Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 106


__ADS_3

" anak gue.. " gumam Exel berlari menghampiri Silvie yang sudah tergeletak tak sadarkan diri.


Sementara Grace terkesiap menutup mulut tak percaya kala melihat darah segar mengalir di sela sela kaki sahabatnya. jantungnya terasa mau keluar, tubuhnya terasa lemas.


kemudian pandangan Grace semakin kabur, lambat-laun semuanya terlihat gelap, hingga akhirnya Grace kehilangan kesadaran. beruntung dengan sigap Leo menompang tubuhnya.


.


.


tanpa pikir panjang, Exel segera membawa Silvie ke rumah sakit. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya semakin semerawut.


" Sil.. bertahan, demi anak kita.. " ucapnya melirik ke arah Silvie yang semakin pucat.


" semua gara-gara lo brengsek.. " umpatnya pada diri sendiri. rasanya sungguh sangat menyakitkan jika harus kehilangan salah satu atau bahkan keduanya.


seandainya Exel mampu menahan keinginan Silvie untuk tidak pergi ke acara tersebut, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.


🍃🍃🍃


Grace membuka matanya perlahan. dia menggerakkan tangannya yang terpasang jarum infus.


" sayang.. "


Grace mendongak ke arah Leo yang mengusap rambutnya dengan wajah cemas.


" gue dimana..? " tanyanya bingung.


" rumah sakit.. " sahut Leo singkat.


Grace mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang perawatannya. Dia menghela napas panjang, hanya Leo yang sudi menemaninya.


" mamah sama papah pulang dulu, bentar lagi kesini bareng Ibu.. " ucap Leo seolah tahu apa yang dipikirkan istrinya.


Grace mengangguk, kemudian Dia mengingat kembali kejadian tadi. tiba-tiba Grace merasa cemas dengan keadaan Silvie.


" Le gimana keadaan si Silvie..? " tanyanya dengan lirih.


melihat Leo tak kunjung menanggapinya, Grace beringsut hendak turun dari ranjangnya.


" gue mau liat dia.. "


" tunggu sebentar.. " lantas Leopun membawakan kursi roda untuk Grace, dia tidak mau terjadi sesuatu pada istrinya.


setelah sampai di ruang perawatan sahabatnya, Grace menelan ludahnya susah payah. di sana sudah ada orang tua Exel dan juga Silvie begitu lengkap. bahkan Ester dan anak menantunya ada di sana juga.


Grace tersenyum ketir saat melihat Wilson dengan Lolita yang notabene pengantin baru. mereka rela meninggalkan acara sakralnya yang belum selesai demi Silvie.


Semua tampak mengkhawatirkan kondisi Silvie. dan itu lagi-lagi membuat Grace terabaikan, dia seperti piguran di sana.


" ayo.. " ajak Leo di angguki Grace.


keduanyapun memasuki ruangan tersebut bertepatan dengan Silvie yang baru membukakan matanya.


" Sil.. " panggil Grace dengan suara bergetar. pandangannya tertuju pada perut Silvie yang sudah tidak ada tonjolan lagi.


Grace meremas lengan Leo dan memilih mengalihkan pandangannya. Dia tidak sanggup menatap Silvie lagi. dadanya terasa sesak dan tanpa aba-aba airmatanya menetes begitu saja.


" bang.. " panggil Silvie kepada Exel. dia sama sekali tidak memperdulikan panggilan sahabatnya.


" anak kita baik-baik aja kan bang? "


Exel mengelus kepala Silvie dengan lembut. Dia kesulitan untuk menjawab pertanyaan istrinya.


" kenapa abang diam aja.. anak kita baik-baik aja kan..? "


Exel masih diam. dia tidak sanggup mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada istrinya.


Silvie merasakan sesak di dadanya kala dia tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. kemudian wanita itu meletakkan tangan di atas perutnya.


deg.. Silvie menelan ludahnya kasar. ada perasaan kehilangan yang menghampirinya. dia tidak siap kehilangan sesuatu yang berharga di hidupnya. sosok bayi yang selalu dinantikan kehadirannya kini sudah tiada.


Silvie terdiam menatap kosong ke arah langit-langit. ini seperti mimpi buruk untuknya.


" Sil.. dengerin gue.. " ucap Exel dengan suara berat.

__ADS_1


kemudian di meraih tangan Silvie untuk digenggamnya dengan erat.


" anak kita sudah bahagia disana.. " ucapnya dengan pelan.


Silvie menggeleng terkekeh pelan, " ini gak adil.. kenapa hidup gue selucu ini, kita udah lama pengen punya anak, kenapa Tuhan gak percaya bang.. "


" gak begitu Sil.. "


" kenapa semuanya lebih sayang si Grace.. bahkan Tuhan aja ngasih dia kepercayaan dua kali.. sedangkan gue.. "


deg.. mendengar namanya disebut, rasa takut dan bersalah mulai menghantuinya.


Tangan Grace gemetaran dan jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Dia menangis terisak menyembunyikan wajahnya di tubuh suaminya.


sedang Leo, kini mengelus kepala Grace menguatkannya, juga menatap prihatin ke arah Silvie.


" apa ini jawaban atas do'aku Tuhan..? " batinnya.


Leo memang sering kali mengeluh dengan kehidupan yang membuat dirinya berada di posisi yang sulit. dimana dirinya harus membagi waktu untuk Silvie.


bukan ini yang di inginkan Leo atas do'anya. Dia menginginkan setidaknya sang Pencipta mencabut anugrah ngidam pada diri Silvie agar tidak membuatnya kesulitan. namun sepertinya Tuhan berkehendak lain.


.


.


.


.


Grace menyusutkan airmatanya. Dia lebih memilih keluar dari ruangan tersebut.


" kita pulang Le, gue kangen Cio.." ucapnya setengah berbisik kala sudah di luar.


Leo mengangguk setuju. Dia tahu bibir Grace bisa tersenyum, namun tidak bisa berbohong. Istrinya itu menangis dalam diam. maka dari itu sebaiknya Leo mengajak Grace pergi dari sana.


Leo tidak mau jika berlama-lama disana membuat pikiran istrinya terganggu karena merasakan beban perasaan bersalah atas masalah yang menimpa Silvie.


terlebih ketika melihat semuanya mengabaikan kehadiran Grace dan lebih perduli dengan kondisi Silvie.


.


.


.


" gak nunggu cairan infusnya habis dulu..? " tanya Leo.


Grace menggeleng, " gue baik-baik aja kok, gue laper.. " sahut Grace cengengesan.


Leo mengangguk tersenyum, kemudian membawa Grace kedalam pelukannya.


" Lo ibu yang kuat.. " ucapnya dengan lirih.


Grace mengangguk dan mengeratkan pelukannya, memang saat ini dia sangat membutuhkan dekapan hangat dari suaminya. itu sudah menjadi penyemangat baginya.


" mau mampir apa mau makan di rumah..? "


" mampir dulu.. bungkus yang banyak.. " sahut Grace terkekeh.


" okeh.. bentar gue panggilin suster dulu buat cabut infusan lo.. "


Grace mengangguk. Dia menatap kepergian Leo dengan sendu. Dia merasa bersalah kepada suaminya, tetapi untuk mengucapkan kata maaf lidahnya terasa berat.


.


.


.


sepanjang perjalanannya, Grace terus saja diam membisu. Dia memikirkan kembali sahabatnya. ucapan Silvie terdengar seperti iri dan menyalahkannya. dia merasa tertampar akan itu.


sementara Leo sesekali melirik ke samping. dia tersenyum kemudian meraih tangan Grace. akhirnya istrinya kembali padanya. walaupun harus ada kejadian fatal yang menimpa keluarga sahabatnya, tetapi setidaknya Grace bersikap biasa lagi kepadanya.


" Grace.. " panggilnya dengan lirih.

__ADS_1


" eh iya.. "


" I love you.. teruslah jadi ibu yang kuat buat anak anak kita.. "


blushhh.. seketika wajah Grace langsung merona. disaat seperti ini, Leo masih bisa menggombal kepadanya. dan Grace hanya bisa mengangguk dengan gugup.


.


.


.


.


sementara di tempat lain, Exel masih setia duduk di tepi ranjang Silvie. Dia mencoba menguatkan istrinya.


" bang.. " Silvie merengek.


Exel berdiri kemudian memeluk Silvie, lalu memberikan kecupan di keningnya. Dia terus membisikkan kalimat yang menenangkan untuk istrinya.


" Lo harus kuat Sil, harus sabar.. percayalah, Tuhan bakalan ngasih hadiah yang lebih indah dari ini.. Gue selalu ada buat lo.."


Exel kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Silvie dengan lembut.


Exel tersenyum kala Silvie mengangguk lemah dengan wajah yang pucat. Exel jelas merasakan sakit yang sama dengan Silvie ketika tahu mereka kehilangan buah hati yang selalu dinantikannya. akan tetapi, Dia harus lebih tegar dari pada Silvie, dia harus menguatkan istrinya.


sampai pada akhirnya Silvie tertidur karena lelah menangisi kepergian buah hatinya.


Exel menahan tangis menatap sang istri yang sudah terlelap. Dia menyesal sebab tidak becus menjaga anak dan istrinya. ada rasa malu jika harus berhadapan dengan orang tua Silvie. Exel merasa bukan suami yang siaga untuk putri mereka.


" Exel brengsek.. "


Sedang di luar ruangan, Lolita sedari tadi berdiri mematung di balik pintu menatap Silvie yang terbaring lemah dari selah kaca pintu tersebut.


" udah malem, sebaiknya kita pulang.. "


Lolita terkejut saat tangan dingin mengusap bahunya. kemudian Ia menoleh dan mengangguk tersenyum " iya mas.. "


setelah berpamitan kepada keluarga Exel, keduanya pun bergegas pulang ke kediaman Wilson.


Lolita terkekeh pelan melihat penampilannya bersama Wilson, keduanya bahkan belum sempat mengganti baju pengantin sama sekali.


" ada apa..? ada yang aneh yah..? " tanya Wilson bingung.


Lolita menggeleng, " kasian yah Mas mereka harus kehilangan.. " ucap Lolita memilih membahas keluarga Exel.


" takdir Tuhan memang gak bisa di tebak, kayak kita.." sahut Wilson santai.


" kayak kita..? " tanya Lolita mengerutkan dahinya bingung.


" hemm.. siapa yang bisa nebak kalo kita berjodoh..? "


deg.. Lolita langsung gugup seketika. dia harus mengalihkan topik kembali.


" aku merasa bersalah mas sama mereka, apalagi liat Silvie terbaring lemah gitu, jadi inget dulu suaminya juga begitu.. "


Wilson mangut paham dengan perasaan bersalah Lolita, Dia kembali mengingat kejadian naas yang menimpa Exel.


" iyah.. aku inget, Si Exel pernah koma gara-gara ulah si Aldo.. kuat juga tuh anak.. " sahutnya santai sambil terkekeh.


seketika senyumannya hilang saat mengingat kronologis kejadian tersebut. dia ingat jika sebelum Exel tak sadarkan diri akibat mendapat pukulan keras di belakang kepalanya, ada sosok perempuan sebagai umpan agar Exel mau menghampirinya.


Wilson meneguk ludahnya susah, lalu melirik Lolita yang sedari tadi menunduk. Dia tahu jika istrinya pernah bekerja sama dengan Aldo, tetapi Wilson seolah penasaran dengan sosok perempuan tersebut, apakah memang benar Lolita.


" Lita, "


" eh.. iya mas kenapa? "


" maaf sebelumnya, apa kamu juga terlibat waktu kejadian itu..? "


" maksud mas..? "


Wilson menghela napas kasar, dia menyesal sudah mengungkit kembali masa kelam istrinya. namun ini sudah terlanjur, dan akhirnya Wilson pun menceritakan kronologis kejadian Exel dimana ada sosok perempuan yang membuatnya penasaran.


" apa itu kamu Lita. ? " tanyanya dengan ragu.

__ADS_1


Lolita menggeleng dengan cepat, sebelumnya Ia terkejut mendengar penuturan Wilson yang pada akhirnya menuduhnya.


" bukan mas, bukan aku.. "


__ADS_2