Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 166


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang dari kediaman Exel, baik Leo maupun Grace sama-sama terdiam. keduanya tidak bisa tidak memikirkan ucapan Ari tadi. walaupun Pria itu mengatakannya dengan nada bercanda hanya untuk menggoda keduanya, namun tetap saja itu sangat mengganggu pikiran mereka.


Leo mencoba untuk fokus mengemudi, sesekali Ia akan melirik Grace yang duduk di sampingnya. dapat Leo lihat Grace duduk dengan gelisah sambil menggigit bibir bawahnya.


" are you okay? " tanyanya dan langsung mendapatkan anggukan sebagai jawaban.


Leo mengangguk menghela napas. Ia tidak ingin bertanya lebih kepada Grace, apalagi mengenai apa yang membuat istrinya gelisah sekarang, sebab Ia sudah tahu penyebabnya yakni ucapan Ari tadi.


Sejujurnya Leopun merasakan kecemasan yang sama jika mengingat ucapan sohibnya. bukan berarti Leo tidak mau menerima kehadiran anak lagi, tentu Ia dengan senang hati sebanyak apapun Tuhan menitipkan kepadanya.


hanya saja jika melihat kedua anaknya yang masih kecil, Ia takut tidak sanggup mendidiknya.


" laguan mau punya anak banyak.. lo mampu gak bos..? " kalimat itu selalu terngiang di benaknya. sindiran pedas dari salah satu sohibnya ketika Leo sempat membahas menginginkan banyak anak.


Jelas Leo tidak bisa membalas kalimat yang memang benar adanya. sebab jika dipikir, hanya Dialah yang setengah gagal bahkan mendekati buruk dalam mendidik kedua anaknya di antara sohib-sohibnya.


Ekor matanya kembali melirik wanita di sampingnya, rupanya Grace sudah terlelap, namun bisa Leo lihat istrinya itu masih merasa gelisah dalam tidurnya.


maka dari itu, Leo yang semula hendak mengajak Grace segera memeriksakan diri agar mendapat kepastian mengenai perkataan Ari tadi, jadi enggan bahkan sepertinya tidak akan pernah Leo lakukan. biarkan Grace datang dengan kesadarannya sendiri.


" abang, ade.. itu ada ironman.. " serunya kala mendapati badut di pinggir jalan, bertepatan dengan mobilnya yang berhenti di lampu merah.


tidak ada sahutan dari bangku belakang, terlebih sejak Leo mulai melajukan mobilnya, kedua anaknya itu sama sekali tidak mengeluarkan suara seperti biasa mereka akan bergaduh. dengan itu, Leo menoleh ke belakang lalu tersenyum hangat.


" pada kecapean yah.. "


Melihat bagaimana damainya Cio dan Gwen tidur, malah semakin membuat Leo merasa bersalah. bagaimana tidak? jelas sekali memang sebelumnya mereka sempat menjadi korban kemarahan Grace, dan dengan lapang dada kedua malaikat itu selalu memaafkan bahkan melupakan sifat buruk orangtuanya.


" maafin papi sama mami.. " lirihnya sendu. Leo tau kalimat ini terdengar klasik dan terkesan percuma. ya, apa yang di lakukannya sama dengan Grace ketika merasa bersalah dan meminta maaf kepada kedua anaknya disaat tengah tidur.


...***...


Sudah terhitung dua minggu sejak kepulangan dari kediaman Exel. dan sejak saat itu, tidak ada hubungan antara Grace dengan kedua sahabatnya. bahkan Leopun ikut-ikutan menutup akses dengan kedua sohibnya juga. entah mengapa pasangan tersebut rasanya masih ingin merajuk kepada para sahabat.


Leo, pria itu tengah setia menatap Grace yang nampak sedang mondar-mandir di depan cermin dengan wajah yang pucat dan gestur yang uring-uringan. hanya penampilan Grace saja yang terlihat seperti orang sakit, akan tetapi tenaga serta amarah istrinya dalam mengumpat malah semakin tinggi. dan itu semakin membuat Leo enggan membahas perihal kondisi " tubuh " Grace.


Jika dipikir, toh Grace sendiri sudah pintar bahkan hampir menguasai ilmu kedokteran mengingat itu jurusan kuliah yang tengah istrinya pelajari. jadi, sekali lagi biarkan Grace berusaha menyadari perubahan kondisi tubuhnya.


" Sialan, padahal udah dua hari gue dapet.. tapi lemesnya ngalahin orang ngidam.. "


sontak saja mata Leo melongo mendengar itu. terlepas Ia baru saja mendengar suara Grace yang bungkam alias enggan membahas kondisi tubuhnya, Leo juga dikejutkan dengan kenyataan ternyata Grace tidak sedang mengandung sesuai tebakannya.


ada sedikit perasaan lega bercampur dengan kecewa. bagaimanapun juga Pria itu sempat menginginkan memliki anak lagi. namun Ia tidak menampik jika perasaan leganya karena ketidak siapan.entahlah..


Leo kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Grace. dengan lembut tangannya menyentuh bahu Grace. Jujur, Leo masih takut dengan tanggapan Grace yang akhir-akhir ini sering marah-marah dan menjadikan dirinya sebagai pelampiasan. namun kali ini rasa khawatir mengalahkan rasa takutnya.


" kita periksa yah.. " pada akhirnya Leo memberanikan diri mengeluarkan suaranya yang tertahan.


sebuah gelengan kepala yang Ia dapat membuat Leo tanpa pikir panjang membawa Grace kedalam dekapannya. Dia tahu betul, dibalik umpatan kasarnya, Grace sedang dilanda perasaan takut. apalagi sekarang tubuh dalam dekapannya itu terasa bergetar serta mulutnya mulai mengeluarkan isakan.


" it's okay.. semua akan baik-baik saja.. " ucapnya meyakinkan. padahal Leo sendiri sama takutnya.


" gue takut Leo.. gimana kalo pas diperiksa ternyata gue punya penyakit_"


"syutt.. " dengan cepat Leo membungkam mulut Grace dengan jari telunjuknya. Pria itu jelas tidak akan sanggup mendengarkan kelanjutan kalimat tengah diucapkan Grace.


" semua baik-baik saja.. "


Leo terus mencoba meyakinkan dan menguatkan Grace baik dengan kalimat-kalimat penyejuk ataupun dengan sentuhan lembut. namun entah mengapa semakin Ia mencoba menguatkan Grace, semakin Ia tergugu dalam tangisannya.


Mendengar tangisan yang semakin kencang dan melebihi tangisannya, Grace mendongak juga menatap ke sumber suara. Ia sudah tidak heran dengan keadaan ini, memang akhir-akhir ini Leo cenderung mengeluarkan sifat cengengnya. bahkan hanya karena tanamannya layu, suaminya itu akan menangis penuh drama.


" lo malah ikutan nangis sih Le? tenangin ini bininya.. " oh ayolah, setidaknya lupakan dulu sifat cengeng itu dan tenangkan istrimu Leonard.


mendengar itu, Leo mengangguk seraya mengusap pipinya yang basah dan kembali membawa Grace kedalam pelukannya. memilih diam dan menikmati pelukan hangat itu.


" Le.. "


" hemm.. "


" sebenarnya gue lagi kepengen sesuatu, pengen banget malah.. "

__ADS_1


pergerakan tangan Leo yang tengah mengusap lembut punggung Grace seketika berhenti. kemudian Pria itu mengurai pelukannya dan menangkup wajah sembab istrinya. tidak lupa matanya menatap mata indah Grace mengisyaratkan Ia siap mengabulkan apapun keinginan Grace saat ini.


" tapi lo jangan ketawa.. " ucap Grace ketus penuh ancaman sehingga membuat Leo terkekeh.


" mau apa hemm? "


" gue pengen makan sayur bening bayam bikinan si kermi.. " sahut Grace bergumam nyaris tak terdengar oleh Leo sehingga membuat suaminya itu berlagak menajamkan pendengaran dengan mengorek lubang telinganya.


Leo, Pria itu tidak mungkin tidak mendengar apa yang di ucapkan Grace barusan. Dia bahkan mati-matian menahan untuk tidak menertawakan dan juga mengejek Grace. sebab Dia tahu betul, apa yang diinginkan Grace kali ini merupakan hal yang selama ini menjadi bahan ejekan Grace untuk keluarga sohibnya.


" okeh, gue telpon abang lo sekarang juga.. "


Grace mengangguk setuju dengan wajah antusiasnya. Ia juga merasa senang jika Leo tidak menertawakannya bahkan mengeluarkan kalimat ejekan. suaminya itu malah langsung bertindak untuk mengabulkan keinginannya.


tut.. tut..


( udah merajuknya Tuan muda..? )


" berisik lo, adek lo ada perlu__"


( Woah judesnya udah nular.. ambekannya juga kompak)


" El, gue pastiin nama lo di blacklist di bengkel manapun, sekalian tambal ban manapun juga malah__"


( widih.. si bos maennya ancem-anceman..)


" gue gak main-main bego.. "


...***...


Grace dibuat keheranan dengan tingkah Leo yang menunjukkan wajah kesalnya. pasalnya suaminya itu sudah selesai menghubungi Exel sejak setengah jam tadi. lantas apa yang membuat Leo kesal?


" lo kenapa dah, perasaan gue yang lagi dapet, malah mood lo yang jelek.. "


tidak ada sahutan maupun tanggapan dari Leo yang malah memilih meraih kembali ponselnya, membuat Grace menghela napas kasar. kemudian wanita itu memilih mendudukkan dirinya di sofa sambil menikmati satu cup natadecoco selagi menunggu makanan yang diinginkannya datang.


Tidak lupa mata Grace mengikuti juga mengamati setiap gerak-gerik suaminya yang sepertinya hendak menghubungi seseorang.


tut..


( dih najis.. sensi amat lo. lagian gue mau nanya kabar lo bro__)


" sedang tidak baik-baik saja.. "


( yasudah, ada apa gerangan Tuan Muda Leonard menghubungi sepagi ini-)


" ini udah hampir siang bego.."


( hmm, baiklah lantas apa yang membuat Tuan tampan sedang tidak baik-baik saja_)


" bacot lo.. suruh karyawan kesayangan lo bikinin gue asinan buah sekarang..! "


Seseorang yang tengah duduk dan memerhatikan tingkah Leo sedari tadi, hampir saja tersedak natadecoco yang tengah dimakannya. ingin rasanya Ia tertawa lepas dan penuh kemenangan sebelum tatapan tajam menyorotnya nyaris membuatnya terbunuh.


" apa..? mau ngetawain gue..? "


" pede gile lo.. siapa juga yang mau ngetawain lo.. " sahutnya berlagak tak terima, padahal jelas-jelas Ia mengelak.


dengan santainya Grace melengos pergi setelah menabrak tubuh yang tengah berdiri tegap itu tanpa perasaan.


" woah Tuan Muda lagi ngidam asinan buah bikinan si___"


" Grace..!!! "


" apa? berani lo maju selangkah, semua Aglonema milik lo gue tebas abis.. sekalian sama burung lo__"


Lilis, orang yang selama ini menjadi saksi kerandoman majikannya, merasa tidak tahan. katakanlah Ia lancang, namun sebagai orang yang paling tua dirumah ini menjadikannya alasan untuk berani menegur kelakuan buruk majikannya.


" ish.. maennya pisau, bahaya non.. " omelnya seraya dengan cepat merebut benda tajam dari tangan Grace.


semula Lilis masih bisa tahan dan mentolerir tingkah random dua majikannya itu. terlebih mereka bertengkar tanpa membawa ataupun menyeret Cio dan Gwen. malah Lilis sempat bersyukur, setidaknya itu mengurangi omelan maut Grace terhadap kedua anaknya. biarkan saja sang Tuan yang menjadi sasaran, yang penting bukan dua malaikat kecil, pikirnya.

__ADS_1


namun lihatlah, sekarang majikannya sudah berani bermain dengan benda tajam. tidak, Grace selalu menganggap itu bukan omong kosong, Dia tidak pernah main-main dengan ucapannya.


" mandi..!!! "


satu kata yang terlontar dari mulut Wanita paruh baya itu mampu membuat dua orang yang tengah bertengkar langsung menundukkan kepalanya takut. sialnya itu malah terlihat menggelikan bagi Lilis.


" baik Nyonya besar.. " sahut keduanya dengan kompak. mereka langsung melarikan diri ke kamar setelah melihat si Nyonya besar mengacungkan benda tajam yang direbutnya tadi.


" cih, kelakuan.. untung aja Den Cio sama Non Gwen lagi diungsiin.. apa gak ikut gila liat kelakuan mami papinya.. "


jleb...


benda tajam yang berada di genggamannya barusan, kini menancap sempurna pada daging segar yang yang hendak dimasaknya.


" apa..? mau nasibmu sama kayak daging ini.. "


glek..


Ida, rekan kerja yang sekarang sudah hafal alias hatam dengan kegarangan Lilis, kini hanya bisa menelan ludahnya kasar. padahal Ia berusaha sebisa mungkin agar tidak berulah.


pada akhirnya Ida menggelengkan kepalanya dengan rasa takut. dalam hatinya Ia mengumpat untuk dirinya sendiri, kenapa harus melewati dapur yang kini sedang ada iblis didalamnya. jika saja Ia tahu sebelumnya, sudah dipastikan tidak akan melawati tempat tersebut bahkan jika harus memilih mending memutari rumah dan menemukan jalan yang lain menuju area taman belakang.


...***...


makan siang kali ini akan sangat mengenyangkan bagi tiga orang pegawai di kediaman Leonard. bagaimana tidak? hari ini Lilis memasak banyak menu makanan dan salah satunya daging panggang sesuai permintaan sang majikan. namun sayang, yang memintanya untuk memasak malah dengan santai menolak untuk menyicip.


maka dari itu Lilis berniat akan mengajak circle gibahnya di kawasan komplek untuk makan siang bersama.


" hemm, tinggal pake bedak non Gwen, vibes kalian udah kek anak yang abis dimandiin emaknya sore-sore.. " ucap Lilis disusul kekehan dari setan dibelakangnya.


entah mendapat kekuatan dari mana wanita paruh baya itu bisa berani alias lancang mengejek dua orang yang sudah rapi sehabis mandi, dan kini tengah duduk anteng di kursi depan rumah sambil mengayunkan kaki dengan kompak.


" whatever.. huss.. huss.. " sahut satu diantara mereka yang kini mulai memainkan ponselnya.


tak menunggu lama, Lilispun segera masuk kedalam rumah. keberuntungan masih berpihak kepadanya, dua orang yang baru saja di ejeknya, sama sekali enggan meladeninya.


" kuy mabar..!!! "


" ogah, lo bukan lawan gue.. "


" sombong amat.. "


Tak lama suara deru mobil memasuki area pelataran rumah mereka. membuat pasangan yang tengah asyik dengan ponselnya masing-masing langsung bangkit menghampiri dengan antusias.


" ngabring kompak begini, kek mau seserahan.. " celetuk Grace santai tanpa dosa.


ya, Grace seolah tidak merasa bersalah sudah mendiamkan para sahabatnya. dan tiba-tiba meminta mereka untuk berkunjung. ah bukan lebih tepatnya meminta masakan yang akan segera masuk kedalam list favoritenya.


" asinan buah gue mana.. " celetuk Leo mendahului Grace yang kini siap-siap membuka mulut dan hendak menagih permintaannya juga.


" sayur bening bayam buat gue juga mana..? "


Empat orang dewasa yang baru saja turun dari mobil, dengan kompaknya memutar bola matanya malas. ingin rasanya mereka mengumpat dua mahluk laknat itu. jika mengenai tingkah randomnya, jelas mereka tidak heran sebab mereka mempunyai alasan, ya.. walaupun masih cocokologi.


" to the point banget ente berdua.. kagak ada rasa bersalah sama sekali lo merajuk lama-lama.. " celetuk Ari diangguki setuju oleh yang lainnya.


" tau, minimal ajak masuk dulu kek tamunya.. " Silvie ikut menanggapi.


" lebay banget dah.. kuy masuk masuk, anggep aja rumah orang.. " sahut Grace santai kelewat santai menyambar kantong yang berada di tangan Silvie.


" kita yang hamil ya Me.. malah kita yang di repotin.. "


" Sialan.. jadi selama ini penderitaan kita berdua___"


" huss.. masih mending lo berdua yang ngidam, lo mau si kermi ngidam gelendotan sama laki lo lagi? "


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2