Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 128


__ADS_3

" tadi lo larang gue pergi.. sekarang lo maen cabut gitu aja.. songong amet.."


Leo menatap sebal ke arah Grace yang sedang bersiap hendak pergi.


Grace terlihat bersemangat sekali setelah mendapat telepon dari pelanggan setianya. padahal tadi pagi wanita itu tampak lesu bahkan memelas agar Leo tidak bekerja hari ini.


" sorry bos, langganan kali ini gak boleh di skip, sayang cuannya.." sahut Grace terkekeh sambil menaikturunkan kedua alisnya.


Leo mendesah kesal, dia ingin Grace sementara tidak terjun dulu di bengkelnya selama masa kehamilan.


" ck, ilang satu langganan mah gak bikin bankrut-"


" ini masalah kepercayaan bos.." sela Grace songong membuat Leo kembali berdecak dengan sifat keras kepalanya.


kemudian Grace melangkah mendekati Leo yang tengah duduk di sofa, sedangkan si kecil nampak asyik bermain di karpet empuknya.


" inget, lo tadi kalah.. so, gak usah protes.. okey hubby?" bisiknya.


" cih.. tadi gue ngalah kali.." sahut Leo sewot. pria itu tampak tidak terima dengan kekalahannya tadi.


" what ngalah..?" Grace tergelak. " loser mah loser aja kali.. upgrade skill dong hubby, jangan kenyang sama data statistik aja.."


" Lo gak mau gue anter nih..?" sela Leo. Dia jelas mengalihkan ucapan Grace yang terus saja mengejeknya, hingga pada akhirnya Ia mengizinkan Grace untuk pergi ke bengkel. terlebih jika sudah mengenai hobi istrinya itu, dia bisa apa?


Grace menggeleng menolak,


" gak usah ribet, lo suka bawel.." timpal Grace ketus. wanita itu jelas tidak mau di temani oleh Leo, mengingat suaminya itu suka bertingkah menyebalkan hingga membuat moodnya berantakan.


Leo memutar bola matanya malas,


" tapi lo ngawasin aja ya, biar anak-anak yang ngerjain.."


" nah kan, lo udah bawel aja, gimana kalo ikut ke sana.. dah gue cabut dulu.." sela Grace kesal.


kemudian Dia menatap si kecil yang tampak anteng itu.


" Cio, mami pergi dulu yah, kenyang kenyangin deh main sama papi noh.." ucapnya sambil menunjuk Leo yang berekspresi masam sambil memajukan bibirnya itu.


melihat Leo yang menunjukan wajah sebalnya, membuat Grace terkekeh pelan. segera Ia menghampiri suaminya itu.


Cup.. Grace mengecup sekilas bibir Leo yang tengah cemberut itu.


" bye hubby.." bisiknya manja seraya mencium punggung tangan Leo. namun suaminya itu malah berlagak ingin muntah membuat Grace mendelik kesal.


Kemudian Grace bergegas melangkah keluar. seketika Dia dibuat terkesiap saat membuka pintu. begitu pintu itu terbuka, langsung menampilkan kedua orangtuanya yang baru saja tiba di sana.


" mampus.."


" Daddy.. Ibu.." ucapnya gelagapan. segera Ia meraih tangan kedua orangtuanya dan menciumnya bergantian.


Begitupun dengan Leo yang langsung bangkit dari duduknya dan segera menghampiri kedua mertuanya untuk melakukan hal yang sama dengan istrinya.


" kami baru sampai, kamu mau pergi aja nak.." celetuk Bram membuat Grace kikuk nyengir kuda. Kemudian wanita itu melirik Leo. sial, suaminya itu malah menyeringai tersenyum mengejeknya.


" Grace ada urusan Dad.. urgent he.." sahutnya cengengesan. lagi-lagi Grace mendapati Leo yang terkekeh mengejeknya.


" emh, daripada Daddy omelin Grace, mending Daddy marahin menantu yang bolos kerja noh.."


sontak saja Leo melongo tak percaya. Grace curang sekali, demi mencari aman istrinya itu malah menudingnya. padahal sudah jelas wanita itu yang memintanya untuk tidak bekerja.


" enak aja.. lo yang rengek tadi minta gue biar bolos gawe.." sahut Leo ketus.


" lah ngapain nurut..?" timpal Grace tidak mau kalah.


sementara baik Bram maupun Anita hanya bisa menggeleng terkekeh pelan ketika melihat Grace dan Leo malah saling adu tatap. Keduanya terlihat sengit membela diri masing-masing.


" huss.. sudah sudah, malu sama Cio.." Anita mulai bersuara yang terdengar lembut.


Bram mengangguk setuju,


" bener kata Ibu, apalagi kalian udah mau punya dua anak.."


Leo dan Grace langsung terdiam, tetapi keduanya malah sama-sama memalingkan wajahnya malas hingga akhirnya Grace beralih menatap ayahnya. Dia tidak ingin membuang-buang waktu mendengar kembali ceramah dari kedua orangtuanya. Grace harus segera pergi dari sana.


" kalian di anter supir kan..?"


" ck, kalian.. sopan dikit kek.." Leo menyela ucapan Grace, membuat wanita itu menoleh ke arahnya.


" bukan urusan lo.." sahut Grace ketus. lagi-lagi keduanya saling adu tatap dengan sengit.


" udah ah, kenapa emang nak..?" celetuk Bram yang mulai jengah dengan mereka berdua.


" eh iya Dad, boleh dong Grace minjem mobil sekalian supirnya, biar suami Grace gak khawatir.." ucap Grace menekankan kata khawatir sambil melirik Leo yang tampak memutar bola matanya malas.

__ADS_1


pria itu sudah menduga ada udang di balik batu. benar, Grace ingin bebas pergi berlama-lama tanpa di hantui teror dari Leo.


setelah di perbolehkan, Gracepun berpamitan kepada kedua orangtuanya. tak lupa Ia mengulang untuk berpamitan kepada Leo, tapi ada yang beda, dimana Grace menjulurkan lidahnya solah mengejek suaminya kembali. Dia menang kali ini.


" rasain lo.. emang enak.."


...***...


" wih cakep bener nih motor.. coba aja gue gak kere kaya sekarang, udah gue beli motor ke begini.. "


saat ini Exel sedang mengitari sebuah motor sport mewah keluaran terbaru yang sudah bertengger di sana.


sebagai pecinta motor sport, tentu Exel sangat mengagumi motor yang ada di hadapannya kini. tiba-tiba pria itu berdecak kesal kala mengingat sesuatu,


" ck, si tua bangka emang suka tega.. padahal kan itu duit boleh gue kerja.. sialan emang Tuan Berwin.."


satu tangan menepuk pundak Exel membuat pria itu tersadar dari lamunannya yang mengumpat kesal terhadap sang ayah.


" eh bang Ronald.."


" kesambet lo ngomong sendiri.."


Exel langsung menggeleng kikuk,


" enggak bang, gue cuma seneng aja liat nih motor.." ucapnya sambil menepuk motor tersebut.


" hmm, ni motor mau di modif abis-abisan.."


" hahh, motor baru begini udah mau di modif ? kurang apanya, ini udah cakep banget kali bang.."


" mana gue tau, yang gue tau sih yang punya ni motor emang gak pernah itungan, malah part orinya suka di tinggal gitu aja di sini.. Sultan mah bebas.."


Exel tampak manggut-manggut paham,


" bener bang, sultan mah bebas.." sahutnya cengengesan.


" kaya lo, lo juga sultan kan? Motor lo aja bukan kaleng-kaleng.." sahut Ronald sambil menunjuk motor sport milik Exel yang terparkir apik di halaman bengkel tersebut. Sementara Exel tampak kikuk menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" oh ya bang, jadi kita yang eksekusi nih.." ucap Exel seraya menepuk kembali motor di hadapannya. Pria itu tidak ingin membahas tentang status sosialnya. dia tidak mau menyombongkan diri, terlebih saat ini dirinya memang dalam masa sulit.


" no.. si bos yang eksekusi, ini emang bagiannya.. Bisa ngamuk dia kalo kita lancang ngambil jobnya. Heran gue juga, dia yang ngerjain tapi upahnya pasti buat anak-anak.. Emang dasar hobi kali.."


" maksud lo, bos Leonard bang..?" tanya Exel seraya menaikan sebelah alisnya. Dia sudah tidak heran jika memang itu Leo. sohibnya itu memang suka royal kepada siapapun.


Bukan, Exel bukan heran dengan hobi juga sifat royal seorang Grace, hanya saja dia terkejut sekaligus khawatir jika memang benar wanita itu yang akan mengeksekusi motor tersebut. mengingat kondisi Grace saat ini tengah hamil besar, bisa-bisanya wanita itu mengambil alih pekerjaan kasar tersebut.


" si kampret gak larang bininya apa.." batinnya kesal dengan mengeraskan rahangnya juga tangan yang mengepal begitu kuat.


" tuh dia, panjang umur si bos.." celetuk Ronald seraya menunjuk wanita yang baru saja turun dari mobil, hingga Exel tersadar dari lamunannya. bahkan pria itu langsung menghampiri wanita tersebut yang tak lain adalah Grace.


Grace mengerutkan dahi heran kala melihat Exel yang tiba-tiba menghampirinya dengan bertolak pinggang.


" ngapa lo..?"


" gue gak izinin lo buat eksekusi tuh motor.." ucap Exel tanpa basa-basi sambil menunjuk motor tadi.


" idih.. so iyeh lo bang.." sahut Grace terkekeh geli membuat Exel mendengus kesal.


" pokoknya gue gak bakalan biarin lo Grace.. lo kan lagi hamil.." timpal Exel sewot, akan tetapi raut wajahnya terlihat cemas. Pria itu jelas merasa trauma dengan kehilangan calon anaknya. maka dari itu, Ia tak ingin hal itu juga di alami oleh Grace, wanita yang sudah Ia anggap sebagai adiknya sendiri itu.


" si Leo juga ngebiarin lo Grace..?"


" sama kayak lo El, makannya gue ogah kalo dia ikut kesini, pasti ngoceh dia, eh malah ada yang lebih bawel sekarang.."


Exel terkekeh melihat ekspresi dari Grace, wanita itu terlihat kesal, moodnya sudah rusak akibat ocehannya barusan.


" itu lo tau, gue aja gak ngizinin apalagi laki lo, udahlah biar gue aja yang ngerjain.."


" emang lo bisa..?" sela Grace seraya menaikan sebelah alisnya.


" ck, gak yakin gue.." lanjut Grace terkekeh meremehkan membuat Exel memutar bola mata malas.


" yaudah, gue yang ngerjain sambil di arahin sama lo gimana..?" tawar Exel membuat Grace mengangguk setuju.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Setelah bernegosiasi tadi yang akhirnya di setujui oleh Grace, kini Exel benar-benar fokus mengerjakan pekerjaannya dengan di bimbing oleh Grace. sambil duduk manis dengan cemilan yang di kunyahnya, wanita itu mengarahkan tahapan tahapan memodifikasi motor tersebut kepada Exel.


dengan kekuatan jari telunjuk Grace sukses membuat Exel mengangguk patuh. Pria itu tampak senang dengan ilmu yang di dapat dari seorang Grace. dia terlalu fokus juga bersemangat sampai melupakan makan siangnya.


waktu menunjukan sudah pukul dua siang, bertepatan dengan Exel yang mengerjakan tahapan akhir yakni memasang kenalpot racing motor tersebut dengan apik.


" coba geber.." titah Grace membuat Exel mengangguk menuruti perintah wanita itu.


" kurang.."


Exel menurut, pria itu meningkatkan tarikan gasnya hingga suara bising terdengar.


" kurang.. sampe limit.." rupanya Grace masih belum puas juga.


" berisik anjir.." sahut Exel ketus seraya mengentikan aksinya membuat Grace terkekeh pelan.


" lo kalo mau sepi mending jagain kuburan aja.." ucap Grace santai.


" ck.. Gak jelas, lagian ya ni yang punya motor gak takut kena tilang apa.."


" lah bodo amat, bukan urusan gue.. ribet lo.."


suara menggelegar dari motor sport yang baru saja tiba membuat keduanya beralih menoleh ke arah sana.


" woah, babang Ari bonceng cewek.. si Megan tau auto ngamuk nih.." celetuk Grace kala melihat Ari membonceng perempuan yang menenteng rantang. Grace tentu tahu itu bukanlah Megan sahabatnya, mengingat postur sosok perempuan tersebut sangat ramping berbeda dengan Megan yang kini memiliki perut buncit sama seperti dirinya.


" ck, itu adeknya kali, si Dila.." timpal Exel membuat Grace cengengesan karena cepat sekali salah sangka dengan perempuan yang belum melepas helmnya tadi.


.


.


.


" sorry telat bang.. " ucap Ari berlagak seperti Silvie membuat Exel mendelik sebal.


" gue jemput dulu nih bocah pulang sekolah.." lanjut Ari sambil menoyor kepala Dila hingga gadis itu mendengus sebal dan membenarkan rambutnya yang berantakan.


" wih, ada si bos.. lagi belusukan bos ?" ucap Ari songong kala mendapati Grace yang ternyata ada di sana juga.


" biasalah gabut gak ngampus.." sahut Grace santai.


Ari mengangguk, kemudian Ia melirik sang adik yang melongo. gadis itu tampak mengamati Grace dengan tatapan kagumnya sampai tersadar sebab Ari menyikutnya dengan kasar.


" ish.. apaan sih bang..?"


" nganga aja, mulut lo tar kemasukan laler.. salim sono kalo perlu lo sungkem sekalian ajakin mabar.."


Dila mendelik sebal, namun pada akhirnya dia menuruti perintah Ari dengan menghampiri Grace.


" hi kak.." ucapnya gugup, hingga Ia di buat tercengang sebab Grace mengulurkan tangan duluan. tanpa membuang waktu, Dila langsung meraih tangan tersebut dan menyalami dengan takzim. padahal Grace berniat berjabat tangan biasa ala sahabat.


" hi Dila, baru balik sekolah yah..?" ucap Grace seraya mengusap rambut Dila hingga gadis itu mengangguk gugup.


" nih bocil ep ep ngefans sama lo Grace.." celetuk Ari membuat Grace mengangguk terkekeh, sementara Dila tersenyum kikuk.


" oke Dila lain kali kita mabar okeh.. minta babang Ari buat top-up.."


" ck.. nyesel gue ngasih tau.. auto rugi bandar inimah.." sela Ari sambil menepuk dahi frustasi.


" btw lo bawa apaan..?" tanya Grace sambil melirik rantang yang masih di jinjing oleh Dila. sebenarnya tanpa di jawabpun Grace sudah mengetahui kebiasaan Ari yang selalu mengantar makan siang untuk Exel.


" biasa.. buruan El makan keburu gak enak kuah santennya.." ucap Ari seraya menepuk bahu Exel yang sedari tadi terlihat melamun.


" gak usah.. buat si Grace aja.." sahut Exel.


" lo kan belom makan El.." timpal Grace.


" hmm, gue bawa bekel dari rumah.." Exel tidak berbohong, beruntung dia belum membuang bekalnya tadi.


dengan melihat kehadiran Grace membuat Exel mengalah. Dia bisa mengetahui sorot mata Grace yang menginginkan makanan tersebut. terlebih wanita itu tengah hamil yang pastinya membutuhkan asupan yang cukup.


" mulai sekarang lo gak perlu bawain gue makan siang lagi Ri.. "


" lah ngapa? tenang, gue ikhlas redo.. kagak gue masukin buku utang juga anjirr.. "


" bukan gitu bego.. mulai sekarang gue mau bawa bekel dari rumah.. gue gak mau ngerepotin lo lagi.."


" elah, tibang buat lo doang mah gue masih sanggup bawain El.. gak asyik lo, lagian ngapa si tiba-tiba lo mau bekel sendiri.. emang sempet apa..? sejak kapan lo-"


" sejak bini gue balik.. "


hahhhh???

__ADS_1


__ADS_2