
" terimakasih Tuhan, terimakasih.. " rasa syukur tak hentinya Ari panjatkan. Pria itu melupakan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat menjadi sasaran Megan saat proses persalinannya. rambutnya yang di jambak kasar serta kulitnya penuh dengan cakaran ulah Megan. bahkan sesekali istrinya itu menampar pipinya kuat.
sementara Megan sendiri, dia hanya cengengesan tanpa dosa setelah menyadari apa yang dilakukanlah terhadap Ari. padahal sebelumnya Megan sama sekali tidak merasa panik ketika perutnya mulai kontraksi. bahkan Dia dengan santainya mengendarai motor saat hendak menuju rumah sakit.
" mungkin itu pembalasan dari ade bayinya, soalnya abang bukan ayah siaga.. " celetuk Dila, gadis yang paling excited menyambut keponakan barunya.
" diem lo bocil, mulut lo dari tadi ngomporin mulu ya.. " sahut Ari ketus.
" idih emang kenyataannya gitu kan.. " timpal Dila seraya menjulurkan lidahnya ke arah Ari yang sedang cemberut. kemudian gadis itu mendekati keponakannya yang berada di gendongan Ibunya Megan.
" hi boy, aunty bakalan luangin banyak waktu buat ngasuh-"
" ck, jangan harap.. yang ada entar anak gue ketiban hape, lo kan gak dimana gak dimana maen game mulu.. "
" idih sendirinya gak ngaca, bilang aja abang takut kalo gue minta upah setara sama babysitter.. "
" oh pamrih lo yah, yang gue lebih takutin tuh elo ngajak mabar anak gue.. "
" itu mah entar kalo ade udah gede.. "
" mending lo nyari pacar sono daripada gangguin keluarga gue, mau gue cepuin sama si iyan.. "
" dih ogah.. abang pikir adek lo yang cantik ini kagak laku apa.. "
" uwoookkk.. "
sementara semua yang sudah berada di sana menggeleng terkekeh melihat perdebatan kedua kaka beradik itu. biarkanlah mereka bertingkah semaunya. baik orangtua Ari maupun Megan memilih menyambut kehadiran cucu pertama mereka dengan kehangatan.
" selamat, sekarang keluarga kalian udah sempurna. gue ikut seneng.. "
satu senyuman terbit dari seseorang yang sedari tadi mengintip dari kaca ruang perawatan tersebut.
Silvie, wanita itu menangis haru menyaksikan perjuangan Megan. walaupun hanya dari kejauhan, namun bisa melihat bahkan ikut merasakan kebahagiaan keluarga sahabatnya.
setelah satu urusannya selesai, Silvie kemudian pergi dari sana menuju tujuan utamanya yaitu Grace. Dia sudah tidak perlu mengkhawatirkan lagi keadaan Megan, terlebih sahabatnya itu sudah di temani keluarganya.
" sekarang gue mau liat keadaan lo Grace.. " lirihnya sambil berjalan tertatih. Silvie bahkan tidak memperdulikan semua lukanya. fokusnya hanya ingin mengetahui keadaan Grace sejak di tinggalnya tadi yang sempat mengalami kejang-kejang.
" bang El pasti di sana.. " lirihnya. Silvie pikir seharusnya Exel mengetahui dirinya yang juga sedang berada di rumah sakit itu. mengingat tadi Ia mengabari keadaan Megan melalui ponsel suaminya.
" semua sesuai rencana Tuan, tapi Non Silvie terluka.. " seseorang tampak menelepon sambil mengamati Silvie dari kejauhan.
" hmm, biarkan anak manja itu dapat pelajaran, kau tidak perlu mengkhawatirkannya bodoh, tugasmu hanya memastikan kemana tujuan perginya anak manja itu. bukankah itu di rumah sakit, biarkan dia mengobati lukanya sendiri.. paham? "
" paham Tuan.. " orang itu tampak menghela napas kasar setelah sambungannya terputus begitu saja. Dia menatap iba ke arah Silvie yang sedang berjalan tertatih menyusuri lorong rumah sakit tersebut.
" dosa apa tuh anak sampe orangtuanya tega ngehukum dia.. ck, dibilang jangan khawatirin dia.. inget tugas lo, paling gak lo dapet motor mahal.. " orang tersebut tampak bermonolog seolah setan dan malaikat tengah berdebat di sampingnya.
*
__ADS_1
*
Langkah Silvie sudah hampir sampai di ruang perawatan Grace. Dia merasa sedikit ragu untuk melanjutkan langkahnya. bagaimana jika Dia di usir kembali, dan bahkan yang melakukannya itu Exel suaminya sendiri. mengingat Ari sedang sibuk dengan keluarga kecilnya.
" lo bahkan gak nyariin gue bang, padahal pasti lo tau gue kesini juga.. " lirihnya seraya bersandar di dinding.
" isyhhh , lo mikir apaan sih Sil, setan lo dengerin lagi.. " gumamnya terkekeh pelan. Dia sadar, tidak seharusnya berpikiran seperti itu lagi yang hanya akan membuat perasaannya semakin buruk.
Silvie kemudian melanjutkan langkahnya mendekat ke arah pintu ruangan Grace. Pintu yang memiliki kaca kecil memudahkannya untuk mengintip guna mengetahui kondisi Grace sekarang.
" hmm, baby Gwen.. enak juga manggilnya.. "
Silvie menutup mulut tak percaya ketika melihat keadaan di dalam sana. dimana orang yang dikhawatirkannya kini sudah siuman bahkan sudah bisa berbincang dengan orang-orang disekelilingnya.
Silvie sudah berpikir yang bukan-bukan sebelumnya. Dia pikir kondisi Grace akan semakin memburuk setelah ditemuinya tadi. namun semesta memberikan keberuntungan lebih pada sahabatnya itu.
" orang sebaik lo emang pantes dapet keajaiban Grace.. doa dari gue mah gak seberapa di banding dari orang-orang yang udah lo bantu... " lirihnya menangis haru.
Silvie merasa bukan hanya doa darinya yang membuat kondisi Grace sebaik ini. melainkan doa-doa dari semua orang yang mengasihi juga orang-orang yang sudah di bantu sahabatnya itu.
" ya ampun bayi lo cantik banget, ah siapa namanya tadi.. " lirihnya sambil mengamati bayi yang berada di gendongan Leo. kemudian Dia beralih menatap si kecil Lucio yang berada di gendongan Exel. anak yang selalu jadi sasaran kecemburuannya itu terlihat manja sekali dengan Exel.
" maafin aunty Cio.. "
seketika Silvie terkesiap saat tatapannya tak sengaja bertemu dengan Exel yang melirik ke arah pintu. segera Ia melangkah pergi dari sana sebelum mereka menyadari kehadirannya termasuk suaminya sendiri.
jujur, Silvie belum siap menemui Grace. walaupun Dia tahu jika sahabatnya itu tidak akan sejahat dirinya dulu untuk menolak kehadirannya. Dia merasa malu, terlebih di sana Grace sedang dikelilingi keluarganya, dan Silvie tidak bisa menjamin apakah mereka akan menerimanya atau tidak.
Exel, Dia yakin sosok yang dilihatnya tadi di balik pintu ruangan Grace adalah Silvie. walaupun penampilannya sangat tertutup dengan masker dan topi yang menutupi wajahnya, tapi Exel yakin jika itu benar-benar istrinya.
Exel mampu mengetahuinya hanya dengan dari sorot mata Silvie. terlebih sebelumnya Ia juga tahu jika istrinya itu pasti berada di rumah sakit itu. hanya saja si kecil Cio tiba-tiba rewel dan hanya ingin bersamanya membuat Exel tercegah untuk mencari keberadaan istrinya.
" Sil, kenapa harus pergi.. " gumamnya sambil celingukan kesemua arah. dan Silvie bisa mendengar itu, karena memang wanita itu bersembunyi tidak jauh dari tempat berdirinya Exel saat ini.
sesekali Silvie mengintip ke arah Exel yang masih celingukan dengan wajah yang tampak kebingungan. bukan Ia tak ingin menghampiri Exel, hanya saja Silvie merasa belum siap. Dia takut Exel akan kecewa terhadapnya atau bahkan suaminya itu akan berburuk sangka dengan niatnya itu.
" mereka gampang banget nerima lo lagi bang, tapi belum tentu sama gue.." rasanya Silvie ingin berlari saja dari sana untuk menghindari Exel dan membiarkan barang sebentar suaminya untuk menikmati momen bahagia bersama keluarga Grace. Dia tidak mau mengganggu momen itu.
tetapi untuk berlari menghindar, Silvie sudah tidak punya tenaga lagi bahkan untuk melanjutkan langkah pelan pun, kakinya sudah tidak bisa di ajak kerjasama lagi.
sementara Exel mengerutkan keningnya kala mendapati noda darah di lantai sana. seolah menjadi sebuah petunjuk, Exelpun mengikuti tetesan darah tersebut. walaupun Dia berharap darah itu bukanlah darah Silvie, tetapi entah mengapa nalurinya seolah menyuruhnya untuk mengikuti jejak darah itu.
" gue harus tahan dulu, paling gak tunggu bang El pergi dulu baru gue obatin nih kaki-"
" Sil.. "
deg.. Silvie terkesiap, tiba-tiba Exel sudah berada di belakangnya hingga membuatnya seolah sulit untuk bernapas.
blughh, Silvie kembali dibuat terkejut kala Exel langsung memeluknya begitu erat.
__ADS_1
Silvie terdiam kaku tidak membalas pelukan itu. pelukan yang sangat jarang di dapat dari suaminya itu. tetapi mulutnya tidak bisa terkendali untuk meringis sehingga Exel langsung melepaskannya.
Exel sontak terbelalak melihat Silvie benar-benar terluka.
" ya ampun Sil, ini kenapa..? " tanya Exel cemas sambil berjongkok melihat luka di kaki istrinya.
Silvie menggeleng gugup, mulutnya seolah terkunci untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. melihat Exel tampak mengkhawatirkannya membuat Silvie enggan bercerita.Silvie takut Exel akan murka terhadap orang yang sudah kejam terhadapnya yang tak lain adalah Shaw ayahnya sendiri.
" ayo obatin dulu.. " tanpa babibu lagi, Exel menggendong Silvie ala bridal style membuat istrinya itu gelagapan.
aaa.. pangeran halal gue .. jerit Silvie dalam hati kala melihat bagaimana raut wajah Exel yang panik dan juga mengkhawatirkannya.
Exel melangkah tergesa-gesa melewati lorong itu, bahkan Pria itu tidak perduli dengan keadaan sekitar yang menatapnya. Dia hanya ingin istrinya segera mendapat penanganan.
" dokter tolong tanganin istri saya.. " ucap Exel panik.
" loh, nona Silvie, kenapa..? " dokter di sana tentu tahu pasiennya itu adalah putri dari pemilik rumah sakit tersebut. walaupun penampilan Silvie masih tertutup, tetapi mereka bisa tahu dari hanya melihat sosok Exel. mengingat mereka pernah menghadiri acara pernikahan putri Shaw juga pernah menangani Exel dulu ketika koma.
" tolong di tangani sama dokter perempuan saja.. " ucap Exel dingin nan datar membuat dokter pria yang ingin menangani Silviepun langsung menunduk gugup.
" baik Tuan.. " sahut dokter itu gelagapan dan segera memanggil dokter lain untuk menggantikannya.
sementara Silvie, rasanya Ia ingin melayang terbang saja kala mendapat perhatian seperti itu dari Exel. aaa bucin gak tuh ..
" dibuka dulu Sil, ngapain sih pakek ginian segala, kaya penguntit aja.. " omel Exel sambil membuka topi dan masker yang masih dikenakan Silvie. Dia mengomel seperti itu sebab khawatir jika orang yang melihatnya akan menganggap istrinya orang jahat.
" emang Silvie lagi ngintilin suami yang masih ngurusin istri orang.. "
deg.. seketika Exel menghentikan aktivitasnya yang tengah membersihkan noda darah di kaki Silvie itu. perasaan bersalah tiba-tiba hadir begitu saja.
" canda sayang.. " ah, Silvie sudah gila. wanita itu dengan beraninya menoel dagu Exel hingga suaminya itu langsung salah tingkah.
" ck, belum juga di bius nih luka, udah mabok duluan.. "
" aku memang mabuk ketampananmu.. " sahut Silvie cengengesan. Dia tidak perduli dengan lukanya, dia hanya fokus dengan raut wajah Exel yang semakin merona itu.
Exel menggeleng salah tingkah, Dia bahkan melupakan sederet pertanyaan yang sudah Ia siapkan di benaknya, mengapa Silvie bisa terluka seperti ini. sepertinya Pria itu ikut berlarut dengan mabuknya Silvie.
" sini, ini juga buka dulu.. " ucap Exel sambil meraih hoodie yang Silvie kenakan. Pria itu memalingkan wajahnya kala terus di tatap oleh istrinya itu.
" abang gak sabaran.. " celetuk Silvie lagi-lagi membuat Exel salah tingkah. Dia selalu kalah jika melihat wajah menggemaskan dari istrinya.
" Sil.. " tegurnya membuat Silvie manggut-manggut cengengesan.
" Eh iya bang sorry, bercanda.. jangan baper dong.. "
Exel terdiam tak menyahut lagi. Dia hanya fokus membuka pakaian Silvie. dan betapa terkejutnya Ia kala mendapati banyak sekali luka di kulit istrinya itu.
" Sil.. " Exel tampak mengeraskan rahangnya kuat. Dia trauma dengan luka itu. luka yang pernah Silvie dapat ketika istrinya itu di sekap dulu.
__ADS_1
" bercanda bang, di bilang jangan bap-" Silvie langsung menutup mulutnya kala melihat Exel menatapnya dengan tajam, membuatnya menelan ludah kepayahan. Silvie sendiri tidak tahu dengan luka-luka itu, yang Ia tahu hanya di kaki saja.
" Siapa yang udah ngelakuin ini semua hmm? "