
Sore hari Grace duduk bersantai di teras depan rumahnya, sedang sang suami tengah sibuk mengurusi tanaman kesukaannya.
memang kehamilan yang sekarang membuat Grace jadi lebih malas bergerak dan lebih sering makan seperti saat ini di hadapannya tersuguh makanan ringan menemaninya menikmati senja.
Sementara si kecil Cio tengah di asuh oleh Deti nenek yang sekarang mulai mahir mengurusi cucunya. wanita itu lebih sering berkunjung ke sana sejak kabar kehamilan menantunya.
beberapa waktu kemudian Deti turut keluar setelah Ratna mengambil alih tugasnya.
Deti berdiri di ambang pintu seraya memperhatikan aktivitas anak menantunya. Dia menggeleng kala melihat Grace yang asyik dengan ponselnya.
menantunya itu malas bergerak tetapi untuk bermain game online masih antusias tak kenal waktu.
" sayang, ini udah jam berapa.. masuk yuk.. " tegurnya seraya mengusap lembut rambut Grace.
" bentar mah, tanggung push rank.. " sahut Grace dengan mulut dipenuhi biskuit tanpa menoleh pada mertuanya. Dia terlalu fokus dengan ponselnya.
Deti menggeleng, Ia tidak ingin menantunya ketergantungan game online terus menerus. bagaimanapun juga Grace seorang ibu yang bahkan akan memiliki anak kembali,
" kunyah yang bener dong sayang.. lagian kamu tuh main game mulu, gak baik loh.. " ucapnya dengan lembut.
" main game bukan tindakan kriminal mah.. " sahut Grace begitu santai.
Lagi-lagi Deti menggeleng, Ia harus sabar menghadapi menantunya yang keras kepala.
Deti menghela napas dalam-dalam, ingin sekali rasanya menanggapi ucapan Grace barusan, akan tetapi Ia tak ingin ada perdebatan nantinya.
" mandi gih.. "
" Grace nungguin Leo selesai mah.. " sahut Grace masih fokus dengan gemenya.
" Loh, suamimu udah selesai sayang.. tuh.. "
sontak Gracepun meletakkan ponselnya. matanya terbelalak kala melihat Leo tengah berbincang dengan dua wanita di pintu gerbangnya.
Grace melihat jelas satu di antara mereka tak hentinya menatap Leo. perempuan itu terlihat seumuran dengannya.
" kamprett.. bau-bau bibit pelakor tuh cewek.. " gumamnya seraya mengepalkan tangan dengan kuat.
Sementara Deti yang masih bisa mendengarnya terkekeh pelan. susah payah dirinya membujuk Grace untuk masuk ke dalam kini terbayar kontan oleh keadaan saat ini.
brak.. Grace memukul meja di hadapannya.
" sialan tuh cewek pakek senyum-senyum segala, mana bajunya kurang bahan gitu, fix tuh cewek bibit pelakor.. "
Deti menelan ludahnya susah kala melihat kemarahan di wajah menantunya,
" mamah gak ikutan yah.. " ucapnya cari aman dengan melarikan diri masuk ke dalam.
" papi.. sayang.. " Grace tak segan berteriak.
Leo menoleh seraya tersenyum, panggilan itu jarang sekali di dengarnya dari mulut Grace. kemudian Ia menghampiri Grace setelah membungkuk pamit pada perempuan di hadapannya.
memang walaupun Leo terkesan dingin dan datar bagi orang lain, akan tetapi Ia selalu bersikap sopan terhadap orang yang lebih tua darinya seperti pada salah satu di antara mereka barusan.
" udah kenyang maen gamenya..? " tanyanya seraya mengusap pucuk kepala Grace.
Grace mengangguk." peluk.. " pintanya dengan manja.
" entar gatel.. kalo udah mandi puas puasin deh.."
Grace memajukan bibirnya kesal. Dia benar-benar membutuhkan pelukan suaminya saat ini juga guna menenangkan perasaannya yang sempat kesal tadi. akan tetapi Leo malah menolaknya. Grace tak suka itu.
Leo terkekeh pelan seraya bangkit dari duduknya, kemudian membawa Grace ke dalam dekapannya.
" tadi bu Rt sama kader... " ucapnya begitu lembut.
" mau pada ngapain.. ? " tanya Grace yang mengeratkan pelukannya kala Leo mencoba melepaskan. Dia tak mempermasalahkan keringat yang membasahi tubuh suaminya, sebab aroma tubuh Leo sudah menjadi candu baginya.
" biasa nagih kas bulanan sama.. "
" sama apa..??? " Grace kini mendongak menatap wajah Leo.
" ngasih tau jadwal ronda gue entar malem.. " jawab Leo.
Grace mengangguk singkat. Dia tahu akan suaminya yang tidak pernah meninggalkan tanggungjawab hal tersebut sebagai warga di sana.
padahal bisa saja Leo membayar orang untuk menggantikan tugasnya, akan tetapi Leo tidak mau jika tidak terdesak. menurutnya itu kesempatan untuk berbaur dan bersosialisasi dengan warga sekitar ditengah kesibukannya yang padat.
" kenapa lo yang nyamperin mereka, kenapa lo gak manggil gue.. " ucap Grace yang kembali menyembunyikan wajahnya di dada Leo.
" maaf.. " jawab Leo singkat. ingin sekali dia menyangkal pertanyaan Grace. padahal Dia sudah memanggil Grace beberapa kali. hanya saja Grace yang tidak mendengar sebab terlalu asyik dengan ponselnya.
" Lo sengaja kan mau tebar pesona sama embak embak kader itu..? gue liat tuh cewek senyum senyum sama lo.. sengaja banget mau goda lo dandan menor banget.. tuh gincu berapa lapis sampe merah nyala gitu.."
Leo terkekeh, istrinya terlalu berlebihan. kemudian Ia menganggukkan kepala " Yups samape meleset ke gigi.. "
glek.. Leo menelan ludahnya kasar kala mendapat tatapan horor dari Grace.
Grace melepaskan pelukannya.
" Lo merhatiin bibirnya ? sampe lo tau gincunya kena gigi.. "
Leo menggeleng dengan cepat mencoba membawa Grace kedalam dekapannya kembali, akan tetapi Grace menolaknya.
" biasanya lo gak suka merhatiin cewek lain.. lo jahat.. " Grace mulai terisak seraya memukul dada Leo yang hendak memeluknya.
" sayang dengerin dulu.. " Leo mencoba mencekal Grace yang beranjak masuk kedalam.
Leo memijat kedua alisnya frustasi. Grace benar-benar mengabaikannya.
Dia sudah salah berucap hingga membuat istrinya marah. padahal Ia hanya sekilas melihat perempuan tadi dan tak sengaja mendapati hal yang lucu. niat hati ingin menghibur Grace, namun ucapannya malah membuat istrinya itu marah.
Leo masih mematung di sana seraya menatap pintu yang terbuka dimana Grace barusan menghentakkan kakinya kesal.
__ADS_1
" gue aduin yah sama emak lo.. "
Tiba-tiba Grace kembali seraya menuding wajah Leo dengan jarinya lalu kembali masuk.
Leopun melangkah menyusul Grace ke dalam. Dia terkekeh pelan mendengar kalimat ancaman namun terkesan lucu itu.
...*******...
" makan yah, dari tadi belum makan.. " Exel mengelus kepala sang istri yang sedari tadi cemberut kesal.
Silvie menggeleng menolak bujukan dari suaminya membuat Exel menghela napas panjang mencoba bersabar.
" mau makan apa Sil..? biar gue masakin.. "
Lagi-lagi Silvie menggeleng seraya memalingkan wajahnya.
" jangan gak makan Sil.. kasian adenya.. " ucap Exel seraya mengelus perut Silvie.
" lagian abang gak ngerti.. " sahut Silvie lirih tiba-tiba buliran airmata membasahi pipinya.
Exel mengangguk tersenyum kemudian berlalu dari hadapan Silvie. Ia melangkah menuju balkon kamarnya hendak menghubungi seseorang.
Exel tahu apa yang di inginkan Silvie saat ini. walaupun membuat dirinya kesal, Exel berusaha sabar dan lapang dada menerima keinginan aneh Silvie.
ini semua demi istrinya supaya mau makan juga tentunya demi calon anaknya yang membutuhkan asupan.
" sabar El.. demi anak lo.. "
🍎🍎🍎
Di waktu yang bersamaan, mood Grace sudah berubah setelah Leo berhasil membujuknya. Pria itu mengimingi akan membelikannya helm keluaran terbaru. tentu Grace begitu tergiur dengan hadiahnya. ya walaupun entah kapan barang tersebut akan dipakai olehnya mengingat Grace tengah hamil dan tak mungkin berkendara.
Grace mendudukkan dirinya di sofa tepat dimana Leo bersama Deti tengah berbincang setelah makan malam. Dia menyodorkan sisir pada suaminya lalu membalikkan badannya memunggungi Leo.
" kepangin... " titahnya pada Leo.
Leo mengangguk kemudian meraih rambut Grace yang panjang nan wangi. Leo suka sekali rambut istrinya yang panjang.
Dia melarang Grace untuk memendekkan rambutnya. walaupun istrinya mengeluh dengan alasan gerah, tetap Leo tak menghiraukannya. panjang sejengkal di bawah pundak ukuran yang ditolerir olehnya.
maka dari itu Leo sudi juga begitu antusias untuk sekedar menyisir dan mengikat rambut istrinya.
" gimana? kekencangan gak..? " tanya Leo begitu telaten mengepang rambut istrinya.
" pass boss.. " sahut Grace santai.
sementara Deti berdecak kagum melihat pemandangan dihadapannya, begitupun dengan hasil karya putranya tersebut yang terlihat apik nan rapih.
" mamah aja gak bisa ngepang loh.. apalagi ala kelabang gitu.. "
" tutorial dong mah.. " sahut Leo bangga.
cup.. " makasih papi.. "
cup.. Leo mengecup kening Grace " sama-sama mami.. ".
sementara Deti mengipas-ngipasi wajahnya merasa sebagai figuran diantara pasangan romantis yang tidak tahu tempat itu.
mereka masih beradu tatap tanpa mempedulikan keberadaan wanita tua yang menggeleng kesal.
drettt.. drettt.. (panggilan masuk) di ponsel Leo dari sohibnya.
" si kermi kumat..? " celetuk Grace kala Leo menyudahi panggilannya.
Leo mengangguk lalu menatap Grace dengan tatapan ragu.
" hmm.. jangan lama-lama, lo ada jadwal ronda kan.. "
Leo langsung tersenyum, Ia mengusap lembut kepala istrinya.
" selama ini mereka udah loyal sama kita Grace, tapi kalo emang lo keberatan gue gak berangkat.. "
Grace menggeleng cepat " udah sono.. keburu si kermi mati kelaparan.. " sahutnya ketus hendak beranjak dari sofa menuju kamarnya.
Namun secepat mungkin Leo menahan tangannya, lalu membawa Grace kedalam dekapannya.
" ini waktunya kita buat balas mereka Grace.. " ucapnya dengan lirih.
Grace mendongak menatap Leo. kemudian Ia tersenyum, sebab pemikirannya sama dengan suaminya, dimana Dia juga terdepan melakukan hal yang sama terhadap sahabatnya yang membutuhkan waktunya.
" iya gue ngerti.. udah berangkat gih.. "
cup.. Leo mengecup kembali kening istrinya.
" makasih udah ngertiin.. "
" tapi pulang beliin martabak.. " sela Grace menuding mata Leo dengan jarinya.
Leo mengangguk terkekeh, ada saja syarat dari Grace untuk memperlancar semuanya.
" baik suhu... !!! "
...**********...
Exel sedang menghangatkan kembali sup yang di masaknya sore tadi.
brumm.. suara motor di depan rumahnya membuat Exel menghentikan aktivitasnya dan langsung mematikan kompor yang masih menyala.
Lantas Exelpun bergegas membukakan pintu kala mendengar suara ketukan dari sana.
" sorry Le.. gue ngerepotin lo mulu.. " ucapnya seraya mempersilahkan Leo masuk.
Leo berdecak. Dia tak suka dengan kalimat sohibnya, Ia sama sekali tidak merasa direpotkan.
__ADS_1
Leo merangkul pundak Exel dengan gemas, " sekali lagi lo ngomong kayak gitu.. "
drettt.. suara ponsel berdering menghentikan ucapannya.
Leo menyunggingkan bibirnya kala melihat layar ponselnya.
" baru nyampe, adek lo udah videocall aja El.." ucapnya seraya mengusap layar ponsel tersebut.
" itungan lo akurat Grace.. gue baru aja nyampe dengan selamat.." ucapnya di susul kekehan.
" lebay.. si El masak apaan Le..? "
" to the point banget videocall cuma mau nanya masakan abang lo.. " sahut Leo sok kesal.
tetapi dirinya melangkah menuju dapur dan menunjukkan beberapa masakan Exel dengan membalikkan kameranya.
" wih.. sopnya masih ngebull.. bungkus bang.. "
Leo menepuk dahinya lalu melirik Exel yang nampak menahan tawanya.
.
.
.
.
ceklek.. suara pintu terbuka membuat Silvie menoleh kearahnya.
Silvie langsung tersenyum sumringah kala mendapati Leo masuk dengan membawa nampan berisikan makanan untuknya.
Leo meletakkan nampan di atas nakas samping tempat tidur Silvie , lalu Ia duduk di pinggiran ranjang tersebut dengan mangkuk yang berada di pangkuannya.
" makan yah Sil.. "
Silvie menggeleng cepat membuat Leo mengerutkan keningnya.
" passwordnya mana Leo.. " sahut Silvie merengek.
Leo menoleh ke arah Exel yang duduk di sofa pojok kamarnya, Exel yang pahampun mengangguk pasrah.
" Silvie cantik makan dulu yah.. " kalimat tersebut sudah fasih di ucapkan oleh Leo seraya mengelus pelan perut Silvie.
Beruntung selama Silvie membutuhkan kehadirannya, Leo tidak pernah mengajak Grace. Dia tidak bisa membayangkan perasaan istrinya jika mendengar dirinya berkata cantik untuk wanita lain selain istrinya.
" gak papa, demi calon keponakan gue rela berbagi.. "
kalimat yang selalu di ucapkan oleh Grace yang mencoba mengalah dan terlihat baik-baik saja, itu tetap membuat Leo merasa berdosa terhadapnya.
.
.
.
.
Setelah mendengar ucapan yang katanya password itu, Silviepun mengangguk lalu membuka mulutnya saat Leo hendak menyuapinya.
Sedang Exel nampak memalingkan wajahnya dan memilih memainkan ponselnya.
" Lagi Le.. " ucap Silvie setelah suapan terakhirnya.
Leo menaikan sebelah alisnya, " nambah Sil..? " tanyanya di angguki dengan cepat oleh Silvie.
mendengar itu, Exel langsung beranjak menuju dapur membawakan kembali makanan untuk istrinya. Ia merasa sedikit lega akhirnya Silvie mau makan juga.
" Gue laper.. dari siang belom makan.. " celetuk Silvie.
Leo berdecak kesal. Dia tak suka sikap wanita di hadapannya yang membahayakan kondisi janinnya.
" Siapa suruh lo gak makan.. lo gak kasian sama anak lo sil.. "
" ya tapikan gue mau di suapin sama lo.. " sahut Silvie santai.
Leo menggeleng. Dia tahu jika semua ini memang murni efek dari ngidamnya. dan Leo juga bersedia melakukan apapun untuk ngidamnya Silvie.
akan tetapi Leo sangat menyayangkan jika Silvie terus menerus menerus bersikap seperti ini.
" aturan lo maksain makan Sil.. jangan ngikutin ego lo sendiri aja, pentingin juga anak lo.. "
Silvie memajukan bibirnya kesal. kali ini pria di hadapannya terdengar keberatan tak seperti biasanya.
Bukan keinginan dirinya bergantung kepada Leo yang bukan suaminya. dia sendiri tak tahu mengapa ngidamnya harus membawa sohib suaminya.
"mungkin karna pelukan pertama dari babang tampan waktu itu kali ya.. "
" lo denger gue gak Sil.. " ucap Leo membuyarkan lamunan Silvie.
Silvie mengerjap lalu mengangguk. " sorry.. gue juga gak tau kenapa suka tiba-tiba pengen di suapin sama lo.. " ucapnya lirih.
Leo menghela napas panjang. Ia merasa sudah berucap berlebihan dan menyinggung Silvie juga terkesan tidak tulus melakukan hal ini.
" nih Le.. " Exel menyodorkan makanan yang di ambil barusan dari dapur pada Leo.
kemudian Exel kembali duduk di sofa bertepatan dengan ponselnya berdering. Dengan malas Ia mengangkat panggilan video dari Ari sohibnya.
Sialnya Exel malah tak sengaja membalikkan sorot kameranya, hingga memperlihatkan aktivitas Leo yang menyuapi Silvie.
benar saja, terdengar suara gelak tawa mengejek sebagai pembukaan dari Ari.
" mampus.. pusing pusing lo pada.. "
__ADS_1