
Suasana kembali hening, membuat Exel mencari cara agar tidak canggung lagi
Exel sengaja membanting setir ke kanan lalu ke kiri membuat penumpang di belakang terkejut saling menggenggam satu sama lain.
Leo langsung melindungi kepala juga perut Grace supaya tidak terbentur bangku depan.
"Lo mau anak gue kenapa-napa..? "
ucap Leo geram menatap tajam Exel dan masih setia mendekap Grace yang gemetaran. ya Leo baru mengeluarkan suaranya untuk mengomeli Exel, namun alih alih takut padanya, Exel malah cengengesan dengan wajah tanpa dosanya.
"Sorry.. Sorry.. tadi ada kucing nyebrang.. " timpal Exel santai mengelak,
sementara Leo malas menanggapinya, Ia lebih fokus kepada Grace yang berada di dekapannya,
"Sayang.. Gapapa kan? " tanyanya dengan khawatir seraya mengelus rambut Grace.
Grace merespon dengan menggelengkan kepalanya, namun tubuhnya masih bergetar seperti terkena serangan panik.
Leo mengurai pelukannya perlahan, kemudian menepuk pahanya menyuruh Grace untuk berbaring supaya lebih tenang,
Grace menurut membaringkan tubuhnya, menjadikan paha Leo sebagai bantalan kepalanya. dan benar saja, perlahan Grace mulai tenang sebab Leo mengelus rambutnya dengan lembut.
"Gue kangen sama lo Leo.. " Grace mulai memejamkan matanya.
" Gue kangen Grace.." batin Leo yang tak hentinya menatap wajah Grace yang terpejam dengan damai.
Exel memperhatikan keduanya dari pantulan kaca spion mengulas senyuman, sedikit ada kemajuan pikirnya.
"gue muter dulu kali ya.. Biar durasinya lama.. "
seharusnya sudah sedari tadi mereka sampai di rumah sakit, berhubung Exel dengan sengaja berkeliling dulu, mereka kini baru tiba saat hari mulai petang.
"Sayang bangun.. "bisik Leo dengan lembut seraya menggoyangkan bahu Grace.
Grace menggeliat bersamaan dengan membuka matanya.
"aaa.. gue kira mimpi.. " batin Grace menatap wajah yang kini mengulas senyuman untuknya. wajah yang selalu di rindukan olehnya.
Ketiganya pun masuk kedalam rumah sakit tersebut dalam diam.
tetapi Grace membiarkan Leo untuk menggenggam tangannya dan menemaninya masuk kedalam ruangan dokter spesialis kandungan.
sementara Exel menunggu diluar ruangan memilih untuk memainkan game online di ponselnya, sesekali bertukar pesan dengan gadis kesayangannya yaitu Silvie.
Grace membaringkan tubuhnya di ranjang ditemani Leo yang berdiri disampingnya.
Buliran air mata tergenang di pelupuk matanya saat melihat layar monitor yang menunjukan bahwa anak yang di kandungnya dalam kondisi yang sangat baik.
begitupun dengan Leo yang berbinar mendengar suara detak jantung sang buah hati dan penuturan dari sang dokter jika kandungan Grace sangat sehat.
"Tolong dijaga istrinya ya mas.. jangan sampai stress.. "
deg.
Leo kembali merasa bersalah,
"Sorry.. " lirihnya menatap Grace, sementara yang ditatap hanya membuang mukanya merasa bosan mendengar kata maaf dari mulut Leo.
Exel bangkit dari duduknya saat pasangan muda tersebut keluar dengan wajah sumringah, tentu membuatnya turut bahagia sebab calon keponakannya pasti dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.
Leo menyambar hasil cetak USG ditangan Grace lalu memotretnya untuk dijadikan wallpaper di ponselnya.
"Ck.. Lebay, udah ngakuin kalo anak situ..? " ucap Grace ketus mendelik.
Leo hanya tersenyum seraya mengacak gemas rambut Grace, begitupun dengan Exel terkekeh melihat keduanya ada sedikit kemajuan.
Di kejauhan Nadia mengepalkan tangannya saat melihat pemandangan yang sangat dibencinya.
Nadia tak tahan untuk menghampiri mereka yang kini berjalan di lorong rumah sakit tersebut,
Nadia bertepuk tangan dengan santai saat berhasil menyusul langkah ketiganya,
"Selamat ya.. buat kalian yang udah berhasil hancurin hidup orang.
Gue udah dikeluarin dari sekolah, nyokap gue sakit dan semua orang pada jauhin gue. Hebat.. Kalian memang hebat.. "
ucapnya sinis dengan menyilangkan kedua tangannya di dada penuh ke angkuhan.
Grace menyunggingkan senyuman membalas tatapan tak suka dari Nadia,
"Ck.. Lo gak ngaca..? Yang bikin lo hancur itu lo sendiri.. " timpalnya santai membuat Nadia semakin geram.
"Lo bener bener.. "
Nadia melayangkan tangannya hendak menampar Grace, namun dengan sigap Leo mencekal dengan cengkraman yang keras membuat Nadia meringis kesakitan.
__ADS_1
"Pergi..!!!" ucap Leo meninggikan suaranya menatap Nadia dengan sorotan tajam.
Nadia sampai menelan ludahnya dengan tubuh bergetar, sementara Grace tersenyum penuh kemenangan.
"Sayang.. Jangan kasar-kasar sama cewek, Gitu-gitu juga dia pernah singgah di hati kamu.. "
ucap Grace dengan nada manja seraya meraih tangan Leo.
"Tanganmu kotor sayang.. "
Grace menyemprotkan cairan sanitizer pada tangan Leo yang dipakai untuk mencengkram tangan Nadia barusan.
tingkah Grace yang nyeleneh sebab cemburu, membuat Leo mengulum senyum, begitupun dengan Exel kini menahan tawanya yang sempat ingin mencekal juga tangan Nadia tadi sebab geram, tetapi tingkah Grace membuat perutnya mengelitik.
"Ayo pulang sayang.. anak kita kegerahan.. "
Ucap Grace merengek manja menggandeng lengan Leo dan tersenyum mengejek juga meremehkan ke arah Nadia membuat Leo dan Exel menggeleng kompak terkekeh.
"Gue bakalan hancurin lo..!!! " teriak Nadia seraya mengepalkan kedua tangannya.
sayang sekali ketiganya tidak menanggapi ucapan Nadia, melainkan berlenggang begitu saja meninggalkannya.
___
Sesampainya di parkiran Grace segera melepaskan tangannya denan kasar, kemudian masuk kedalam mobil mendahului Leo yang hendak membukakan pintu untuknya.
"Sabar bro.. " ucap Exel terkekeh menepuk bahu Leo.
Mobilpun melaju keluar dari rumah sakit tersebut.
"Sayang.. "
Leo menggenggam tangan Grace.
"Hmm.."
Grace membuang mukanya.
"Nyaut juga.. " batin Exel menahan tawanya.
"Pulang ya.. " ucap Leo pelan mengusap lembut seraya mencium tangan Grace.
"Gak..!!! "
timpal Grace ketus, namun masih membiarkan Leo untuk menggenggam tangannya.
"Ehem.. Grace, ponakan gue mau nasi goreng bikinan emaknya.. "
ucap Exel kembali memecahkan keheningan.
Grace melirik Leo setelah mencerna ucapan Exel, dan di angguki oleh Leo dengan gugup bahwa Leo sangat ingin memakan nasi goreng buatan Grace.
tidak ngidam saja apapun makanan yang dibuat oleh Grace akan menjadi makanan favoritnya, apalagi nasi goreng yang sangat dirindukan oleh Leo.
"Emang udah lama El ponakan lo minta nasi goreng? "
"Cih.. Pake pelantara segala.. Gapapa El.. Lo harus jadi jembatan penghubung mereka.. " batin Exel.
"Hmm, Gue udah coba bikinin, tapi ponakan gue gak mau.. "
timpal Exel benar adanya.
"Oh.. " timpal Grace singkat, seolah cukup tahu saja jika Leo sedang ngidam nasi goreng buatannya.
Leo melirik Grace yang mulai tertidur menyandar di bahunya.
Ia pun membetulkan posisi Grace seperti tadi saat berangkat agar Grace merasa nyaman.
Leo mengerutkan dahinya merasa heran sebab Exel malah membawanya ke rumahnya.
"El.. ngapain kesini.. ? dia belum mau pulang" ucap Leo dengan suara pelan.
"Gue gak tau rumah mertua lo.. "
timpal Exel enteng.
"Kenapa gak nanya gue dulu..? "
Ucap Leo kesal.
"Lupa.. " timpal Exel cengengesan tanpa dosa seraya membukakan pintu untuk Leo.
Exel memang sengaja melakukan ini salah satu bentuk usahanya dan dia sepenuhnya tidak bersalah, Leo sendiri juga sedari tadi asyik menatap wajah Grace yang terpejam sampai tak sadar arah perjalanannya.
"Malah bengong lo.. Mau gue yang gendong bini lo.. ???" ucap Exel denan nada memancing sebab melihat Leo kebingungan.
__ADS_1
"Mau mati lo.. !!!"
timpal Leo menatap tajam Exel.
sementara Exel malah menggeleng terkekeh, alih alih takut terhadap Leo, Ia malah semakin gemas dengannya sebab di mata Exel, Leo terlihat seperti anak singa yang mencoba meraung menunjukan taringnya dan itu terlihat menggemaskan.
Leo menggendong Grace membawanya masuk kedalam lalu membaringkan nya di tempat tidur yang penuh kenangan.
"Sekarang lo gak kesepian lagi Le.. Gue cabut ya.. " ucap Exel menepuk bahu Leo untu pamit, merasa hari ini tugasnya sudah selesai
"Bawa motor gue.. "
titah Leo seraya melemparkan kunci motornya.
"Oke.. Thanks"
timpal Exel menangkap kunci tersebut.
"Hati-hati El.. "
"Hmm.. "
" jangan ngebut El.."
" hmm.."
" pake helm yang bener, jaket jangan lupa ini udah malem, angin malem gak bagus, gue gak mau lo masuk angin.."
" ngapain balik lagi El..?" tanya Leo gelagapan melihat raut wajah Exel yang menyeringai melangkah ke arahnya.
" ngoceh lagi kayak barusan, gue sumpel mulut lo pake barang ori ini.."
ucap Exel seraya mengetuk bibirnya yang dijaga selama ini.
tidak, dia tidak bersungguh akan mencium Leo, Exel hanya menggertak saja sebab menurutnya Leo terlalu bawel mengalahkan Ibunya sendiri.
Exel berhasil membuat Leo bergidik merinding, " El.. lo mau ngapain? si Silvie lo jadiin figuran..?"
Leo di buat gemetaran saat Exel terus mendekat ke arahnya.
bukannya marah dengan pemikiran Leo terhadapnya, Exel malah semakin menjadi jadi membuat Leo takut terhadapnya. dan itu terlihat sangat menggemaskan sebab sangat langka jika seorang Leo harus takut merasa takut.
" nething lo, gue mau ngambil hape gue.." ucap Exel terkekeh melihat Leo memejamkan mata memohon terduduk di sofa tempat dimana Exel tadi duduk menunggunya membawa Grace ke kamar.
" minggir, lo pikir gue cowok apaan..?" ucap Exel kembali berhasil membuyarkan lamunan Leo.
Exel merogoh tangannya di pinggiran sofa mencari sesuatu, dan berhasil mendapati ponselnya yang ketinggalan.
" gue masih normal sialan.."
Exel menoyor kepala Leo yang baru saja terdengar menghela napas lega.
" sorry.." timpal Leo cengengesan.
Leo kembali masuk ke kamarnya selepas kepergian Exel yang sempat drama dengannya.
Leo terdiam menatap Grace yang terlelap dengan tenang. kemudian Ia ikut membaringkan tubuhnya di samping Grace.
"I miss you.. "
bisiknya seraya mengecup pucuk kepala Grace juga mengusap lembut perutnya sebelum Ia menyelam ke alam mimpi.
Dini hari Grace terjaga, beberapa kali Ia mengerjapkan matanya mengedarkan pandangan kamar yang tak asing untuk Grace.
"Kok gue bisa disini sih, Gue gak mimpi kan..? "
gumam Grace seraya memukul kepalanya sendiri memastikan apakah ini mimpi atau bukan.
sampai suara seseorang dari kamar mandi meyakinkannya bahwa ini bukan mimpi.
Grace terhenyak mendengar suara Leo yang sedang muntah muntah dikamar mandi.
"Separah ini lo ngidam Leo.. "
Leo keluar dari kamar mandi setelah merasa lega dengan rasa mualnya. Ia memicingkan mata sebab tak mendapati Grace di tempat tidurnya, memang cukup lama dirinya di kamar mandi sehingga tidak menyadari Grace terjaga dari tidurnya.
Leoupun hendak keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Grace, seketika langkahnya terhenti saat mendapati sepiring nasi goreng hangat di atas nakas.
dengan perasaan senangnya , Leo keluar dari kamar dengan sepiring nasi goreng tersebut yang setia berada di tangannya.
melihat mobil Grace masih ada di garasi membuatnya bernapas lega, sebelumnya Ia pergi ke kamar dimana Grace biasa tidur di sana, namun pintunya dikunci dari dalam.
Leo menghela napas, setidaknya Grace bertahan tidak memaksakan untuk pulang ke rumah orangtuanya malam-malam.
Leo pergi ke dapur untuk menyantap makanan yang sangat di diinginkannya. melihat sekitar dapur yang masih terlihat sedikit berantakan bekas Grace memasak tadi, sebab Grace terburu buru menyajikan nasi goreng untuk Leo sehingga melupakan kebiasaannya membereskan dapur setelah masak karena takut ketahuan oleh Leo.
__ADS_1
"Makasih sayang.. "