Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 126


__ADS_3

Di sini sekarang Silvie berada, rumah yang jauh dari ekspetasinya yakni kediaman Exel selama berpisah dengannya. Wanita itu tidak bisa menolak perintah kedua orangtuanya, terlebih dia tidak punya tempat untuk pelarian mengingat hubungan bersama kedua sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.


Silvie juga merasa tidak percaya dengan keputusan ayahnya. Dia sudah berharap bahwa ayahnya akan membelanya kembali, bahkan Ia sempat membayangkan jika sang ayah akan meremehkan tindakan Exel.


tebakannya salah, mereka malah berpihak kepada Exel, bahkan kedua orangtuanya sangat antusias mengantarkannya sampai benar-benar memasuki kediaman barunya. Dan yang membuat Silvie semakin kesal ialah saat dirinya dibiarkan di bonceng oleh Exel, semetara kedua orangtuanya membuntuti dari belakang menggunakan mobil mewah bersama para pengawal.


Parahnya lagi mereka hanya membekali Silvie dua setel pakaian saja, padahal selama Silvie tinggal di sana, wanita itu sempat berbelanja banyak sekali pakaian mahal mengingat pakaiannya sebagian masih di rumah orangtua Exel. dan sekarang Silvie benar-benar harus memulai semuanya dari nol termasuk menata kembali hatinya untuk Exel.


.


.


.


Kini semuanya sedang duduk di ruang tamu rumah tersebut dengan posisi seperti sedang berdiskusi, setelah kedua orangtua Silvie menyempatkan untuk berkeliling melihat keadaan rumah yang akan di huni oleh putrinya itu. mereka rasa rumah itu tidak buruk juga, walaupun berada di tengah pemukiman yang cukup padat, tetapi masih asri juga sangat nyaman.


Exel tampak menunduk kala harus berhadapan dengan mertuanya, sementara Silvie terus saja memalingkan wajahnya membuat kedua orangtuanya saling melirik sambil menganggukkan kepala dengan kompak. mereka harus segera pergi dari sana mengingat waktu sudah dini hari.


" sekarang papi serahkan kembali putri papi sama kamu El.." ucap Shaw seraya menepuk bahu Exel.


" itu memang sudah tanggung jawab El pih.." sahut Exel dengan cepat membuat wanita yang duduk disampingnya berdecak kesal.


" maaf kalo El telat jemput istri El.." ucapnya sambil menunduk.


" maaf juga kalo rumah ini gak pantes buat putri papi, El disini juga numpang, tapi El janji bakal bikinin putri papi rumah yang nyaman.."


Mendengar itu, kedua orangtua Silvie menganggukkan kepala sambil tersenyum.


" papi percaya sama kamu El.." ucap Shaw kembali menepuk bahu Exel. hampir saja pria tua itu berkata jika hendak membantu menantunya, beruntung Ia langsung tersadar.


walaupun bagi Shaw menghadirkan rumah mewah nan nyaman untuk putrinya sangatlah mudah, tetapi dia akan membiarkan Exel bekerja keras sendiri. tentu dia tidak ingin kembali menyinggung perasaan menantunya itu.


" terimakasih pih mih.." hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Exel. Dia merasa senang karena sudah mendapat kembali kepercayaan dari mertuanya, maka dari itu Ia tidak akan menyianyiakan kesempatan. tugasnya kali ini tinggal mengambil hati Silvie kembali dan mendidiknya menjadi pribadi lebih baik lagi. Walaupun membutuhkan waktu yang lama, tetapi Exel akan terus berusaha secara perlahan untuk mengembalikan sikap istrinya seperti dulu lagi.


Shaw hanya menganggukkan kepala menanggapi ucapan Exel. Kini dia beralih menatap putrinya yang masih memalingkan wajahnya membuatnya menggeleng sambil menyunggingkan senyuman. Shaw sama sekali tidak berkeinginan mengeluarkan nasihat untuk putrinya itu, sebab semakin dia menghujaninya dengan nasihat, semakin membantah pula putrinya itu. Shaw merasa jengah dengan kelakuan Silvie, dia juga menyesal sudah berlebihan memanjakan putrinya.


lantas Shawpun melirik sang istri mengisyaratkan jika wanita paruh baya itu harus mengambil alih untuk menasehati kembali putrinya. dan istrinya itu mengangguk paham, kemudian menghela napas sejenak sebelum duduk di samping Silvie.


Di raihnya tangan Silvie dengan lembut,


" nak, mami percaya sama kamu, mami percaya kalo putri mami bisa menghadapi ini semua.."


ucapnya lirih seraya menatap nanar putrinya. bagaimanapun juga Ia seorang Ibu, dia tidak tega membiarkan putrinya harus menjalani kehidupan yang jauh dari kata mewah. Namun apa daya, ini semua demi memberi pelajaran untuk putrinya yang sudah meremehkan kerja keras Exel.


" pesan mami hanya satu nak.. Nurut sama suami kamu "


lanjutnya sambil mengelus rambut Silvie. tetapi putrinya itu sama sekali tidak menyahuti, dia masih menunjukan sikap protesnya.


" istirahatlah.. Mami sama papi pulang dulu.."


kini wanita paruh baya itu bangkit dari duduknya di ikuti Shaw yang masih bungkam itu. Kemudian keduanya melangkah keluar dengan Exel yang mengantarkannya.

__ADS_1


" jaga diri kalian baik-baik.." ucap Ibunya Silvie kepada Exel seraya menepuk bahunya pelan. Exelpun hanya mengangguk seraya tersenyum ramah.


Kemudian kedua orangtua Silvie segera melangkah menuju mobil yang terparkir di halaman rumah tersebut. tetapi sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil, terlihat Shaw membalikan badannya membuat Exel menyerit heran juga penasaran apa yang akan kembali di sampaikan oleh mertuanya itu.


Seketika Exel di buat gugup dan menelan ludahnya kepayahan kala melihat raut wajah ayah mertuanya yang terlihat menyeramkan juga sorot mata yang mengancam.


" cie yang gak sabar garap bikin cucu buat kita.."


sontak Exel terbelalak begitupun ibu mertua juga para pengawal di sana, mereka melupakan sisi lain seorang Shaw yang tiba-tiba keluar kali ini.


" ck.. bener kata si kunyuk, muka galak hati lawak.." Exel menggeleng sambil menatap kepergian mobil mewah itu. kemudian pria itu kembali masuk ke dalam rumahnya.


Blughh.. suara pintu kamar yang di tutup kencang membuat Exel terkejut seraya mengelus dada. rupanya Silvie sudah mendahuluinya untuk tidur di kamar tersebut.


Exel menghela napas dalam-dalam, sepertinya Ia butuh stok kesabaran yang banyak untuk menghadapi sikap istrinya. Pria itu tiba-tiba terkekeh pelan kala mengingat nasehat dari sohibnya yang di rasa benar.


" sabar memang terasa pahit, tapi percayalah.. buah kesabaran akan terasa manis..."


Kalimat itu akan terus mendengung di telinganya ketika Ia merasa lemah.


" anjay.. Lord Ari "


...-------...


Pagi ini Grace tampak tidak bersemangat untuk mengawali harinya. tak hanya kelelahan akibat permainan semalam, tetapi Grace benar-benar merasa malas untuk melakukan apapun. beruntung hari ini dirinya tidak ada jadwal kuliah.


Tidak seperti biasanya Grace memakan sarapannya tidak berselera. padahal makanan di hadapannya itu merupakan pesanannya sedari pagi, yakni lontong sayur yang dibuat oleh Lilis. Grace hanya mencicip satu suapan saja, itupun perlu waktu lama untuk mengunyah dan menelannya, selebihnya Ia malah memainkan sendok dengan mengaduk-aduk kuah tersebut. dan semua itu tak luput dari pengamatan Leo yang duduk berhadapan dengannya.


Grace menggeleng dengan wajah masamnya membuat Leo menghela napas berat,


" apa gara-gara malem? tapi kan lo juga ngelawan.."


Sontak Gracepun melotot sambil memukul tangan Leo dengan sendok yang masih di genggamnya itu. bisa-bisanya suaminya itu membahas kejadian semalam. tentu saja Grace merasa malu sebab pada akhirnya dia tidak tahan untuk mengimbangi permainan suaminya itu.


Leo terkekeh pelan melihat raut wajah Grace yang merona itu. Dia merasa pagi ini suasana hatinya kembali membaik, terlebih saat Grace mengerucutkan bibirnya, itu sudah seperti energi bagi seorang Leo.


" sorry.. Yaudah, kenapa gak di makan lontong sayurnya? " tanya Leo sekali lagi.


" gue gak selera.." sahut Grace ketus.


" yaudah gue pesenin makanan yang menurut lo berselera, apa mau gue yang masakin?"


Grace menggeleng dengan cepat, " susu aja.." wanita itu kemudian berdiri dan melangkah keluar menuju gazebo di pinggir kolam.


" ck.. definisi susu di bayar susu.." Leo kemudian beranjak dari duduknya dan segera membuatkan susu hamil untuk istrinya. Dia nampak terampil juga hafal takaran susu tersebut. Dia harus segera menemui Grace sebelum istrinya itu mengomel karena bosan.


" ini di minum dulu.." Leo meletakan segelas susu yang di buatnya tepat di samping Grace yang terlihat asyik dengan ponselnya.


Gracepun menoleh dan mengangguk, kemudian meraih gelas tersebut dan meminum susunya sampai habis dalam satu tegukan membuat Leo bergidik merinding.


" kalo gitu gue berangkat dulu yah.." ucap Leo seraya mengecup kening Grace.

__ADS_1


" jangan pergi.." Grace kini mencekal lengan Leo membuat langkah pria itu terhenti dan membalikan badan kini menghadap ke arah Grace yang malah menatapnya dengan sayu.


Leo kini menautkan kedua alisnya, " kenapa hmm? " tanyanya seraya mengusap kepala Grace.


" kuy mabar..!" seru Grace dengan entengnya membuat Leo menggeleng terkekeh pelan.


" gue harus kerja Grace.." ucap Leo dengan hati-hati, tapi sayangnya Grace malah mengerucutkan bibirnya sebal. Kemudian istrinya itu menatapnya nanar hingga tiba-tiba mata indahnya mengeluarkan buliran bening.


" tapi ini maunya anak lo Leonard.." ucap Grace dengan lirih.


sontak Leo melebarkan matanya mendengar ucapan Grace. Bukan, bukan pasal dirinya tidak mau menuruti keinginan istrinya. Hanya saja ngidam istrinya itu terkesan aneh, bahkan membuat keyakinannya akan jenis kelamin calon anaknya itu tiba-tiba menjadi keraguan.


Pria itu tampak memijat dahinya frustasi. Dia takut tebakannya melesat.


" Ducati.. Oh Ducati.."


...***...


sementara di tempat lain, Silvie terpaksa harus terbangun dari tidurnya yang sebentar itu karena terganggu dengan suara di luar.


Wanita itu tampak mengucek keduanya matanya yang masih terasa berat, lalu melangkah menuju jendela kamarnya untuk melihat apa yang terjadi di luar.


" ck.. pagi-pagi gini udah heboh aja.. " gerutunya.


Silviepun menyibak tirai yang menutupi jendela tersebut. Dia mengerutkan dahi heran ketika melihat beberapa ibu-ibu yang menenteng kantong makanan di depan rumahnya.


" si masnya belum bangun kali.. "


" apa udah berangkat yah.. "


percakapannya para ibu-ibu yang sambil cekikik itu seolah tidak kapok juga menyerah. padahal Exel sama sekali tidak pernah menerima pemberian mereka. pria itu selalu menolak dengan halus agar tidak memberikan harapan palsu untuk mereka.


Sementara Silvie di buat menganga saat mendengar percakapan mereka. tiba-tiba saja Ia merasa khawatir akan kehilangan Exel. dia melupakan sesuatu, dia lupa akan paras sang suami yang terlampau tampan itu, tentu saja menjadi incaran setiap wanita generasi apapun.


" ini gak bisa di biarin.. " gerutunya sambil berlagak menyingsingkan lengan bajunya. kemudian Ia keluar dari kamarnya hendak menegur ibu-ibu yang masih berada di depan.


seketika langkah Silvie terhenti kala mendapati Exel yang masih terlelap dengan wajah teduhnya. jantung Silvie terasa berdetak lebih kencang kala mengamati setiap inci wajah suaminya.


terlebih ketika melihat bibir beserta jakun milik suaminya itu, membuat darahnya terasa berdesir hebat.


Silvie segera menghampiri Exel dan melupakan tujuan awalnya. Dia sudah duduk bersimpuh di bawah sofa panjang tempat dimana Exel kini terlelap. tangannya terangkat untuk menjelajahi iris wajah suaminya.


grep.. tangannya tertahan ketika tiba-tiba lengan kekar mencengkeramnya.


" mau ngapain..? ini masih pagi.. "


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2