
Malam ini si kecil Cio tidur di tengah tengah orangtuanya, di mana Grace masih kesal dengan Leo yang tidak pernah bercerita mengenai hubungannya dengan si dokter jenius yang tak lain adalah Wilson anak dari Dokter Ester.
memang Grace tidak mengetahui sepenuhnya seluruh anggota keluarga besar Leo. silsilah keluarga besarnya saja Grace tidak terlalu perduli apalagi untuk keluarga Leo.
" lo gak nanya.." ucap Leo begitu enteng tentu membuat Grace semakin geram terhadapnya.
" ya gak gitu juga bambang.. seenganya lo cerita ke gue kalo pak wilson itu sodara lo.." sahut Grace.
selama ini Wilson tidak pernah menampakan dirinya karena selepas lulus dari kuliah kedokterannya di luar negri, Ia juga menjalankan profesinya sebagai dokter di sana.
mengapa Wilson bisa menjadi dosen di kampus Grace sekarang? jawabannya ialah Leonard.
" lo tau kan kalo di kampus gak satu dua doang dosen yang mesum dengan modus jadiin mahasiswinya asisten.. dan gue gak mau itu terjadi sama lo Grace.. makannya gue nyuruh dia buat ngeduluin dosen lain.."
tutur Leo dengan pembawaannya yang tenang tapi pasrah, sementara Grace mulai mengangguk paham.
tunggu.. Grace kembali teringat sesuatu, jika kehadiran Wilson di kampus itu demi kebaikan dirinya, maka..
" jangan bilang kalo kantin khusus junior itu ulah lo..?" tanya Grace penuh selidik sebab baru saja teringat akan hal itu,
" gue cuma pengen lo gak ngeluh aja.." sahut Leo begitu santai,
sementara Grace malah mendengus sebal, " sekalian aja lo beli kampusnya.." ucapnya ketus,
" udah.." sahut Leo singkat membuat Grace melongo tak percaya akan hal gila yang di lakukan suaminya itu.
" lo emang udah gila Leonard.." timpal Grace seraya menggelengkan kepala.
" kan gue bilang gue gila karna lo Grace.."
jangan lupakan si kecil yang berada di tengah sebagai saksi perdebatan unfaedah kedua orangtuanya yang sama sekali tak terganggu itu.
...*******...
Pagi sekali Leo bersama kedua sohibnya berangkat untuk bekerja. dimana Ari akan menjemput rejekinya di kedai, sedangkan Leo dan Exel yang menjadi pemimpin muda itu berangkat ke kantornya masing-masing.
padahal bisa saja Leo yang sebagai pimpinan perusahan tidak berangkat hari ini ke kantor, tetapi Ia tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan sang mertua yang telah memberinya posisi tersebut. Leo juga tidak ingin memberi contoh buruk kepada para bawahannya.
mengingat Grace bersama kedua sahabatnya tidak ada mata kuliah hari ini, jadi Leo sedikit bisa tenang dan mempercayakan pada Silvie juga Megan untuk menjaganya selagi Leo bekerja.
tentu mereka dengan antusias bersedia, karena mereka lebih minat dengan si kecil Cio.
🍵🍵🍵
tiga dara saat ini sedang berada di kamar si kecil, dimana kedua sahabat sedang terkikik geli melihat Grace sedang menyusui Lucio yang baru saja selesai di mandikan, tentunya oleh Megan yang lebih mahir di antara mereka bertiga.
" Grace gimana rasanya..?" tanya Silvie cengengesan seraya menunjuk bagian dada Grace.
sementara Megan yang biasanya akan menoyor Silvie jika bicara hal yang berbau mesum itu tampak antusias dengan ucapan Silvie.
" menurut lo.." sahut Grace ketus,
" gak.. maksud gue rasanya sama gak sih antara Cio sama Leo.."
ucap Silvie begitu polos, dan kali ini Megan langsung menoyor kepalanya.
" bedalah anjir.. entar juga lo tau kalo punya baby.. makannya buruan, kasian noh abang El.." sahut Grace sengaja mengompori Silvie yang terlihat polos nan lugu itu,
sementara Megan yang mengira jika Grace akan kesal dengan ucapan Silvie barusan hanya bisa berdecak menepak dahinya. Ia lupa dengan sahabatnya yang satu ini suka sekali memang mengompori Silvie,
" secepatnya Grace.." jawab Silvie sumringah mengelus perutnya seraya membayangkan dirinya menjadi seorang ibu.
" ck, gue gak yakin kalo lo punya anak mau lo susuin kayak gue.. iya gak Me.." ejek Grace di angguki setuju oleh Megan,
" yoi.. inces mana mau si kembar jadi kendor.." sahut Megan sama laknatnya.
sementara Silvie mendengus kesal tak terima dengan ejekan sahabat laknatnya,
" enak aja.. gue gak gitu kelless... masa abang El boleh, anaknya gak boleh.."
" anjayyy... babang El suka si kembar juga.."
Mereka terus saja berdebat dimana Silvie selalu menjadi bahan ejekan kedua sahabat laknat tersebut tanpa perduli dengan adanya Lucio.
beruntung Si kecil selalu anteng dalam keadaan apapun.
prang.. suara benda pecah dari arah dapur mengejutkan ketiganya dan langsung beranjak ke sana setelah meletakan si kecil yang tertidur,
begitu sampai di dapur, ketiganya melongo tak percaya dengan aksi yang tersuguh di hadapan mereka. dimana Lilis tengah menjambak rambut Ratna juga mencengkram lehernya.
__ADS_1
" gila.. didikan nyonya Leonard.. bar-barnya nular ke bi lilis.."
celetuk Silvie langsung mendapat sikutan dari Megan.
" ada apa ini..?" tanya Grace dengan suara lantang kepada kedua pekerjanya itu seraya bertolak pinggang bak majikan antagonis membuat Lilis melepaskan cengkeramannya.
" dia udah kurang ajar non.." saut Lilis tak segan mendorong Ratna yang nampak lemas itu hingga bersimpuh di hadapan Grace.
" kurang ajar apa bi.. dia godain Leo...? apa jangan jangan-jangan dia suka masukin obat tidur ke botol susu Cio..?"
celetuk Silvie yang termakan drama yang baru di nontonnya pekan kemarin,
sontak Ratnapun menggeleng tak membenarkan ucapan Silvie, terlebih mendapat tatapan tajam dari sang majikan yang sedikit kemakan omongan Silvie,
sementara Megan langsung menjitak keras kepala Silvie,
" diem bego.. ini bukan ranah kita.. lo lama-lama kayak infotainment yang suka giring opini gak jelas tau gak.."
bisiknya di kuping Silvie.
" ini non.. " Lilis menyodorkan ponsel milik Ratna kepada Grace.
" buka.." titah Grace pada Ratna seraya menyodorkan ponsel tersebut karena terkunci.
dengan tangan gemetaran, Ratna pun membuka kunci layar ponselnya, lalu Grace menyambarnya dengan kasar.
Mata Grace membola begitu melihat banyak sekali poto yang ada di ponsel tersebut, dimana hampir semua poto adalah kesehariannya yang terkesan intim dan privat, bahkan poto teratas menampakan dirinya yang tengah menyusui si kecil tadi.
" menjijikan.." umpat Grace ketika mendapati poto dirinya bersama Leo yang tengah berciuman di ruang televisi.
Grace terus membuka satu persatu poto-poto yang ada di sana hingga satu poto menghentikannya, poto yang sama persis dengan yang di terimanya tempo hari dari orang misterius, dimana poto tersebut menampakan dirinya tengah berenang dengan mengenakan pakaian terbuka,
dan Grace baru sadar jika pada waktu itu selain Leo dan si kecil, Ratna juga berada di sana turut menyaksikan dirinya saat berenang.
" ini maksudnya apa..?" bentak Grace membuat Ratna nyaris pingsan saking pucatnya.
Ratna menggeleng menangis tergugu, " bukan apa-apa non.. saya hanya kagum dengan kehidupan non Grace dan den Leo.."
" kagum apa iri lo.." bentak Megan setelah ikut melihat poto-poto tersebut.
dasar Megan menjilat ludah sendiri, begitulah kiranya benak Silvie.
" terus tujuan lo apa mba..? ada yang nyuruh lo..?" bentak Grace kembali seraya berjongkok meraih dagu Ratna agar mendongak membalas tatapannya.
" sumpah non saya hanya iseng ngoleksi doang.." ucap Ratna seraya meringis kesakitan.
" gue lupa kalo lo itu perempuan.. gue gak suka maen kasar sama perempuan.." ucap Grace seraya melepas cengkraman di dagu Ratna.
" maafin saya non.. tolong jangan pecat saya non.." ucap Ratna menunduk meraih kaki Grace.
" udah mendingan lo gak usah nunjukin muka lo dulu di depan gue.. lo gak mau kan gue kebabalasan..?" sahut Grace membuat Ratna menelan ludah kasar.
Grace meninggalkan Ratna yang masih bersimpuh di sana dengan membawa ponsel Ratna.
sekarang Grace sedang duduk di halaman depan dengan ponsel Ratna berada di genggamannya untuk mencari kebenaran akan siapa yang sudah menerornya.
Grace tidak ingin gegabah menuduh Ratna sebagai pelakunya, sebab poto yang di kirim si peneror, arah pengambilannya berbeda dengan yang berada di ponsel Ratna.
" minum dulu Grace.."
Silvie menyodorkan segelas teh hangat agar Grace merasa rileks, mengingat saat ini Grace terlihat di kuasai emosi namun tertahan hingga membuatnya frustasi, terbukti dengan Grace yang terus saja memijat kedua pelipisnya.
" Cio bangun Grace.." ucap Megan yang baru saja menghampiri keduanya.
" hmm.. lo dandanin Me.. gue mau ajak Cio keluar.."
" mau lo ajak kemana..?" tanya Silvie cemas takut Grace berbuat gila.
" mau gue ajak ke kantor.. gue lagi males liat muka dia.." sahut Grace mulai tenang dan meneguk sisa tehnya.
" yaudah gue anter yah..." ucap Silvie di angguki Grace.
bisa saja Grace pergi ke rumah di antara kedua sahabatnya ataupun ke rumah orangtua juga mertuanya jika ingin menenangkan diri, tetapi untuk saat ini Ia lebih membutuhkan Leo.
pelukan, dekapan dari Leolah yang akan membuatnya tenang.
sebelum meninggalkan rumah, Grace meminta tiga orang anggota yang hari ini tidak memiliki kesibukan untuk berjaga di rumahnya, takutnya Ratna kabur dari sana.
ah.. tidak, Grace lebih takut jika Lilis kembali bertidak kasar terhadap Ratna seperti tadi.
__ADS_1
...----------------...
Gracepun sudah tiba di kantor dimana Leo bekerja,
" lo berdua tau kan apa yang harus lo pada lakuin..? terutama elo sil, mulut lemes lo puasa dulu okeh.." ucap Grace pada kedua sahabatnya yang menginginkan mereka tidak bercerita masalah ini kepada Ari juga Exel sebelum dirinya menemukan titik terang.
begitupun kepada anggota yang sedang berjaga di rumahnya untuk tidak banyak bertanya juga bercerita pada Leo cs.
" siap non.." jawab keduanya kompak.
selepas kepergian kedua sahabatnya, Gracepun masuk ke dalam gedung tersebut, dimana para pegawai yang mengenalinya langsung membungkukkan badan hormat terhadap nona muda yang jarang sekali menyambangi tempat tersebut,
ingin sekali Grace menghubungi Leo lewat ponselnya, namun tidak bisa mengingat tangannya kerepotan menggendong si kecil,
bisa menggendong si kecil saja sudah syukur..
" mba.. tolong hubungi suami saya bisa.." ucap Grace pada resepsionis yang sedari tadi melongo melihat kehadirannya.
" eh,, baik nona.." sahut resepsionis tersebut dengan gugup meraih telepon di meja sana.
" nona Grace sedang berada di lobby tuan.."
tak butuh waktu lama Leo pun menghampiri istri dan anaknya yang tengah duduk di sofa lobby tersebut.
" Cio.. mami gak mau di tinggal papi yah.." ucap Leo lembut seraya mengambil alih si kecil dari pangkuan Grace.
" gue mau sidak.. lo kerja apa mau tebar pesona.." elak Grace membuat Leo terkekeh.
" kenapa gak bawa stroller hmm.." tanya Leo seraya membelai rambut Grace.
" lupa.." jawab Grace singkat berharap Leo memuji kemampuannya menggendong si kecil.
" mami hebat yah Cio.. udah bisa gendong cio.." ucap Leo pada si kecil.
alih-alih tersanjung, Grace semakin kesal karena pujian Leo yang terlambat itu malah terdengar seperti ledekan untuknya.
" ayo ke atas.. Cio belum liat ruangan papi kan.." ajak Leo bangkit dari duduknya di ikuti Grace.
sementara para pekerja yang sedari tadi memperhatikan pasangan tersebut hanya bisa berdecak kagum, terlebih para kaum perempuan yang berteriak dalam hatinya karena melihat sisi lain dari Leo yang biasanya tegas nan dingin, kini mereka bisa melihat senyuman juga tatapan bosnya yang hangat berkat kedatangan istri juga anaknya.
selain membungkukkan badan hormat, ada rasa kagum sekaligus iri yang berada di benak mereka ketika berpapasan dengan Grace dan si kecil yang berada dalam gendongan Leo.
terlebih kepada Grace yang terlihat cantik natural nan anggun itu,
ya memang Grace yang biasanya berpenampilan tomboy, kini sengaja mengenakan dress sederhana dan merias wajahnya dengan polesan tipis, sialnya malah membuat Grace semakin mempesona saja.
kini ketiganya sedang berada di dalam lift menuju ruang kerja Leo,
" ruang kerja lo ada kamarnya kan Le.." tanya Grace begitu polos, membuat Leo menyeringai, beruntung hanya ada mereka di dalam lift tersebut.
" hmm ada.. lo mau nyobain sensasi di tempat kerja Grace.. bukannya lo lagi halangan yah..?"
'' dasar omes.. buat anak lo, gak liat apa dia udah tidur.. "
benar saja Lucio sudah tertidur pulas, mudah sekali memang si kecil untuk tidur hanya di gendong sambil berjalan saja padahal.
mungkin kebiasaan Grace yang mudah tertidur dalam perjalanan menurun pada si kecil.
mereka pun telah sampai di ruang kerja Leo yang cukup luas, dan memang benar ada kamar di sana yang sangat terjaga kebersihannya.
Leopun meletakkan si kecil yang pulas itu di ranjang dengan apik takut terbangun.
" Le.. " panggil Grace ragu seraya mengigit bibir bawahnya.
" hmm.. kenapa...? " sahut Leo menghampiri Grace yang masih berdiri mematung di ambang pintu kamar,
" peluk.. " pinta Grace dengan nada manja membuat Leo gemas langsung mendekap seraya mengelus lembut rambutnya.
Leo tau ada sesuatu yang terjadi pada diri Grace, sebab tidak seperti biasanya Grace memeluknya begitu erat, lebih tepatnya meminta duluan.
namun Leo enggan bertanya sebelum Grace bercerita terlebih dulu padanya dengan perasaan tenang dan nyaman.
Leo meraih dagu Grace dengan tatapan tertuju pada bibir ranumnya.
hembusan napas semakin terasa membuat kedua bibir semakin mendekat dengan mata yang terpejam dan..
tok.. tok..
sial......
__ADS_1