Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 118


__ADS_3

" emang om Berwin sekejam itu yah? " tanya Grace. Wanita itu kini tengah berada di dekapan Leo. seperti biasa keduanya melakukan sesi pillow talk, setelah Leo mengalah untuk menunda segudang pekerjaannya. masalah Exel lah yang kini menjadi topik obrolan mereka.


Leo mengangguk seraya membelai rambut panjang Grace, " iya begitulah. lo inget gak pas gue balapan sama si Soni dulu? "


Grace mendongak menatap Leo, raut wajahnya nampak berpikir mengingat kejadian dulu membuat Leo berdecak.


" itu yang tiba-tiba ada cewek sok jagoan nerobos- "


" iya yang ujung-ujungnya pada tawuran kan.. " sela Grace dengan wajahnya yang cemberut membuat Leo terkekeh pelan.


" iya itu, lo tau? kita semua dapet hukuman, nah om Berwin hukum si El persis kayak sekarang.. "


" terus lo di hukum juga gitu sama papah? " sela Grace, Dia sangat penasaran hukuman apa yang suaminya dapatkan dulu.


Leo mengangguk cepat, " yah, papah tiba-tiba majuin tanggal pernikahan kita-"


" dan lo nyesel sama hukuman itu? " Lagi-lagi Grace menyela dengan tatapan nyalangnya.


cup.. satu kecupan mendarat di kening Grace membuatnya terkejut dengan apa yang dilakukan Leo. biasanya suaminya itu akan menyentil keningnya, tetapi sepertinya Leo akan merubah kebiasaan tersebut.


" bodoh, Cio udah mau punya adek masih aja ngeraguin gue.. "


Great tersenyum kemudian Ia menelusup masuk kembali kedalam dekapan Leo. dekapan yang selalu membuatnya merasa tenang dan damai.


...***...


Pagi ini Grace nampak bersemangat menyiapkan sarapan untuk Leo, suami yang sudah membuat tidurnya nyenyak semalam. sedang Leo tengah mengurus si kecil dengan memandikannya.


" kalo adem ayem gini enak diliatnya, tapi lebih gemes lagi kalo lagi ribut.. " gumam Lilis cekikikan seraya memperhatikan Grace yang tengah memasak sambil bersenandung ria itu.


" bi.. " panggil Grace membuat Lilis terkesiap dan langsung menghampirinya.


" iya non ada apa..? "


" ini kenapa bisa ketuker begini naronya? " tanya Grace sambil menunjukkan dua toples bertuliskan gula dan garam.


" sengaja non, biar semut keder.. " sahut Lilis tanpa dosa membuat Grace menggeleng berdecak.


" ada-ada aja ngerjain semut.. "


" eh si non kalungnya baru yah?"


Grace mengangguk seraya memegang kalung yang melingkar di lehernya. semalam sebelum tidur, Leo memakaikannya terlebih dulu.


" papinya Cio yang beliin bi.. "


" wah Den Leo romantis pinter milihiin barang, kalungnya bagus banget non.. "


Grace mengangguk setuju, Dia tersenyum senang kala menyentuh kalungnya. selama ini Grace tidak suka memakai perhiasan selain cincin pernikahan yang melingkar di jarinya. namun entah mengapa kali ini Grace sangat menyukai kalung tersebut. kalung yang khusus dipilihkan suaminya itu terlihat sederhana namun berkelas. benar apa yang di ucapkan oleh Lilis, Leo sangat pintar memilih barang. dan Grace suka itu.


.


.


.


Setelah selesai memasak dan menyajikannya di meja makan, Grace segera menghampiri Leo untuk mengajaknya makan bersama.


Grace memasuki kamarnya, menemui kedua malaikat hidupnya yang sudah rapih dan wangi. Di sana nampak si kecil tengah merangkak mencoba berdiri berpegangan pada sofa tempat dimana Leo duduk sambil menerima panggilan di ponselnya.


Merasa benar-benar gemas dengan si kecil, Gracepun segera menghampiri dan langsung mencium pipinya yang gemuk itu bertubi-tubi.


" lo kirim alamatnya, yang lengkap.. " ucap Leo kepada orang di seberang sana. kemudian Ia memutuskan panggilan tersebut dan langsung menghampiri Grace yang tengah asyik menguyel uyel pipi si kecil.


cup.. Leo mengecup pipi Grace dari belakang dengan senyuman di wajah tampannya membuat istrinya itu menoleh terkejut.


" Ya Tuhan, lindungilah selalu keluarga kecilku.. " batinnya seraya menatap lekat wajah cantik istrinya.


" siapa yang nelpon? kenapa minta alamat segala..? " tanya Grace.


" minta alamat tempat tinggal si El, gue mau pesenin sarapan buat dia.. " jawab Leo tanpa menyebutkan siapa yang di telponnya barusan. Iyan, orang yang pernah menjadi pusat obsesi sang istri ketika hamil si kecil Lucio dulu.


Grace mengangguk paham, dia jelas tidak keberatan dengan sikap solidaritas Leo.


" yah si El gak mungkin masak kalo lagi keadaan gini.. "


" pinter.. " sahut Leo seraya mengacak gemas rambut Grace.


" bisa-bisa ketuker mana gula mana garem.. " batin Grace cekikikan teringat kejadian tadi di dapur.


" mamah bentar lagi nyampe, jadi Cio ada yang jagain.. " ucap Leo membuyarkan lamunan Grace.


" hmm, kalo gitu ayo makan dulu.. " ajak Grace di angguki Leo.


keduanya pun makan bersama sebelum berangkat ke kampus. kebetulan hari ini mereka ada jadwal kuliah di waktu yang sama.

__ADS_1


...----...


Sementara di tempat lain, Exel tengah menjadi pusat perhatian Ibu-ibu yang sedang berkumpul berbelanja sayur di depan rumahnya.


Pria yang sedang mengelap sambil memanaskan mesin motornya itu tidak menyadari jika dirinya menjadi topik utama pembicaraan para Ibu-ibu.


" aktor drakor belusukan.. "


" masih bujang apa udah punya bini ya.. "


" kayaknya masih lajang, noh liat aja gak ada bininya kan.. orang masih muda juga.."


" katanya itu temennya si Iyan.. "


" iyan anaknya mpo Lela? "


" orang kaya pasti.. motornya aja bagus begitu.. "


bisik-bisik dari para Ibu-ibu yang sambil cekikikan seraya menunjuk Exel, membuat pria itu tersadar dan seketika langsung masuk ke dalam rumahnya.


Hidup di daerah pemukiman yang padat, membuat Exel harus siap juga terbiasa menghadapi kejadian seperti tadi. Jujur, Ia bukan tipe yang suka menyapa lebih dulu kecuali terhadap orang-orang yang dekat dengannya.


Exel meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Dia tersenyum ketir kala layar ponsel tersebut menyala menampakkan poto sosok perempuan yang sudah mengecewakannya.


" apa lo tidur nyenyak semalem Sil? " guamamnya seraya menyunggingkan sudut bibirnya.


Tak ingin terjebak dengan pikirannya, Exel pun segara menelepon seseorang.


" halo.. kenapa bos? "


" lo dimana? "


" gue udah di kedai bos, kan bos Ari ada kuliah hari ini.. "


" yan itu emak-emak di depan suka lama yah kalo belanja sayur? "


" si bos mau masak? gak usah bos, katanya emak mau nganter makanan. tunggu aja bentar lagi palingan.. "


Exel berdecak,


" bukan itu, gue mau lewat risih.. terus bilangin sama emak lo gak usah anterin makanan, entar gue makan di kampus.."


" oh iya iya.. jadi cowok ganteng ternyata ada ruginya juga.. "


tut.. seketika Exel langsung memutuskan panggilan tersebut secara sepihak. bukannya memberikan solusi, Iyan malah mengejeknya saja.


lantas Exelpun membukakan pintunya setelah mengetahui siapa orang tersebut yakni kurir pengantar makanan.


" dengan Tuan Exel..? " tanya si Kurir.


Exel mengangguk mengiyakan, kemudian Ia menerima kantong makanan tersebut dalam keadaan bingung, pasalnya Ia tidak merasa memesan makanan.


ting. . pesan masuk di ponselnya.


" gak di makan, jangan harap lo bisa ketemu Cio lagi.. "


Exel tersenyum kala membaca pesan tersebut. dalam keadaan seperti ini sohibnya masih memperdulikannya.


" ck.. si kunyuk pasti ngadu.. " gumamnya seraya membuka kantong makanan tersebut.


Exel melahap makanannya dalam kesendirian. terbesit bayangan Silvie di benaknya, apakah istrinya itu sudah makan atau belum.


Dia akan baik-baik saja, kalimat itu seketika membuat Exel tersadar. Lagi-lagi Exel berdecak mengingat hinaan yang di dapatnya.


setelah menghabiskan makanannya, Exelpun merapihkan kembali piring bekas makannya. kemudian Ia keluar hendak berangkat kuliah. para Ibu-ibu yang sudah bubar tadi ketika dirinya makan, membuat Exel mantap memberanikan diri untuk keluar rumah.


ceklek.. seketika Exel terkejut melihat beberapa Ibu-ibu tadi kini sudah berjejer di depan rumahnya dengan membawa makanan di tangannya masing-masing.


" pagi mas.. kita bawain sarapan buat masnya.." ucap mereka dengan kompak membuat Exel menyerit heran. pasalnya mereka baru saja berbelanja, tiba-tiba sudah matang saja. apa mereka mempunyai jurus kecepatan memasak.


Berdehem sejenak kemudian Exel menanggapi. " pagi juga Bu, makasih sebelumnya. tapi maaf bukannya saya menolak, baru aja saya sarapan.. " sahutnya dengan memalingkan wajah.


" gak papa mas, buat entar bisa di angetin.. " timpal salah satu dari mereka.


Exel memijat keningnya frustasi, bagaimanapun juga Ia tidak mau membuat mereka tersinggung dengan menolak makanan tersebut. namun Exel merasa jika Ia menerimanya akan menjadi kebiasaan besoknya lagi dan seterusnya.


" sekali lagi maaf Bu, permisi saya buru-buru mau ke kampus.. " ucapnya seraya mengenakan helm dan menunggangi motornya meninggalkan mereka yang tampak kecewa.


" kita harus minta bantuan mpo Lela.. "


...****...


Setibanya di kampus, Leo memarkirkan mobilnya bersamaan dengan kedatangan mobil yang mengantarkan Silvie, dan tepat di belakangnya, mobil Aripun tiba.


" ngapain ikut..? lo mau tebar pesona?" tanya Grace cemberut kesal membuat Leo terkekeh pelan.

__ADS_1


" gue mau mastiin istri gue selamat sampe kelas.. " sahut Leo santai membuat Grace memutar bola matanya jengah.


Leo menggeleng melihat Silvie berjalan melewati mereka begitu saja. ini alasannya mau mengantar Grace sampai ke kelasnya. Dia tidak ingin istrinya itu merasa kesepian.


" hi bumil.. " sapa Megan menghampiri Grace juga Leo.


Sedang Ari sudah pergi ke area fakultasnya.


" hi juga bumil, lo temenin tuh anak.. gue kan ada pak bos.. " ucap Grace seraya melingkarkan tangannya di lengan Leo membuat suaminya itu tersenyum bangga.


Sementara Megan bersecak kesal,


" okeh, kasian kermi kesepian.. "


" Lo tau juga Me? " tanya Grace mengenai masalah keluarga sahabatnya itu.


Megan mengangguk, " Pura-pura gak tau ajalah.. " sahutnya terkekeh.


baik Leo maupun Grace mengangguk setuju dengan apa yang di katakan Megan.


Grace sudah tiba di depan kelasnya. Leo benar-benar mengantarkannya sampai ke depan pintu kelas membuat Grace kesal, pasalnya Leo selalu menjadi pusat perhatian para mahasiswi.


" ini paling gue gak demen.. " ucap Grace cemberut membuat Leo terkekeh seraya mengacak gemas rambut atas Grace.


" sekarang kan udah gak jadi asisten tuh dosen sialan, so.. lebih konsen lagi belajarnya.. "


" hemmm.. " sahut Grace singkat.


" yaudah kalo gitu gue cabut dulu.."


" hemm.. "


" bye cantiknya papi.. " Leo kini beralih mengusap perut buncit Grace membuat orang-orang yang memperhatikannya sedari tadi ternganga terkecuali Grace yang mendesah kesal.


" buruan cabut lo keburu fans lo pingsan berjamaah.. " ucap Grace ketus. " besok-besok lo pake masker sama topi.. " lanjutnya membuat Leo menaikan sebelah alisnya.


" kenapa? takut suami tampannya di embat yah.. " ucap Leo menggoda dengan menoel dagu Grace.


" cabut gak lo.. "


" oke oke.. dah sayang.. "


Leopun pergi meninggalkan area fakultas Grace dengan ekpresinya yang kembali normal, dingin dan juga datar. sepanjang Ia melangkah tentu saja menjadi pusat perhatian para mahasiswi yang kagum terhadapnya. siapa sih yang tidak menyukai sosok si pemilik kampus itu.


*


Ketika waktu istirahat Grace segera menghampiri Viola yang sudah menunggunya di kantin. Sengaja dirinya menolak ajakan Megan, Grace membiarkan sahabatnya itu untuk menemani Silvie. Dia tahu Silvie tidak ada yang menemani, juga Megan yang tengah berada diposisi sulit. maka dari itu Grace mengalah, setidaknya Ia masih memiliki Viola .


Sementara Megan yang kini sudah duduk bersama Silvie di kantin, Ia menatap Grace yang tengah asyik bercengkrama bersama Viola. ada perasaan tidak enak sekaligus perasaan gagal menyatukan kembali kedua sahabatnya.


" apa yang harus mama lakuin nak.. " batinnya seraya mengusap lembut perut yang buncit itu membuat Silvie mengerut heran.


" kenapa lo? ngidam? "


seketika Megan mengangguk tersenyum, " yah.. apa lo mau nurutin ngidam gue Sil? "


" ngidam apaan? lo mau makanan gue? " tanya Silvie seraya menunjuk mangkuk miliknya.


Megan menggeleng cepat, " gue mau makan nasi liwet-"


" ya tinggal pesen, sekarang banyak yang jualan nasi liwet.. " sela Silvie.


" gue mau nasi liwet bu Siti, terus makannya barengan berenam.. formasi lengkap "


Silvie menggeleng menolak,


" sorry gue gak bisa.. " sahutnya tegas.


" tapi ini keponakan lo yang mau Sil.. " timpal Megan memelas penuh permohonan.


sementara Silvie malah menyunggingkan salah satu sudut bibir atasnya.


" lo pikir gue peduli..? " ucapnya seraya bangkit dari duduknya meninggalkan Megan yang kini ternganga begitu saja.


Megan menatap kepergian Silvie yang nampak cuek itu. seketika bola matanya memanas dengan tangan yang mengepal kuat.


" iya gue tau lo gak perduli, jangankan sama orang lain.. laki sendiri aja lo buang.. " teriaknya menggebu membuat semua yang berada di kantin tersebut langsung menatapnya heran termasuk Grace juga Viola.


Grace langsung menghampiri Megan yang tampak mengatur napasnya. bagaimanapun juga Megan seorang Ibu hamil. susah payah dirinya menahan emosi, namun kali ini Megan benar-benar lepas kendali.


" Me, ngapa sih lo..? " ucap Grace seraya mengusap bahu Megan.


" tuh anak emang keterlaluan, heran gue batu banget.. " sahut Megan seraya menunjuk Silvie yang melenggang begitu saja dengan cueknya.


kejadian langka tersebut tak luput dari orang di sekitar yang kini berbisik-bisik membuat Silvie menghentikan langkahnya.

__ADS_1


" lakinya yang di buang itu si Exel kan? "


" kuy kita mulung berlian yang udah di buang tuh cewek.. "


__ADS_2