
Waktu bergulir begitu saja. Hari ini hari minggu, hari yang di nanti oleh keluarga yang akan menggelar pesta kehamilan.
Leo merasa hidupnya begitu sempurna melihat Grace yang begitu bahagia bersama kedua orang tuanya, tak lupa dengan kedua sahabat juga sohibnya yang sangat antusias mempersiapkan acara pesta kehamilan Grace.
Keduanya menggelar pesta yang sederhana dikediaman Hendri dan Deti,
Pesta yang hanya mengundang kerabat dekat juga anak-anak panti bertemakan outdoor di taman belakang.
"Sayang mau kemana..? "
Leo menarik lengan Grace yang hendak beranjak bergabung bersama kedua sahabatnya yang tengah sibuk menghias taman tersebut.
Grace menghela napas, "Mau bantuin mereka.. " ucapnya pelan merasa malu dengan keadaan sekitar karena sejak tadi Leo terus mendekapnya dari belakang.
"Udah sini aja, udah banyak orang yang bantuin, emangnya lo bisa bantu apa..? "
Goda Leo seraya melingkarkan lengannya diperut dan dagunya yang bertopang pada bahu Grace.
"Lo ngeremehin gue? Gue bisa ko ambil alih kerjaan mereka.. "
timpal Grace tak terima seraya menunjuk kedua sohib Leo yang sedang memasang beberapa lampu bohlam gantung ditaman tersebut.
"Bukan gitu.. Gue gak mau lo capek.. Inikan pesta kita.. "
timpal Leo seraya mengeratkan pelukannya.
"Iya tapi lepasin dulu.. malu tau.. " ucap Grace mencoba mengurai pelukan Leo
Leo terkekeh, "Yaudah sini.. " Ia menepuk bahunya agar Grace bersandar di sana.
"hemm" Grace menurut menyandarkan kepalanya dibahu Leo
"Grace.. "
"Hemm.. "
"Apa lo bahagia..? "tanya Leo seraya mengusap kepala Grace membuatnya mendongak,
"Kenapa lo nanya gitu..? Lo gak bahagia Le..? Gue gibeg lo.. "
timpal Grace dengan ketus.
Leo malah terkekeh mengacak gemas rambut Grace,
"gak ada alasan buat gue gak bahagia kalo lo selalu disamping gue.. "
ucapnya serius menatap wajah Grace.
"Ck.. Gembel.. udah gue mau istirahat aja dikamar.." timpal Grace seraya bangkit dari duduknya namun lengan Leo mencekalnya,
"Gue temenin.. "
"hemm.. "
Keduanyapun beristirahat dikamar meninggalkan semua dengan kesibukannya.
Sore hari Grace baru bangun dari tidurnya dan tak mendapati Leo disampingnya. Grace bergegas ke kamar mandi membersihkan dirinya setelah melihat gaun yang menjuntai ditepi tempat tidur yang telah disiapkan Leo untuknya.
Grace menatap dirinya didepan cermin, Ia tersenyum melihat penampilannya sendiri dengan gaun berwarna soft yang menyempurnakan tubuhnya dengan perut yang kini sedikit membuncit.
ceklek.. suara pintu membuatnya menoleh,
"Sayang.. udah bangun..? "
Leo begitu tampan dengan setelan jasnya, terlihat begitu dewasa dimata Grace.
Grace mengangguk tanpa mengedipkan mata menatap Leo yang kini menghampirinya, membuatnya menjadi tidak percaya dengan penampilannya seaarang.
"Lo selalu cantik Grace.. " bisik Leo membuyarkan lamunan Grace, seolah paham apa yang ada dipikirannya.
mendengar itu, Grace mengulas senyuman merasa lega walaupun kalimat itu sering di dengarnya dari mulut Leo, tetapi kali ini rasanya berbeda,
"Lo semakin tampan Leonard.. " ucapnya menatap wajah Leo dengan mata yang berbinar.
Leo pun tersenyum mendengar pujian dari Grace seraya menariknya untuk lebih dekat.
Cup.. sebuah ciuman singkat namun terasa manis dan berkesan untuk keduanya.
"Ayo.. turun, semuanya udah nungguin.. " bisik Leo kembali membuyarkan lamunan Grace
Grace mengerjapkan matanya, "Hahh..? "
Leo mengulum senyuman, "Bisa berabe kalo dilanjutin.. " timpal Leo mengerti bahwa Grace mengharapkan yang lebih.
Grace mengangguk dengan wajah yang bersemu merah,
"Bodoh lo Grace.. " batinnya seraya memukul kepalanya membuat Leo terkekeh.
keduanyapun keluar dari kamar dengan saling menggenggam satu sama lain.
Saat menuruni tangga terlihat kedua orang tua Leo telah menunggu bersama ayahnya Grace.
"Sayang.. kamu terlihat cantik hari ini" ucap Bram saat memeluk Grace, namun
Grace hanya membalas dengan tersenyum tipis, Ia mengedarkan pandangan seperti mencari seseorang
Leo yang mengerti gelagat Grace, menarik lengannya untuk mengajaknya ke taman tempat dimana pesta tersebut digelar.
"Ayo.. ada yang mau ketemu sama lo.. pasti lo seneng.. " ucap Leo seraya menariknya keluar.
"Siapa..? "
"tar lo juga tau.. "
Grace melongo menutup mulut tak percaya saat melihat Iyan anak Astro bersama Ibunya.
Leo merasa ngilu mengikuti langkah Grace yang tergesa sebab sangat antusias menghampiri Iyan beserta Ibunya.
"Emak.. " Grace menyapa dengan sok kenal seraya mencium tangan Emak.
__ADS_1
"Eh.. ini neng Grace, cakep bener dah.. " timpal Emak mengusap rambut Grace
"Iya mak.. udah lama mak? " Grace sok akrab senang sekali Emak mengelus rambutnya.
"Baru nyampe neng.. rumahnya lega bener.. Emak ampe nyasar.. "
ucap Emak nyerocos
"Ehem.. " deheman Leo membuyarkan pandangan Grace yang tak hentinya menatap Iyan.
"Oh yah mak.. Kenalin nih suami Grace.. " ucap Grace menarik lengan Leo.
"Leonard.." ucap Leo seraya mencium tangan emak, membuat ema terdiam sejenak dengan perlakuannya.
Emak terbelalak melihat ketampanan dari diri Leo,
"Busett..lu cakep bener tong.. Kaya chanyeol EXO.. " ucap emak tanpa berkedip.
"Etdah mak.. bikin Iyan malu aja." gumam Iyan menyikut lengan emak agar Emak segera sadar, sementara Grace dan Leo langsung terkekeh.
"Yan.. Mak lo pecinta kpop..? " tanya Grace penasaran di angguki oleh Iyan..
"drakor juga suhu.. " jawab Iyan gugup.
"Oh ya neng.. selamet yeh buat kehamilannya, Mudah-mudahan dilancarin sampe brojol" ucap Emak mulai sadar dari halusinasinya.
"Amiin .. Makasih.. " timpal keduanya kompak mengangguk.
"Emak juga mau bilang makasih sama Oppa..? " Emak kembali menatap Leo kebingungan lupa lagi siapa namanya.
"Leo mak.. Leo.. Emak bener bener bikin Iyan malu aja.. " timpal Iyan geregetan.
"Brisik lu.. muka pas-pasan juga.. " ucap Emak ketus menoyor kepala Iyan.
"Yeh.. dipikir babeh kayak Liminhu.? " timpal Iyan tak mau kalah.
"Emak lupa kan tadi mau ngomong apaan? " ucap Emak kesal kembali menoyor kepala Iyan , merasa gara gara Iyan lah Emak jadi lupa tujuannya.
"Makasih mak.. Makasih buat si bos.. " timpal Iyan malu menepak jidatnya sendiri.
" punya nyokap, gini amat yak.." batinnya.
"Oh iye..makasih yeh oppa, udeh beliin emak.."
ucapan Emak terpotong, sebab Iyan buru-buru membekap mulut emak.
" Makasih bos udah ngundang kita kesini.. Gue kesana dulu ya.. " ucap Iyan gelagapan seraya menarik emak untuk menjauh dari mereka.
Grace terkekeh melihat Iyan terus mendapatkan toyoran dari Emak.
"Lo beliin nyokap si Iyan apaan? " tanya Grace penasaran.
Leo menggeleng, "gak penting.. ! " ucapnya datar dan cuek.
"Okeh.. " timpal Grace malas membahasnya, memang dirinya sudah biasa dengan kebaikan dari Leo. hanya saja untuk hal ini, Grace merasa heran saja kenapa Leo bisa antusias membelikan sesuatu untuk orang yang sudah jelas Leo cemburu terhadapnya.
...****************...
Grace kembali mengedarkan pandangannya mencari seseorang.
Leo menggenggam tangannya dengan erat menenangkan perasaan Grace.
Ditengah riuhnya kegembiraan anak-anak panti dan tamu undangan lainnya yang menyantap makanan diiringi musik, Grace terlihat gusar masih saja mencari juga menanti kehadiran seseorang.
Leo menarik lengannya agar ikut naik ke atas panggung.
di sana sudah berada Exel juga Ari dengan alat musik akustiknya.
Leo memberikan gitar pada Grace,
"main bareng.. " ucap Leo seraya mengambil microphone untuknya bernyanyi.
Grace mengangguk tersenyum seraya mengalungkan tali gitarnya.
tak lupa Exel telah siap dengan bassnya juga Ari dengan cajonnya.
Ketiganya begitu piawai memainkan alat musiknya, begitupun Leo dengan suara merdunya menyanyikan lagu khusus untuk perempuan yang sedang mengandung anaknya.
"Anugerah terindah yang pernah kumiliki by sheila on7"
lirik demi lirik yang dilantunkan membuat pendengarnya terkagum juga tersentuh tak terkecuali Grace yang sedari tadi saling menatap dengan Leo, solah dunia hanya milik berdua.
senja kali ini begitu indah.
"Baper anjir.. " ucap Silvie seraya mengangkat ponselnya.
"Bego.. ngapain lo live? Mau heboh lo? " ucap Megan menoyor kepala Silvie.
"Dih.. Orang gue mau videoin abang El .. " timpal Silvie seraya membalas menoyor Megan.
"Iya sorry, gue pikir lo live ig.. " ucap Megan santai
"Anjir gue bisa dibunuh sama tuh anak... " timpal Silvie bergidik menunjuk Grace dengan dagunya membuat Megan menggeleng terkekeh.
Acara telah selesai seiring matahari telah hilang menjadi kegelapan. Semua tamu undangan juga sahabat mereka mengucapkan selamat dan memanjatkan doa kembali untuk keduanya sebelum berpamitan pulang.
Grace menghampiri Bram yang tengah berbincang dengan kedua mertuanya.
"Dad.. Kita perlu bicara.. " ucap Grace seraya menarik lengan ayahnya.
Bram pun mengangguk mengikuti langkah Grace keluar rumah.
"ada apa nak? "
"Kenapa istri Daddy gak diajak? Grace udah undang dia langsung.."
"Nak.. "
"apa yang sebenarnya terjadi Dad..? " Grace masih santai.
__ADS_1
"Maksud kamu apa sayang, Daddy gak ngerti..? " timpal Bram gugup.
"Kasih Grace alasan kenapa Daddy menikahi dia kalo Daddy gak cinta dan gak peduli sama dia.. "
ucap Grace penuh penekanan.
"Okeh Daddy jelasin.. Kamu dengerin baik-baik sayang, ini semua Mommy yang minta sama kaya perjodohanmu dengan Leo.. "
Bram pun menjelaskan alasan dirinya menikahi Anita karena permintaan Sarah.
Anita merupakan pengasuh Grace, tentu saja Grace tidak akan mengingatnya sebab Anita mengasuhnya hanya sampai umur Grace tiga tahun setelah Sarah memutuskan untuk vakum dari kesibukannya.
Begitupun dengan suami dari Anita yang merupakan supir pribadi Bram telah mengabdi cukup lama sampai maut menjemputnya.
Anita sendiri sudah tidak punya siapa-siapa setalah suaminya meninggal kerena kecelakaan , dan dengan keikhlasannya suami Anita mendonorkan organ tubuhnya demi kesembuhan Sarah.
Ia berpesan kepada Bram juga Sarah ditengah sekaratnya sebelum matanya terpejam untuk selamanya untuk menjaga Anita.
Bram menuturkan penjelasan seraya meneteskan airmata mengingat kenangan dulu dimana suami Anita begitu loyalitas mengabdi untuk keluarganya.
Hati Grace kembali terkoyak, seluruh tubuhnya bergetar, air matanya tak mampu dibendung lagi.
"Nak.. " Bram mencoba meraih tangan Grace, tetapi langsung di tepis oleh Grace.
"Apa Daddy sering melukainya? Sama seperti dulu Daddy melakukannya pada Mommy..? "
Grace mulai menggebu.
"tidak seperti itu sayang.. " ucap Bram terbata-bata.
"Stop Dad..! Daddy boleh tidak mencintai dia, tapi setidaknya punya sedikit rasa kemanusiaan tidak menyiksanya, jiwa dia lebih sakit daripada luka diraganya yang didapatkan dari Daddy sebagai suaminya.. "
ucap Grace dengan napas mulai tersengal,
Grace mencoba mengatur napasnya,
"Dadd.. Bukankah Grace sama Leo juga menikah karena terpaksa?
tapi Daddy bisa liat kehidupan Grace sekarang karna apa?
Karena kami berusaha mengerti satu sama lain.. "
ucap Grace dengan tegas membuat Bram menunduk tak berani menatap putrinya,
"Nak..!!! " suara seseorang dengan lirih membuat keduanya lansung menoleh ke arahnya.
Grace menghampiri Anita yang sedari tadi berdiri mematung mendengarkan percakapan keduanya.
Ia pun menarik lengan Anita dan membawanya kehadapan Bram.
"Lepasin dia Dad, biarkan dia hidup dengan tenang kalo Daddy tidak peduli dengannya.. " ucap Grace mulai menggebu dengan setia menggenggam tangan Anita yang menunduk gemetaran.
mendengar ucapan putrinya, Bram langsung menggeleng tidak setuju.
"Kenapa Dad..? Daddy udah menyiksa lahir batin.. " ucap Grace tersenyum kecut menatap jijik ke arah Bram yang menurutnya sebagai laki laki pengecut.
"Daddy janji sayang akan memulai semuanya dari awal.. "ucap Bram dengan bersungguh sungguh.
"Buktikan..! "
Grace menatap tajam ke arah ayahnya. seolah tidak percaya begitu saja dengan janji Ayahnya. sementara Bram hanya mengangguk antusias mengiyakan.
"Tolong buang sifat tempramen Daddy.. Cukup Mommy yang mengalaminya dulu.. " ucap Grace kembali menekankan dengan sorotan tajam, membuat Bram lagi lagi hanya bisa mengangguk patuh.
"Nak.. maap Ibu datang terlambat.. " Anita memberanikan diri bersuara untuk mengurai ketegangan yang ada di hadapannya.
Grace menggeleng dengan cepat, tetapi matanya melirik tangan Anita yang memegang sesuatu.
"Ini ibu bawakan.. Ibu tau kamu sudah punya segalanya..
tapi tolong diterima hadiah Ibu yang tidak seberapa Ini.. "
ucap Anita gugup seraya menyodorkan hadiah pada Grace.
Grace antusias menerimanya seraya mengangguk mengulas senyuman, "terimakasih bu.. "
deg... Jantung Anita berdetak dengan cepat mendengar Grace memanggilnya dengan sebutan Ibu.
"Sama-sama nak..Apa Ibu boleh mengusap perutmu sebentar saja? "
ucap Anita masih gugup tak berani menatap Grace.
Grace mengangguk dengan cepat, "Tentu bu.. " ucapnya seraya meraih tangan Anita lalu meletakkannya di atas perutnya yang mulai membuncit.
Anita terdiam sejenak dengan mata yang berkaca-kaca.
Di dalam hatinya Ia memanjatkan doa yang terbaik untuk keluarga kecil anak sambungnya.
"Bu.. " lirih Grace menatap Anita dengan sendu.
Anita terhenyak dan langsung melepaskan tangannya dari perut Grace karena merasa sudah lancang dan berlebihan.
"Iya nak.. kenapa..? " ucap Anita mendongak menatap Grace.
"Boleh Grace memeluk Ibu..? " ucap Grace gugup.
Tanpa aba-aba Anita langsung memeluk Grace dengan hangat, begitupun dengan Grace yang mulai terisak,
"tolong jangan mundur bu.. " lirihnya di bahu Anita.
Anita tidak mampu berkata apapun, tetapi dirinya melirik Bram yang sedari tadi memperhatikan.
Brampun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum membuat Anita mengulas senyuman, " baik nak."
Pemandangan dan percakapan tersebut tak luput dari perhatian Leo dan kedua orang tuanya yang berdiri di ambang pintu. memang sedari tadi saat Bram mengikuti Grace keluar rumah, mereka juga turut mengikutinya sebab merasa ada yang berbeda dengan raut wajah Grace. mereka juga membiarkan Grace mengatasi masalahnya sendiri dulu. beruntung seorang Grace mampu akan hal itu.
"Tuhan.. terimakasih Engkau telah menganugerahkan menantu yang berhati seperti malaikat.. " Deti.
" terimakasih Tuhan.. telah menghadirkan gadis sepertinya ditengah keluarga kami.. " Hendri.
__ADS_1
" Untuk kesekian kalinya gue jatuh cinta sama lo gadis barbar.. "