
" Lo kerja disini.. ? " tanya Grace sedikit merasa iba dengan gadis di hadapannya yakni Lolita si gadis yang suka memakai kacamata bulatnya.
" eh.. iya kaya lo di bengkel.. gue ngambil paro waktu.." jawab Lolita tenang tersenyum ramah.
ada yang berbeda dari gadis tersebut, dan itu sukses membuat jiwa penasaran muncul dari seorang Grace.
salah satunya ialah penampilan juga cara bicara Lolita.
" lo tau dari mana kalo gue kerja di bengkel.. and btw, kacamata lo kemana? " selidik Grace yang tiba-tiba kepo membuat Leo menggeleng sementara raut wajah Lolita langsung pucat,
" gue.. "
" Loli, gimana tugas lo..? "
deg.. belum sempat Lolita menjawab suara Aldo menghentikan mereka, sontak ketiganya terkejut terlebih Grace yang dibuat semakin penasaran akan kehadiran Aldo di sana juga terdengar begitu akrab bersama Lolita.
" dia pengelola minimarket ini.. " ujar Lolita menghilangkan rasa penasaran Grace.
" oh.. dia bos lo.. " sahut Grace mangut-mangut.
" hey.. lo berdua belanja disini..? gue kasih diskon deh.. " ucap Aldo menghampiri mereka dengan tersenyum ramah.
" gak usah kak.. " sahut Grace di angguki oleh Leo.
" kali ini aja, sebagai tanda pertemanan.. " ucap Aldo yang beralih menatap Leo yang mulai nampak kesal itu. namun akhirnya mengangguk setuju, toh Aldo berniat baik ingin menjadi teman mereka.
terlebih dia mempekerjakan seorang mahasiswi yang membutuhkan biaya kuliah. bukankah itu mulia? entahlah.
" hmm.. boleh, lumayan Grace duitnya buat bensin yagaya.." bisiknya di kuping Grace, akan tetapi masih bisa terdengar oleh Aldo juga Lolita.
dasar si ogah rugi, tadi saja kelihatan cemburu setengah mati. sekarang pemilik black card yang ngaku-ngaku gembel itu seperti kehilangan harga diri.
ahh.. persetan gengsi.
" tau gitu, kita tadi ngambil banyak Le.. sekalian beras minyak noh.. " sahut Grace antusias disusul anggukan setuju dari Leonard yang sama gilanya.
sementara Aldo juga Lolita menggeleng mendengar itu,
" lo punya adek masih bayi Grace ?" tanya Lolita yang sedang menscan produk keperluan bayi itu.
" buat anak gue.. " sahut Grace santai.
" oh lo udah punya anak.. "
" hmm.. udahkan? " sahut Grace yang mulai malas menyahuti,
sontak Lolita pun segera mengemas semua barang belanjaan Grace setelah mendapat tatapan tak suka dari Aldo.
tidak etis memang untuk seorang kasir menanyakan hal pribadi kepada customer walaupun mereka teman sekampus, bukannya mereka baru saling mengenal.
baik Grace maupun Leo saat ini merasa tidak nyaman walaupun diimingi diskon.
dan akhirnya keduanya pun meninggalkan minimarket tersebut setelah membayar semua barang belanjaan mereka.
jangan tanyakan bagaimana repotnya mereka membawa beberapa kantong belanjaannya sebab mereka menaiki motor, juga tangan Grace yang masih sakit pasti tidak bisa menentengnya.
dan itu Leo tugaskan kepada sebagian anggotanya yang entah sejak kapan mereka sudah berada di parkiran minimarket itu.
__ADS_1
...*****...
sepanjang perjalanan pulangnya, Grace terus menahan rasa sakit yang menyerang perutnya. rasa mulas di perutnya melebihi kontraksi saat dirinya akan melahirkan si kecil Cio.
Leo merasa heran kenapa tak ada suara dari Grace yang biasanya akan mengajaknya berdebat itu, Leo merasakan tangan Grace yang melingkar diperutnya semakin melemah, lantas Iapun melihat Grace dari pantulan kaca spion dan..
Ya Tuhan, betapa malangnya keadaan Grace saat ini, dimana wajahnya terlihat pucat serta keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
" Grace.. " panggil Leo dengan lirih seraya mengusap pelan tangan Grace.
tak ada sahutan dari Grace, Leopun menaikan kecepatan laju motornya sebab jarak Rumahnya sudah dekat.
Leo melajukan motornya hanya dengan satu tangan, sementara yang satunya memegang kuat tangan Grace agar tidak jatuh nantinya.
Tak lama Leopun sudah tiba di depan rumahnya dengan di sambut raut khawatir dari para sahabatnya.
rupanya para anggota yang sedari tadi mengikuti motor Leo, langsung melapor pada Exel saat melihat keanehan dari Grace.
dan saat itu juga Exel bersama yang lainnya bergegas pergi ke kediaman Leo dengan kecepatan mengalahkan seekor cita.
Exel dan Ari segera meraih tubuh Grace yang akan jatuh itu, lalu menggotongnya masuk ke dalam,
" Le.. perut gue sakit banget.." ucap Grace lirih nyaris tak terdengar.
" sabar ya sayang.. ini lagi telpon tante Ester.."
Leo tak tega menatap istrinya yang kesakitan, begitupun dengan kedua sahabat yang saat ini membuka pakaian Grace dan menggantinya dengan yang lebih longgar.
mereka tahu Grace tidak pernah meringis seperti ini, Grace selalu kuat dalam kondisi apapun.
dengan langkah tergesa dokterpun memasuki kamar Grace.
" ko lo yang kesini sih..? emak lo kemana..?" tanya Leo kesal pada dokter muda tersebut.
" lo pikir nyokap gue gak bakal ngadu sama om dan tante..?" sahut dokter tersebut.
" ya tapi gue gak suka kalo cowok mesum kek lo harus pegang-pegang bini gue.." timpal Leo kesal.
sementara kedua sahabat Grace yang masih berada di sana menggeleng melihat interaksi antara Leo dengan dokter tersebut.
keduanya sudah mengetahui sesuatu hal yang tidak di ketahui orang lain termasuk Grace yang pasti akan terkejut mendengarnya.
" Leo lo malah berdebat sih.. buang dulu ego lo, kasian noh si Grace.." ucap Megan kesal, bisa-bisanya dalam situasi genting seperti ini Leo masih bisa bertingkah lebay.
Leopun menghela napas seraya mengangguk setuju,
" tapi lo gak boleh cari kesempatan.. " ancamannya menuding mata si dokter.
si Dokter hanya berdecak malas meladeni sepupu yang kadar cemburunya sudah overdosis itu.
lantas Iapun berfokus untuk memeriksa Grace yang sudah setengah tidak sadarkan diri. dengan beberapa rangkaian pemeriksaan dengan cepat si dokter jenius itu bisa menyimpulkan gejala yang dirasakan oleh Grace.
" Cio.. Le bawa cio ke sini.." sayup sayup suara Grace dengan mata masih terpejam tapi masih bisa mendengar dengan jelas tangisan Cio yang sudah pasti sedang kelaparan dan membutuhkan ASI Grace.
" jangan susuin dulu.." sahut si dokter pada Leo yang hendak mengambil si kecil Cio di kamarnya.
" dia keracunan.." lanjut si Dokter menanggapi kebingungan pada Leo dan juga kedua sahabat Grace.
__ADS_1
" keracunan..?" tanya Leo meminta penjelasan pada si Dokter namun atensinya tertuju pada Megan juga Silvie membuat keduanya menelan ludah kasar, siap-siap mendapat sederet pertanyaan introgasi dari yang maha lebay Leonard.
sementara si dokter mengangguk mengiyakan, " yah.. bini lo keracunan makanan yang terakhir dia makan.." jelasnya begitu tenang,
sementara Leo yang sudah yakin akan analisa si dokter yang sudah tidak diragukan lagi ke keakuratannya itu, lagi-lagi Ia menatap tajam ke arah kedua sahabat Grace, sebab terakhir kali Grace makan bersama kedua sahabatanya.
" lo berdua ko bisa kecolongan sih..?"
nah kan baru saja terlintas di benak mereka, kini Leo benar-benar mengintimidasi keduanya.
" perasaan kita makan samaan kayak yang si Grace makan, iya gak si Me.." timpal Silvie yakin di angguki Megan,
" ada yang iseng sama bini lo.." sahut si Dokter seraya menepuk bahu Leo berharap mode maungnya hilang. tapi sialnya Leo malah semakin geram mendengar pernyataan si Dokter.
" lo juga kenapa bisa kecolongan..? gue titip dia ke elo biar ada yang jagain selagi jauh dari gue.." ucap Leo begitu emosi dan tak segan memukul si Dokter hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar membuat kedua sahabat Grace meringis,
terlebih Silvie yang menyayangkan ketampanan si dokter.
" Leo, lo harus tenang jangan emosi.." ucap Megan mencoba menenangkan Leo yang saat ini dikuasai emosi.
Leo terkulai lemas di lantai saat melihat Grace kembali kesakitan,
gue gak becus jagain istri sendiri..
...******...
bukan tanpa alasan mengapa Leo juga Grace tidak pernah bercerita mengenai maslah atau musibah yang menerpa keluarga kecilnya pada orang tua mereka sebab tak ingin membuat mereka khawatir dan cemas berlebihan seperti yang Leo rasakan saat ini.
kejadian dulu saat masalahnya bersama Grace yang di ketahui oleh kedua orangtuanya dan menyebutnya jika Leo tidak becus menjaga istri sendiri, juga mereka tak segan-segan mengancam hendak memisahkan Leo dari Grace jika tidak bisa menjaganya.
sekai lagi, baik Leo maupun Grace tak ingin gegabah bercerita apapun masalah yang mereka hadapi kepada orangtua, selagi keduanya masih bisa mengatasinya tentunya di bantu para sahabat yang selalu solid.
" Le.. bawa Cio kesini.." pinta Grace dengan lirih.
Exel yang berdiri di ambang pintu menatap sendu ke arah Grace, lantas Iapun berinisiatif mengambil si kecil Cio di kamarnya tanpa menunggu persetujuan dari Leo terlebih dulu, lalu Ia meletakkan si kecil Cio di samping Grace.
ajaib, terlepas dari reaksi obat yang di berikan oleh si dokter rasa sakit itu langsung hilang begitu saja, begitupun dengan tangisan si kecil yang sudah tak terdengar lagi.
dengan tergesa, Megan memberikan susu pada si kecil yang beruntungnya stok ASI Grace masih ada di kulkas.
" Cio mau bobo sama mami yah.." ucap Grace seraya mengusap lembut kepala si kecil yang tengah anteng menyusu itu.
siapapun orangnya, gue gak bakalan lepasin.. batin Exel yang kini mengepalkan tangannya.
🍏
setelah di rasa kondisi Grace benar-benar membaik, para anggotapun memutuskan untuk pulang, sementara para sahabat memilih menginap disana.
Leo yang biasnya menolak mereka untuk menginap yang pastinya akan mengganggu waktu malamnya, kini dirinyalah yang menyuruh mereka.
ya jelas.. orang lagi pere..
Grace baru tersadar akan kehadiran si dokter yang hendak berpamitan pulang itu, tentu Ia sangat terkejut dengan sosok si dokter yang sangat di kenalnya terlihat akrab dengan Leo.
Grace menatap nyalang ke arah Leo meminta penjelasan, sementara yang di tatap malah cengengesan mengacungkan dua jari membentuk huruf v, begitupun ke empat sahabat laknat memilih cari aman kabur ke taman belakang sebelum Grace keluar khodamnya.
" Leonard..!!!"
__ADS_1