
" mukanya gak usah melas, yang ada gue pengen muntah.. cepetan pake.. " ucap Leo pada Exel yang tengah memeluk pakaian model wearpack pemberiannya.
Exel masih berdiri mematung, raut wajahnya terlihat masam. Dia kesal dengan Leo yang sudah mengerjainya hari ini.
ya, Exel benar-benar menuruti perintah dari Leo yang mengharuskannya berangkat ke bengkel sebelum pukul tujuh pagi. dan parahnya Exel melupakan sesuatu, Dia melupakan bahwa bengkel tersebut buka pada pukul delapan pagi.
menunggu selama satu jam sungguh membuat Exel kesal. bahkan Ia melupakan sarapan paginya demi tepat waktu. bagaimanapun juga dirinya sangat membutuhkan pekerjaan.
" ngapain masih bengong? itu lagi bibir pake manyun segala.. buruan pake.. " celetuk Leo terdengar dingin.
" gue jadi montir nih? " tanya Exel ragu seraya meremas pakaian yang berada di pelukannya.
" bukan, lo jadi apoteker, pake nanya lagi.. " sahut Leo sewot membuat Exel berdecak kesal.
" maksud gue, lo gak kasih posisi selain montir buat gue? apa ke, kalo gak gue gantiin posisi bini lo deh, biar lo fokus di kantor ya gak.. " ucap Exel seraya menaikturunkan kedua alisnya. bahkan pria itu merangkul pundak Leo sok akrab.
Leo menganggukkan kepala membuat Exel tersenyum sumringah.
" hmm, lo mau gantiin posisi bini gue? " tanya Leo di angguki Exel penuh semangat.
" Lo mau ngerjain apa yang selalu dikerjain bini gue disini..? "
lagi, Exel mengangguk mantap. Pria itu merasa senang karena akhirnya sohibnya itu peka dengan apa yang Ia inginkan.
" okeh kalo itu mau lo.. " ucap Leo. kemudian Pria itu beralih memandang salah satu montir di sana, senyuman devil terbit di wajahnya.
" bang..! sini bentar.. " panggil Leo membuat montir tersebut menghentikan aktivitasnya dan segera menghampiri bosnya itu.
" iya bos ada apa? " tanya si montir.
sementara Exel meneguk ludahnya kepayahan kala melihat montir itu tengah memegang kunci inggris. Pria yang berperawakan bak bodyguard dengan beberapa tatto memenuhi tubuhnya membuat Exel nyaris kehilangan nyalinya.
" nah El, ini bang Ronald. dia bakalan ngasih tau sekaligus ngajarin lo apa aja yang suka di kerjain bini gue di sini.. "
sontak Exel menyerit heran. apa yang harus di ajarin Ronald terhadapnya? bukannya posisi Grace paling mudah di sana, duduk manis di ruangan ber-ac dan sesekali memeriksa kinerja para montir.pikirnya.
" bang Ronald.. "
" iya bos.."
" tolong kasih tau apa yang suka di kerjakan bini gue disini.. "
" sama kaya kita bos.." sahut Ronald dengan lantang membuat Exel kembali menelan ludahnya kepayahan. Dia sudah membayangkan posisi enak, nyatanya kerjaan Grace sama saja seperti montir yang lainnya.
Sial, lagi-lagi Exel melupakan hal tersebut.
sementara Leo menyunggingkan senyuman melihat sohibnya yang tengah menahan kesal itu.
" okeh bang, gue serahin temen gue sama lo.. dia agak belet bin lemot. so, lo harus extra sabar ajarin dia.. "
" wah kalo masalah sabar gue gak bisa jamin bos.. "
" okeh, lo atur aja.. " sahut Leo santai menepuk pundak Ronald sebelum Pria itu kembali melanjutkan aktivitasnya.
Leo kini beralih menatap Exel yang masih diam mematung, lalu Ia terkekeh pelan kala melihat Exel yang kembali cemberut.
" bengong lagi.. lo emang belet alias lemot tau gak.. " ucapnya sinis. ingin sekali Leo melanjutkan kalimatnya. Dia ingin mengatakan bahwa sohibnya itu tertular dari Silvie yang menyandang gelar tersebut. akan tetapi Ia tak sampai hati menyinggung nama itu.
" lo kalo mau posisi bini gue, minimal lo pake dulu tuh wearpack-"
" baik bos.. " sahut Exel menahan kesalnya membuat Leo terkekeh pelan.
" cih, berlagak kayak bos.. eh emang benar kan si kamprett bos gue.. " batin Exel seraya memukul kepalanya membuat Leo menyerit heran dengan apa yang dilakukannya.
hingga akhirnya Leo kembali terkekeh menggeleng,
" belet.. belet.. " celetuknya santai.
Exel jengah sekali dengan ejekan sohibnya, dia mendengus kesal mendengar kalimat itu.
" yang bener kerjanya, bang Ronald residivis pembu_"
" Le.. " sela Exel menatap Leo yang baru saja berbisik. Dia menatap nanar sohibnya penuh permohonan.
sialnya Leo malah mendesah kesal. " gue cabut dulu.. "
" Le.. " kini Exel mencekal lengan Leo bak anak kecil yang merengek mencegah ayahnya bekerja.
sementara Leo menggeleng berdecak melihat kelakuan Exel. Dia tidak habis pikir dengan sikap sohibnya yang terkesan manja juga kehilangan nyalinya. bahkan kerap kali sohibnya itu bertingkah seperti pecundang yang tidak bisa bijak mengatasi masalahnya.
apakah masalah yang menimpa Exel membuatnya kehilangan jati diri?
__ADS_1
" udah sono kerja.. "
" iya iya.. "
akhirnya Exel mengangguk pasrah, tetapi tingkahnya kembali mencuri perhatian Leo. bagaimana tidak, Pria itu melangkah dengan menghentakkan kakinya meninggalkan Leo.
Exel seperti remaja yang sedang merajuk, membuat Leo menggeleng jengah. niat hati Dia ingin memberikan pelajaran kepada sohibnya agar tahu apa artinya berjuang dari nol.
selama ini Exel memang menempuh jalur instan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga kecilnya. berbeda dengan kedua sohibnya yang memilih jalur independen dengan berjuang merintis usaha walau hasilnya tak seberapa, tetapi mereka bangga akan hal itu.
Sejujurnya Leo juga ingin merangkul sohibnya agar tidak terlalu memikirkan masalah yang tengah menimpanya saat ini. akan tetapi Leo harus dikejutkan dengan tingkah ajaib sohibnya itu.
manja, belet alias lemot..
...****...
sementara di kampus saat ini tengah dalam situasi berbeda, terutama bagi para mahasiswi fakultas kedokteran. mereka merasa patah hati sebab harus kehilangan salah satu dosen tertampan yakni Wilson.
hari ini merupakan hari terakhir Wilson mengajar di sana. terlepas dari tujuan awalnya yang harus menjaga juga memantau Grace atas perintah Leo, Wilson juga ingin fokus dengan profesi sesungguhnya yang selama ini Ia tekuni, yakni sebagai seorang dokter.
" Grace.. woy.. " bisik Megan seraya menyikut Grace yang sedang asyik menyantap makanannya.
" apaan sih.. " sahut Grace tanpa menoleh. bahkan wanita itu sama sekali tak minat dengan suara riuh di sekelilingnya.
" ehem.. " suara deheman seorang pria tepat di hadapan Grace membuat wanita itu mendongak.
" pak Wilson.. " gumam Viola dengan tatapan kagumnya.
" ada apa? " tanya Grace sewot, bahkan Ia membiarkan mie masih menggantung di mulutnya membuat Wilson menggeleng terkekeh pelan.
tanpa permisi Wilson mendudukkan dirinya di bangku yang berada di samping Viola, membuat gadis itu menjerit di dalam hatinya.
" dosa kagak sih gue ngefans sama laki orang..? "
" hari ini terakhir gue ngajar.. "
" gue udah tau.. " sela Grace ketus, dia kesal dengan kehadiran Wilson yang tiba-tiba itu. sebab sudah pasti mejanya kini menjadi pusat perhatian yang berada di sana.
" gue mau minta tolong sama lo-"
" minta tolong sama damkar sono, mereka ahli segala bidang. lagian gue kan bukan asisten lo lagi bang.. " Lagi-lagi Grace memotong kalimat Wilson dengan santainya sambil menyeruput kuah makanannya.
Wilson tergelak melihat tingkah Grace yang menurutnya sangat menggemaskan, membuat orang disekitarnya berdecak kagum dengan ekspresi tak biasa dosen tersebut.
" wanginya, fiks ini parfum kasturi surga.. "
" gue titip istri gue sama lo Grace.."
uhukkk.. Grace langsung tersedak mendengar ucapan Wilson barusan, tenggorokannya terasa panas akibat kuah pedas yang terpaksa Ia telan itu.
" gak salah bang? lo nitipin bini lo yang sehat walafiat sama Ibu hamil kayak gue.. " ucap Grace terkekeh di angguki setuju oleh Megan.
" gue percaya sama lo Grace.. "
" Lita pasti aman kalo backingannya suhu.." celetuk Viola tanpa dosa membuat Grace melotot, bisa-bisanya Viola mengompori dosen killer itu.
sementara Wilson mengangguk setuju membuat Viola kegirangan. " jadi gimana nih suhu? bisa gak jagain istri kesayangan abang ? " godanya membuat Grace berlagak ingin muntah. begitupun dengan Megan yang bergidik geli.
" cih.. bucin akut.. " celetuk Megan dengan berani. beruntung Wilson tidak menanggapinya. pria itu memang lebih antusias menanti jawaban Grace.
Grace menghela napas kasar hingga Wilson bisa mendengar helaan napasnya.
" oke fine, gue pastiin istri kesayangan lo aman sama gue.. " ucapnya pasrah. Dia mengalah sebab risih jika harus berlama-lama dengan dosen killer itu.
" gitu dong.. " sahut Wilson senang, dia bahkan tak segan mengacak rambut atas Grace dengan gemasnya layaknya seorang kakak terhadap adiknya.
sementara Grace memasang wajah kesalnya,
" udah sono lo cabut.. "
Wilson terkekeh " ok gue cabut .." kemudian Ia mengulang kembali aksinya. dia suka sekali menggoda Grace sebab semakin wanita itu kesal maka akan terlihat menggemaskan baginya.
" cabut gak lo.. " kini Grace tak segan-segan melayangkan kepalan tangannya di depan wajah Wilson. Dia merasa masa bodoh dengan komentar negatif tentang dirinya yang terkesan tidak sopan itu. yang jelas Grace sangat risih saat ini.
dan sialnya para penonton malah semakin berdecak kagum melihat interaksi keduanya.
" uwuu banget sih abang adek.. "
" tutorial jadi Grace dong.. "
sementara di sudut kantin tersebut tampak seorang perempuan yang sedari tadi mengamati Grace penuh dengan kebencian. dirinya merasa hampa tiada kawan, terlebih melihat Megan yang kini seolah berada di kubu Grace membuatnya semakin yakin menjadikan Grace tersangka atas kesengsaraan hidupnya kini.
__ADS_1
" kenapa selalu lo Grace.. kenapa? "
...***...
" wih.. magnet lo cakep juga.. " ucap Ronald seraya menepuk bahu Exel. Pria bertato itu sangat takjub dengan Exel yang mampu menarik pelanggan baru.
Ronald tidak heran jika bengkel tersebut ramai setiap harinya, karena memang kualitas servis bengkel itu sudah tidak diragukan lagi oleh para pelanggan. terlebih ketika Grace terjun di dalamnya, para pelanggan semakin meningkat untuk memodifikasi kendaraannya di tangan Grace.
dan kali ini dengan kehadiran Exel di sana malah semakin membludak. pelanggan kaum perempuan yang mendominasi hari ini. seolah sengaja ingin mendapatkan servis dari montir tampan itu.
" perasaan baru kemarin neng ganti oli.. " ucap Ronald seraya mengamati kinerja Exel yang di rasa cepat tanggap itu. seketika Ia menggeleng terkekeh dengan julukan yang tersemat dari bosnya untuk Exel si belet nan lemot.
sementara si pelanggan tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" anu bang, kayaknya bocor.. " ucapnya seraya menunjuk cairan hitam yang menetes di motornya.
segera Ronald mencolek cairan tersebut, bahkan Ia menjilatinya tanpa perasaan jijik. sementara Exel hanya diam mengamati seniornya itu.
" ck.. kecap El.. " bisiknya terkekeh membuat Exel terbelalak.
brumm... suara gerungan mobil sport yang memasuki area bengkel itu membuat semua beralih memandangnya.
tak terkecuali dengan Exel yang langsung berlari menghampiri mobil tersebut tanpa menghiraukan pekerjaannya yang belum selesai.
sementara para perempuan yang tengah menunggu motornya di servis, kini semuanya terbelalak melihat siapa yang turun dari mobil itu. sosok yang tak kalah tampan dari montir yang mereka incar.
" itu yang punya bengkel.. "
" iya temennya si mas montir tampan.. "
" gak sia-sia gue jauh-jauh kesini ngelewatin banyak bengkel, sekarang bisa cuci mata.. "
" gue juga rela mogok tiap hari asalkan bisa liat mas montir tampan.. "
.
.
.
" ck.. kumat.. " ucap Leo berdecak melihat Exel berlari menghampirinya. sohibnya itu terlihat seperti anak kecil yang antusias menyambut kepulangan ayahnya.
ya, Exel memang merasa senang dengan kehadiran Leo. Dia sudah berniat akan mengadu kepada sohibnya itu. tentang lelahnya bekerja, dia yang belum sempat makan. bahkan kejadian konyol dari pelanggan perempuan barusan pun akan Exel adukan.
blughh.. sosok Ari turut keluar dari mobil Leo membuat Exel cemberut. kalimat yang sudah dirangkainya kini sirna sudah kala melihat kehadiran sohib laknat itu.
" makan siang dulu abang El.. " celetuk Ari dengan nada menggoda. Pria itu nampak menggoyangkan sebuah rantang yang menggantung di lengannya.
" gue pikir lo mau ngajak gue makan di situ.. " ucap Exel seraya menunjuk cafe milik Leo.
" ck.. ada pegawai ngelunjak, belom sehari gawe.. " timpal Ari.
Leo mengangguk setuju,
" itu si kunyuk bawain lo makan siang bukannya makasih.. "
" tau lo, gue udah kayak emak-emak bawain makan siang buat lakinya.. " timpal Ari ketus.
" hmm, sorry.. "
" ck Exel bilang sorry.. " celetuk Ari mengejek membuat Exel memutar bola matanya jengah.
.
.
.
kini tiga sekawan sudah duduk bersama di salah satu meja yang berada di luar cafe milik Leo.
" apa kata orang kita duduk di cafe tapi makan bawa sendiri, mana pake rantang lagi.. "
" berisik lu, lagian lo lupa ini cafe siapa? gue gibeg juga lo. " sahut Ari yang tengah menata rantangnya itu.
sama halnya dengan Leo yang tadi sempat bercerita kepadanya, Aripun turut heran dengan tingkah random Exel saat ini.
Exel mengangguk patuh, kemudian dia mulai menyantap makanannya dengan lahap.
sementara Ari dan Leo kompak saling melempar pandang. melihat Exel yang begitu lahapnya memakan masakannya, membuat Ari meringis dalam diam.
Baik Leo maupun Ari memiliki cara masing-masing untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap Exel.
__ADS_1
terlebih Ari yang rela menyempatkan waktu menyiapkan makan siang untuk sohibnya itu. padahal keadaan kedainya sedang ramai. katakanlah itu bentuk perhatiannya.
' ayo bangkit El, tunjukin sama orang yang udah ngeremehin lo.. "