Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 103


__ADS_3

Leo keluar dari ruangan rektor bersama asisten yang mendampinginya. tak lupa para jajaran penting kampus termasuk rektor turut menemaninya melangkah. posisi Leo kali ini bukan sebagai mahasiswa melainkan berperan penting sebagai pemilik tunggal kampus tersebut. itu membuat para jajaran tak hentinya membungkuk hormat pada Leo, walaupun usia mereka jauh lebih tua dari pemilik kampus tersebut.


Leo menghentikan langkahnya sesaat diikuti yang lainnya kala melihat kericuhan. Leo menggeleng seraya berdecak. Istrinya lah yang membuat keributan tersebut.


padahal tadi Leo sudah menyuruhnya untuk duduk manis di kelas mengikuti pelajaran. bahkan dia mewanti-wanti Grace agar tidak berulah, serahkan saja semua masalah padanya. ini masalah yang mudah bagi Leo yang memiliki kekuasaan.


tapi kenyataannya, saran dari Leo tak diindahkan oleh Grace.


dia lupa jika istrinya itu keras kepala.


" Grace.. Si Leo gak tau lo bawa pasukan..? " tanya Megan setengah berbisik seraya menepuk pundak Grace.


Grace menggelengkan kepala menolak untuk menjawab, Dia masih sibuk dengan para anggotanya.


Megan berdecak kesal, kemudian dia membalikkan badan Grace memaksanya untuk melihat siapa yang tengah berdiri di belakangnya.


sontak Grace tersentak kaget. suaminya tengah bersidekap dada menatapnya tak suka.


Grace menelan ludah kasar, sebelum akhirnya Ia mencoba menetralkan rasa takutnya dengan menghirup napas panjang.


Grace nyengir lebar-lebar memperlihatkan gigi putihnya.


" Suamiku.. udah mau pulang..?" tanyanya tanpa dosa.


Leo diam tak menanggapi. Dia masih mengamati istrinya yang nampak takut dengannya. sebenarnya sifat Grace yang urakan memang sudah tidak aneh bagi Leo. namun bisakah kali ini Grace bersikap anggun sedikit saja, bisakah istrinya itu mengimbanginya saat ini. bisakah Grace menempatkan sesuatu pada tempatnya?


Sementara Megan yang mendengar kalimat manis namun terkesan dipaksakan itu, rasanya ingin muntah saja.


Grace melirik sekilas kepada sahabatnya yang tengah mual.


" ngapa lo Me..? jangan mual dulu, entar gue jadi ko borongin lo daster.. "


spontan Megan terbelalak, sahabatnya malah menganggapnya sedang ngidam.


" gue muak denger lo ngomong gitu sialan.. " sahutnya sewot.


Grace terkekeh seraya menoyor kepala Megan. Dia terlalu gemas dengan sahabatnya. biasanya Grace melakukan itu pada Silvie. ah Ibu hamil itu membuat Grace rindu padanya walaupun ada sedikit rasa cemburu yang menerpanya.


Lagi-lagi Leo berdecak sebab merasa di abaikan, Grace malah bercanda dengan Megan tanpa menghiraukan kehadirannya.


" ehem.. "


keduanya tergagap kala mendengar suara deheman Leo. merekapun kompak menoleh kembali ke arah Leo.


" Lo mau ngapain bawa pasukan segala sih Grace..? semuanya udah clear.. "


ucap Leo terdengar dingin membuat Grace tak mampu menanggapinya. Dia baru menyadari jika tindakannya bisa membuat Leo merasa remeh tak mampu mengatasinya sendiri.


" Lo mau demo? mau demo apaan..? suami Lo yang punya kampus ini.. lo bisa ngomong di rumah kalo ada yang mau lo bicarain tentang aturan kampus ini.. "


lagi. Grace menggelengkan kepalanya tanpa menjawab, tetapi tatapannya tak beralih sedikitpun dari Leo.


Grace menerima apapun ceramah dari suaminya. hanya saja waktu dan tempat dirasa kurang tepat. terlebih orang-orang disekelilingnya tengah menyorotinya. meskipun mereka tidak jelas mendengar apa yang diucapkan Leo untuknya, tetap saja itu membuat harga diri Grace jatuh seketika. Dia malu jika mendapat omelan dari Leo di depan banyak orang secara terang-terangan.


Berbicara harga diri, justru Grace lah yang sudah menjatuhkan harga diri suaminya lebih dulu.


" Bubarin pasukan lo.. salah tempat kalo mau tawuran.. jangan jadi biang onar mulu.."


" biang onar..? " batin Grace merasa sesak dengan bola matanya yang memanas.


Megan melirik ke arah Grace yang mematung tanpa berucap. Dia bisa melihat dengan jelas sahabatnya tengah menahan tangis. diraihnya bahu Grace dengan kuat.


" kita mau belanja Le, gue yang minta mereka buat ngawal. eh malah datengnya banyak.. semua pada khawatir kali sama kita yang lagi hamil.. "


celetuk Megan mengelak mencari alasan. tak lupa dia menekankan kata hamil agar Leo bisa peka.


dia tidak ingin Grace disalahkan oleh Leo. dia tahu saat ini perasaan sahabatnya mudah rapuh.


" iya kan Grace kita mau shoping..? " lanjut Megan tertawa paksa.


tetapi Grace masih terdiam. dia tidak bisa berfikir jernih sekarang. rasanya sungguh menyakitkan, dia sangat kecewa terhadap suaminya.


melihat tatapan kecewa dari Grace, seketika wajah kesal Leo berubah menjadi bodoh. Dia menatap istrinya dengan sendu.


" Grace.. " Leo mencoba meraih tangan Grace.


namun wanita itu menepisnya cepat. kemudian membalikkan badan meninggalkan Leo begitu saja. Grace takut air matanya tak bisa di bendung lagi. Dia tidak mau terlihat lemah di mata semua orang yang memandangnya.


Persetan dengan harga diri Leo yang baru saja diabaikannya. saat ini Grace benar-benar sakit hati.


.


.


Megan berlari kecil mengikuti langkah Grace. sahabatnya nampak menahan emosi.


" Grace.. tunggu.. " panggilannya ngos-ngosan.


" kuyy.. kita shoping.. lo mau belanja apa? mau makan apa Me..? khususon hari ini buat lo.. kita bikin bangkrut pemilik kampus blagu barusan.."


sahut Grace terkekeh seraya mengangkat satu kartu sultannya. wanita itu mudah sekali merubah ekspresinya.


" gue suka ide gila lo.. " sahut Megan cengengesan. tak apa dirinya dikatakan penjilat demi sahabatnya baik-baik saja.


" lo semua boleh cabut.. " titah Grace pada seluruh anggotanya.


" gak mau kita kawal suhu..? " tanya salah satu anggota yang dipercaya Grace sebagai koordinator hari ini.

__ADS_1


Grace menggeleng menolak " gak perlu, gue bisa jaga diri.. "


" tapi suhu.. "


" udah lo pada cabut.. tuh buat kalian seneng-seneng.. " Grace nampak mengetikkan nominal di layar ponselnya.


ting.. anggota tersebut terbelalak kala mendapat laporan transfer dari Grace. nominalnya begitu fantastis.


setelah kepergian para anggotanya, Grace menyetop taksi untuk ditumpanginya.


" airplane Me.. " titahnya pada Megan seraya menggoyangkan ponselnya. Dia tidak mau ada seorangpun yang mengganggu aktivitasnya bersama Megan.


" tapi gue belum ijin sama laki gue.. "


" serah lo.. " sahut Grace acuh.


tanpa keduanya sadari, di pintu gerbang berdiri sosok Leo yang menatap kepergian mereka dengan tatapan penyesalan.


" maafin gue Grace.. " gumamnya lirih.


Sorot matanya penuh rasa bersalah. melihat kepergian Grace yang hanya bersama dengan sahabatnya membuat Leo benar-benar merasa tidak tenang. ingin sekali rasanya Dia menemani istrinya dan meminta maaf. Namun dia sadar istrinya itu perlu waktu untuk tidak bersamanya.


.


.


.


.


Sepanjang perjalanannya Grace kembali merenung, dia memikirkan kejadian tadi. niat hati ingin membela dan meluruskan masalah gadis yang baru menjadi kawannya, malah menjadi masalah barunya.


" sial.. tuh dosen killer udah gue belain juga, gak ada nongol sama sekali.. "


" yoyoy.. pemeran utama mah lagi anteng pingitan.. "


...******...


ditempat lain Lolita tengah merasa lega setelah menyaksikan video langsung penjelasan dari salah satu dosen yang meluruskan kesalahpahaman masalahnya. tadi Wilson menyuruhnya menonton tayangan tersebut.


Lolita merasa lega sekaligus bersyukur memiliki calon suami yang dikelilingi orang-orang baik yang sigap mengatasi masalahnya. namun tak dapat dipungkiri, gadis itu kembali merasa tidak enak, selama ini dirinya sudah jahat, dan korban yang dijahatinya malah membalasnya dengan kebaikan.


sekali lagi ini wajib Lolita syukuri, dia sudah banyak berhutang budi terhadap Wilson serta orang-orang disekelilingnya.


" gimana..? udah merasa lega..? "


Lolita terkesiap kemudian berdehem sebelum menoleh kearah suara tersebut.


" kenapa mas balik lagi..? " tanyanya heran sebab Wilson sudah berpamitan untuk pulang kepadanya.


Lolita menepuk dahi " ya ampun mas.. ayo makan. maaf, aku lupa gak bikinin mas minum sama sekali... "


ucapnya seraya bangkit masuk kedalam. gadis itu jelas merasa malu, belum menjadi istri Wilson dia sudah menunjukkan kebodohannya.


sementara Wilson terkekeh melihat tingkah lucu calon istrinya ketika salah tingkah.


.


.


Wilson sudah duduk di meja makan menunggu Lolita menyiapkan makanan untuknya.


Dia sangat antusias memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan gadisnya.


Lolita terlihat cekatan mengambilkan nasi beserta lauknya, kemudian meletakkan dengan hati-hati dihadapan Wilson.


" silahkan dimakan mas.. maaf cuma masakan sederhana.. " ujar Lolita sembari mendudukkan dirinya dihadapan Wilson.


Wilson mengangguk " aku suka makanan sederhana.. " ucapnya hendak memasukkan sendok ke mulutnya, namun Wilson menyeringai jahil.


" apalagi ada yang nyuapin, pasti lebih nikmat.. "


sontak Lolita terbelalak " mas jangan aneh-aneh.. makan sendiri, kan udah gede. masa mau aku suapin.." ucapanya mendelik.


" siapa yang minta di suapin sama kamu..? " sahut Wilson santai. bibirnya bergetar menahan tawa. dia suka sekali menggoda Lolita, sebab wajah gadis itu akan merona jika salah tingkah seperti sekarang.


" tapi itu bukan ide buruk, boleh dicoba.. kamu mau nyuapin aku kan..? " lanjutnya.


sementara Lolita dengan cepat menggeleng menolak. dia benar-benar malu atas ucapannya barusan.


" atau kamu yang mau aku suapin? kamu belum makan kan..? "


Lolita berdecak memajukan bibirnya kesal sebelum akhirnya melongos pura-pura sibuk. Dia selalu salah tingkah jika harus berlama-lama berhadapan dengan calon suaminya. sementara Wilson justru malah semakin terkekeh


🍃🍃🍃


Grace dan Megan sudah sampai di pusat perbelanjaan bertepatan hari sudah gelap.


" dah sana lo borong.. " ucap Grace saat keduanya menjajakan kaki di salah satu toko pakaian.


" siap boss.. kalo gini gue bisa kalap nih.. " sahut Megan disusul kekehan dari Grace.


kepolosan dari sahabatnya membuat perasaan Grace sedikit terobati. Dia bahagia jika berbuat hal yang menyenangkan bagi sahabatnya.


" eh Grace, apa gak sebaiknya kita beli gaun dulu buat besok? "


Grace mengangguk, " yaudah ayok, entar gak keburu kita nyari gaun yang pas buat ibu hamil.. ngedadak banget anjir tuh dosen.. "

__ADS_1


" kebelet kali Grace.. " sahut Megan cengengesan di angguki setuju oleh Grace.


.


.


.


Merekapun memasuki toko khusus gaun pesta. Grace yang lelah alias malas bergerak menyuruh Megan memilihkan gaun untuknya juga.


" ukurannya samain aja kayak lo Me.. toh kita sama-sama lagi hamil ini.. "


" emang iya ukurannya sama? " seketika Megan langsung menutup mulutnya kala melihat ekspresi Grace yang kesal.


" sorry bukan itu maksud gue.. "


" iya tau, gue lebih gemuk daripada Lo yang seksi.. "


" eh si anjirr baper.. "


" udah sono.. tinggal lebihin ukurannya. gak usah ribet.. "


Megan mengangguk pasrah meninggalkan Grace yang duduk santai menunggunya. tak seperti biasanya Grace yang akan mengajaknya berdebat jika sudah membahas postur tubuh.


Megan menghela napas berat, mungkin sahabatnya terlalu lelah dengan kejadian tadi di kampus sampai melupakan hal yang selalu membuat dia sensitif.


" Grace.. " panggil seseorang kepada Grace yang tengah asyik bermain game online di ponselnya.


Grace mendongak malas, dia tahu suara itu yakni suara Exel.


" Lo sama siapa kesini..? "


" sama si Megan.. " jawab Grace malas, dia tidak menoleh, Grace lebih memilih melanjutkan kembali aktivitasnya.


" berdua doang..? "


" hmm.. "


Exel mengeraskan rahangnya. Dia tahu wanita dihadapannya sedang tidak baik-baik saja. Exel merasa cemas, bisa-bisanya dua ibu hamil bepergian malam-malam tanpa ditemani satu orang pun pria dewasa.


" gue anter pulang yah.. "


" gak.. gue masih lama, lagian belum nemu gaun buat besok.. "


" ini gue udah beliin buat lo Grace.. "


Grace mendongak melirik kantong belanjaan di tangan Exel. seketika dia dibuat melongo kala Exel menunjukkan gaun yang dipilihkan untuknya. Gaun tersebut sangat bagus, desain dan warnanya begitu sesuai dengan selera Grace. bahkan ukurannya terlihat pas untuknya.


" lo boleh coba dulu Grace.. tapi menurut gue ini pas buat lo.. " ucap Exel begitu hati-hati. dia tidak mau menyinggung Grace. dia tahu wanita itu sedang sensitif.


Grace menggelengkan kepalanya, dalam kondisi seperti ini dia masih memikirkan perasaan Leo. bagaimana jika nanti suaminya mengetahui jika gaun yang dipakainya merupakan pilihan Exel.


" gak usah El, si Megan lagi nyariin buat gue.. " ucapnya mencoba menolak secara halus dengan alasan yang memang benar adanya.


" ini gue juga beliin buat dia sekalian.. "


Grace kembali terbelalak sebelum akhirnya mengangguk menerima, setidaknya Megan juga di belikan gaun oleh Exel. lantas Grace pun meraih gaun tersebut dari tangan Exel. dia tidak mau membuang-buang waktu untuk memilih gaun. pasalnya setelah ini Grace berencana memborong baju rumahan bersama Megan.


" thanks El.. kalo gitu gue telpon dulu tuh anak.. " ucapnya antusias di angguki Exel.


Grace mencoba menghubungi sahabatnya Megan bersamaan dengan berderingnya ponsel milik Exel.


" udah nemu bang gaunnya..? " suara disebrang sana sembari mengalihkan ke panggilan Video.


Exel mengangguk " udah.. "


" mana coba liat.. "


" loh.. abang bareng sama si Grace..? "


Exel menggaruk tengkuknya yang tak gatal, niat hati ingin memperlihatkan barang belanjanya kepada Silvie, namun sialnya Grace turut tersorot kamera belakangnya.


merasa namanya disebut, Gracepun menoleh dan tersenyum. dia sangat merindukan Silvie.


" hi Sil.. gimana kabar lo.. ?"


" kurang baik.. makin parah liat suami sendiri jalan sama istri orang.. "


tut.. Exel buru-buru mematikan ponselnya.


" si anying gak ngaca.. bini lo yang serakah.. " umpat Grace seraya menyerahkan kantong tadi dengan kasar pada dada Exel.


sementara Megan yang baru berada di sana menyerit bingung.


" ada apa Grace..? "


" gue cabut duluan.."


" tapi gue belum nemu gaunnya.. "


" gak perlu.. nih lo pegang.. " sahut Grace seraya menyerahkan kartu miliknya pada Megan.


" kalo lo belom kenyang juga, lo bisa minta sama dia.. " lanjut Grace melirik Exel sekilas sebelum melengos pergi.


Megan ikut menoleh ke arah Exel " sejak kapan lo disini..? itu juga si Grace kenapa lagi sih..? " ucap Megan terdengar khawatir.


" lagi..? "

__ADS_1


__ADS_2