
"Ehem.. "
Suara dari seseorang yang mereka sangat kenal kini sedang berdiri di pintu rooftop tersebut membuat ketiganya menoleh dengan panik, terlebih Ari juga Exel yang langsung menjatuhkan ponselnya, sementara Leo masih setia dengan kotaknya yang di genggamannya semakin erat.
"Sayang.. Ko bisa disini..?" tanya Leo mencoba untuk tenang seraya bangkit berdiri di ikuti kedua sohibnya yang menundukkan kepala.
tidak ada jawaban dari Grace membuat Ari dan Exel mendongak, seketika keduanya melongo panik melihat Grace menghampiri dengan langkah yang pelan seraya melilitkan sapu tangan di telapak tangannya yang mengepal seperti sudah siap untuk menghajar mereka.
Grace menyeringai menyunggingkan salah satu ujung bibirnya, membuat keduanya beberapa kali menelan ludah, keringat dingin mulai keluar di dahi keduanya yang sedari tadi bergetar ketakutan.
Semakin dekat jarak Grace dengan mereka membuat Ari juga Exel antisipasi dengan muka dan perutnya, terutama kaki yang setiap saat akan menerima injakan maut Grace, sementara Leo semakin mengeratkan genggamannya pada kotak kesayangannya.
"Lo pada denger baik-baik.. Gue gak pernah nyuruh kalian buat takut sama gue.. "
ucap Grace menekankan terlebih untuk Ari yang saat ini tepat di hadapannya dengan jarak yang begitu dekat.
Kedua sohib Leo mengangguk dengan kompak sampai tak mampu mendongak kembali.
"Apa muka gue kaya setan yang menyeramkan..? " ucap Grace mengintrogasi mereka.
Ari dan Exel menggeleng dengan cepat dan kompak masih setia menundukkan kepala, membuat Leo menahan tawanya sebab kedua sohibnya terlihat payah. padahal dirinya sendiri juga sama saja.
"Apa gue semenyeramkan itu sampe kalian harus takut sama gue..? "
Ucap Grace kembali mengintrogasi, lagi-lagi keduanya menggeleng dengan kompak membuat Leo semakin ingin tertawa namun tak tega dengan keduanya.
Leo menghela napas mencoba mencairkan suasana yang menegangkan,
"Sayang, Kenapa bisa disini..? Gak belajar?"
Tanya Leo mencoba tenang, namun percayalah dirinya juga takut melihat raut muka Grace saat ini.
Gracepun menoleh seraya menghampirinya membuat kedua sohibnya bernapas lega mengelus dada slamet.. slamet..
Grace menatap nyalang wajah Leo seraya menyunggingkan senyuman,
"Lo sendiri ngapain disini..? "
tanya Grace santai seraya melirik kotak yang berada di genggaman Leo, sontak dengan cepat Leo menyembunyikan kotak tersebut di balik punggungnya,
"Jangan minta.. Ini khusus buat gue.. Iyakan El..? "
Leo melirik Exel dengan wajah yang menggemaskan tentunya hanya untuk Exel tidak dengan Ari yang merasa muak bergidik geli,
"Mulai.. Mulai So imut.. "
Gumam Ari mendapat sikutan dari Exel.
Exelpun menanggapi dengan mengangguk,
"Iya Grace.. Kalo lo mau nanti gue bikinin buat lo.. "
timpal Exel mencoba tenang, namun tetap saja gelagapan.
Leo menggelengkan kepalanya menatap Exel,
"No.. " bibirnya berucap tanpa suara kembali menggelengkan kepalanya mengisyaratkan Exel untuk mengurungkan niatnya, seolah perhatian Exel hanya untuknya tidak untuk orang lain bahkan untuk Grace sekalipun.
Exel adalah miliknya titik!
Exelpun mengangguk pelan kearah Leo membuat Ari bergidik geli,
" Lo bedua emang gila.. dari singa tiba-tiba jadi anak kucing yang pengen gue tendang ke comberan.. "
Gumamnya masih terdengar oleh Exel.
pletak..
"aishh.. "
Grace menyentil keras dahi Leo membuat kedua sohibnya kembali bergidik ketakutan.
"Minggir..!!! "
Ucap Grace menabrak tubuh Leo melengos seraya membaringkan tubuhnya di bangku panjang bekas Leo cs duduk tadi.
Grace memejamkan matanya tidak perduli dengan Leo cs yang menatapnya keheranan.
Sama halnya dengan Leo cs, Grace juga mendapatkan hukuman sebab tertidur saat jam pelajaran berlangsung, Ia tak dapat menahan rasa kantuknya sebab terjaga semalam tidak bisa melanjutkan tidurnya karena tidak ada Leo di sampingnya.
walaupun Grace mendapat hukuman yang ringan yaitu merapikan buku di perpustakaan, tetapi Grace tidak mengindahkan perintah dari gurunya, Ia malah menyuruh adik kelasnya yang sedang jam kosong untuk mengerjakan hukumannya.
"Ehem.. Jaga mata kalian..!!! "
Ucap Leo membuyarkan lamunan kedua sohibnya
"Emang kita ngeliatin apaan ya..? "
Gumam Ari disikut oleh Exel
Leo menghampiri Grace yang sudah terlelap, Ia mendudukkan dirinya disamping Grace untuk menutupi kakinya yang tidak rela di lihat oleh kedua sohibnya.
__ADS_1
Leo merasa bersalah dengan Grace yang semalam telah dikerjainnya, mengingat Grace pasti tidak bisa tidur pulas jika tidak berada di dekapannya.
Leo menatap raut wajah Grace yang terpejam dengan tenang, mengelus lembut rambutnya yang indah seraya mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir ranum Istrinya.
" Ehemm..Le, hape kita.. "
ucap Ari membuyarkan aktivitas Leo membuatnya mendengus kesal.
"Ganggu aja lo.. "
ucap Leo seraya melemparkan ponsel kedua sohibnya, beruntung keduanya dengan sigap menangkap.
"Bego.. Gak tau tempat lo.. Lagian lo udah ngotorin mata suci kita.."
timpal Ari kesal, sementara Exel terkekeh.
"Ck... Mata suci, bibir lo masih suci gak..? "
timpal Leo secara frontal.
"Gue gak sebrengsek itu bego... "
Umpat Ari menekankan bahwa dirinya masih suci.
"Oh ya..? "
Leo seolah tak percaya dengan penuturan sohibnya.
"Mulut gue emang suka ngebacot, tapi kalo buat tukeran jigong sebelum halal ..nehiii.. "
Ucap Ari menye-menye membuat keduanya terkekeh geli.
"Lo El..? " tanya Leo penasaran.
"udahlah.. secara si Silvie pasti nyosor duluan.."
timpal Ari mengejek dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Exel.
"Jangan sembarangan ngomong lo.. "
Ucap Exel tak terima.
"Iya dah sorry..
Lo suci El.. sesuci embun pagi.."
timpal Ari cari aman dari tatapan maut Exel.
"El.. "
"Salad buatan lo enak.. "
ucap Leo ditengah kunyahannya, sementara Ari bernafas lega sebab Leo sudah mengalihkan kekesalan Exel terhadapnya.
"Lo mau dibikin lagi Le..? " timpal Exel penuh semangat
"Boleh.. " jawab Leo dengan mata berbinar.
Percakapan Leo dengan Exel berlangsung lama seolah tidak mempedulikan Ari yang bergidik geli terhadap mereka,
"Mulai dah mulai, tadi lo bedua udah jadi singa., ngapa jadi anak kucing lagi si..
Apa gue harus cari perkara dulu biar lo pada jadi singa lagi.. "
Ucap Ari nyerocos , tetapi tetap saja tidak di tanggapi oleh kedua sohibnya.
Merekapun melanjutkan aktivitas belajar kembali setelah sebelumnya membangunkan Grace dari tidurnya saat bel jam kedua berdering.
Leo maupun Grace sama sekali tidak menanyakan atau membahas mengapa mereka bisa menjalankan hukuman di awal jam pelajaran, tentunya keduanya sama-sama gengsi.
Keduanya pun menjaga jarak sampai waktu pulang hanya karena sama-sama enggan membahas alasan mereka dihukum.
Diperjalanan pulangpun keduanya diam seribu bahasa.
Grace terus saja memalingkan mukanya ke arah jendela dengan headset yang melekat di telinganya, begitupun dengan Leo yang hanya fokus menyetir menahan rasa mualnya.
Mobil tiba di depan rumah keduanya, Leo tidak memasukkan mobilnya sebab ada urusan di bengkelnya,
Ia sengaja mengantarkan Grace terlebih dulu untuk memastikan Grace sampai rumah dengan keadaan baik-baik saja.
Grace mengerutkan dahinya seraya melepaskan headset nya merasa heran kenapa Leo tidak memasukkan mobilnya.
"Ehem.. Gue mau ke bengkel dulu , kemungkinan pulang nya malem.."
Ucap Leo membuyarkan lamunan Grace.
Grace diam tak menjawab namun raut wajahnya terlihat kecewa, Iapun bergegas keluar sebelum Leo membukakan pintu untuknya.
Brughh.. Grace menutup pintu dengan kencang membuat Leo tersentak kaget.
Berharap Leo akan peka terhadapnya, sialnya Leo malah melajukan mobilnya begitu saja, membuat Grace semakin kesal saja.
__ADS_1
Satu senyuman terukir dari kejauhan.
📩Mine
"Leo.. lo belum nyium gue sama anak lo... "
Grace mengirimkan pesan kepada Leo berharap dia akan kembali dulu untuk menciumnya dan mengelus perutnya seperti biasa.
tok.. tok.. tok..
Grace terperanjat, wajahnya langsung sumringah merasa Leo benar-benar kembali untuknya.
"cepet juga tuh anak.. "
Grace bergegas membuka pintu,
tanpa aba-aba Ia langsung memeluk seseorang yang dikira suaminya
"Gue tau lo kembali Leo.. " ucap Grace dengan mata terpejam.
"Ehem.. maaf mba.. " suara seorang pria yang sama sekali tidak kenali oleh Grace.
sontak Grace terkejut membuka kedua matanya dan langsung melepaskan pelukannya.
"maap mas.. saya pikir suami saya.. ada apa ya..? "
ucap Grace gelagapan menundukkan kepalanya merasa malu dan tentunya bodoh.
"Saya kesini mau antar undangan rapat paguyuban RT buat suaminya.."
ucap Pria tersebut seraya menyodorkan selembar kertas yang dilipat.
"Makasih.. nanti saya sampaikan ke suami saya.. "
"Baik kalo begitu saya permisi.. "
Grace hanya mengangguk segera masuk kembali kedalam.
seringai jahat di kejauhan yang sedari tadi membuntuti mobil mereka berhasil menangkap dengan sempurna adegan Grace memeluk pria tadi.
"menarik.. tunggu tanggal mainnya.. "
____
dini hari Leo baru kembali kerumah melangkah dengan lunglai rasa penat dan lelah seketika hilang saat mendapati sang istri yang setia menunggunya.
Ia pun menghampiri Grace yang terlelap di sofa ruang tamu.
"Lo pasti nyariin gue.. " gumam Leo seraya mengusap lembut rambut atas Grace, mengingat kebiasaan istrinya yang akan meminta dirinya untuk mendekap nya disaat terlelap.
Leo kembali merasa bersalah atas sikapnya terhadap Grace akhir akhir ini.
"Sorry.. "
Lirihnya seraya mengecup kening Grace cukup lama hingga tak sadar buliran air matanya membasahi kening Grace membuatnya terbangun dari tidurnya.
"Leo.. "
Grace berhambur memeluk Leo seolah takut kehilangan,
Leo pun menyambut membawa Grace kedalam dekapannya.
"Sorry.. " Leo terisak membelai rambut indah Grace.
mendengar Leo terisak, membuat Grace mendongak melihat wajah Leo yang muram.
"Sorry udah buat lo nunggu.. "
ucap Leo kembali dengan lirih seraya menatap lekat manik mata Grace yang terlihat kebingungan.
Grace menggelengkan kepala,
"Gue gak papa Leo..lo kenapa nangis..? "
Ucap Grace membalas tatapan Leo masih dengan kebingungan.
Bukannya menjawab, Leo malah kembali membawa Grace kedalam dekapannya seraya memeluknya sangat erat.
"Gue bukan suami yang baik buat lo Grace "
batinnya masih terisak.
"Leo lo kenapa..? "
Grace semakin bingung dengan sikap Leo, apakah ini termasuk hal berbau ngidam?
Leopun mengurai dekapannya dan menggelengkan kepala,
"gak papa sayang.. " ucapnya seraya menghujani wajah Grace dengan kecupan hingga sampai di bibir kesukaannya,
Ia ******* lembut bibir ranum sang Istri.
__ADS_1
Gracepun mengimbangi ciuman tersebut seraya mengalungkan kedua tangganya di leher Leo.
"Apa yang lo sembunyiin dari gue Leo.. "