo cs memberi wejangan kepada istri mereka. sementara Aldo berdiri mematung memperhatikan interaksi enam sekawan itu.


semua mata tertuju pada Grace cs yang melangkah menuju kelasnya, tatapan kagum plus iri dari mereka khusus bagi Grace.


" sialan lo pada.." umpat Siska pada teman temannya yang mencegah aksinya yakni menghalangi jalan Grace dengan kakinya berharap Grace akan tersandung.


sementara Grace menyeringai menarik salah satu sudut bibirnya,


" lebih keras lagi dong usahanya.." ucap Grace dengan nada meremehkan membuat Siska menatap Grace dengan geram,


" gak usah blagu lo.. lo udah ngasih tubuh lo kan, biar jadi asisten pa Wilson.. dasar ******.."


plakk.. satu tamparan keras mendarat dipipi kiri Siska membuat semua yang ada di sana terbelalak sekaligus merinding.


" tutup mulut kotormu.. dan tarik semua ucapan hina yang harusnya itu untuk dirimu sendiri.." bentak pelaku tamparan panas dipipi Siska yang tak lain ialah Wilson.


Siska yang masih memegang pipinya yang terasa panas itu pun bersimpuh memohon maaf pada Wilson,


sementara Wilson memalingkan wajahnya, tidak. Ia sedang mencari keberadaan Grace cs yang tiba-tiba menghilang dari sana.


" sakit banget pasti.." ucap Silvie cekikikan membayangkan adegan dramatis barusan.


" yoyoy.. siapa sih yang terima kalo di tuduh buruk.." sahut Megan seraya merangkul Grace yang sedari tadi diam.


" si anying malah diem aja lo.." umpat Silvie turut merangkul Grace.


" gila.. tau aja kalo tangan gue sakit, tadiannya gue mau nampar tu tege, taunya ada yang wakilin.. Tuhan emang the best ngertiin umatnya.."


sahut Grace santai langsung mendapat toyoran dari kedua sahabatnya.


...*****...


saat ini Grace cs sedang berada di kantin setelah melaksanakan kuis yang cukup menguras pikiran terutama bagi Grace yang sedikit kesusahan sebab kondisi tangannya.


Viola yang sedari tadi mencari keberadaan Grace cs sekarang tersenyum sumringah, dan langsung mendudukkan dirinya di bangku bersama Grace cs.


" yang nampar si Siskan pa Wilson, kenapa tangan lo yang bengkak Grace..?" tanya Viola penasaran dengan tangan Grace yang terlihat bengkak itu sebab tidak dibalut perban sama sekali.


ya, memang si keras kepala Grace terlalu cuek dengan kondisi tangannya, dimana Ia menolak untuk di bawa ke dokter dan memilih untuk di urut biasa saja dengan minyak gosok.


" biasa kecelakaan kerja.." sahut Grace enteng membuat Viola mangut-mangut paham,


" untung gue terlahir dari orang berada.. jadi gak mesti ngalamain kehidupan malang kaya lo Grace.." ucap Viola menatap iba Grace yag menurutnya harus bekerja keras untuk memenuhi kehidupannya.


demi apapun ketiganya susah payah menahan tawa melihat kepolosan seniornya itu.


" heh cupu.." sapa Silvie kepada gadis yang terlihat clingak clinguk berdiri disana.


"sini, lo gak dapet tempat duduk kan.." ajak Silvie pada gadis tersebut seraya menepuk bangku kosong di sampinya.


dengan ragu gadis tersebutpun mendudukkan dirinya tepat di samping Silvie.


" siapa nama lo.. biar ni anak gak se enaknya manggil lo.." tanya Grace seraya menuding kepala Silvie.


" nama gue Lolita.."


" okeh lol.." sahut Silvie santai, sementara Megan langsung menoyornya.


" mukanya ngebugh anjir.. jadi lol.." bisik Silvie pada Megan,


" bege.. lo bisa panggil di loli kek, lita kek.." sahut Megan gemas.


" lita, panggil aja gue lita.." ucap Lolita gugup seraya membenarkan kacamatanya.


...******...


selepas makan di kantin, Grace memisahkan diri pergi ke ruangan Wilson hendak mengundurkan diri sebagai asistennya. apapun alasan Wilson nanti, tekad Grace sudah bulat.


dengan kondisi tangannya saat ini, Grace berharap Wilson tidak keberatan dengan keputusannya.


tok.. tok.. tok..


" masuk.. "


" ada perlu apa..? " tanya Wilson yang melihat Grace masih mematung.


" saya mau ngundurin diri jadi asisten bapak.. " ucap Grace mulai tenang.


Wilson mengerutkan dahinya heran kenapa tiba-tiba Grace mengundurkan diri,


" apa gara-gara perempuan tadi alasan kamu ngundurin diri..?" tanyanya penuh selidik.


" bukannya saya pernah menolak buat jadi asisten bapak..? pokoknya saya mau berenti.. "


" tidak bisa.. "


" aww.. "


tiba-tiba Grace meringis memegang perutnya yang terasa sakit.


" kenapa kamu..? mau pura-pura sakit biar saya nyetujuin permintaanmu.. "


oh shiiit, ingin rasanya Grace membungkam mulut julid Wilson, tapi rasa sakit di perutnya membuatnya enggan menanggapi ocehan dosen killer tersebut.


" pinjem toiletnya bentar pak.. "


sebelum Wilson menjawab, Grace sudah berlari menuju kamar mandi yang berada di ruangan Wilson.

__ADS_1


selang berapa menit, Grace menyembulkan kepalanya di balik pintu kamar mandi itu, mengedarkan pandangan dan mendapati Wilson masih ada di sana tengah sibuk dengan laptopnya.


" pak.. " panggil Grace gugup


" hmm.. " sahut Wilson tak minat menoleh.


" boleh minta tolong.. "


" apa..? "


" tolong ambilin hape saya itu di dalem tas.. " ucap Grace ragu, takut Wilson mengomelinya. tapi kenyataannya Wilson menurutinya dengan mengambilkan ponsel untuk Grace.


" ini.. " ucap Wilson menyodorkan ponsel tersebut.


" tolong telepon suami saya pa.. saya perlu bantuan dia.. "


" kenapa harus minta tolong suamimu, saya juga bisa nolongin kamu.. "


" ini urgent dan privasi pak.. "


" yaudah yang mana nomernya..? "


" itu ada di riwayat panggilan.. "


tutt.. tutt.. tutt..


" hmm.. kenapa sayang..? " suara dari sebrang.


" Le lo taukan ruangan pak Wilson.. buruan kesini gawat.. "


" gawat apaan..? lo gak di cabulin sama itu dosen kan.. "


tutt..


Grace menutup sambungan telepon secara sepihak, merasa tidak enak dengan Wilson yang saat ini terlihat kesal. Wilson tentu dengan jelas mendengar percakapan Grace dan Leo sebab ponsel Grace di loudspeaker.


apes memang.


brakk.. pintu di dobrak dengan kasar dan langsung terbuka lebar.


tak butuh waktu lama setelah panggilan terputus Leo langsung segera keruangan Wilson.


raut wajahnya yang tampak emosi kini langsung mencengkram kerah kemeja Wilson.


" lo apain bini gue.. hahh " ucap Leo setengah berteriak dan sialnya Wilson tampak tak takut sama sekali dengan gertakan Leo.


" Leonard.. masuk...!!! lo bikin gue malu aja.. " teriak Grace dari kamar mandi.


Leo segera melepaskan cengkramannya dan segera masuk ke kamar mandi.


" lo gak di apa-apain kan sama tuh dosen cabul..? " tanya Leo dengan wajah kesalnya.


" lo ngomong apaan sih.. kagak lah. " sahut Grace.


" ya kirain mentang-mentang tangan lo sakit dia jadi ambil kesempetan kan buat lecehin lo.. "


" ngaco lo.. tuh pasangin.. "


Grace menunjuk pembalut yang tergeletak teronggok di dalam tasnya.


" lo dapet Grace..? yah pere dong"


" terus kalo gue gak dapet lo masih tega gitu dengan kondisi tangan gue sekarang.. "


" ya bagus itu.. lo jadi gak bisa berontak.. "


" dasar mesum.. buruan pasangin, perut gue juga sakit, gak kaya biasanya ini beda banget rasanya.. "


" coba lihat.. "


" Leonard lo gak tau tempat.. "


Sementara di luar, Wilson yang sangat jelas mendengar percakapan pasangan absurd tersebut hanya bisa menggeleng.


ceklek..


Keduanya keluar dari kamar mandi tersebut.


" pak, maaf ya buat kesalahpahaman tadi.. " ucap Grace gugup.


"hmm" sahut Wilson singkat.


" Grace kalo lo di apa-apain sama ni dosen, bilang sama gue.. "


ucap Leo yang tidak ada segannya sama sekali terhadap Wilson.


" baru juga gue minta maaf buat lo.. lo malah nyari perkara lagi.. "


sahut Grace kesal melengos keluar disusul oleh Leo.


tapi sebelum menyusul langkah Grace, Leo menyempatkan diri menatap tajam Wilson seraya menuding matanya dengan ancaman.


" Lo sama dia sebelas duabelas, sama-sama dingin juga nyebelin.. " Grace.


...----------------...


saat perjalanan pulang, Grace merasa perutnya semakin sakit.


" Le, mampir dulu ke minimarket.. "


" iya.. "


tujuannya membeli satu barang, mereka malah enteng mengambil beberapa keperluan rumah sekaligus untuk si kecil.


saat hendak membayar barang belanjaan, Grace terkejut dengan kasir yang melayaninya.

__ADS_1


" elo... "


__ADS_2