
" ck, apa-apaan, ini semua ulah lo kan..?"
Leo, Pria itu kesal bukan main. Dia kesal karena seseorang sudah melunasi semua tagihan Grace selama istrinya itu berada di rumah sakit ini. bahkan tagihan Megan yang ingin di lunasi olehnya pun sudah di dahului orang itu. dan Leo yakin jika orang itu adalah Exel.
" tanpa lo sogok juga-"
" juga apa Le? kalian mau maafin gue sama bokin kan?" sela Exel tampak sumringah. Sedari tadi Dia hanya bisa menganga kala Leo menghujaninya dengan beberapa pertanyaan dan juga tuduhan, dan itu malah membuatnya bahkan sulit untuk menjelaskan semuanya kepada sohibnya itu.
Sementara Leo, Dia berdecak dan langsung memalingkan wajahnya salah tingkah. Jujur, Leo sendiri tidak menginginkan hubungan pertemanannya bersama Exel renggang. tetapi Ia juga tidak ingin membuat sohibnya itu berada di atas angin, apalagi dia pikir Exel melakukan itu semua demi maaf darinya juga Grace. Leo menginginkan Silvie juga ikut andil dan tidak hanya Exel saja. lalu kemana wanita itu?
" udah lo bilang aja, ini semua ulah lo kan..?" tanyanya sekali lagi, dan kali ini membuat Exel ternganga dan mengacak rambutnya frustasi.
" ya ampun Le, lo gak mudeng apa gimana? Gue kan dari ngeributin masalah ini juga, lo nangkepnya gimana, ini tuh ulah si Tua bangka.."
" tua bangka..siapa yang lo maksud tua bangka, bokap lo..?" sahut Leo menyerit heran. Dia memang sudah biasa mendengar sebutan itu dari mulut Exel jika sedang bermasalah dengan ayahnya. namun kali ini Dia perlu memastikan kembali.
" mertua gue.."
Sontak saja Leo langsung melongo tak percaya, " Tuan takur lo bilang tua bangka..? Ck, dosa lo sama mertua sendiri ngatain gitu.."
" itu lo ngatain tuan takur, gak dosa apa.." sahut Exel tak terima membuat Leo terkekeh pelan.
" hmm, terus yang lo masalahin sebenarnya apaan?" tanya Leo masih kurang paham juga hingga membuat Exel menghela napas kasar.
" ck, lo gak mudeng juga sih.." timpal Exel sewot
" santai anying gak usah ngegas.. Yaudah lo jelasin sekali lagi.." sahut Leo mendelik sebal.
" huh, intinya mertua gue ngeselin, mentang-mentang ini rumah sakit punya dia, jadi seenaknya gratisin pengobatan bini gue.."
Leo yang tampak mangut-mangut paham mendengarkannya, sontak saja Dia langsung terkekeh,
" Lo gimana sih El, kalo gue kesel.. wajar. Nah Elo, apanya sih yang bikin lo kesel, mungkin itu bentuk perhatian bokap buat anaknya.."
Exel tidak menyahuti, Dia malah memasang wajah cemberutnya geregetan dengan Leo. seolah sohibnya itu tidak peka juga dengan apa yang dirasakannya sekarang.
" wait wait, lo bilang bini lo lagi berobat di sini, kenapa..? " tanya Leo dengan raut wajah cemasnya, dan Exel bisa melihat itu. tetapi Exel masih bertahan menunjukan mode cemberutnya.
" ck, tau ah males.." sahut Exel sewot memalingkan wajahnya sok sebal, padahal rasanya ingin sekali berselebrasi saat ini juga. Dia senang jika Leo ternyata peduli dengan keluarganya, masih mengkhawatirkan Silvie yang jelas-jelas sudah banyak membuat kesalahan kepada keluarga sohibnya itu.
" serius anying, gak usah so imut gitu, enek gue.." sahut Leo kesal sambil memiting Exel di bawah ketiaknya hingga sohibnya itu terkekeh geli.
" itu gara-gara si tua bangka juga-"
__ADS_1
" ck, tua bangka lagi, lo ngerti dosa kagak sih, udah lo jelasin aja.." sela Leo kesal, menurutnya Exel terlalu membuang-buang waktu.
" hemm.." Exel mengangguk kikuk, dan mengalirlah cerita sesuai yang Ia dengar dari Silvie tadi. dimana Silvie yang bertekad untuk meminta kepada keluarga Grace, hingga istrinya itu bertindak nekat membahayakan diri tanpa memperdulikan resikonya. dan itu membuatnya murka terhadap mertuanya sendiri.
Mendengar itu, Leo hanya bisa menghela napas panjang. Dia malah lebih di buat heran dengan cara penyampaian Exel, dimana setiap kalimat yang keluar dari mulut sohibnya itu terdengar manja dan tentu saja sangat menggelikan baginya. Rupanya tidak hanya isi cerita yang di tangkap Exel dari Silvie, tetapi cara bicaranyapun Dia tiru persis.
" jadi menurut lo gimana Le..?" celetuk Exel mengakhiri ceritanya hingga membuat Leo memijat dahinya yang terasa pening kaena ulahnya yang masih saja terdengar manja.
" hmm, biar gue liat bini lo bentar, abis itu gue mau liat anaknya si kunyuk.."
" serius Le..?" sahut Exel sumringah bak mendapat undian berhadiah, dia tidak pernah berpikir sampai Leo sudi menjenguk Silvie. Sohibnya mau berbicara dengannya saja sudah disyukurinya.
Leo mengangguk tersenyum tipis, melihat Exel tersenyum girang saja sukses membuat perasaanya tenang nan damai. tugasnya kali ini tinggal menyatukan kembali istri bersama para sahabatnya. dan Leo yakin akan harapannya kali ini tidak akan sulit, mengingat Grace selalu melapangkan hatinya. Buktinya istrinya itu sama sekali tidak mempermasalahkan kehadiran Exel tadi.
Keduanya kemudian memutuskan pergi ke ruangan Silvie. Dua Pria tampan nan dingin, kini berjalan berdampingan, dimana Exel sudah kembali ke mode coolnya membuat orang-orang yang melihatnya berdecak kagum. bahkan ada salah satu pasien cedera yang terpasang cervical collar di lehernya, rela menoleh dengan mulut ternganga ketika berpapasan dengan mereka.
" woy, bangsat pada budek ya.." teriak Ari membuat langkah keduanya terhenti dan langsung menoleh kearahnya. lantas Aripun segera menghampiri kedua sohibnya itu.
" gue panggil dari tadi pada gak denger apa?" tanya Ari ngos-ngosan membuat kedua sohibnya terkekeh.
" lo abis di kejar setan cong..?" celetuk Exel di susul kekehan dari Leo,
" setan setan.. Lo berdua setan budek di panggil gak nengok, di telepon kompak banget gak nyautin.." sahut Ari sewot. " gue mau ketemu si kermi, lo tau gak kalo bini lo kakinya luka..?" tanyanya menepuk bahu Exel. Pria itu tersenyum meremehkan yakin akan Exel kalah selangkah darinya, sebab Ia tahu tentang Silvie yang terluka dari Megan istrinya. dan Ari sangat yakin jika Exel belum mengetahui kondisi istrinya, mengingat sohibnya itu terlalu antusias dengan kehadiran si kecil Lucio juga tentunya dengan siumannya Grace.
Sontak saja Leo langsung bergidik geli mendengar itu, sementara Ari mendengus kesal karena dugaannya salah.
" tumben-tumbenan nih lo peduli sama bini gue, pake mau ketemu segala.." ucap Exel kembali membuat Ari berdecak kesal. Walaupun Exel tidak mengetahui pasal kejadian pagi tadi, dimana Ari hampir merenggut nyawa Silvie, tetapi Dia tahu jika sohibnya itu orang yang paling merasa jengkel dengan tingkah Silvie sebelumnya.
" ck, lo tau spons cuci piring El..?"
" apa hubungannya anying? Lo mau nyuruh gue nyuci piring di kedai lo?" sela Exel membuat Ari berdecak kesal dan tak tanggung-tanggung menoyor kepalanya.
" lo denger dulu, jangan maen nyerobot aja kalo orang lagi ngomong-"
" ck, kaya lo enggak aja.." lagi-lagi Exel menyela kalimat Ari, dan kini bukan hanya Ari yang menoyor kepalanya gemas, melainkan Leo turut melakukannya membuat Pria itu memajukan bibirnya sebal.
" nih lo berdua denger, terutama lo El.." ucap Ari menatap Exel yang masih cemberut itu. " spons cuci piring kan suka ada dua sisi tuh, yang kuning lembut sama yang ijo kasar. Nah manusia juga sama, punya dua sisi.. seburuk-buruknya sifat seseorang, tetep ada yang namanya sisi lembut atau sifat baiknya-"
" anjay, lo denger tuh El, apa kata Lor Ari, udahlah kuy.." celetuk Leo sambil merangkul kedua sohibnya untuk segera ke ruangan Silvie. Dia tidak ingin membuang waktu jika membiarkan kedua sohibnya terus berdebat, mengingat setelahnya Dia harus melihat keadaan Megan dan bayinya juga.
Setibanya di depan ruang perawatan Silvie, ketiganya nampak saling mendorong ogah-ogahan masuk duluan, bahkan Exel juga malah ikut-ikutan bak pelajar nakal yang di panggil ke ruangan BK saja.
" lo dulu.."
__ADS_1
" lo dulu Le.."
" si kampret noh, kan lakinya.."
Ketiganya saling mendorong membuat pintu ruangan tersebut terbuka lebar hingga Silvie yang tengah beristirahat pun di buat terkejut. tetapi mereka dengan cepat dan kompak kembali ke mode stay cool walupun sekedar di hadapan Silvie.
" Sil.." Leo, si paling gentle dari yang lainnya kini mendekat ke arah Silvie hingga wanita itu menunduk gugup.
" lo gak papa kan Sil..?" kini Ari tak mau kalah, pria itu juga mendekat ke arah Silvie dan sukses membuat wanita itu mendongak melongo tak percaya.
Sementara Exel, Dia nampak tersenyum melihat kedua sohibnya bersikap lembut terhadap istrinya. Ada perasaan lega dan haru di hatinya.
" gue gak papa ko.." sahut Silvie terbata. antara malu, haru dan segan kini yang Silvie rasakan ketika di hadapkan langsung dengan dua pria yang sempat Ia sakiti hatinya.
" mau ketemu si Grace.? Ayo, pasti dia juga nungguin lo.."
...****...
Sementara di ruangan lain,
Grace terjaga dari tidurnya, dia merasa haus juga hendak ke kamar mandi. tetapi tidak ada seorangpun yang bisa membantunya. bahkan Leo yang selalu setia di sana pun tak Ia dapati.
" ck, kemana sih, katanya selalu stay disni selama gue koma, prett.. bokis paling.." gumamnya kesal.
Grace rasanya sudah tidak tahan hendak buang air kecil. tentu Dia tidak mau juga merasa risih jika dipaksakan melakukannya di ranjang, walaupun sebelumnya sudah di sediakan, tetap saja Ia enggan.
" hh kebelet, paksain deh.." lantas Gracepun secara perlahan turun dari ranjangnya, bahkan Ia sempat melepas jarum infusan yang masih menancap di tangannya secara kasar.
" ribet, buat apaan sih beginian, tadi juga udah makan.." gumamnya.
Drett, pesan masuk di ponselnya yang kebetulan tergeletak di atas meja membuat Grace menghentikan langkahnya dan langsung mengambil ponselnya. Ponsel yang tadi dibawa dan dimainkan oleh si kecil Lucio.
Seketika mata Grace mengeluarkan cairan beningnya tiba-tiba begitu membuka pesan tersebut. Di sana tertera juga beberapa poto membuat Grace menghela napas panjang.
" ck, kurang kerjaan nih orang.."
Dret.. pesan kembali masuk ke ponselnya membuat Grace yang membacanya langsung mengepalkan tangan dan mengeraskan rahangnya kuat.
" sial, baru aja di kasih kesempatan hidup, udah ada yang ngajak bikin dosa aja.."
" tunggu kehancuranmu Grace.."
" lo pikir gue takut.."
__ADS_1