
"Maafkan saya nyonya, saya tidak bisa menjalankan amanat dengan baik, saya juga tidak bisa melanjutkannya nyonya.. Sepertinya kesehatan tuan sudah membaik, terlebih beliau sebentar lagi menjadi kakek, beliau begitu terlihat bahagia , tak apa saya mundur nyonya.. tuan tidak perlu saya, tidak akan pernah nyonya.. sekali lagi maafkan saya nyonya.. "
Anita tengah menangisi nasibnya di pusara Sarah, Ia begitu lepas meluapkan kesedihannya terlihat dengan caranya menangis sesenggukan dengan pakaiannya yang lusuh tak beraturan.
Grace terpaku, seluruh tubuhnya bergetar, hatinya seperti tersayat mendengarkan curahan Anita pada pusara Ibunya.
Ia memandang Anita dari kejauhan, mencoba menajamkan penglihatannya, tak hanya mata Anita yang sembab melainkan luka lebam disudut bibirnya yang Grace dapati membuat mataya mulai berkaca-kaca, tangannya mengepal serta sesak yang di dadanya.
Ingin sekali rasanya saat ini juga Ia merangkul Anita menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Anita.
selama ini Grace memang tidak pernah membahas atau memperdulikan alasan Ayahnya menikahi Anita, mengingat kesehatan ayahnya yang mulai menurun dan Anita terlihat tulus merawat ayahnya mampu membungkam rasa penasaran Grace selama ini.
Kini Grace mendapat sedikit fakta yang cukup mengejutkan, rasa penasaran hadir kembali bersamaan dengan luka dan kecewa yang Ia rasakan saat Ayahnya membawa Anita di hadapannya dihari Ia kehilangan Ibunya untuk selamanya.
Grace masih terdiam hingga tangan lembut Leo menggenggamnya dengan erat, menatap matanya yang sendu mengisyaratkan untuk menghampiri Anita,
namun Grace menggeleng memilih untuk pulang, Ia membiarkan Anita untuk melupakan curahan hatinya pada pusara Ibunya.
Leo pun mengangguk seraya merangkul bahu Grace dan menuntunnya kembali ke mobil.
Sepanjang perjalanan Grace diam tanpa suara menatap kosong keluar jendela.
terlihat langit mulai mendung dikala senja, terdengar suara gemuruh tanda akan segera turun hujan, dan benar saja tak lama hujanpun turun dengan derasnya.
Grace menoleh kearah suaminya yang sedari tadi terlihat cemas dengannya.
"Kenapa sayang.. " tanya Leo merasa Grace sedang menginginkan sesuatu.
"Putar balik.. " jawab Grace begitu singkat.
Leopun menurut tanpa banyak bertanya, sebenarnya sedari tadi Leo merasa mual namun Ia tahan untuk mengambil alih kemudi, mengingat kondisi perasaan Grace sedang tidak baik-baik saja.
di tengah perjalanan Grace meminta Leo untuk menepikan mobilnya tatkala mendapati Anita tengah berjalan di bawah guyuran hujan.
Grace mengambil payung dari bangku belakang dan menyerahkannya pada Leo.
"Turun.. ! "
Leo menurut turun seraya membawa payung yang telah di bukannya, Ia begitu paham dengan sifat Grace yang gengsi dengan kepeduliannya apalagi terhadap Anita.
Leopun menghampiri Anita yang sedang berjalan sambil menunduk
"Bu.. "
Anita terperanjat mendongak melihat Leo tengah memayunginya
"Nak Leo.. " ucapannya gugup, beruntung air hujan dapat menyembunyikan sisa tangisannya. tapi sayang sekali Leo sudah mengetahuinya.
"Mari saya antar bu.. "
"gapapa nak..Ibu pulang sendiri saja.. "
"ini udah mau gelap bu, gak ada kendaraan umum lewat, mari bu.. "
"Apa Nak Grace ada didalam..? "
ucap Anita seraya menoleh ke arah mobil Leo. dan Leopun mengangguk mengiyakan.
"Grace yang meminta bu.. tolong jangan menolak.. " ucap Leo mengulas senyuman membuat Anita mengangguk mengikuti keinginannya.
Begitupun dengan Grace yang sedari tadi mengamati keduanya dari dalam, tanpa sadar mengulas senyuman melihat Anita menghampiri mobilnya.
Grace melemparkan jaketnya ke arah Leo yang baru masuk.
Leo yang mengerti maksudnya, lekas memberikan jaket tersebut pada Anita yang sudah duduk di bangku belakang.
"dipakai bu.. " ucap Leo seraya menyodorkan jaket pada Anita.
"terimakasih Nak.. " timpal Anita gugup, Leo hanya mengangguk tersenyum tipis seraya melajukan kembali mobilnya, sementara Grace memilih setia memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Grace melirik sekilas kearah Anita dari pantulan kaca spion, di dapatinya Anita yang terlihat begitu kedinginan walaupun sudah berbalut jaket.
melihat itu Grace menggerakkan tangannya untuk mengatur penghangat di mobilnya.
Leo mengulum senyuman melihat Grace begitu peduli tetapi gengsi terhadap Ibu sambungnya.
Hening.
Grace kembali memalingkan wajahnya kearah jendela, sementara Anita hanya menunduk gugup.
Tak lama hujanpun mereda bersamaan dengan Leo menepikan mobilnya.
"Sebentar.. "
Ucap Leo seraya keluar dari mobilnya, namun Grace diam tak menyahuti seolah tak perduli dengan Leo yang tergesa keluar dari mobilnya.
Grace mengerutkan dahinya melihat Leo kembali masuk dengan wajah sumringah membawa sekantong kacang kedelai rebus yang masih hangat.
"Sayang mau..? mumpung masih anget.. "
Grace menggeleng kembali membuang mukanya kearah luar jendela tatkala Leo mulai melajukan kembali mobilnya.
"Dimakan bu.. mumpung masih hangat.. "
Ucap Leo ditengah kunyahannya seraya menyodorkan kantong tersebut ke belakang.
Anita mendongak , matanya melongo melihat Leo begitu rakus memakan kacang tersebut bersama kulitnya yang berbulu.
"Maaf Nak.. apa Nak Leo baru pertama makan itu..? " tanya Anita dengan gugup di angguki oleh Leo membuat Anita menggeleng tersenyum.
"Maaf Nak.. bukan seperti itu cara makannya.. kulitnya jangan ikut dimakan.. "
Seketika Leo tersedak, Grace langsung menyodorkan sebotol air mineral kearahnya seraya tersenyum kecut.
"Bodoh..!!!" Satu kata untuk mengejek suaminya. Jika saja tidak ada Anita sudah tentu Grace akan mengejek habis-habisan Leo yang terlihat bodoh saat ini.
Leo mendengus kesal tak terima, "Gue belum pernah makan kacang bulu.. biasanya gue yang dimakan kacang bulu.. "
Ucap Leo secara frontal membuat Grace menatapnya tajam, sementara Anita menggeleng menahan tawanya.
"Gila lo.. " timpal Grace mendelik.
"Lo yang udah bikin gue gila.. Eh.. tergila gila.. " timpal Leo santai tanpa dosa, sementara
Grace menghela napas kasar kembali memalingkan wajahnya malas meladeni suaminya.
"Mereka terlihat begitu menggemaskan.. "
batin Anita.
Mobilpun tiba di depan kediaman orang tua Grace, sengaja Leo tidak membawanya masuk kedalam gerbang atas perintah Grace.
Anitapun keluar dibantu oleh Leo yang membukakan pintu untuknya dan mencium tangannya seraya pamit.
Anita membungkukkan badannya kearah Grace sebelum bergegas masuk.
"tunggu..!!! "
Langkah Anita terhenti lalu membalikkan badannya kearah Grace yang membuka kaca mobilnya.
__ADS_1
"ada apa Nak..? " tanya Anita gugup menunduk.
"Saya harap anda bisa datang ke acara pesta kehamilanku nanti.. "ucap Grace dengan wajah datar.
Anita mendongak menatap Grace kemudian mengangguk mengiyakan, "terimakasih sudah mengundang Ibu nak.. "ucapnya tersenyum tulus, sementara Grace hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Anitapun kembali melangkah namun lagi-lagi terhenti oleh Grace yang kini sudah keluar dari mobilnya.
"Kemarilah.. " ucap Grace yang melihat Anita sudah mau membuka pintu gerbang hanya diam mematung .
Anita menurut menghampiri Grace, Ia terhenyak saat Grace meraih tangannya seraya menciumnya.
Iapun membalas dengan mengusap lembut rambut Grace tanpa penolakan darinya.
kemudian Grace mendongak menatap lekat wajahnya,
"tolong jangan menyerah dulu.. "
Ucap Grace pelan, Ia tidak ingin Anita mengetahui jika dirinya sempat mendengarkan tangisannya di pusara Ibunya. Anita hanya mengangguk tanpa berucap.
Anita menatap sendu kepergian anak sambungnya, Ia kembali merasa bersalah dengan kehadirannya di kehidupan Grace tentu membuat Grace terluka dan kecewa terhadap ayahnya.
"Ibumu pasti bangga nak.. " batin Anita.
Mobil telah sampai di kediaman mereka.
Grace bergegas masuk ke kamarnya, sementara Leo dengan cuek melanjutkan kembali memakan kacangnya di dapur.
Grace menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, menatap langit-langit memikirkan kembali masalah Ayahnya.
Ia menggelengkan kepala seraya menghela napas membuang jauh-jauh pikiran yang akan membuatnya stres dan berdampak pada kandungannya.
Grace memang mulai mencari tahu informasi seputar kehamilan juga metode-metode melahirkan dengan mudah, terlebih usianya yang dirasa belum matang menjadi seorang Ibu. Ia benar-benar ingin semuanya baik-baik saja tanpa ada kendala nantinya.
ceklek..
Suara pintu terbuka membuat Grace tersadar dari lamunannya, terlihat Leo mulai melepaskan seragamnya hendak membersihkan diri.
"Kenyang lo..? " ucap Grace dengan meledek.
"Kenyang dong.. kacang bulu..!!!"
timpal Leo dengan suara lantang seraya melemparkan seragamnya yang sudah terkepal ke keranjang cucian seperti bermain bola basket.
"Bagus kalo lo udah kenyang.. Bisa libur punya gue.. " srkas Grace mengingat ucapan frontal Leo tadi diperjalanan.
"Gak bisa sayang.. Anak kita minta ditengok.. " timpal Leo yang mengerti ucapan Grace.
Seringai jahat di wajah Grace, "Boleh.. tapi ada syaratnya.. "
"Apa itu..? " tanya Leo penasaran seraya menghampiri Grace.
"Kerjain tugas Kimia gue dulu.. Baru lo bisa nengokin anak lo.. "
Ujar Grace mencari kesempatan, padahal dirinya sendiri memang menginginkannya malam ini.
mendengar kata kimia Leo bergidik ngeri mengingat tugas yang selalu diberikan oleh Bu Susi sangat tidak kira-kira banyaknya.
Leo menghela napas, "Gak.. Gue mending libur malam ini.. "
Ucap Leo melengos masuk ke kamar mandi, "dapet syukur gak dapet gapapa.. ".
sementara Grace mengumpat dalam hati melihat Leo yang cuek masuk ke kamar mandi dengan bersiul. ekspetasi tak sesuai realita.
"Sial.. "
"Eh non.. Mau makan sekarang..? " tanya Lilis yang terkejut dengan kehadiran majikannya secara tiba-tiba.
Grace hanya mengangguk seraya menyendok makanan dengan porsi yang besar.
Iapun melahapnya dengan rakus sampai tak sadar Ia beberapa kali bersendawa karena kekenyangan. sepertinya kali ini merajuk.
Setelah selesai dengan makan malamnya Iapun masuk ke kamar tamu yang berada di bawah untuk beristirahat memisahkan diri dari suaminya yang sangat menyebalkan.
Tak lama Leopun menghampirinya setelah sebelumnya mencari keberadaannya di setiap ruangan.
"Sayang.. Ko tidur disini..? "
Ucapnya melihat Grace yang tengah berbaring dengan mata terpejam bahkan membiarkan seragamnya masih melekat di badannya.
"Mulai sekarang ini kamar gue.. males gue naik turun tangga, begah.. " elak Grace masih mempertahankan matanya untuk terpejam.
Leo menghampiri seraya membaringkan tubuhnya di samping Grace,
"Mandi dulu.. "bisiknya di telinga Grace.
Grace berlaga menggeliat seraya membuka matanya, menghela napas kasar,
"Gue bilang ini kamar gue.. Udah sono lo.. " ucapnya dengan ketus.
"Yaudah.. " satu kata yang cukup menusuk hati Grace. berharap Leo akan membujuknya tapi sialnya Leo dengan cueknya bangkit dan keluar dengan langkah yang santai.
Grace hanya bisa menggigit bibir bawahnya seraya mengepal tangannya dan menendang nendang kasurnya dengan kesal. menurutnya Leo tidak ada rasa peka terhadapnya sama sekali.
Dini hari seperti biasa Leo terjaga, seringai di wajahnya melihat daun pintu bergerak sendiri,
"Satu..dua..tiga.. "
"Leo.. Buka..!!! " teriak Grace dari luar, rupanya Leo sengaja mencuci pintu kamarnya hendak mengerjai Grace.
Leo terkekeh mendengar Grace berteriak seraya memukul pintu dengan keras.
"Leo.. Sialan.. awas lo ya.. "
Grace terus mengumpat dan akhirnya menyerah juga sebab tak ingin mengganggu waktu istirahat Lilis.
Iapun kembali ke kamar bawah untuk melanjutkan tidurnya.
Mendengar sudah tidak ada suara istrinya, Leo membuka pintu menyembulkan kepalanya keluar memastikan Grace telah kembali kebawah.
Leo bernapas lega seraya melompat ketempat tidurnya, lalu berguling ke sana kemari dengan kegirangan berasa kembali menjadi bujang.
Sama halnya di kamar bawah, Grace berguling kesana kemari, namun bukan kegirangan melainkan uring-uringan merindukan dekapan Leo yang aroma tubuhnya menjadi candu bagi seorang Grace.
____
Keesokan harinya Grace sudah sarapan terlebih dahulu, Ia membuang mukanya saat mendapati Leo tengah menuruni tangga dengan bersiul tanpa dosa menghampirinya.
"Pagi sayang.. gimana tidurnya ? " tanya Leo seraya mengambil sepotong roti, sementara Grace semakin kesal, bisa-bisanya Leo tak memberikan energi paginya.
"Ck.. ngapain lo kunci pintu kamar.. gue mau ngambil tas susah.. "
Tanya Grace gengsi.
"Masa sih..? "
"Masa sih masa sih.. Jelas-jelas lo konci tuh pintu semalem.. "
Grace langsung menutup mulutnya, tentu saja Ia merasa gengsi jika semalam Ia menginginkannya tetapi memberi syarat pada Leo sebagai aji mumpung untuknya.
__ADS_1
"Oh.. Sorry.. kebiasaan kan kalo tidur gue konci dulu pintu, gue lupa kalo lo tidur dibawah.. "
Elak Leo menahan tawanya saat melihat kekesalan di wajah Grace.
Selesai sarapan keduanya bergegas berangkat sekolah.
Grace mendahului duduk dibelakang kemudi, "Biar gue yang nyetir.. "ucapnya ketus
"Yaudah.. " lagi-lagi Leo menunjukkan sikap cueknya terhadap Grace.
Seringai jahat di wajah Grace yang langsung menancap gas saat Leo baru duduk di bangkunya sama sekali belum mengenakan sabuk pengaman membuatnya tersentak kaget dan kepalnya terbentur ke depan.
sayangnya Grace tidak ada rasa kasihan sama sekali, Ia malah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengarah zigzag tak beraturan.
"rasain lo.. Muntah-muntah lo. "
batinnya melihat Leo sudah berwajah pucat pasi menahan mual seraya berpegangan dan berkomat kamit entah berdoa untuk keselamatannya atau bahkan mengumpat untuk Grace.
"Gila Lo.. " ucap Leo dengan napas tersengal masih setia berpegangan erat.
Namun Grace diam tak menyahutinya, sampai mobil mereka tiba disekolah
Leo bergegas keluar rasanya benar-benar ingin muntah.
Kedua sohibnya menghampiri Leo dengan wajah yang cemas melihat kondisinya saat ini terlihat berantakan.
Sementara Grace melengos begitu saja tak peduli dengan suaminya yang menderita akibat ulahnya.
"Tolong gue.. " ucap Leo lemah pada kedua sohibnya.
Kedua sohibnya dengan sigap membawa Leo ke UKS.
Leo sudah tidak kuat menahan untuk muntah, Iapun menunduk di wastafel UKS di bantu oleh Ari yang memijat tengkuknya.
"Le.. Nih minum dulu..'' ucap Exel menyodorkan segelas teh hangat pada Leo.
Leo pun meminum teh tersebut dengan pelan-pelan.
"Lo istirahat dulu aja disini Le.. " ucap Exel dengan cemas di angguki oleh Ari, tetapi Leo menggeleng menolak sebab merasa kondisinya sudah lebih baik.
"Yoi Le.. Mumpung pelajaran bu Susi.. gapapa dah gue temenin..'' ucap Ari antusias.
"Itumah elo kesenengan kunyuk.. "timpal Exel menoyor kepala Ari.
"Iya.. Iya.. Yaudah lo sekarang mau apa Le ..? " tanya Ari, tentunya mengenai ngidamnya Leo, namun lagi lagi Leo kembali menggeleng,
"Udah yuk cabut.. Gue udah mendingan.. " ucap Leo tegas.
"Oh ya Le.. Nih gue bikinin khusus buat lo.. " Exel mengeluarkan salad buah-buahan dari dalam ranselnya dan memberikannya kepada Leo, membuat Leo berbinar melihat makanan tersebut dan angsung menyambar kotak salad tersebut dari tangan Exel.
"Thanks El.. " ucap Leo seraya memasukkan kotak tersebut kedalam ranselnya dengan sumringah. Itulah yang ingin di lihat oleh Exel, tingkah Leo yang menggemaskan.
Tak lama bel berdering memulai pelajaran.
Grace bernapas lega bisa menyelesaikan tugas kimianya yang sempat tertunda, beruntung kelasnya mendapat giliran jam kedua setelah kelas Leo.
Dikelas lain, tampak semua raut wajah murid kelas 12 Ipa2 ketakutan, jam dinding seirama dengan suara ketukan sepatu bu Susi yang horor.
Bu Susi memulai menerangkan materinya dan sesekali menjabarkan rumus di papan tulis. semua murid berkeringat dingin menatap ke depan, sementara Leo menundukkan kepalanya mencuri curi memakan salad buahnya membuat Bu Susi mulai curiga dengan gelagat Leo yang sedari tadi anteng menunduk.
"Leonard.. Apa yang kamu lakukan..? "
Tegur Bu Susi dengan mata yang tajam, walaupun Ia mengetahui tentang Leo yang merupakan anak dari pemilik yayasan dan sudah menikah, tetap saja Ia tidak mentolerir siapapun yang melakukan kesalahan di jam pelajarannya.
"Mampus.. " gumam Ari panik, begitupun dengan Exel yang terlihat panik sekaligus cemas dengan Leo.
Leo hanya menggeleng tanpa berucap, membuat Bu Susi menghampirinya untuk memeriksa seraya melirik kiri kanan.
semua murid menunduk sementara Exel mengambil kesempatan saat bu Susi menoleh kekiri kanan menyambar sepotong buah untuk Ia kunyah dan sepotong lagi Ia lempar ke arah Ari.
"Kamu makan dikelas disaat saya sedang menerangkan didepan.. Sangat tidak sopan kamu.. " ucap Bu Susi horor.
Bu Susi kembali memeriksa Exel dan Ari yang terlihat sedang mengunyah.
Bu Susi terlihat marah dengan Leo cs,
"Kalian bertiga saya hukum bersihkan toilet sampai jam pelajaran saya selesai.. " titah Bu Susi yang garang membuat ketiganya mengangguk patuh, lebih tepatnya sangat antusas.
merasa belum puas, Bu Susi kembali memeriksa murid yang lainnya,
hal itu digunakan oleh Leo untuk menyembunyikan kotaknya di balik seragamnya.
ketiganyapun bergegas ke luar dari kelas dengan langkah yang tergesa gesa.
"Thanks bro.. Lo bedua udah mau nemenin gue.. "
Ucap Leo semangat merangkul kedua sohibnya.
Exel hanya mengangguk tersenyum, sementara Ari mengelak "Gue cuma pengen bebas dari bu susi.. " ucapnya santai.
"Terserah lo.. Lo emang gak peduli sama gue.. " ucap Leo cemberut memanyunkan bibirnya.
"Mulai dah mulai.. " sarkas Ari kesal, sementara Exel terkekeh melihat Leo begitu menggemaskan.
"Sini.. Gue mau tunjukin seberapa pedulinya gue sama lo.. " ucap Ari merangkul Leo untuk mengikutinya ke arah toilet.
di sana sudah berjajar beberapa adik kelas yang sudah siap untuk membersihkan toilet sesuai instruksi Ari.
Leo tersenyum merekah, "Thanks uncle.. " ucapnya sumringah hendak memeluk Ari.
"Anying.. Sekali lagi lo ngomong begitu.. Gue bubarin ni pasukan.. "
Ucap Ari mendelik kesal menolak pelukan Leo, sementara Exel menahan tawanya terlebih melihat Leo kembali cemberut.
"Udah.. Kuy cabut.. " Ajak Exel merangkul kedua sohibnya keluar dari toilet tersebut.
Kini ketiganya sudah berada di rooftop gedung Aula. Ari dan Exel asyik bermain game online sementara Leo anteng dengan salad buahnya.
"Le.. "
"Hmm.. "
"Si grace tau gak ya kita dihukum? " ucap Exel panik di tengah aktifitasnya mengingat ancaman dari Grace kemarin.
"Mangkannya lo jangan ketularan cewek lo lemes.. " timpal Ari santai mengejek Exel.
"Gak lah.. Kapok gue.. " ucap Exel bergidik merinding.
"Kira-kira si Linda laporan gak ya sama si Grace..? "
Lagi-lagi Exel merasa panik akan ancaman Grace, sementara Ari menggeleng melihat raut wajah Exel yang cemas tidak ada kesan coolnya sama sekali.
"Sumpah Lo bedua kagak ada coolnya sama sekali sekarang... Pada takut sama si Grace.."
ucap Ari bergidik.
"Oh.. Elo gak takut..."
deg..
__ADS_1