Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 101


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore, tetapi Wilson belum juga bertemu dengan Lolita setelah mendengar cerita dari Grace.


Wilson sangat gusar, dia sudah mencoba menemui gadis itu di rumahnya tetapi nihil. neneknya mengatakan jika Lolita sama sekali belum pulang. apakah gadis tersebut mencoba menghindarinya?


" arrghhh.. kamu kemana Lita..? "


Wilson sudah kukuh dengan perasaannya terhadap Lolita. tetapi semakin yakin pada perasaannya, Ia dibuat semakin gelisah oleh Lolita. gadis itu membuatnya resah. padahal kejadian tadi pagi menurutnya merupakan satu kemajuan.


Sial. gadis itu sukses membuat perasaan pria idaman sejuta umat porak poranda. baru saja Wilson merasa terbang, seketika dibuat terjatuh.


.


.


.


.


Lolita, gadis itu kini tengah duduk sendirian di tepi danau menikmati senja.


Gadis itu menatap kosong lurus ke depan. pikirannya bergelut, pendiriannya seolah goyah. Dia bingung, antara melanjutkan perjuangannya atau menyerah sampai disini saja.


mengingat kejadian siang tadi membuat Lolita ingin berteriak detik itu juga.


Lolita menghembuskan napas panjang. Dia tidak boleh egois. jika dirinya membatalkan secara sepihak, tentu itu akan membuat keluarga Wilson malu. terlebih undangan sudah tersebar.


" dasar gak tau diri.. mereka udah baik sama lo Lita..jangan bodoh.." gumamnya.


Lolita terkekeh pelan mengingat nasibnya selama ini, dan sekarang dia dihadapkan dengan keadaan yang terasa abu-abu baginya.


" Disini rupanya.. "


Lolita terkesiap mendengar suara yang dikenalnya. kemudian Ia mengangkat wajah sekilas dan langsung menunduk kala orang tersebut tersenyum.


" aku boleh ikut duduk disini..? "


belum sempat Lolita mengiyakan, orang tersebut sudah duduk di sampingnya.


" kenapa bapak bisa tau saya disini..?" akhirnya keluar juga suara gadis itu. sebelumnya Lolita tidak siap jika harus bicara dengan pria yang ada dipikirannya.


" bukannya kita mau ubah gaya bicara yah..? "


" eh.. iya. kenapa mas bisa tau aku disini.. " ralat Lolita dengan gelagapan.


" gak penting.. ayo pulang, udah mau gelap.. "


Lolita masih diam di tempat saat Wilson beranjak dari duduknya. Dia menurunkan pandangan kala Wilson mengulurkan tangannya.


" gak usah mikirin omongan orang.. kita yang jalani, bukan mereka.. "


Lolita mendongak, dia tersenyum mendengarnya. kalimat yang di ucapkan Wilson terdengar lembut dan menjadi penyemangat untuknya.


Lolita mengangguk. kemudian turut bangkit dari duduknya. diraihnya tangan Wilson yang masih terulur itu.


sedang Wilson dibuat susah menelan ludah saat jarak mereka begitu dekat. bahkan gadis itu tak hentinya tersenyum tulus.


Debaran jantung Wilson terdengar seiring napasnya yang mulai tersengal. mata indah itu berani menatapnya.


" Shittt.. gue gak bisa nahan diri.. "


Wilson mencoba mengenyahkan pikirannya dengan menghela napas panjang.


" Lusa kita menikah.. "


...-------------...


Sementara di tempat lain, Leo dan Grace di buat melongo kala menyelonong masuk ke rumah sahabatnya.


pemandangan unik yang tersuguh membuat keduanya tertawa mengejek. dimana Ari tengah sibuk memasak dengan mengenakan daster khas ibu-ibu rumahan.


" sotonya udah mateng mpo.. "


Ari terkejut mendengar suara Grace yang tiba-tiba berada dibelakangnya.


" ngapain pada kesini, entar gue anter.. " sahut Ari sewot. dia sudah kepalang malu dengan penampilannya.


" kita gak ada buat ongkir po.. " sahut Leo sama gilanya.


Ari mendesah kesal " anying.. laki bini kalo masalah ngejek orang paling pro.. "


" lagian lo make baju kek gitu.. " timpal Grace yang tak hentinya tergelak.


" demi ponakan lo Grace.." sahut Ari pasrah.


Lagi. Leo dan Grace terkekeh geli. mereka menemukan hiburan baru. ah lebih tepatnya ini ajang balas dendam untuk Ari yang selalu mengejek keduanya.


rupanya diam-diam Ari dan Megan menyimpan masalah ngidamnya itu dari para sahabatnya.


" ck.. ngidam bini lo lebih parah ternyata.. " sahut Leo merasa puas mengejek Ari.


" diem anying.. entar bini gue denger.. "


" uuhhh susis.. " kekompakan yang hakiki dari pasangan gila.


Ari menghela napas pasrah. kata " kang ejek " yang di nobatkan untuknya, kini sudah diambil alih oleh pasangan gila di hadapannya.


.


.


Megan yang baru bangun tidur sepulangnya dari kampus kini bersenandung ria menghampiri sang suami yang diduganya tengah masak.


tadi dia sudah menyampaikannya pada Ari pesan dari Grace untuk dibuatkan soto.


begitu sampai di dapur, Megan terkejut kala mendapati Leo dan Grace sedang berdiri di sana.

__ADS_1


" wihhh.. nyonya baru bangun.. " celetuk Grace.


Megan cengar-cengir tanpa dosa " udah mateng..? " tanyanya seraya menghampiri Ari. suaminya itu nampak kesal, dan Megan tidak perduli.


Ari berdecak kesal, " gue ganti baju yah bie.. " bisik Ari.


dengan cepat Megan menggeleng,


" tanggung.. toh mereka juga udah tau kan..? "


Ari melorotkan bahunya pasrah.


Grace memejamkan mata menikmati bau aroma kuah yang mulai tercium. kemudian Ia melangkah ke arah bau tersebut.


Grace menggeleng saat membuka tutup panci yang ukurannya lumayan besar itu.


" busett.. lo mau hajatan, masak segini banyaknya.."


" takutnya lo gak kenyang Grace.. " sahut Megan cengengesan.


seketika Grace memajukan bibirnya sebal. tahu, sekarang dirinya memang susah untuk merasa kenyang, bawaannya ingin makan terus.


" iya tau gue kang mukbang.. puas lo..? " sahut Grace sewot.


Leo mengelus tangan Grace berusaha menenangkannya. dia tahu istrinya sangat sensitif jika membahas porsi makan yang ujung-ujungnya mengarah ke berat badan.


Sementara Ari menyeringai melihat raut wajah Grace yang cemberut itu. saatnya pembalasan!


" gue bikin banyak biar si El sama bininya ikut makan soto bikinan gue.." ucapnya begitu santai.


mendengar itu Grace merasa tenang. dia mulai tersenyum mengangguk setuju. ya, Exel dan Silvie wajib mencoba masakan Ari yang rasanya pasti lezat.


" bie.. telpon Si Silvie.. videocall kalo bisa.. " lanjut Ari di angguki Megan.


Sementara Grace terbelalak, seketika senyumnya hilang. dia tidak mau Silvie melihat kehadiran Leo, takut sahabatnya mengambil waktu Leo darinya.


" gak usah Me.. " pintanya memelas. " tibang anter aja, ngapain videocall segala.. kalo perlu gue yang anterin.. "


terlambat. panggilan video sudah terhubung, terpampang jelas wajah Silvie di sana.


" kenapa Me..? " tanya Silvie.


Ari segera menyambar ponselnya dari tangan Megan.


" Sil, mau soto gak..? " ucapnya seraya membalikkan kamera menyoroti masakannya. Dia tidak mau Silvie melihat penampilannya, cukup Leo dan Grace yang puas mengejeknya.


" mau- mau.. keliatannya enak.." sahut Silvie sumringah.


" aaah.. babang tampan disitu juga.. "


sial. Ari sengaja mengarahkan kameranya pada Leo. Dia begitu senang melihat kekesalan pada wajah kedua sahabatnya.


" yoi sil, enak.. apalagi disuapin babang tampan.. behhh.. "


" Ari kamprett lo.. " Grace sudah geram. Ia menyambar ponsel di tangan Ari dan langsung mematikan sambungan tersebut.


tak butuh waktu lama ponsel Leo berdering, terlihat di layarnya Exel memanggil.


Grace menggeleng seraya menatap Leo dengan penuh permohonan.


" no.. jangan di angkat, dia pasti nyuruh lo buat nemuin si kermi.. pasti tuh anak minta lo nyuapin.. "


"mampus.. pusing kan lo.. "


Ari tertawa di atas penderitaan Leo yang berada di posisi sulit.


" entar anaknya si El ileran.. " godanya di susul kekehan dari Megan.


" bodo amatt!!! "


...******...


Grace menyantap makan buatan Ari dengan lahap dalam porsi besar. Dia melampiaskan kekesalannya dengan makan banyak.


Grace membiarkan Leo pergi mengantarkan masakan Ari ke rumah Exel. Dia sudah menebak jika Silvie meminta Leo menyuapinya. Ia pasrah mengijinkan, walaupun masih dongkol.


" pelan-pelan dong.. gak bakalan ada yang minta.. "


" brisik anying, gue telen juga lo.. "


" wiss santai dong.. mami Cio jangan galak-galak, tunggu papi ke rumah selirnya yah.. "


Ari semakin bersemangat menggoda Grace, bahkan pukulan dari Grace tak dirasa olehnya.


.


.


.


kali ini Grace merasa kenyang. dia menunggu Leo menjemputnya. tetapi suaminya tak kunjung datang.


" Ri anterin gue balik.. "


" lo gak nunggu laki lo Grace..? " sahut Megan.


Grace menggeleng cepat, " kelamaan, kasian Cio.. "


" ngelonin si Silvie dulu kali.. " goda Ari kembali.


Grace mengepalkan tangannya, matanya memanas. dia membayangkan ucapan Ari jika benar-benar terjadi.


Grace menggeleng mengenyangkan pikirannya.


" udah ayo.. lo ikut juga Me, sekalian ambil baju yang mau gue kasih ke elo.. "

__ADS_1


Megan mengangguk setuju. dalam diamnya dia juga sedikit tak rela jika suaminya harus berduaan dengan wanita lain.


" yaudah, tunggu gue ganti baju dulu.. " sahut Ari hendak beranjak ke kamarnya.


Grace menggeleng cepat,


" gak usah.. kelamaan.. "


" malu anjirr.. "


" kayaknya gue juga ngidam lo make baju itu ri. "


" ck.. alesan.. "


" serius.. " ucap Grace memelas seraya mengelus perutnya.


akhirnya Ari mengangguk pasrah, jika menyangkut calon keponakannya dia bisa apa?


" kuy lah.. lagian pake mobil ini, udah gelap juga.."


sementara Grace menyeringai puas membalas kembali si tukang ejek.


" mamam.. besok-besok gue suruh lo pake baju biduan.. ".


.


.


.


.


Keesokan harinya, Leo memulai aktivitas tanpa di temani Grace. walaupun istrinya malas bergerak, tetapi untuk sekedar menyiapkan baju kerja masih bisa Grace lakukan.


namun kali ini Grace benar-benar tidak melakukan apapun.


Istrinya itu mendiamkannya sepulang dari kediaman Exel.


Leo menghela napas berat menatap Grace yang memunggunginya.


cup..


" berangkat dulu yah.. " bisiknya seraya mengusap pucuk kepala, kemudian beralih ke perut yang mulai membuncit. Dia tampak berdoa disana.


Grace menoleh saat pintu kamar tertutup rapat. air matanya lolos begitu saja. sedari tadi dirinya pura pura tidur. dia jelas mendengar doa dari suaminya.


Grace tahu posisi Leo begitu sulit, tapi salahkah jika dirinya merasa sedikit cemburu? Grace tidak bisa membohongi perasaannya. terlebih ini efek morning sickness.


Grace melangkah menuju balkon. dia melihat mobil Leo mulai keluar dari pelataran rumahnya.


" sorry.. " lirihnya.


Grace terdiam menatap kosong. Dia berfikir jika Silvie merasakan hal yang sama seperti dirinya ketika Exel selalu perhatian terhadap dirinya. hanya saja Silvie terlihat cuek. mungkin saja wanita itu menyembunyikan perasaan cemburunya dengan tampang ceria.


...*****...


hari ini Lolita tidak masuk kuliah. Dia di sibukkan dengan persiapan acara pernikahannya yang diadakan besok.


Wilson tidak main-main dengan ucapannya. laki-laki itu benar-benar memajukan rencananya.


segala persiapan dipaksa matang sempurna hari ini.


sekarang Lolita tengah melakukan serangkaian perawatan tubuhnya. pagi sekali orang kepercayaan Wilson menyambangi rumahnya dengan memboyong pegawai salon ternama.


" gak luluran juga badan non Lita mulus banget.. Tuan Wilson pasti suka.. "


deg.. Lolita yang terpejam keenakan kala dipijat, kini terperanjat mendengar kalimat barusan.


" apa dia sudi nyentuh tubuh jelek ini..? "


Lolita menggeleng terkekeh pelan,


" lo mikirin apaan sih.. dia suka lo aja belum ketahuan, udah mikir jauh aja.. "


.


.


.


sementara ditempat lain, Ester sedang menatap putranya yang tengah menyisir sambil bersiul di depan cermin.


" kenapa ngedadak gini sih nak..? "


Wilson menghentikan aktivitasnya sesaat, " daripada Wil gak bisa nahan diri..? " sahutnya santai.


Ester menggeleng berdecak, dia bahagia akhirnya putranya tertarik juga dengan perempuan. sebelumnya dia sempat berpikir yang konyol meragukan kenormalan putranya.


" yah.. suka-suka kau saja lah.. "


Wilson membalikkan badannya kemudian bersimpuh dihadapan sang ibu yang duduk di tepi ranjangnya. di raihnya tangan Ester.


" Ibu tenang aja.. Wil gak bakalan ninggalin ibu ko, "


Ester terenyuh. putranya tahu perasaan takutnya selama ini. yah Dia tidak mau lagi di tinggal putranya.


" nanti Wil ajak istri tinggal disini nemenin Ibu.. "


Ester mengangguk. kemudian mengusap kepala putranya.


" ajak sekalian keluarganya nak.. Ibu gak mau mereka kesepian.. "


Wilson tersenyum antusias. Dia tahu ibunya begitu rendah hati mau menerima keluarga calon istrinya.


" Wil sayang dan cinta sama Ibu.. "

__ADS_1


Ester terkekeh pelan. jarang sekali mendengar kalimat itu dari putranya. mungkin calon menantunya juga belum mendengar itu.


" hey.. apa anak Ibu sayang dan cinta juga sama calon istrinya..? "


__ADS_2