
Calon orang tua saat ini sedang menikmati makan malam.
berhubung Lilis sedang pulang kampung, Leolah yang ambil alih semua pekerjaan rumah termasuk memasak.
Grace sangat menikmati masakan sang suami. Ia begitu lahap memakan makanannya.
Leo memang mulai pandai memasak, terlebih Ia harus mencukupi gizi untuk Grace yang sedang hamil dan pastinya dibumbui rasa cinta disetiap masakannya.
" Le.. gue heran deh sama si El, akhir-akhir ini keliatan murung, padahal kan udah di kasih lampu ijo, harusnya seneng dong.. ".
ucap Grace di tengah kunyahannya.
Leo tampak berfikir sejenak, dirinya sendiri juga merasakan hal yang sama dengan Grace.
Leo juga merasa heran dengan Exel yang akhir-akhir ini terlihat murung dan tidak bergairah. padahal sudah jelas Exel telah mengantongi restu dari Ayahnya Silvie.
Leo teringat saat Exel meminta dirinya untuk menemani meminta restu tersebut, tetapi Exel tidak terbuka mengenai alasannya untuk segera menikahi Silvie selain takut kebablasan.
drett.. drett..
saat Leo hendak menanggapi Grace, tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk.
" siapa..? " tanya Grace keheranan sebab Leo tak kunjung mengangkat panggilan tersebut.
" si kunyuk.. " jawab Leo cuek.
" angkat dulu, siapa tau penting.." ucap Grace kesal dengan ponsel Leo yang terus menerus berdering membuat aktivitasnya terganggu.
" hmm.." akhirnya Leopun mengangkat panggilan tersebut dengan mengumpat pada si penelepon sebagai pembuka.
" shittt.."
Grace di buat bingung dengan Leo yang memasang wajah kesal setelah menutup panggilan telepon barusan.
" kenapa sih..? " tanyanya heran.
Leo menghela napas dalam-dalam, " Grace, lo gak keberatan kan kalo gue harus ngurusin masalah temen gue? " ucapnya pelan merasa tidak enak terhadap istri yang saat ini harus di nomor duakan dulu.
Grace yang mengerti akan ucapan Leo mengangguk,
" hmm, pergilah.. gue gak papa kok.." timpal Grace meyakinkan.
" gak lama ko, gak papa kan di tinggal sendirian..?" tanya Leo kembali memastikan Grace tidak keberatan jika dirinya harus turun tangan mengatasi masalah sohibnya.
" iya gak papa, lagian juga Ibu katanya mau kesini.." jawab Grace yakin, mengingat dirinya baru saja mendapat kabar dari Anita yang akan menginap di sana sebab Bram sedang berada di luar kota.
Anita memang sangat antusias menyambut kelahiran sang cucu, dan malam ini bukan kali pertama dia menginap di rumah anak sambungnya. selagi ada kesempatan saat Bram sedang di luar kota, pasti Ia akan menginap takut-takut Grace kontraksi, dan Anita mau dirinya ada disisi Grace saat momen itu nanti terjadi.
setelah Grace mampu meyakinkannya, lantas Leopun bergegas pergi untuk membantu masalah sohibnya.
" nanti pulang mau di beliin apa sayang?" ucapnya saat mengenakan jaket.
" ck.. lebay lo, udah sana.." sahut Grace ketus,
" ya udah papi berangkat dulu yah sayang.." ucap Leo mengelus dan mencium perut Grace kemudian berakhir mengecup keningnya.
" hmm.. hati-hati.." ucap Grace malas.
" okeh mami.." timpal Leo seraya buru-buru keluar menghindari Grace yang hendak menghajarnya.
...----------------...
Leo bersama Ari di buat menunduk tak berkutik saat Berwin ayah dari Exel habis-habisan mencecar mereka sebab sudah lancang membantu Exel untuk melamar anak orang, sementara Berwin sendiri sudah memiliki gadis pilihan untuk anaknya.
Berwin sudah membuat janji dengan rekan bisnisnya untuk mengadakan pertemuan keluarga membahas rencana perjodohan anak mereka tepat malam ini. dan sialnya Exel malah pergi dari rumah sedari pagi setelah berdebat dengan dirinya.
__ADS_1
baik Leo maupun Ari tidak mengetahui kepergian Exel apalagi mengenai rencana perjodohan tersebut mengingat Exel tidak pernah bercerita akan hal itu pada mereka.
Ari terus mencoba mengubungi Exel namun tak kunjung di angkat, bahkan saat panggilan ke sekian kalinya nomor Exel langung tidak aktif.
sementara Leo menghubungi seluruh anggotanya dan menginstruksikan mereka untuk mencari keberadaan Exel.
Merasa sudah puas mencecar Leo dan Ari, lantas Berwin pun menyuruh keduanya pergi untuk terjun langsung mencari keberadaan Exel setelah mendapat kabar jika rekan bisnisnya sedang dalam perjalanan.
dengan langah tergesa-gesa keduanyapun segera keluar. seketika mereka terhenti di halaman saat melihat Exel tengah di bopong oleh beberapa anak Astro yang menemukannya di salah satu club malam.
keduanya sedikit bernapas lega dengan kehadiran Exel yang tepat waktu, akan tetapi melihat kondisi Exel yang saat ini sempoyongan seperti sedang mabuk membuat keduanya merasa geram.
bagaimana tidak , sedari dulu ketiganya berkomitmen tidak akan pernah bahkan mencoba mencicipi alkohol ataupun barang haram lainnya.
dan tidak hanya itu, saat ini Exel malah akan menambah masalah semakin runyam saja.
" El..El.. kenapa lo ngedadak tolol begini sih.." umpat Ari beralih membopong Exel yang masih sempoyongan.
" sebaiknya kita bawa dulu ini bocah ke tempat aman sampe sadar sebelum om Berwin tau.." ucap Leo yang turut membopong Exel.
Ari dan yang lainnya mengangguk setuju akan ide tersebut.
" minggir.. mendingan lo semua cabut.." Exel mendorong kasar kedua sohibnya.
melihat raut wajah Exel yang garang, anak-anak Astropun memilih meninggalkan tersebut, sementara Leo juga Ari masih setia mengikuti Exel yang berjalan sempoyongan masuk ke dalam rumahnya.
plakkk.. tamparan keras menghantam pipi Exel membuat sang Ibu beserta kedua sohibnya meringis, tetapi Exel malah tergelak meremehkan pelaku tamparan tersebut yang tak lain adalah ayahnya,
" udah pih.." ucap Indri ibu dari Exel yang kini bersimpuh di hadapan suaminya yang hendak menghajar kembali putranya.
" gak usah belain anak kurang ajar ini mih.. " umpat Berwin hendak melayangkan kembali tangannya pada pipi Exel namun terhenti saat salah satu pelayan rumahnya memberi tahu jika tamu yang di tunggunya sudah berada di teras depan.
deg.. kedua orangtua Exel di buat panik dengan ucapan pelayan tersebut mengingat kondisi putranya saat ini sedang mabuk, sudah tentu itu akan membuat malu.
begitupun dengan kedua sohib yang posisinya saat ini maju kena mundur kena. sementara Exel malah menyeringai melihat yang lainnya panik.
" berhenti bersikap berandalan anak bodoh.." Berwin mencoba mencegah langkah Exel dengan menarik kerah jaketnya.
lagi-lagi Exel menyeringai meremehkan ayahnya, " baru tau gue anak berandalan..? oh lupa gue kalo bokap gue terlalu sibuk sama bisnisnya.." ucap Exel dengan suara khas orang mabuk seraya menepis kasar tangan sang Ayah.
" stop bodoh..! " Berwin melarang Exel untuk membuka pintu.
terlambat.. pintu sudah terbuka lebar.
" selamat malam.."
deg.. semuanya kompak terbelalak
" tuan takur.. " ucap Ari spontan mendapat sikutan dari Leo.
" malam tuan Shaw.. mari silakan " ucap Berwin gelagapan.
" nama ama muka kagak ada nyambung-nyambungnya.." gumam Ari yang hanya terdengar oleh Leo dan langsung menginjak kakinya.
" Tuan Shaw hanya sendiri kesini..? kemana istri juga putri anda Tuan?" tanya Indri untuk mencairkan suasana saat semuanya sudah duduk dengan apik.
Shaw yang sedari tadi tak lepas memandangi Exel yang terlihat berantakan, kini tergelak membuat orangtua Exel mendongak kebingungan.
" itu dia, maksud saya kesini karena putri saya menolak rencana kuno ini.. dan saya berniat mem.."
" gak..!!! El gak mau perjodohan ini di batalin.. " Exel buru- buru bersimpuh di hadapan kedua orangtuanya yang semakin di buat kebingungan sebab sudah jelas putranya itu menolak mentah-mentah perjodohan ini.
berbeda dengan kedua sohib yang bingung dengan Exel yang tampak segar dan sumringah tidak sempoyongan lagi.
" besok ya Om.. " kini Exel beralih bersimpuh di hadapan Shaw dengan raut wajah yang dibuat semenggemaskan.
__ADS_1
Shaw di buat tergelak kembali dengan tingkah Exel yang tidak ada kesan coolnya itu, dan Berwin hendak membawa putranya untuk pergi ke kamar sebab menurutnya Exel akan semakin mempermalukan dirinya dihadapan Shaw dengan kondisi mabuk seperti itu.
seketika niatnya terhenti tatkala Shaw menepuk dan mengelus kepala Exel, " anak pintar.." ucap Shaw terkekeh.
" anjing pintar.." gumam Ari yang muak melihat adegan di hadapannya bak majikan dengan hewan peliharaannya yang menggemaskan.
Leo yang mendengar gumaman Ari ikut mengangguk setuju, sebab dirinya merasa di kerjai oleh sohibnya yang pura-pura mabuk.
" jadi sebenarnya anaknya tuan Takur.." seketika Ari langsung memukul mulutnya setelah mendapatkan sorotan tajam dari Exel dan injakan maut dari Leo.
" Om, tante.. jadi anaknya Om Shaw itu pacarnya El.." Leo melanjutkan ucapan Ari sebab melihat kebingungan diantara kedua orangtua Exel.
" benarkah itu anak bodoh..?" tanya Berwin memastikan.
" jangan kau sebut menantuku bodoh tuan.. seharusnya kau beri dia apresiasi dengan nyalinya yang tinggi sudah berani melamar putriku tanpa di dampingi walinya.." sahut Shaw seraya merangkul Exel untuk berdiri lalu memeluknya.
" iri gak? iri gak? iri lah masa enggak.. " ejek Shaw pada calon besannya yang terlihat melongo cengo.
" iri..? bilang boss.. " Shaw mengajak Exel hivi.
" anying.. masih sempet aja ngelawak.. " gumam Ari bergidik.
...----------------...
Calon besan masih berada di ruang tamu melanjutkan perbincangan mengenai acara pernikahan anak mereka yang rencananya akan di gelar esok hari.
Sementara Exel saat ini sedang menjadi bahan amukan kedua sohibnya di kamar.
" jawab sialan.. lo tadi beneran mabuk gak haahh? " tanya Ari untuk kesekian kalinya yang kini memiting kepala Exel dibalik ketiaknya.
" kagak lah gila.. gue cuma minum soda.. " jawab Exel enteng tanpa beban.
" terus lo tadi ngapain belagak mabuk bodoh.. " umpat Leo yang beralih memiting Exel.
" tadinya biar camer gue ilfeel dan batalin rencananya.. " timpal Exel pasrah.
" ko bisa badan lo bau amer? " tanya Leo merasa heran karena sempat yakin jika Exel benar-benar mabuk.
" anak buah si Soni.. "
belum selesai Exel menjelaskan, dirinya kembali mendapatkan jitakan yang menghujani kepalanya dari Leo dan Ari yang geram.
" temen laknat lo.. " umpat Ari.
" udah sono lo pada cabut gue mau luluran.. " ucap Exel santai.
" ck.. calon manten yang menari di atas penderitaan orang lo.. " umpat Ari di angguki oleh Leo yang sama kesalnya.
...----------------...
Leo sudah tiba di rumahnya. meskipun rasa penatnya terbayar oleh istri yang setia menunggunya di ruang televisi, tetapi Leo tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
" kenapa mukanya kusut begitu? " tanya Grace setelah Leo mencium keningnya.
" biasa.. abang abangan lo noh penipu yang ulung.. " sahut Leo seraya mendudukkan dirinya di sofa ruangan tersebut.
" maksudnya gimana? " tanya Grace bingung.
Grace di buat tergelak setelah mendengar penuturan dari Leo yang menyatakan jika Exel sukses membuat kedua sohibnya merasakan perasaan campur aduk antara kasian, takut, dan khawatir menjadi satu.
" Ibu mana? " tanya Leo menghentikan Grace yang terus mengejeknya dengan mengatai payah sudah tertipu oleh sandiwara Exel.
" di atas udah tid.. "
ucapan Grace terjeda tatkala wajah Leo semakin mendekat dengan wajahnya, dan..
__ADS_1
cup.. Leo berhasil mencium bibirnya sekilas, kemudian beralih ke perutnya seraya membisikan sesuatu,.
boy.. papi boleh berkunjung gak?