Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 148


__ADS_3

" okeh, mba Ida.. saya sedikit nambahin nih, jangan terlalu ngoyo, di bawa santai aja, capek ya istirahat.. ada makanan gak usah segan, kalo mau tinggal makan aja.. "


Grace sedang berbicara dengan pengasuh baru yang dibawa oleh Lilis kemarin tanpa ada pembicaraan khusus merundingkan hal tersebut dengan Leo. ya, keduanya masih saling mendiamkan satu sama lain. sama-sama kuat mempertahankan egonya masing-masing.


Grace malah merundingkannya dengan kedua pegawainya, dan Dia menyerahkan secara penuh semuanya kepada Lilis, termasuk memberitahukan pasal aturan di rumah tersebut.


ah sebenarnya hampir tidak ada aturan yang membuat jarak antara pegawai dan majikan, hanya perlu memahami dan bersabar menghadapi mood mereka yang terkadang di luar nalar. begitulah peringatan dari Lilis yang berperan lebih senior diantara ketiga pegawai rumah tersebut.


Hari ini Grace mulai aktif kembali berkuliah. maka dari itu Dia menambah satu pegawai dirumahnya untuk mengurangi beban Lilis dan Ratna. dan pagi ini, Grace sengaja mengajak tiga pegawainya itu untuk sarapan bersama dengannya sebelum berangkat ke kampus.


" kerjasama, saling bentu, jangan tunjuk tunjukkan, sekepegangnya aja.. yang penting utamain Cio sama Gwen.. " kalimat terakhir dari Grace untuk para pegawainya sebelum meninggalkan tempat itu.


" baik nyah.. " celetuk Ida mantap dan penuh semangat, hingga membuat Ratna yang duduk di sampingnya langsung tersedak, sementara Lilis langsung menginjak kuat kakinya ketika sang majikan menunjukkan tatapan tidak sukanya.


" nyah, nyah.. udah di bilangin panggil non aja, si non tuh lebih suka di panggil namanya aja daripada harus denger itu.. paham..? " peringat Lilis dengan geramnya menoyor kepala Ida kala Grace sudah tidak di sana lagi.


" maaf, Ida kebiasaan di tempat lama manggil majikan gitu Mbok-"


" ck.. mbok, mbok.. memangnya aku simbokmu.. " Lagi-lagi Lilis menoyor kepala Ida dengan gemasanya,


sementara Ratna, dia menggeleng terkekeh melihat itu dan mengelus dadanya lega, setidaknya dia tidak sendirian yang menjadi korban Lilis.


.


.


.


.


Sebelum berangkat, Grace menyempatkan untuk berpamitan kepada kedua anaknya yang tengah di urus oleh Leo selagi dirinya di dapur tadi.


" wah.. anak mami udah ganteng dan cantik, wangi-wangi lagi.. " ucap Grace sambil mencium kedua anaknya secara bergantian tanpa menghiraukan Leo yang berada di sana juga.


" mami, mami.. " panggil Lucio seraya menepuk pipinya, anak itu meminta Grace kembali menciumnya. dan Grace pun menyanggupinya dengan antusias.


" mami berangkat dulu yah, abang jangan rewel.. jagain adenya okeh.. " ucap Grace seraya mengusap lembut kepala si kecil. kemudian Ia mengenakan jaket yang sudah disiapkannya tadi.


" mami.. mami.. " panggil si kecil kembali, membuat Grace yang tengah mengenakan jaketnya itu menoleh tersenyum.


" mau mami cium lagi hemm? " tanya Grace menebak. dan sialnya tebakannya salah, si kecil malah menunjuk pipi Leo agar Grace menciumnya juga.


Leo, Dia langsung memalingkan wajahnya menatap baby Gwen dan berlagak tidak menyetujui titah si kecil. sama halnya dengan Grace, wanita itu langsung berlagak ingin muntah, apalagi ketika melihat Leo berekspresi seperti itu, jelas membuat Grace mendelik sebal.


Grace kemudian mendekat ke arah si kecil Lucio dan mengusap kembali kepalanya.


" mami ada tebak-tebakan buat abang.. burung, burung apa yang gak bisa terbang dan kuat banget di sarang..? " ucapnya pada si kecil tetapi lirikannya mengarah kepada Leo yang tampak masih memalingkan wajahnya.


" burung papilo.. "

__ADS_1


sontak saja Leo langsung menoleh, bisa-bisanya Grace berucap frontal di hadapan anaknya. sayangnya Grace malah menyunggingkan senyuman dan pergi begitu saja dari sana.


Leo menggelengkan kepalanya ketika menatap kepergian Grace. padahal Dia juga hari ini ada jadwal kuliah dengan jam yang sama dengan Grace. walaupun Dia tau jika Grace pasti tidak mau berangkat dengannya, setidaknya istrinya itu berpamitan layaknya istri terhadap suami, pikirnya.


.


.


.


" ck.. najis, sosoan kuat.. gue yakin lo sebenernya gak tahan.. " gerutu Grace yang baru saja keluar dari kamarnya. Dia sendiri tidak percaya dengan apa yang diucapkannya barusan kepada si kecil. Dia hanya ingin menyinggung Leo, suami yang berlagak kuat menahan godaannya selama ini.


Wanita itu terus saja menggerutu kesal sambil berjalan menuju garasi, hingga akhirnya Ia dibuat terbelalak ketika melihat kendaraan lain yang terparkir apik di sana.


" wait.. ini gue gak mimpi kan.. " ucapnya gemetaran, bahkan Dia menampar pipinya dengan konyol.


Matanya berbinar ketika melihat motor yang diimpikannya sejak lama, motor sport mewah usulannya ketika taruhan dengan Leo mengenai jenis kelamin anak keduanya, sekarang terparkir langsung di hadapannya. padahal sudah jelas Ia kalah, bahkan Leo tidak menuntut hadiah apapun darinya.


" Non.. ini kuncinya.. " celetuk Lilis tiba-tiba hadir di sana membuat Grace yang tengah mengusap-usap motor tersebut langsung terlonjak kaget.


Grace di buat lebih terkejut lagi kala Lilis menyodorkan kunci kepadanya. itu berarti motor yang berada di hadapannya benar-benar untuk dirinya.


Dia harus segera berterimakasih kepada Leo. walaupun suaminya itu sedang mendiamkannya, tetapi Grace tidak perduli. kemudian dia bergegas masuk kembali ke dalam rumahnya dengan menyambar kunci di tangan Lilis terlebih dulu.


" kejutannya berhasil, si Non beneran terkejut woyy.. "


.


.


.


penampilan Leo yang selalu keren itu, tiba-tiba membuat Grace menggigit bibir bawahnya gugup. Dia seolah kehilangan kata walaupun hanya sekedar berterimakasih saja kala harus beradu tatap dengan suaminya itu.


sedang yang ditatap, malah masih setia dengan sikap cueknya. dan Grace, kali ini dia harus menurunkan sedikit ego dan gengsinya demi berterimakasih kepada Leo.


" thanks.. " hanya itu yang bisa keluar dari mulut Grace, selebihnya Dia memilih akan memberi hadiah sementara berupa kecupan di bibir suaminya, dan sisanya.. emh, nanti bisa di atur.


bolos bolos dah.. batin Grace nakal sambil memejamkan matanya. Dia sedikit berjinjit untuk mensejajarkan bibirnya dengan milik Leo.


sial.. Grace tidak menemukan apapun selain angin yang diciumnya. Leo menolaknya dan dengan teganya pria itu melengos begitu saja dari hadapannya.


sabar.. mari kita coba sekali lagi.. batinnya mengelus dada berusaha bersabar dan mengalah.


Grace kemudian mengikuti langkah Leo yang berjalan menuju dapur, suaminya itu baru sempat sarapan.


Grace sudah duduk di hadapan Leo yang tengah menyantap makanannya.


" Le, makasih kejutannya.. kuy lah test ride.." ajaknya sambil meraih tangan Leo.

__ADS_1


tidak ada sahutnya dari Leo, Pria itu selalu memalingkan wajahnya. bahkan dengan acuhnya Ia menyudahi aktivitas makannya dan langsung mencuci piring bekas Ia makan tanpa menghiraukan kehadiran Grace.


Grace tentu saja dia semakin kesal terhadap Leo yang bersikap lebih parah darinya ketika saling diam seperti ini. dan tanpa babibu lagi Dia pergi dari sana dengan menghentakkan kakinya.


Grace sudah tidak perduli lagi, mati-matian Dia menahan gengsinya supaya Leo mau berbicara dengannya. nyatanya suaminya itu samasekali tidak menyambut niat baiknya.


" persetan.. ngapain gue ngemis-ngemis.. " gerutu Grace sambil memakai helm fullface favoritnya.


" ducati, let's go.. " dengan sengaja Grace menggeber motornya kencang ketika Leo berada di ambang pintu. Dia sangat kesal dengan suaminya itu.


sementara Leo, pria itu menyunggingkan salah satu sudut bibirnya melihat kelakuan Grace.


" ck, norak.. kekanak-kanakan.. " gumamnya gak ngaca.


...****...


Motor sport mewah membelah jalan membuat pengendara lainnya berdecak kagum. tidak hanya dengan motor tersebut, melainkan kepada yang melajukannya yang tak lain ialah Grace.


" hay gadis cantik.. sunmori yuk.. " sapa salahsatu pengendara di samping Grace ketika berhenti di lampu merah. Pemuda itu yakin, wajah yang tersembunyi di balik helm itu sangat cantik sebab matanya saja cukup membuktikan keyakinannya.


" ck, gadis.. gue mama anak dua woy.. " sahut Grace songong dan langsung menarik gasnya bertepatan dengan lampu yang sudah hijau.


" gak percaya.. " teriak si pemuda itu yang hendak menyusul Grace. namun apa daya, motor yang ditungganginya kalah tenaga jika harus memaksa mengejar motor Grace.


sementara Grace, Dia menyunggingkan senyuman melihat pemuda itu di pantulan spionnya. pemuda itu yang tampak memukul motornya kesal karena tidak mampu mengejar Grace.


" rasain lo.. " gumamnya terkekeh.


tak lama Grace di buat terkejut kala melihat motor yang menyalipnya dengan menggeber tepat di sampingnya. suara yang keluar dari motor tersebut bahkan tak kalah menggelegar dari motor barunya.


" ck.. nantangin.. oke, saatnya test ride sesungguhnya.. "


Grace menambah kecepatan laju motornya untuk mengejar motor sport yang menyalipnya tadi. aksi saling salip pun terjadi di jalanan yang kebetulan sedikit lenggang.


" What..? bentar bentar.. gak salah nih.. " Grace merasa heran dengan motor yang adu balap dengannya. dimana tujuan pengendara itu sama dengannya.


dua motor yang baru saja memasuki area kampus langsung mendapat sorotan dari penghuni di sana, tak terkecuali para mahasiswa yang berdecak kagum melihat motor sport mewah dua sekaligus.


" siapa yah kira-kira.. " bisik mereka termasuk Ari dan Exel juga Megan dan Silvie menebak siapa dua orang yang belum melepaskan helmnya itu.


keduanya pun membuka helm secara bersamaan, membuat orang disekitarnya melongo tak percaya.


" daebak.. real sultan woyyy.. ".


Grace, dia orang yang lebih terkejut kala mengetahui siapa sosok yang mengajaknya balapan tadi.


" ck pemborosan.. jaket baru beli sekodi juga gak papa.. " umpatnya dalam hati ketika melihat penampilan sosok tersebut yang berubah dari ujung kaki sampai ujung kepala bahkan motornya juga.


Grace lebih heran melihat melihat motornya,

__ADS_1


" gila.. ini gila.. "


__ADS_2