
Gadis malang saat ini masih terbaring lemah belum sadarkan diri setelah operasi pengambilan peluru diperutnya.
Operasi yang di lakukan oleh beberapa dokter ahli bedah sekaligus rekan kerja Wilson si dokter yang merangkap menjadi dosen itu di laksanakan di rumah pribadi Wilson yang memiliki ruangan khusus seperti klinik dan ada ruang operasi juga di dalamnya yang tidak kalah lengkap dan canggih daripada rumah sakit umumnya.
sementara pelaku penembakan yang tak lain adalah Aldo, saat ini tengah dilakukan penyembuhan terhadap beberapa luka yang didapatnya akibat serangan yang membabi-buta dari Grace.
sebelum Aldo diseret ke pihak yang berwajib oleh Exel, Aldo terlebih dulu diberikan penangan atas lukanya, lebih tepatnya di paksa sembuh oleh Leonard yang mempunyai maksud dan rencana nantinya.
🌿🌿🌿
Wilson tak hentinya menatap pasien yang baru saja di tangani olehnya.
tatapan iba terpatri menyoroti gadis malang di hadapannya.
Lolita si gadis malang yang nekad pasang badan melindungi Grace dari serangan Aldo yang menarik pelatuknya tanpa ampun.
niat baik dari Grace dan Leo yang akan melindungi Lolita juga keluarganya membuat Lolita merasa tertampar dengan kelapangan jiwa pasangan tersebut.
maka dari itu Ia siap pasang badan untuk keselamatan Grace untuk menebus semua kesalahannya selama ini.
gadis bodoh.. gadis malang, beruntung Tuhan belum ngijinin lo pulang.. konyol..
.
.
.
.
Kini semua sedang berada di ruangan tempat di mana Silvie tengah di rawat.
menyaksikan aksi penembakan terhadap orang yang penting baginya, membuat Silvie seketika jatuh pingsan di dekapan Exel, dan sampai sekarang dirinya belum juga sadarkan diri.
.
.
.
rasa nyeri di sekujur tubuh Grace seolah kalah dengan rasa bersalah terhadap Silvie juga Exel.
terlebih melihat kondisi Silvie sekarang membuat Grace terus mengutuk dirinya sendiri.
bahkan Grace menolak untuk ditangani oleh Ester yang hendak mengobati lukanya.
Ya.. memang Ester sengaja di ikut sertakan untuk menangani Silvie, sebab jiwa posesif Exel tidak membiarkan tenaga medis pria untuk menangani istrinya.
Wilson sudah menjelaskan secara rinci kepada sang Ibu, dan memohon agar Ester tidak menceritakan ini semua kepada orangtua Leo ataupun Exel.
inilah alasan mengapa Wilson melakukan penanganan dan pengobatan mereka di kediamannya, guna menjaga kerahasiaan.
.
.
.
Grace mengusap wajah kasar, menyapu air matanya, perasaannya tiba-tiba gusar kala melihat Exel yang sedari tadi mendiamkan dirinya dan Leo.
dan bukan hanya Exel yang terlihat mendiamkannya, Megan bersama Ari juga terlihat lebih mencemaskan kondisi Silvie.
semua atensi mengarah pada Silvie yang terbaring lemah tanpa mempedulikan kondisi Grace.
hanya Leo yang peka dengan apa yang dirasakan Grace saat ini. tak hentinya Ia mengusap punggung Grace untuk menenangkannya.
" are you okay..? kita pulang yah.. " ajaknya pada Grace.
Grace menggeleng dengan cepat, Ia tidak mau pulang sebelum melihat Silvie sadarkan diri.
" gue baik-baik aja.."
Leo menghela napas pasrah, dia tidak bisa memaksa si keras kepala Grace.
Leo tahu Grace sedang tidak baik-baik saja. Ia sendiri tidak menyangka dengan kejadian yang menimpa keluarga juga sahabatnya sekarang. hingga membuat mental mereka terguncang terlebih Grace yang pandai menyembunyikannya.
" Grace.. gue takut.. "
deg.. suara Silvie yang mengigau dengan tubuh yang gemetaran dan mengeluarkan keringat membuat semuanya terkesiap cemas dengannya.
tak terkecuali Grace yang namanya di sebut, lantas Grace pun langsung beringsut menghampiri Silvie yang tengah di periksa oleh Ester.
" Grace.. " lagi. nama Grace yang di sebut oleh Silvie.
sementara Exel memilih bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Grace untuk duduk disamping ranjang Silvie.
" gue disini Sil.. sorry, ini semua gara-gara gue.. " ucap Grace lirih seraya menggenggam tangan Silvie.
__ADS_1
Grace memperhatikan Ester yang tengah memeriksa tubuh Silvie, matanya mengikuti kemanapun tangan Ester bergerak.
mata Grace membola kala Ester menyingkap baju Silvie yang memperlihatkan bagian punggung dengan beberapa luka seperti bekas cambukan.
sial.. tumpah juga airmata yang sedari tadi ditahannya.
begitupun dengan Exel yang baru mengetahui luka yang di dapat istrinya selain luka lebam di wajah juga beberapa sayatan di lengannya, kini Exel benar-benar rapuh tak kuasa menahan air matanya.
sama halanya dengan Grace, tak hentinya Exel mengutuk dirinya sendiri sebab tidak becus menjaga Silvie.
setelah Ester selesai melakukan serangkaian pemeriksaan pada tubuh Silvie, beralih menatap Exel dengan tatapan sulit untuk di artikan.
" El.. tante mau bicara sama kamu.." ucapnya.
Exel tidak menyahuti atau sekedar menganggukkan kepalapun tidak, tetapi kupingnya siap untuk mendengar apapun yang dikatakan oleh Ester.
Leo yang mengerti arti tatapan ragu dari Ester membuatnya langsung berpindah posisi di belakang Exel, Ia tahu sohibnya itu akan menggila dengan sifat tempramen nya.
menghela napas, sebelum Ester berujar.
" apa sebelumnya kamu mengetahui kehamilan istrimu nak..? "
deg.. Exel tercekat begitupun dengan yang lainnya ikut terkejut.
" hamil ..? istri El hamil tante..? " tanya Exel di angguki Ester.
" istrimu mengalami truma berat.. jadi.. "
Exel terkekeh pelan, " Exel brengsek.. istri hamil aja lo gak tahu.. "
Leo langsung mendekap Exel yang hendak menyakiti dirinya sendiri.
" bego.. bego.. gue gak bisa jagain istri dan calon anak sendiri.. brengsek emang lo Exel udah bunuh anak lo.. . "
Ester menatap Exel dengan tatapan heran, bisa-bisanya anak itu berpikir pendek.
" ah.. Exel.. come on.. dengerin tante.. anak kamu baik-baik aja.. "
ucap Ester begitu frustasi menanggapi Exel yang menggila akibat menyela ucapannya.
" tante serius..? " tanya Exel mengerjapkan matanya berulang.
Ester hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah.
gila.. anak ini benar-benar gila, baru saja dirinya terlihat seperti singa buas, sekarang tiba-tiba seperti anak kucing yang menggemaskan.
Exel tergelak dan tak segan melakukan selebrasinya di hadapan semua orang.
ucap Exel sumringah seraya mengguncangkan tubuh Leo.
" hemm.. " jawab Leo singkat membuat Exel berdecak kesal.
" ck.. jawaban lo gak berguna, hemm hemm doang.. "
" terus gue harus jawab apa sialan..? lo berharap gue puitis.. tanya noh si kunyuk biar dia yang jawab kek gitu.. "
" anying.. gue lagi jadi sasaran.. " gumam Ari mendelik lalu membuang muka kala Exel beralih menatapnya meminta tanggapan.
" iya abang El.. abang hebat.. jos.. " sahut Ari terdengar tidak ikhlas membuat yang lainnya menggeleng terkekeh kecuali Exel yang menepuk dada bangga.
Exel beralih menatap Grace yang sedari tadi diabaikan olehnya.
blughh.. Exel langsung memeluk Grace dengan erat.
" Grace.. gue hebat kan..?"
" ya.. ya.. lo hebat bang.. " sahut Grace gugup dengan matanya memandang Leo yang berdecak kesal.
" jangan lama-lama sialan.. " celetuk Leo kesal dengan sohibnya itu.
dan sialnya Exel seolah sengaja semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat Grace menatap Leo penuh harap sebab dirinya merasakan sesak.
" Exel sialan.. mau gue patahin tangan lo.. " umpat Leo seraya melepas paksa tubuh Exel.
" oh okeh.. sorry.. " sahut Exel cengengesan tanpa dosa mengangkat kedua tangannya.
melihat tingkah Exel yang menyebalkan, membuat Ari bergidik merinding membayangkan sesuatu.
" Mudah-mudahan aja lo gak ngidam kayak si Leo El.. " celetuknya.
" hemmm.. menarik, dan lo orang yang bakal gue bikin kerepotan.. " sahut Exel santai.
" mana ada ngidam direncanain bego.. itu mah elo emang niat nyiksa gue kamprett.. "
" itu lo tau.. "
Lagi, perdebatan antara ketiga sohib terus berlangsung dengan Ari sebagai sasaran ejekan mereka tanpa memperdulikan kehadiran Ester yang menggeleng dengan kelakuan mereka.
__ADS_1
" El.. " panggil Grace menghentikan perdebatan itu dan beralih pada Grace.
" maafin gue, gara-gara lo selalu ada buat keluarga gue, lo sampe kecolongan buat jagain si Silvie.. "
ucap Grace dengan lirih seraya menunduk.
" huss.. lo ngomong apaan sih Grace..? kita ini udah kayak keluarga, bukan gue doang yang peduli sama keluarga lo Grace, ada abang Ari juga.. iyakan bang..? "
sahut Exel yang sudah kembali ke mode warasnya.
" hemm.. betul itu, cuma perlakuan kita beda porsi aja Grace.." timpal Ari mengangguk setuju.
" Lo gak usah ngerasa bersalah atas kejadian ini Grace.. ini semua udah jalannya, jadiin semua ini buat kita semakin kuat, keluarga kita semakin erat.. dan geng kita semakin solid.. " lanjut Exel kembali di angguki setuju oleh semuanya.
" ayang Leonard aja yang jadi cemceman bebeb Aldo, diem diem bae.. " sahut Ari cengengesan disusul kekehan dari yang lainnya kecuali Leo yang berdecak kesal dan langsung menoyor kepalanya.
" sotoy lo.. "
" gimana rasanya Le di cintai kaum shodom? " tanya Ari cekikikan.
" cuih.. najiss.. " sahut Leo bergidik geli membuat semuanya tergelak termasuk Grace.
" ngomong-ngomong, Si Aldo same apa ukke..? ah gue rasa dia same dah.. secara muka lo kadang cantik Le kalo gue liat-liat.. " ucap Ari kembali seraya mengelus dagunya menerka-nerka.
" lo paling paham dunia begituan kunyuk.. sampe tau bahasa same ukke segala.. wah jangan jangan lo.. "
" yehh.. gue mah gak kudet kaya lo berdua.. " sela Ari santai.
" lo berdua sih kalo udah deket suka berlebihan, jadi orang pada nyangka lo kaum pelangi.. " lanjut Ari cengengesan.
Grace yang tadinya merasa gusarpun tak hentinya tertawa mendengar perdebatan mereka yang menjadikan Leo sebagai sasaran ejekan sekarang.
" sekarang selain harus waspada sama cewek-cewek yang ngejar papinya cio, gue harus waspada sama cowok juga kayaknya.. "
ucap Grace sok serius.
" nah bener itu Grace.. " Megan kini menyahuti setuju.
Ester yang memperhatikan obrolan meraka, akhirnya harus pamit sebelum dirinya ikut tidak waras,
" tante keluar dulu.. Lama-lama bisa gila..
- El.. inget..! jaga istri kamu, dia benar-benar harus bedrest.. "
" siap tan.. makasih ya tan.. "
" hmm.. selain fisiknya yang lemah, mentalnya juga terguncang El.. taukan istrimu trauma berat..?"
" sama kayak gadis malang itu.. "
deg..
suara bariton dari ambang pintu membuat semuanya terkejut.
Wilson kini bersidekap dada, mengamati mereka yang langsung terdiam. Ia menyunggingkan senyuman, bisa-bisanya mereka saling melempar candaan di tengah pasien yang sedang tak sadarkan diri. dasar budak-budak labil. mereka dengan santainya tak memperdulikan kondisi gadis malang itu.
" bang.. gimana keadaan cewek itu..? " tanya Grace memecahkan keheningan di angguki yang lainnya.
Wilson menghela napas panjang, tebakannya salah, ternyata mereka masih perduli dengan gadis itu.
" operasinya lancar.. sekarang tinggal tahap pemulihan.. " jawabnya dengan lugas.
terdengar helaan napas lega dari semuanya.
" gue percaya sama lo bang.. " sahut Leo seraya menepuk bahu si dokter jenius itu.
" yoi bang.. emang lo bukan kaleng kaleng.. " celetuk Ari cekikikan.
" orangtuanya pasti khawatirin dia.. nyariin dia.." ucap Grace dengan lirih. perasaan bersalah kembali menghantui dirinya.
" dia yatim-piatu.. selama ini dia kerja buat hidupin adik yang diurus neneknya.. " sahut Wilson tampak menatap kosong kedepan.
lagi-lagi Grace merasa bersalah dengan kejadian ini, bagaimanapun juga dirinya berhutang nyawa terhadap Lolita.
" dia gadis malang.. " lanjut Wilson.
Grace tiba-tiba terisak, membuat Leo langsung membawa Grace kedalam dekapannya.
" kenapa gak lo kawinin aja tuh cewek bang.. biar ada yang jagain.. lumayan kan status jomblo akut lo jadi bebas.. " celetuk Ari tanpa dosa, dengan nada bercanda guna mengurai ketegangan kembali.
dan tanpa di duga Wilson mengangguk antusias,
" secepatnya.. gue nikahin dia.."
" hahhh..!!! "
.
__ADS_1
.
.