Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 159


__ADS_3

" hah balapan..? "


Leo tampak terkejut dengan permintaan Grace. bukan perkara Dia takut kalah, hanya saja istrinya itu menginginkan keduanya balapan nanti ketika menggelar acara gabungan ulang tahun anak-anak dan ulang tahun pernikahan gengnya.


" yoi.. kenapa, lo keberatan hmm? " sahut Grace yang tengah mengeringkan rambutnya itu.


" bukan gitu Grace, tapi-"


" apa? lo gak usah protes deh, lo kan udah janji mau ngelakuin apa yang gue mau.. " sela Grace mendelik sebal. kemudian Ia menghentikan aktivitasnya dan bangkit menghampiri Leo yang sedang duduk di tepi ranjang.


Grace mendekati Leo dengan jarak yang begitu dekat. Dia menyeringai remeh sambil menyentuh dada Leo dengan jemari lentiknya hingga membuat pria itu menelan ludahnya kepayahan. bahkan Grace bisa melihat bagaimana jakun Leo naik turun disana.


" lo takut kalah hmm? " bisik Grace tepat di telinga Leo dan dengan santainya Ia menggigit nakal daun telinga suaminya itu.


sementara Leo, dia hanya bisa memalingkan wajahnya berusaha untuk tidak tergoda dengan apa yang dilakukan istrinya itu. karena jujur, Leo sudah mulai merasa kelelahan. bayangkan saja, sepulang dari luar kota dia harus menuruti permintaan Grace untuk malam mingguan dan berlanjut dengan permainan gila yang dilakukan berulang-ulang. lelah bukan?


" hah.. gue takut..? gumam Leo terkekeh remeh,


" itu lo kayak keberatan, but.. lo tenang aja, gue pake si Rossi ko.. lo juga gak usah khawatir, si Rossi gak bakal gue utak-atik biar seimbang sama motor lo.. "


belum sempat Leo menyahuti, Grace sudah lebih dulu pergi dari hadapannya. Leo hanya bisa menghela napas panjang kemudian menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur untuk beristirahat kembali. Dia tidak bisa protes menolak ajakan Grace mengingat memang dirinya lah yang sudah menjanjikan untuk melakukan apapun yang istrinya mau.


Leo terlelap dan mengabaikan Grace yang merengek meminta pulang. Dia hanya menyahuti rengekan itu dengan dengkuran halus ditengah terpejamnya mata. bahkan Grace yang menjahilinya pun tak dihiraukan, hingga pada akhirnya istrinya itu menyerah. Leo benar-benar pulas dalam tidurnya hingga menjelang petang barulah Dia membuka matanya.


" udah makan? " pertanyaan wajib dan reflek keluar dari mulut Leo ketika membuka matanya dan mendapati Grace yang tengah duduk di pinggir ranjang dengan posisi sama persis ketika dirinya tadi memejamkan matanya.


" pala Lo makan.. " sahut Grace dengan nada ketus dan sama sekali tidak minat menoleh kearah suara itu. Grace juga langsung mengubah posisi tubuhnya menjadi membelakangi Leo.


Grace kesal sedari tadi menunggu Leo tak kunjung bangun juga, terlebih tidak ada yang bisa mengalihkan rasa bosannya selain televisi yang menayangkan tayangan yang kebanyakan tidak disukainya. jika saja Ia bersiap terlebih dulu membawa kabel charger ponselnya, mungkin Grace tidak akan sebosan dan sekesal ini terhadap suaminya.


" jangankan makan, ganti baju aja kagak.. "


Leo terkekeh pelan saat baru menyadari jika keduanya sama-sama tidak membawa pakaian ganti. mungkin itu sebabnya Grace merajuk karena sepanjang mereka di kamar hotel tersebut, istrinya itu hanya mengenakan handuk kimono saja. berbeda dengan dirinya yang masih setia dengan kepolosan dibalik selimutnya.


Leo kemudian menghampiri Grace dan memeluknya dari belakang dengan setengah paksakan.


" sorry.. " bisiknya sambil mengusap rambut milik Grace.


" sorry sorry.. loh si enak molor seharian, lah gue.. bosen gak bisa ngapa-ngapain.. mau maen game aja batrenya abis.. " rajuk Grace, namun Dia sama sekali tidak keberatan dan melakukan perlawanan dengan melepaskan pelukan itu. Dia malah merasakan kenyamanan, karna memang inilah yang diinginkannya sedari tadi.


" kenapa gak pake hape gue aja hmm..? " suara Leo terdengar lembut dan Grace bisa merasakan hembusan napas pria itu di tengkuk lehernya hingga membuatnya merinding geli.


" pake hape lo? " Grace malah balik bertanya terdengar seolah tak percaya, " punya lo gak ada yang asyik, lavelnya aja ketinggalan jauh dari gue punya.. " lanjutnya disusul kekehan renyah dan meremehkan membuat Leo mendesah kesal.


Leo jelas tahu jika Grace tengah meremehkan kemampuannya dalam bermain game. perkara tertinggal jauh bukan karena ketidak becusannya. hanya saja Ia jarang bermain karena memang fungsi ponselnya sekarang lebih ke seputar kuliah dan pekerjaan.


" ya kan bisa login punya Lo.. "


" ribet.. " sahut Grace singkat sambil membalikkan badannya berhadapan dengan Leo. Grace ingin membenamkan wajahnya pada dada bidang milik suaminya karena memang sudah terlanjur nyaman.


Sial, bukannya menyambut, Leo malah bangkit dari tempat tidur dan mengabaikan Grace yang langsung memajukan bibir sebal.


" paling gak lo telpon rumah, tanyain kabar anak-anak.. " ucap Leo yang tengah berdiri di depan meja rias dan meraih ponselnya hendak menghubungi seseorang.


Grace seketika terbelalak melihat Leo yang dengan santainya berdiri di sana dalam keadaan masih telanjang bulat, dan tanpa pikir panjang Dia melemparkan handuk bekasnya tadi mengeringkan rambut tepat mengenai kepala Leo.

__ADS_1


" gue bukannya gak mau nelpon anak-anak, yang ada entar malah pada rewel minta kita cepet pulang.. " ucap Grace kesal, setidaknya Leo peka jika Dia tidak melakukan itu karena memang tidak ingin mengganggunya tidur jika kedua anaknya benar rewel.


Leo mengangguk paham dan menyetujui ucapan Grace ada benarnya juga, jika Grace menghubungi orang-orang rumah hingga membuat kedua anaknya rewel, sudah pasti yang menjaga anak-anaknya akan kerepotan.


" yaudah lo jangan telpon mereka dong.. " celetuk Grace mengira jika Leo akan menghubungi kedua anaknya. karena Leo nampak masih memegangi ponselnya.


" hmmm.. " sahut Leo santai dan meletakkan kembali ponselnya. namun sebelum itu, Dia mengetikkan pesan kepada seseorang. kemudian Dia melangkah pergi menuju kamar mandi meniggalkan Grace yang menatapnya heran. siapa yang sudah dihubungi suaminya itu, dan Grace hanya menghela napas kasar tak berminat untuk mencari tahu. dengan tergeletaknya ponsel Leo saja sudah cukup membuktikan jika suaminya itu patut untuk dipercaya olehnya.


...--------...


Tak lama berselang, terdengar suara ketukan dari luar kamar bertepatan dengan Leo yang sudah selesai menunaikan urusannya di kamar mandi. kemudian Leo segera melangkah mendahului Grace yang hampir mendekati pintu tersebut. bagaimana bisa Dia membiarkan istrinya yang membukakan pintu dalam keadaan seperti itu. apalagi Dia jelas tahu siapa orang yang mengetuk pintu tersebut.


terlihat di depan pintu tersebut sudah berdiri seorang pria dewasa dan langsung membungkukkan badannya ketika pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Leo yang hanya mengenakan handuk kimono saja.


" mana..? "


belum sempat Pria itu menyapanya, Leo sudah menengadahkan tangannya meminta apa yang dibawa pria itu.


" ini Tuan.. " Pria itu menyerahkan beberapa paper bag dan langsung diterima oleh Leo.


" hmm.. terimakasih.. "


" sama-sama Tuan, kalo begitu saya permi-"


ck.. kebiasaan, umpat Pria itu melihat pintu kamar sudah tertutup rapat ketika dirinya membungkukkan badan barusan.


.


.


" sekretaris gue.. " ucapnya santai seolah tahu apa yang ingin ditanyakan oleh istrinya itu.


" jangan bilang lo mau ngasih si jamet perhitungan..? ck.. tega banget kalo iya, mutusin rejeki orang tau gak.. "


bukannya marah dengan tuduhan Grace, Leo malah menggeleng terkekeh melihat raut wajah yang cemberut itu, benar-benar menggemaskan, apalagi ada sedikit keperdulian terhadap orang lain, sungguh membuatnya kehilangan alasan untuk tidak selalu jatuh cinta terhadap istrinya itu.


" siapa bilang? nethink mulu lo.. " ucapnya sambil menyerahkan paper bag kepada Grace.


Grace sudah tidak minat menyahuti Leo yang ujung-ujungnya akan mengajaknya berdebat saja. Dia lebih tertarik untuk segera melihat apa isi paper bag itu. beberapa detik kemudian, Grace terbelalak kala melihat semua isinya. dimana didalamnya terdapat beberapa keperluannya dan juga Leo, tak terkecuali pakaian ganti dan chargeran yang dikeluhkannya tadi. rupanya Leo peka dan mendengar keluhannya.


" Grace.. " panggil Leo terdengar lembut, pria itu turut mendudukkan dirinya di samping Grace yang tengah asyik mengeluarkan isi paper bag tersebut.


" nginep semalem lagi yah.. " bujuk Leo sambil mengelus rambut panjang milik Grace yang tergerai bebas. berharap bisa meluluhkan istrinya yang dipastikan ingin segera pulang dari sana.


Grace menoleh mengangguk menyetujui kemauan Leo setelah dirinya mendapati sebuah tab dari dalam paper bag. itu berarti suaminya memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Grace mengerti jika Leo saat ini membutuhkan waktu dan tempat untuk menyelesaikan pekerjaannya tanpa gangguan seperti rengekan dari kedua anaknya yang selalu mencari perhatian papinya. maka dari itu tugasnya hanya mendukung dan menemani suaminya sambil bermain game. ck..


" tapi makan dulu.. "


Leo menepuk dahinya kasar, Dia melupakan suatu hal yang sangat penting untuk Grace. padahal tadi dia berniat akan memesankan makanan setelah mengirim pesan kepada sekretarisnya. ocehan dari Grace tadi yang membuatnya lupa.


" mau keluar..? " tawarnya pada Grace, karena Dia tahu jika istrinya itu tidak terlalu suka dengan makanan yang disediakan Hotel, sekelas bintang lima pun. malah sama dengannya yang lebih suka menikmati makanan kaki lima.


Grace tentu saja mengangguk antusias, apalagi dia sudah bosan berlama-lama di dalam kamar.


" yaudah, gih siap-siap.. "

__ADS_1


" lo juga Jhoni.. "


...****...


keduanya saat ini tengah berjalan berdampingan di tepi jalan melihat-lihat beberapa pedagang kaki lima yang menjajakan macam-macam jenis makanan. keduanya berjalan di tengah kerumunan orang yang kebanyakan kaum muda.


" padahal besok hari senin, pada gak takut telat apa tuh bocah.. " gerutu Grace kesal pada sekelompok anak muda yang menurutnya sedari tadi mengikuti keduanya sejak keluar dari kawasan hotel.


Grace merasa tidak nyaman jika keduanya menjadi pusat perhatian dengan jarak sedekat ini. padahal keduanya sama-sama mengenakan jaket hoodie lengkap dengan topi seperti bisanya agar ketampanan Leo tak bisa dinikmati orang lain. namun entah mengapa tatapan dari anak-anak labil itu seperti menelanjangi keduanya.


" mau balik ke hotel aja? " tanya Leo yang paham akan gerak-gerik Grace. Dia tahu betul jika istrinya itu merasa kurang nyaman dengan keberadaan orang-orang yang mengikutinya.


Grace menggelengkan kepalanya dan terlihat lucu dimata Leo. apalagi saat ini istrinya mengenakan jaket hoodie dengan ukuran cukup besar sehingga menenggelamkan si pemakai. semula Ia mengumpat dan akan menyalahkan sekretarisnya karena sudah salah ukuran. namun lihatlah Grace malah terlihat semakin menggemaskan memakai ukuran besar, dan membuat Leo malah akan berterimakasih kepada sekretarisnya.


" yaudah, mau makan apa hmm? "


" mi godok kayaknya enak Le.. "


Leo menyerit bingung mendengar jenis makanan itu, namun pada akhirnya Ia menggerakkan kepalanya melihat-lihat setiap tenda barangkali ada yang berjualan makanan yang diinginkan Grace.


" ayo.. "


keduanya sudah duduk di salah satu tenda. makanan yang diinginkan Grace kini tersaji dihadapan mereka. hawa yang cukup panas dan juga kepulan asap makan dari beberapa tenda di sana, membuat Grace dan juga Leo merasa gerah , apalagi rasa pedas dari makanan itu membuat Grace langsung membuka jaketnya, begitupun dengan Leo mengikuti Grace.


kini keduanya sudah merasa nyaman dengan kaos polos yang dikenakan. mereka makan dalam diam karena begitu menikmati makanan tersebut yang memang lezat. bahkan Grace sudah berniat akan membungkus dua porsi lagi untuk dibawa ke hotel.


sesekali Leo akan mengelap sudut bibir Grace menggunakan tisu karena memang istrinya itu jika sudah makan enak tidak akan memikirkan apapun lagi selain menikmatinya.


" Ommo.. uwwu banget abang tampan itu, sama adenya aja sweet banget, apalagi sama ceweknya.. "


ukhukk.. ukhukk.. Grace yang hendak menyuapkan kembali makanannya, tiba-tiba tersedak saat mendengar bisikan dari meja belakang.


sementara Leo segera menyodorkan air minum dan langsung di sambar oleh Grace dengan muka judesnya tapi sialnya menggemaskan bagi Leo. Leo juga tentu mendengar bisikan tadi, namun Dia tidak separah Grace karena terkejut. justru karena tersedaknya Grace yang mengejutkannya.


" kalo diliat-liat kita mirip-"


" ya tapi gak harus di sebut abang ade juga kan.. " sela Grace ketus. Dia sama sekali tidak terima dengan ucapan orang-orang dibelakangnya. dan Leo malah menambahkan dan memperburuk moodnya saja.


" hmm iya iya.. yang punya abang El seorang.. " sahut Leo sok melas membuat Grace mengerjapkan matanya, kenapa harus membawa-bawa orang lain pikirnya.


" bukan gitu Leonard.. " ucap Grace lirih dan terkesan merasa bersalah kepada Leo yang dikiranya cemburu.


sementara Leo nampak asyik memperhatikan wajah penyesalan itu. apalagi air mata yang sedikit lagi akan terjatuh membuatnya antusias menantikan. ya walaupun mungkin itu karena Grace kepedasan, tak mengapa yang penting Leo bisa melihatnya karena memang sangat langka.


" biasanya kan kalo mirip itu jodoh.. " gumam Grace seraya menggigit bibir bawahnya ragu. Dia takut jika Leo akan meresponnya dengan tawa ejekan.


namun tebakan Grace salah, Leo justru langsung menggenggam tangannya kemudian mencium punggung tangannya dengan lembut. tanpa Grace menjelaskan pun Leo sudah paham melebihi istrinya.


" hmm, jodoh sehidup semati.. " ucapnya begitu tulus dan di angguki oleh Grace.


keduanya melanjutkan kembali memakan makanan tersebut tanpa menghiraukan orang-orang disekitar yang sedari tadi memperhatikan setiap gerak mereka.


apalagi Grace yang justru sengaja memperlihatkan kemesraan dengan Leo dan mengabaikan para pemerhati yang menikmati ketampanan suaminya. toh memang sedari tadi juga tidak ada penghalang untuk menutupi wajah suaminya. Dia hanya ingin membuktikan jika pria yang bersamanya adalah kekasih halalnya.


" khusus malam ini gue sodakoh.. "

__ADS_1


__ADS_2