
Mendapat perawatan di Rumah sakit yang paling lengkap juga tenaga medis yang sangat ahli, membuat Exel terbilang cukup cepat melewati masa pemulihan.
Meskipun Exel belum di perbolehkan untuk pulang, tetapi dirinya sudah merasa jenuh jika harus berlama-lama di sana, padahal pihak rumah sakit sudah menyulap sedemikian rupa kamar mewah yang di tempati Exel persis seperti kamarnya di rumah agar Exel merasa nyaman.
senyaman apapun tempat itu, rumahnya lah yang paling nyaman bagi Exel, dan disinilah sekarang Exel berada.
Suasana rumah sangat ramai karena kehadiran keluarga besan, juga para sahabat bahkan para anggota turut berada di sana untuk menyambut kepulangan Yang Mulia Exel.
Beberapa hidangan makanan lezat nan mewah tersaji di atas meja panjang seperti perasmanan di pesta pernikahan, tapi ini hanya sekedar penyambutan kepulangan Exel.
Shaw yang ada di balik semua ini, Ia sengaja menyiapkan hal tersebut sebagai bentuk rasa syukur atas kesembuhan menantu kesayangannya.
Shaw senang sekali juga sangat antusias untuk menjamu para anggota juga sahabat Exel. terlebih Ia mengetahui geng motor tersebut yang selalu menebar kebaikan di setiap kesempatan.
Semua asyik berbincang sambil menyantap makanan, sementara yang punya hajat hanya bisa duduk di singgasana sambil memperhatikan si Kecil Lucio yang semakin hari semakin menggemaskan.
" Vibesnya udah kek manten sunat lo El.. " celetuk Ari enteng disusul gelak tawa yang lainnya.
" ck.. sialan.. lo doang curut temen yang gak ada ingetnya.. "
sahut Exel kesal sebab hanya Ari yang jarang dilihatnya selama tahap pemulihan.
" yah El.. gue mah realistis, nyembuhin lo gak bisa, mending gue nyari duit.. toh bini gue gak pernah absen kan nongolin muka.." timpal Ari santai membuat yang lainnya menggeleng terkekeh sementara Exel mendengus kesal,
" di otak lo yang ada cuma duit.. " sahut Exel ketus.
" uang memang bukan segalanya, tapi segalanya perlu uang Tuan.. akumah apa atuh , cuma pencari recehan.. " timpal Ari berlagak menangis terisak seraya bersimpuh di hadapan Exel.
sontak semua kembali tergelak menyaksikan drama yang di perankan oleh Ari, terkecuali Megan yang bersemu menahan kekesalannya dengan tingkah suaminya itu.
Begitupun dengan Exel yang berdecak kesal.
" hey patih.. kau jangan menggangu raja.. " celetuk Leo yang larut dalam drama tersebut.
" saya hanya musafir Tuan, saya tidak pantas menjadi patih bagi Yang mulia.. " sahut Ari masih setia bersimpuh dihadapan Exel.
" setan lo berdua.. " timpal Exel ketus.
suasana semakin ramai dengan gelak tawa karena ulah Ari dan Leo yang menyudutkan Exel dengan ejekan, saat ini keduanya menunjukkan sisi lainnya di hadapan para anggota. sungguh tidak ada wibawanya sama sekali.
bukan tanpa alasan Ari bersikap seperti itu, Ia tahu Exel kecewa terhadapnya sebab dirinya jarang sekali berkunjung saat Exel di rumah sakit dan hanya di wakilkan oleh Megan. itu karena Ari tak kuasa melihat kondisi sohibnya.
bisa di bilang Ari jauh lebih terpukul juga terluka dari pada yang lainnya, hanya saja Ia tak ingin menunjukkan sisi lemahnya.
biarkan saja semua orang menilainya pengecut. hanya dirinya dan Tuhan yang tahu akan do'a yang selama ini Ia panjatkan untuk kesembuhan Exel.
πΏπΏπΏ
" mih.. gantian.. " ucap Exel meminta untuk memangku Lucio yang berada di pangkuan Indri.
lantas Indripun meletakkan Lucio di pangkuan Exel. senyuman terukir dari bibirnya kala melihat Exel begitu tulus menyayangi anak dari sahabatnya.
Ingin sekali rasanya Indri menggoda Exel perihal kemantapan putranya itu sebagai seorang ayah. tetapi Ia tak ingin menyakiti hati putra juga menantunya yang takut akan tersinggung nantinya.
" Cio bobo sama uncle yah.. " ucap Exel seraya mengusap lembut kepala si kecil dan beralih menatap Leo dan Grace penuh harap.
keduanya yang mengerti pun mengangguk mengiyakan,
__ADS_1
" ya udah, kita nginep di sini.. " ucap Leo membuat Exel tersenyum sumringah.
" gue sih balik aja.. " celetuk Ari.
" siapa yang ngarepin lo nginep di sini curut.. " sahut Exel masih sewot.
Ari menggaruk kepalanya kikuk sementara yang lainnya kembali tergelak.
...----------...
Hari sudah gelap bersamaan dengan bubarnya semua orang yang menyisakan keluarga Exel juga keluarga kecil Leo.
Grace yang tadinya risau karena rencana menginap yang terkesan mendadak membuat Ia tidak ada persiapan untuk si kecil, kini bisa bernapas lega sebab Exel sudah menyiapkan segala keperluan si kecil dengan lengkap.
" Cio tidur sama gue, boleh yah Grace.. " ucap Exel yang tak lepas menggendong si kecil.
" kalo Cio haus gimana? " timpal Grace ragu,
" yah kan biasanya juga Cio tidur bareng mba Ratna.. lo siapin dulu Grace.. " sahut Exel melas.
" apaan, udah lama Cio sekamar bareng kita kok.. " sela Grace.
" anjirr pantes papi Leo sumringah Cio di ajak tidur sama abang El.. "
celetuk Silvie cengengesan di angguki Exel yang setuju,
memang Leo terlihat seperti musafir yang menemukan Oasis di gurun pasir saat ini.
setelah menimbang-nimbang, akhirnya Grace pun memperbolehkan Exel untuk tidur bersama si kecil, tentunya Grace menyiapkan Asi untuk Lucio nanti malam dengan memompanya terlebih dulu.
Silvie bergidik geli kala melihat beberapa botol Asi yang di sodorkan oleh Grace padanya, berbeda dengan Exel yang sangat antusias mencerna penjelasan dari Grace mengenai cara menyiapkan susu untuk Lucio nanti.
" Asi kan kalo di jemur jadi warna merah... berarti ASI itu darah dong.." ucap Silvie polos langsung mendapat toyoran dari Grace.
" lo anak IPA jalur mana sih, beda lah bego, iklan aja udah ready jadi mama, bloon masih lo piara.. "
" massa..? "
" beda Sil, Asi sama darah salurannya beda.. kalo darah kan ngalir melalui pembuluh darah dari atau ke jantung, sedangkan Asi punya saluran sendiri. . "
sahut Exel menjelaskan dengan tenang membuat Silvie mangut-mangut paham.
" laki lo aja tau.. " timpal Grace gemas mencubit pipi Silvie.
πππ
Malam sudah larut, Grace dan Leo belum bisa terlelap, tetapi bukan karena tidak nyaman harus tidur di tempat orang.
jika Leo menantikan momen panas bersama Grace sebab sudah lama mereka tak melakukannya, mengingat Grace berhalangan juga kesibukan dirinya menjaga Exel, berbeda dengan Grace yang gelisah takut Lucio tidak bisa tidur jika tidak bersamanya.
Melihat itu, akhirnya Leo mengambil ponsel Grace lalu mengubungi Silvie dengan video call.
" ada apaan..? " sahut Silvie sambil menguap.
" arahin kameranya ke Cio Sil.. " timpal Grace yang berhasil menyambar ponselnya dari tangan Leo.
seulas senyuman terbit dari bibir Grace kala melihat si kecil begitu nyenyaknya tidur di samping Exel.
__ADS_1
dalam hatinya Grace mendoakan kebaikan untuk keluarga kecil para sahabatnya semoga segera di titipkan anak di kehidupan mereka. Ya walaupun Grace sedikit merasa ragu apakah mereka masih menyayangi juga memanjakan Lucio nanti setelah para sahabat memiliki anak masing-masing. entahlah, semoga saja tidak.
" gimana..? gue bilang juga apa, percayain semua sama abang lo.."
gumam Leo yang memeluk Grace dari belakang dengan tangan yang mulai nakal di area kesukaannya.
sontak Silvie terbelalak sampai berdecak kesal.
" sialan lo berdua, kebiasaan banget ngotorin mata orang.. " sahut Silvie ketus.
Grace yang tadinya kesal hendak menepis tangan Leo yang nakal, malah sengaja mengompori Silvie dengan membalas perlakuan Leo membuat Silvie langsung mematikan ponselnya.
Grace terkekeh membayangkan kekesalan pada sahabatnya, terhenti kala tangan Leo kembali menggerayangi tubuhnya. Sial Grace sudah membangunkan singa lapar.
" Leonard ini di rumah or.. "
Grace tidak bisa melanjutkan ucapannya sebab Leo sudah membungkam bibirnya dengan ciuman lembut juga menuntut.
Lama-lama Grace juga ikut terlena dan membalas ciumannya dari lembut hingga ganas.
ciuman terhenti saat keduanya merasa kehabisan oksigen. Leo menatap lekat manik mata Grace yang sayu,
" boleh yah Grace.. " ucap Leo dengan suara seraknya.
sementara Grace memalingkan wajahnya merasa malu sebab dirinya juga sama menginginkannya, hanya aneh saja kenapa Leo harus meminta ijin, biasanya juga langsung hajar. itukan membuat Grace salah tingkah.
malampun mereka habiskan dengan pergulatan di penginapan gratis nan nyaman.
dengan tidak tahu malunya keduanya baru keluar kamar saat tuan rumah sudah siap untuk beraktivitas.
" yang lagi proyek bikin adek buat Cio. " sarkas Silvie ketus.
" iya dong.. gempur terus.. " sahut Grace santai membuat Indri yang sedang menyiapkan sarapan menggeleng terkekeh.
" Cio udah wangi.. "
Grace meraih si kecil yang berada di gendongan Exel.
" untung abang lo mahir ngurusin Cio.. "
" makannya, lo harus banyak bersyukur bestie.. Abang El kurang apa sih.. ganteng.. "
ehem.. deheman Leo yang tak suka istrinya memuji ketampanan laki-laki lain.
" jago masak.. jago ngurusin anak.. lah elo Sil, Aldo sama pak Wilson aja masih lo incer.. " lanjut Grace kembali.
" anying.. mana ada gue ngincer cowok laen.. "
" huss.. udah ah.. sarapan dulu "
sahut Indri melerai dia manusia tak berahlak itu.
berbicara mengenai adik bagi Lucio membuat Grace teringat sesuatu, baik dirinya maupun Leo tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi.
Grace menggeleng cemas kalau melihat Lucio, bagaimana bisa anak yang masih terhitung bulanan harus berbagi kasih.
" Tuhan.. hamba bukan menolak, pending dulu yah.. gak papa Cio punya adek, tapi dari mereka dulu Tuhan.. "
__ADS_1