
Leo tampak frustasi dengan si kecil yang hiperaktif itu. si kecil suka sekali mengacak barang-barang berjejer di lemari televisi. padahal Leo sudah menyediakan banyak sekali mainan yang aman untuk anaknya itu, tetapi nyatanya si kecil lebih tertarik dengan barang yang jelas tidak di peruntukan bagi bayi sepertinya.
" no, no, no Cio.." Leo segera mencekal tangan mungil itu yang hampir saja menyentuh kelistrikan yang berada di lemari tv tersebut. kemudian Dia membawa si kecil menjauh dari area sana.
" Cio gak capek..?" tanyanya pelan seraya menuntun tangan mungil itu. Ya, si kecil malah meminta Leo agar menuntunnya mengitari seluruh ruangan rumahnya. Leo menurut, walaupun Ia sudah merasakan nyeri di area pinggangnya sebab terlalu lama membungkuk. Setidaknya si kecil tidak menyentuh benda yang berbahaya lagi, juga kebahagian bayi itu malah menjadi tenaga tersendiri bagi Leo.
" nat..nnat.." si kecil terdengar berceloteh memanggil Leo hingga membuat pria itu terbelalak.
" huss, papi.. pa..pi.." sahut Leo mengeja agar si kecil mengikutinya. sialnya si kecil malah mengulangi panggilannya. sepertinya anak itu lebih tertarik mengikuti Grace ketika memanggil Leo.
merasa gemas dengan celotehan si kecil, Leopun langsung mengangkat tubuh si kecil setinggi mungkin hingga membuat anaknya itu tertawa girang.
" cukup pecicilannya aja yang Cio ikutin dari mami.."
" ngomong apa lo..?"
sontak Leo terkejut mendengar suara yang sangat di kenalnya itu, bahkan dia lebih tercengang dengan apa yang di lakukan pemilik suara itu yang tak lain adalah Grace istrinya.
" shhiiittt.. buruan benerin, lo mau bibi sama si mbak bebas liat si jhoni.."
mendengar ucapan Leo, Gracepun dengan cepat memperbaiki kolor serta underwear suaminya yang melorot hingga ke bawah akibat ulahnya barusan. Jelas saja Grace tidak sudi siapapun bebas melihat mainan kesukaannya itu.
" sorry.. lagian barusan lo ngomong apaan sama Cio? lo mau coba doktrin anak lo yah, pake ngatain gue pecicilan segala.."
" nat, nnat, natt.." si kecil kembali berceloteh sambil memukul pelan wajah Leo hingga pria itu terkekeh gemas.
" lo denger kan.." ucap Leo santai membuat mata Grace membola kaget karena cara si kecil yang memanggil Leo sama seperti dirinya.
" Cio, gak boleh manggil papi gitu-"
" tuh, mami aja gak suka.." sela Leo sambil mencium gemas pipi gembul si kecil.
" yang kerenan dikit dong Cio manggilnya.. Feeder misalnya.. " lanjut Grace dengan entengnya membuat Leo berdecak sebal.
bisa-bisanya Grace masih membahas kekalahan dirinya tadi pagi, Leo pikir Grace sama seperti dirinya yang tidak setuju dengan panggilan si kecil. nyatanya istrinya itu malah menambah kekesalannya saja.
tidak ingin terus mendapat olokan dari istri juga anaknya, akhirnya Leopun memberikan si kecil kepada Lilis yang kebetulan baru melewatinya, dan beruntungnya tidak pada saat Grace melakukan tindakan konyol tadi.
" Cio mandi dulu yah.. " ucap Leo kala menyerahkan si kecil ke tangan Lilis. kemudian pria itu beralih menatap Grace yang sudah duduk manis di meja makan. padahal ini masih sore, biasanya mereka akan makan di waktu malam hari.
" ini lauk pada abis yah..?" tanya Grace kala membuka tudung saji di atas meja makan membuat Leo tiba-tiba terkekeh pelan merasa gemas dengan tingkah istrinya itu.
" hmm tadi daddy sama ibu makan dulu sebelum pulang.."
__ADS_1
" pada naek apaan? Kan mobilnya gue pake.."
" taksi online.."
" ck, gak nungguin dulu anaknya balik apa.."
" hmm, katanya ada urusan dadakan, kayak lo tadi-"
" gak usah sarkas gitu anying.."
" huss.. sama suami sendiri kasar.."
" bacot.."
Sontak Leo menggeleng terkekeh dengan sikap Grace yang tiba-tiba rese itu, apa lagi kalo bukan karena lapar? ingat, Grace rese kalo lagi lapar.
" laper banget yah..?"
" pake nanya lagi anjir.."
" hmm, ya udah.. Gue gorengin ayam dulu yah, tadi Ibu bawain ayam udah di ungkep.."
Mendengar itu, Grace langsung mengangguk sumringah. Dia tentu suka sekali dengan apapun yang di berikan ibu sambungnya itu.
" siap nyah.." sahut Leo di susul kekehan keduanya.
Leo sangat telaten sekali saat memasak untuk Grace. dimana pria itu tampak membuat sambel sambil menunggu ayam yang di gorengnya matang sempurna.
" jangan lupa jelantahnya bos.." celetuk Grace kala melihat Leo mengangkat potongan daging ayam tersebut dari penggorengan.
" hemm.." Leo menurut, dia menyiramkan sedikit minyak panas bekas menggoreng barusan ke atas sambel bawang matah sesuai permintaan Grace. meskipun itu tidak baik untuk kesehatan Grace, tetapi kali ini Leo menurutinya mengingat istrinya itu terlihat sangat lapar.
terlebih menu tersebut memang salah satu menu favorit Leo dan Grace yang terbilang sederhana untuk sekelas mereka. namun percayalah, bagi mereka itu sangat nikmat sekali.
ayam goreng dan sambal matahpun sudah tersaji di hadapan Grace. melihat wajah istrinya yang sumringah, Leopun segera menyendokkan nasi hangat yang memang selalu tersedia di sana. Ya, selogan dapur mereka itu adalah selalu sedia nasi walaupun belum tentu ada lauknya!
" emang tadi di sana gak makan siang yah..?" tanya Leo sambil menyuapi makanan tersebut ke mulut Grace, lalu bergantian ke mulutnya sendiri. rupanya pria itu juga melupakan makan siangnya karena terlalu sibuk mengurus si kecil.
" hmm, belum.. " sahut Grace dengan santainya membuat Leo berdecak kesal. pasalnya Ia tahu jika istrinya itu sedari pagi hanya memakan cemilan ringan saja.
" di cafe kan bisa Grace, lagian si kunyuk pasti nganterin makan siang buat si El kan.. masa abang lo gak mau bagi-"
" hmm, tadinya gitu, si El ngasih buat gue karna dia bawa bekal dari bininya.." sela Grace di tengah kunyahannya.
__ADS_1
" si Silvie, kok bisa..?" tanya Leo seolah tak percaya dengan apa yang di sampaikan oleh Grace.
Geace menganggukkan kepalanya,
" yah, katanya semalem dia di anterin bokap nyokapnya buat tinggal bareng lagi sama si El-"
" ck, hebat juga tuh anak, udah bisa bikin bininya balik lagi, sampe di bikinin bekal segala.." sela Leo masih tak percaya.
" hmm, makannya tadi gue langsung cabut pas tau si El bawa bekal dari bininya.." sahut Grace tampak lesu membuat Leo menyerit heran,
" kenapa langsung cabut? lo gak suka kalo mereka balik lagi.." tanya Leo dengan sorot mata curiga hingga membuat Grace melotot, bahkan Grace tak segan menggigit jemarinya yang kebetulan masih berada di dalam mulut istrinya itu.
" aisyhhhh.." Leo meringis berlebihan alias lebay sambil mengibaskan jemarinya yang menjadi korban gigitan Grace barusan.
" gue lagi bahas bekal si El, bisa-bisanya lo mikir kek gitu.." ucap Grace ketus.
" ya terus kenapa lo main cabut gitu aja? bagus dong si El ada bekal, so lo bisa makan bawaan si kunyuk.."
" justru itu, gue cabut biar si El gak makan bekelnya-"
" ck, berarti lo gak suka kalo si El balik lagi sama bininya.." sela Leo sok kesal membuat Grace menghela napas kasar,
" lo tau si kermi gak bisa masak? masak mie aja belom hatam.." ucap Grace kesal membuat Leo mengangguk paham.
" lo bisa bayangin gimana si El maksain makan masakan bininya kalo makanan dari si Ari gue makan.."
lanjut Grace menahan kesabarannya kala melihat suaminya yang tampak bodoh itu.
" ck, yang so care sama abangnya-"
" serah lo Leonard.. makin kesini otak lo makin loading aja.. heran gue, daddy bisa milih lo mimpin perusahaan-"
" ck, gak usah merembet kemana-mana.." sahut Leo ketus namun berhasil membuat Grace terkekeh.
" lagian lo ngedadak bawel, udah tau gue laper, mana pedes banget nih sambel, tapi pedesan mulut lo sih.."
" oh ya? sini gue buktiin beneran pedes gak.." sahut Leo sewot sambil bangkit dari duduknya. pria itu tak tanggung-tanggung memajukan bibirnya tepat di hadapan Grace, hingga membuat istrinya itu tergelak.
" ck.. payah.." celetuk Leo seraya kembali duduk. Dia terlihat judes sekali, mungkin karena rasa lelah juga lapar sehingga bisa bersikap seperti itu.
semetara Grace terkekeh geli, dia merasa tertantang dengan sikap suaminya saat ini,
" payah yah, okeh.. gue buktiin malam ini siapa yang payah, gue apa lo Leonard..?" ucapnya terdengar ambigu namun sukses membuat Leo langsung paham mengarah kemana kalimat tersebut.
__ADS_1
" nanti malam yah.. Gasskeun..