
pagi menjelang, pagi yang berbeda bagi kedua insan yang baru menyandang status sebagai sepasang suami-istri.
Wilson terbangun dari tidurnya lalu mengulas senyuman mendapati Lolita yang masih terlelap di sampingnya. Wanita yang kini sah menjadi istrinya tampak terpejam dengan teduh dan tenang sebab kelelahan semalam.
berbicara mengenai kelelahan, bukan berarti keduanya sudah menunaikan kewajiban layaknya malam pengantin. akan tetapi keduanya lelah sebab telah berjaga di rumah sakit.
tak hanya itu, Wilson terkekeh pelan mengingat kejadian semalam dimana dirinya sudah siap menjadi suami seutuhnya bagi Lolita, namun dia harus menerima kenyataan yang menyebalkan. rupanya istrinya tengah berhalangan sehingga mereka harus menundanya beberapa hari ke depan.
Wilson menelusuri setiap inci wajah Lolita yang masih terpejam, kemudian tangannya membelai wajah cantik itu dan menyibak rambut yang menghalanginya.
merasa ada sentuhan di wajahnya, Lolita membuka matanya perlahan hingga terbelalak. ini seperti mimpi, dimana dirinya mendapat sambutan berupa senyuman tulus dari pangeran tampan.
" pagi sayang.. " ucap Wilson terdengar begitu lembut,
Lolita berulang kali mengerjapkan matanya, " ini mimpi bukan sih..? " gumamnya seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.
cup.. Wilson mengecup dahinya dengan lembut dan penuh perasaan.
" ini nyata sayang.. " bisik pria itu seraya tersenyum kecil.
glek.. Lolita menelan ludahnya paksa. dia masih belum percaya dengan semuanya. kata sayang yang terlontar dari bibir suaminya lagi-lagi terasa seperti mimpi.
" apa ucapan mas semalem nyata juga..?" tanyanya dengan ragu.
" aku mencintaimu istriku.. " ucap Wilson dengan serius dan bersungguh-sungguh. tatapannya tak lepas dari manik mata Lolita.
Semalam dia sudah mengatakan kalimat tersebut sesuai janjinya. dimana Wilson akan mengungkapkan perasaannya setelah keduanya resmi menikah.
Lolita terdiam sesaat mendengar ucapan tersebut, dia tidak mampu menanggapi suaminya. padahal jauh sebelum Wilson mengatakan kalimat itu, dirinya sudah menaruh hati pada dosen idaman para mahasiswi itu. hanya saja Lolita belum siap untuk mengucapkannya, dia terlalu malu.
" mas.. "
" hmm.. "
" maaf semalem.. " Lolita menggantung ucapannya, Dia sedikit ragu jika mengungkit kejadian semalam dimana dirinya menolak memberikan haknya pada Wilson. Dia tidak enak hati sudah mengecewakan suaminya.
" kenapa baru bilang sekarang Lita?, kamu tau? aku sengaja majuin tanggal pernikahan kita takut gak bisa nahan diri.. " begitulah ucapan kecewa dari Wilson semalam saat mengetahui dirinya berhalangan. Lolita tak menyangka jika alasan Wilson memajukan tanggal pernikahannya hanya karena takut tidak bisa menahan diri.
Lolita terkekeh jika mengingat semalam saat Wilson terdengar mengoceh jauh dari kesan killernya hanya karena tidak bisa unboxing.
" gakpapa.. lagian aku bisa apa kalo ternyata istriku belum siap.. " sahut Wilson membuyarkan lamunan Lolita.
" eh, bukan gitu mas.. kan aku bilang lagi halangan.. " sela Lolita.
Wilson terkekeh mendengar protes dari Lolita, ini saatnya dia menggoda istrinya. " jadi kalo gak halangan.. "
" aku mau cuci muka dulu.. "
Lagi, Wilson terkekeh melihat Lolita langsung bangkit melarikan diri ke dalam kamar mandi. sungguh indah ciptaan Tuhan. Wilson tahu jika Lolita berusaha menyembunyikan wajah malunya, istrinya begitu menggemaskan jika sedang salah tingkah.
...*****...
Di kediaman Leonard.
Leo tersenyum kala mendapati pakaian kerjanya dengan lengkap di atas tempat tidur yang sudah disiapkan oleh Grace. Pria itu bisa bernafas lega, setidaknya Grace sudah memaafkannya juga bersikap seperti biasa lagi.
Ya walaupun semalam ada sedikit drama dimana Grace meminta Leo untuk memijat sebagai syarat mendapatkan maaf tersebut. namun Leo dengan senang hati melakukannya sebab berujung indah. Si otak mesum selalu memanfaatkan setiap kesempatan agar mendapat jatahnya.
Setelah bersiap Leopun keluar kamar untuk menghampiri kedua malaikatnya.
" morning boy.. " sapanya pada Lucio.
si kecil Cio sudah mulai memakan makanan pendamping ASI itu tampak lucu saat mulutnya belepotan.
" ehemm.. "
suara deheman dari Wanita yang tengah menyuapi si kecil terdengar protes. siapa lagi kalo bukan Grace yang cemburu dengan si kecil. Dia mau yang pertama di sapa oleh Leo, titik no debat.
Leo terkekeh kemudian mengecup pucuk kepala sang istri yang sedang cemberut itu,
" pagi istriku yang selalu cantik.. " ucapnya dengan lembut.
" telat boss.. " sahut Grace ketus.
" yaudah sorry, apa mau di ulang..? " ucap Leo disusul kekehan.
Grace memutar bola matanya jengah, " gak usah.. gue udah gak minat.. "
Leo menggeleng dengan tingkah Grace, kemudian Ia beralih menatap si kecil yang tampak menyemburkan makanannya.
__ADS_1
" Cio udah kenyang..? kalo udah gantian, papi juga mau di suapin mami.. "
sementara Lilis yang sedari tadi menyaksikan interaksi majikannya, hanya bisa menggeleng. sungguh menggelikan sikap majikan yang sama gilanya itu.
Wanita paruh baya itu mengedipkan mata ke arah Ratna mengisyaratkannya agar segera mengambil si kecil.
Ratnapun mengangguk patuh menghampiri si kecil.
" Ayo Ade.. mbak bersihin dulu.. "
" huss.. mbak.. " celetuk Grace menahan geramnya. pegawainya itu sudah melakukan kesalahan.
seketika Ratna mengangguk gugup, dia melupakan sesuatu yang sangat sensitif ditelinga majikannya.
" eh iya.. ayo bang Cio.. "
" nah, gitu kan oke.. " sahut Grace songong.
sementara Leo menggeleng. istrinya itu terlalu berlebihan menyikapi apapun. hanya karena Ratna salah memanggil si kecil, Grace geram. memang tidak salah yang Grace inginkan mengenai panggilan khusus untuk Lucio, sebab si kecil sebentar lagi akan memiliki adik.
" gue mau sarapan.. " ucap Leo seraya meletakkan piring kosong tepat di hadapan Grace.
" ya terus..? " sahut Grace sewot.
" sendokin terus suapin.. " jawab Leo begitu enteng.
" ini konsepnya gimana Leonard, gue yang merajuk, elo yang berulah.. " timpal Grace ketus.
" ya gue juga mau di suapin, masa Cio doang.. "
" ya tapi gue masih ngambek sama Lo, harusnya lo sapa gue dulu sebelum orang lain.. "
" Cio lo bilang orang lain? gila lo, ama anak sendiri gak mau kalah.. "
" Lah, lo juga Leonard gak ngaca.. "
Lagi, Lilis menggeleng mendengar perdebatan unfaedah dua majikan yang sama gilanya itu. terdengar helaan napas dari wanita paruh baya itu.
" ck.. si non ngambek pake bilang dulu, kalo kata nyonya mah gak like.. " gumamnya pelan.
" kenapa bi..? " tanya Ratna heran dengan Lilis yang sedang menggerutu kesal itu.
kemudian Ratna menoleh ke arah meja makan dimana kedua majikannya tengah sarapan.
" so sweet banget sih mereka berdua.. " gumamnya berdecak kagum.
Ratna mematung dengan mata berbinar melihat Tuannya tengah disuapi oleh sang Nyonya.
Dia tidak tahu jika sebelumnya kedua majikan gila itu sempat berdebat dengan menjadikan si kecil Lucio sebagai pelurunya.
...--------...
Setelah sarapan bersama yang penuh drama itu, Gracepun mengantar Leo ke depan. Hari ini Grace sedang tidak ada jadwal kuliah. Dia ingin bermalas-malasan pokoknya.
" Le.. "
" hmm.. "
" top-up top-up, biasa.. " ucap Grace cengengesan menaikturunkan kedua alisnya.
cup.. Leo mencium bibir Grace sekilas. " tuh top-up.. " sahut Leo terkekeh.
Grace berdecak kesal, Dia berlagak menghapus bibirnya dengan kasar sebagai bentuk protes.
" bukan ini sialan.. "
" maen game mulu.. "
" gue kan bosen, mau ngajak si Megan pasti.. "
Leo menghela napas panjang melihat Grace tiba-tiba murung. Leo tidak ingin Grace kembali memikirkan kejadian kemarin yang membuat istrinya itu terus merasa bersalah dan terpojok.
maka dari itu sedari tadi Leo bersikap menyebalkan agar Grace melupakan masalahnya.
" iya gue top-up.. tapi inget waktu yah.. " ucapnya lembut seraya mengusap kepala Grace.
namun wanita itu masih menunduk murung, " pasti semuanya pada jagain si kermi.. "
merasa bujukannya gagal, Leopun langsung membawa Grace kedalam dekapannya. walaupun dia selalu suka melihat Grace yang menangis sebab terlihat lucu, tetapi kali ini Leo tak kuasa melihatnya. Dia suka Grace menangisinya hanya karena cemburu, itu saja selebihnya Ia tak suka.
__ADS_1
" non.. non.. " panggil Lilis membuat pelukan majikannya terpaksa terlepas.
" kenapa bi..? " tanya Grace menyerit heran sebab pembantunya terdengar ngos-ngosan seperti dikejar hantu saja.
" anu non, sini bibi bisikin.. "
Grace pun menurut mendekatkan kupingnya kearah Lilis. sementara Leo menggeleng tersenyum tipis melihat pemandangan dihadapannya. sepertinya jiwa gosip Grace sudah kambuh.
" gue berangkat dulu.. " ucapnya seraya melangkah hendak keluar.
" Leo stop..!!! " teriak Grace menghentikan langkah Leo.
Leo berdecak kesal seraya melihat jam yang melingkar di lengannya, " gue bisa telat Grace.. "
" tar dulu.. " Grace tampak melangkah mendahului Leo menuju pintu depan.
" ada apa sih..? " tanya Leo kesal.
" diem.. kata bi Lilis ada cewek cantik nanyain rumah Leonard.. "
Leo menghela napas kasar kemudian menoleh ke arah Lilis yang cengengesan tanpa dosa. wanita paruh baya itu mencari gara-gara saja.
" Grace.. gue bisa telat kerjanya.. "
" heh.. lo lupa kalo lo bosnya..? " sahut Grace ketus.
Leo memijat dahinya frustasi, " yah terus kalo gue bos, bisa seenak jidat gitu..? "
Grace mendelik kesal, " diem dulu gue mau mastiin cewek di depan itu siapa, apa jangan-jangan selingkuhan Lo..? "
" jangan ngada-ngada Grace.. gue mau kerja ini.. "
Grace merentangkan tangan di depan pintu yang masih tertutup rapat itu, dia mencoba menghalangi Leo yang tergesa hendak keluar. Grace tak sudi jika Leo melihat perempuan yang di katakan cantik menurut Lilis.
" secantik apa sih tuh cewek..? " gumamnya kesal,
Leo yang mendengar istrinya menggerutu langsung terkekeh, dia bisa melihat dengan jelas raut ketakutan dari wajah istrinya.
" Lo selalu cantik Grace, semakin cantik malah.. " jurus jitu dari Leonard namun jujur dan tulus.
" prett, bassi.. " sahut Grace makin sewot.
Leo menghela napas panjang, tidak ada waktu untuk meladeni istrinya. hari ini dia ada rapat penting dengan kliennya.
" elah.. kelamaan, buka cepetan.. "
" wah, bapak keliatan gak sabar yah kalo denger cewek cantik.. " sahut Grace menatap Leo dengan curiga.
Leo mengacak rambut dengan kasar. Grace terlalu berlebihan.
" bukan gitu sayang.. "
Grace menyunggingkan senyuman, dia merasa muak mendengar kata manis dari suaminya.
" keliatan banget lo takut gue marah sampe manis gitu.. "
" salah lagi, ya udah gue gak jadi kerja.. " Leo sudah melonggarkan dasinya. biarkanlah dia kehilangan kepercayaan dari kliennya daripada harus kehilangan kepercayaan dari istrinya. toh dia masih memiliki beberapa penghasilan selain dari perusahaan mertuanya itu.
Grace tidak perduli dengan ucapan Leo, dia lebih tertarik juga penasaran dengan perempuan di depan rumahnya.
sedangkan Leo kini sudah duduk bersandar di sofa ruang tamu memperhatikan istrinya yang nampak berpikir dengan mondar-mandir.
" jangan-jangan.. "
" Jangan-jangan apa..? " sahut Leo malas.
" mantan Lo udah keluar, eh tapi diakan udah tau rumah ini.. " ucap Grace nampak berpikir kembali seraya mengetuk-ngetuk dagunya.
sementara Leo menggeleng bersidekap dada. Dia tidak menyangka istrinya akan berpikir jauh ke sana.
" udah, mendingan lo buka pintunya, keburu lumutan tuh cewek.. "
" widih.. bapak khawatir sekali.. " sahut Grace menye-menye.
terdengar helaan napas pasrah dari Leo, " sial, salah lagi.. mending gue lanjut molor.. "
Leopun bangkit dari duduknya hendak menuju kamarnya, bersamaan dengan Grace yang akhirnya membukakan pintu tersebut.
" hi.. "
__ADS_1
" elo.. tau dari mana rumah gue.. ? "