
Pagi ini Grace bersiap hendak berangkat ke kampus. sementara Leo tidak ada jadwal kuliah. Pria itu juga tidak berangkat ke kantor, Dia memilih menjaga juga mengurus si kecil sebab Ratna pulang kampung sejak kemarin.
padahal bisa saja Leo menitipkan si kecil kepada Deti maupun Anita. hanya saja Ia tidak mau merepotkan mereka, mengingat si kecil yang semakin aktif. selain itu Leo memang ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama si kecil.
.
.
.
Grace memandang dirinya sendiri di pantulan cermin. perut yang semakin membuncit itu di elusnya sambil cekikikan. Ia tidak menyangka di usianya yang masih sangat muda, sudah mau memiliki dua anak.
Kemudian wanita itu beralih memegang lehernya. di sana terdapat beberapa kissmark yang di buat oleh Leo semalam.
" aksesoris antimainstream. bukannya kalung cantik, yang ada bentol bentol.. " gumamnya seraya mengoleskan pondation di lehernya.
cup. tiba-tiba Leo mengecup ceruk leher Grace membuat aktivitas istrinya itu terhenti.
" apa? mau nambah? " ucap Grace kesal. dia tidak bersungguh-sungguh, sebab sebentar lagi akan berangkat. tidak lucu jika permainan panas seperti semalam mereka ulang kembali.
mendengar itu Leo menyeringai. Dia merasa tertantang dengan ucapan Grace. tangannya yang melingkar di perut istrinya itu, kini mulai nakal menyusuri mainan kesukaannya. tak lupa bibirnya mengendus-endus di bagian ceruk leher Grace.
Grace mencoba menghentikan aksi Leo. " gue mau ke kampus Leonard.. " ucapnya kesal.
Leo menghentikan aksinya, kemudian Ia menatap Grace dari pantulan cermin. gemas sekali melihat wajah kesal istrinya itu.
" tadi nantangin.. " ucapnya sok kesal.
" lagian maen nyerobot aja, ini belom kelar nutupin karya lo.. " sahut Grace kesal membuat Leo terkekeh.
" lo selalu cantik dan semakin seksi, jadi gak salah kalo gue tergo-"
seketika kalimat Leo terhenti sebab Grace membungkamnya dengan kecupan singkat di bibirnya. Grace tidak berminat meladeni ocehan Leo. Dia tidak mau telat ke kampus.
sementara Leo terkekeh mengacak gemas rambut Grace.
" jadi, gak gue anter nih? " tanyanya.
Grace menggeleng, " kak Viola bentar lagi nyampe, kebetulan dia juga ada jam pagi.. " ucapnya seraya meraih tangan Leo untuk di ciumnya.
Leo mengangguk tersenyum seraya mengusap lembut kepala Grace, " yaudah hati-hati, nanti jangan lupa makan sama diminum vitaminnya. kalo mau pulang kabarin.. "
" siap bos.. " sela Grace dengan cepat sebelum Leo menceramahinya panjang lebar.
sementara Leo menggeleng melihat Grace melarikan diri keluar.
.
.
.
.
Grace melangkah ke luar rumah bertepatan dengan masuknya mobil milik Viola.
Viola turun dari mobilnya hendak membukakan pintu untuk Grace. padahal Ia berharap melihat si kecil Cio terlebih dulu, tapi sayangnya itu tidak terjadi.
" silakan naik nona.. " ucapnya ramah sambil membungkukkan badan.
Grace menggeleng terkekeh. ada-ada saja kelakuan sahabatnya ini, " gue yang nyetir kak.. " ucapnya santai dan sudah mendahului masuk duduk di depan kemudi.
sementara Viola terbelalak. Dia tidak mau membiarkan ibu hamil harus menyetir.
" gue aja Grace.. lo kan lagi hamil.. " ucapnya cemas.
" kuy.. tenang aja. gue bawanya pelan kok.. " sahut Grace santai membuat Viola pasrah mengikuti kemauannya.
tin..
seseorang mengamati dari balik kaca ruang tamu, berdecak kesal melihat kepergian mobil tersebut keluar dari area halamannya.
" dasar keras kepala.. "
...*****...
Seorang gadis yang belum mengetahui di mana jodohnya kini tengah menutup mata sambil komat kamit. jantungnya terasa mau copot, Ia merasa hidupnya tidak akan lama lagi.
" ini lo bilang pelan Grace..? "
ya, gadis itu adalah Viola. Dia ketakutan dan merasa cemas yang berlebihan kala Grace melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sialnya wanita hamil itu nampak santai membanting setir kesana kemari membelah jalanan. hingga mobil terhenti kala lampu merah menyala, Grace menoleh ke samping dimana Viola masih menutup mata ketakutan.
" buka matanya kak.. " ucap Grace terkekeh.
Viola membuka mata perlahan sambil ngos-ngosan.
" gila lo Grace, gue gak bisa bayangin gimana lo bawa motor.. " ucapnya bergidik.
" lo mau gue bonceng kak? sabar yah tunggu anak gue lahir.. " sahut Grace cengengesan.
__ADS_1
Viola menggeleng dengan cepat.
" ogah, gue masih pengen idup, gue belom nikah.. " ucapnya ketus membuat Grace kembali terkekeh.
" iya deh sorry, nih gue bawa pelan.. " ucap Grace seraya melajukan kembali mobilnya bertepatan dengan lampu yang sudah hijau.
Grace benar-benar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia tidak mau Viola merasa kapok menemaninya. terlebih Grace bisa melihat Viola benar-benar ketakutan, terbukti dengan keluarnya tetesan keringat yang membasahi wajah gadis itu.
" Grace.. " panggil Viola mencoba mencairkan suasana kembali.
" hmm kenapa? "
" gue mau ngomong sesuatu tapi lo jangan kesinggung.. "
" ngomong aja, tapi gue gak janji kalo masalah kesinggung apa enggaknya. "
Viola sejenak menghela napas, Ia mengigit bibirnya ragu. tetapi jiwa keingintahuannya tengah melanda.
" gini, Cio kan sekarang udah mau setaun nih, sementara lo hamil Cio dulu pasti sembilan bulan dong ya, kalo gue itung-itung lo hamil Cio pas lo masih sekolah.. "
Viola menoleh sejenak ke arah Grace yang tampak santai mendengarkannya. lagi-lagi Ia merasa ragu.
" so, apa lo MBA alias tek dung? "
sontak Grace tergelak mendengar itu, terlebih melihat raut polos dari Viola. gadis ini benar-benar kepo.
" gak lah gila, gue udah nikah pas mau naik kelas tiga.. jadi halal cong.. "
" what..? "
" ya ampun, bisa copot jantung gue " Grace terlonjak kaget mendengar Viola. gadis di sampingnya itu tampak melotot tak percaya, wajahnya tak kalah terkejut mendengar penuturan Grace.
" sorry.. " sahut Viola cengengesan.
" lo serius Grace nikah pas masih SMA, lo berdua pacaran terus pada ngebet minta di kawinin gitu? "
Grace mengangguk malas seraya tersenyum kaku. dia bingung harus menjawab apa, lebih tepatnya Ia malas menjelaskan panjang lebar kepada Viola. gadis di sampingnya itu pasti akan membombardir pertanyaan jika Grace mengatakan dulu dirinya di jodohkan.
" ya begitulah.. " sahutnya malas.
" kalian pasangan serasi. gue juga mau kayak kalian konsepnya pacaran setelah halal.. " ucap Viola antusias diangguki oleh Grace.
" tapi gak ada cowok yang mau jadi kekasih halal gue. btw Grace anak buah lo cakep cakep kan ya, boleh lah satu mah kenalin ke gue, siapa tau ada yang nyantol.. "
Grace memicingkan matanya sejenak ke arah Viola. dia bisa mendengar helaan napas gadis di sampingnya itu. Grace merasa heran, padahal Viola memiliki raut wajah yang cantik.
" oke, itu bisa di atur.. " ucapnya santai membuat Viola tersenyum sumringah.
" asyik.. otw halal.. thanks bestie, semoga kebaikan lo selama ini di balas kebaikan juga sama Tuhan, keluarga kecil lo selalu di lindungi.."
...***...
setibanya di kampus, Grace memarkirkan mobilnya dengan apik. baru saja melangkah, Viola menyikutnya seraya menunjuk seseorang yang tengah berjalan di hadapannya.
Grace mengeraskan rahangnya kala melihat sosok yang sudah membuat hatinya tak menentu sedang berjalan dengan santainya sambil bermain ponsel.
" Si Silvie udah gak cuti lagi yah, kuy samperin..kasian sendirian " ucap Viola.
Grace menatap temannya seraya mengangguk setuju. kemudian Ia melangkah menghampiri Silvie. jujur, Grace sangat rindu masa-masa bersenda gurau dengan sahabatnya itu.
" Sil, lo udah masuk ternyata.. " ucap Viola membuat langkah Silvie terhenti dan menoleh ke arahnya. raut wajah wanita itu langsung berubah masam ketika melihat Grace.
Silvie mengangguk tersenyum tipis, " gue duluan kak.. " ucapnya melongos begitu saja.
" eh gak bareng si Grace, kalian kan sekelas.. " teriak Viola seraya menatap heran ke arah Silvie yang melangkah tergesa-gesa.
" aneh tuh anak.. "
sementara Grace menghela napas dalam-dalam. Dia mencoba untuk tetap tenang walaupun dadanya terasa sesak kala melihat sikap Silvie. matanya terasa panas menahan sesuatu ingin keluar.
" Grace.. sayang..!!!" teriak seseorang dari belakang membuat langkah Grace juga Viola terhenti, kemudian keduanya menoleh dengan kompak ke arah suara tersebut.
" mami.. " Grace menghampiri orang yang sudah memanggilnya yang tak lain adalah Indri Ibu dari Exel.
Indri merentangkan tangannya menyambut Grace. keduanya berpelukan begitu hangat.
Sial, Grace tak mampu mengontrol emosinya. air mata yang sedari tadi berusaha di tahannya, kini keluar begitu saja kala mendapat pelukan hangat dari sosok seorang ibu.
" mami, Grace kangen.. " ucapnya terisak.
Indri melepas pelukannya kemudian menatap Grace dengan nanar.
" mami juga kangen Grace, gimana kabar kamu nak? cucu mami baik-baik aja kan..? " ucapnya lirih seraya mengusap lembut perut Grace.
Grace mengangguk tersenyum, " Grace baik-baik aja mih, mami kok ada di sini? " tanyanya heran.
" mami abis anterin Silvie, abang kamu ada miting penting jadi gak bisa anterin istrinya.. "
Indri mengusap kepala Grace dengan penuh kasih sayang. tadi Dia melihat dengan jelas sikap menantunya terhadap Grace. seperti apa yang di ceritakan oleh Exel, menantunya itu memang keterlaluan.
" Grace.. "
__ADS_1
Grace yang menunduk terdiam karena kembali memikirkan sikap Silvie, kini terkesiap kala Indri menepuk bahunya pelan.
" eh iya mih kenapa? "
" maafin sikap Silvie yah nak.. "
Grace menggeleng lalu tersenyum, " Grace gak papa ko mih, Grace udah maafin Silvie, lagian Grace juga maklumin ko.. "
kini Grace sudah mahir mengontrol raut wajahnya, padahal yang Ia harapkan Silvie lah yang meminta maaf langsung kepadanya. atau minimal Silvie mau merespon dirinya dengan baik.
" mami tau kamu anak baik Grace, oh ya tunggu sebentar.. "
Indri nampak melangkah menuju mobilnya, kemudian Ia mengambil sesuatu dari dalam sana dan menghampiri Grace kembali.
" ini sayang, mami sengaja masakin buat kamu. jangan lupa di makan yah.. " ucapnya seraya mengasongkan sebuah kantong yang berisikan kotak makanan kepada Grace.
sementara Grace menerimanya dengan antusias. kemudian Ia membuka kotak makanan tersebut dengan sumringah di hadapan Indri.
" wah, kayaknya ini enak.. makasih mih, pasti Grace abisin.. " ucapnya cengengesan membuat Indri tersenyum seraya mengusap kepalanya dengan lembut.
Indri merasa senang jika Grace menerima pemberiannya dengan tulus. Dia memang sengaja membuat bekal untuk Grace juga Silvie.
" sama-sama sayang, mami pulang dulu yah.. di jaga baik-baik cucu mami.. "
" siap mih, Hati-hati di jalan mih.. "
keduanya berpelukan kembali sebelum Indri meninggalkan tempat itu.
Grace melambaikan tangan menatap kepergian mobil Indri dari area kampus tersebut.
sementara Viola sedari tadi melongo keheranan menyaksikan interaksi hangat antara Grace juga Indri.
" Grace, Ibu itu siapa? perasaan nyonya Lesmana bukan itu deh, mamanya Tuan Leonard juga bukan.. lo akrab banget siapa sih.. "
" nyokapnya si Exel alias mertuanya si Silvie.. " sahut Grace.
Viola lagi-lagi melongo sebelum Ia mangut paham. " oh pantesan, lo kan adenya Exel.. " ucapnya cengengesan.
.
.
.
.
.
Silvie melirik sekilas ke arah Grace yang baru masuk ke dalam kelas itu. Dia melihat kantong yang di jinjing oleh Grace sama persis dengannya. bekal yang di buatkan oleh mertuanya tadi.
" Grace, tumben lo bawa bekel.. " celetuk Megan membuat Silvie menajamkan pendengarannya penasaran.
Grace mengangkat kantong yang dijinjingnya dengan kikuk, " oh ini , dari tante Indri, tadi ketemu di depan.. ".
seketika Silvie langsung bangkit dari duduknya. Dia meminta bertukar tempat duduk dengan salah satu teman sekelasnya.
Megan menggeleng melihat kelakuan Silvie, begitupun dengan Grace. Dia melirik ke arah Silvie, pandangan mereka tak sengaja bertemu. Grace bisa merasakan tatapan Silvie seolah penuh kebencian terhadapnya.
benar, Silvie semakin kesal dengan Grace. kenapa lagi-lagi Grace yang harus mendapat perhatian dari orang-orang terdekatnya. terlebih Silvie selalu mendengar nasihat baik dari suami maupun Ibu mertuanya yang selalu membawa nama Grace.
" sebenci itu lo sama gue Sil, seolah gue yang udah bunuh anak lo.. " gumam Grace tersenyum ketir.
Megan yang mendengar jelas gumaman Grace langsung mengusap bahu sahabatnya itu.
" sabar Grace.. " ucapnya pelan di angguki Grace.
Megan juga tidak habis pikir dengan Silvie. padahal Grace sudah suka rela membagi waktu Leo dengan Silvie ketika hamil. tapi kenyataannya ini balasan yang harus di terima Grace.
...****...
kelas sudah berakhir. Grace berjalan sendirian keluar dari fakultasnya setelah mendengar Leo sudah berada di area parkiran untuk menjemputnya.
Grace berdecak sebal melihat pemandangan di depannya. Di mana suaminya menjadi pusat perhatian para mahasiswi. padahal Leo berpenampilan sederhana hanya mengenakan kaos polos serta cela jins saja. sialnya ketampanan Leo seolah tidak ada obatnya.
" hot daddy.. "
" kayak sama keponakannya yah.. "
" gue mau juga punya suami, apalagi punya anak ganteng kaya anaknya Leonard.. "
para mahasiswi terus saja saling melempar kalimat kagum melihat Leo yang sedang menggendong si kecil sambil melihat ikan ikan yang berada di kolam dekat parkiran tersebut.
" Cio.. Cio mau tepetepe yah.. " sarkas Grace. Dia mencium si kecil yang tampak girang melihat kehadirannya.
cup. satu kecupan berhasil mendarat di pipi Grace membuatnya langsung merona.
" kenapa gak nunggu di mobil aja sih, sengaja ya mau tebar pesona.. " ucap Grace kesal.
" Cio ngadat minta keluar, dia seneng liat ikan.. " sahut Leo santai.
" ck.. alesan.. "
__ADS_1
keduanya menunda sebentar untuk pulang karena si kecil nampak masih antusias melihat ikan.
sementara di kejauhan Silvie mengepalkan tangan menatap iri keluarga lengkap nan bahagia itu.