Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 121


__ADS_3

" ini enak banget.. " seru Exel membuat Grace yang tengah menatap kosong ke depan langsung menoleh ke arahnya.


" ck.. cuma kopi kemasan tinggal seduh pake air panas aja-"


" gue gak pernah ngopi, ternyata enak juga.. " sela Exel.


Pria itu tersenyum senang menyeruput kembali kopi yang dibuat oleh Grace untuknya. mungkin juga karena dirinya yang jarang sekali mendapat perhatian dari Silvie hingga sekarang Exel merasa senang dengan apa yang di lakukan Grace terhadapnya.


" makasih Grace.. " lanjutnya.


sementara Grace menggeleng mendengus kesal. Exel terkesan berlebihan,


" lo gak suka kopi, tapi di dapur banyak banget rencengan kopi.. "


" itu anak astro yang bawa, gue pikir buat mereka pada nongkrong.. semua bahan makanan sama keperluan yang laen itu mereka yang bawain.." sahut Exel seraya meletakkan cangkirnya di atas meja.


Grace mengangguk paham dengan senyuman terpatri di wajahnya.


" mereka tau kalo lo orang baik El, lo selalu nolongin siapa aja yang lagi kesusahan, sekarang saatnya semua bales kebaikan lo.. " batinnya.


Keduanya kemudian menatap ke arah si kecil yang tengah asik merangkak di teras rumah tersebut. tidak ada lagi percakapan sampai beberapa menit kemudian, hingga si kecil merangkak menghampiri Exel, lalu mencoba berdiri dengan berpegangan pada kaki Exel.


Exel tersenyum senang kala si kecil merambat ke arah meja, tangannya mulai nakal mengacak kue yang berada di sana.


" Cio mau ini..? " ucapnya seraya mengacungkan sepotong kue. Exel merasa senang dengan kehadiran si kecil ditengah kesepiannya.


begitupun dengan sikap Grace yang sempat Ia pikir wanita itu akan menjauhinya. Grace benar-benar melupakan masalahnya. Grace tampak perduli dan memperhatikannya. wanita itu bahkan menyempatkan untuk membuatkannya kopi juga kue.


sederhana, namun bagi Exel itu sangat berkesan sebab Dia tidak pernah diperlakukan sebaik itu oleh istrinya sendiri.


" entar ultahnya Cio sekalian sama pesta adeknya..? " tanya Exel seraya mengamati si kecil.


Grace mengangguk tersenyum. wanita itu menghela napas dalam membuat Exel beralih menatapnya.


" ada apa..? " tanya Exel menatap Grace heran. Dia menunggu jawaban Grace yang kini terlihat gusar.


Grace menggigit bibirnya ragu sebelum mengatakan apa yang mengganggu pikirannya kepada Exel.


" gue harap sebelum acara kehamilan sama ultahnya Cio di gelar, keadaannya udah baik-baik aja.. " ucapnya. kemudian Grace menghela napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.


" Gue mau kalian kayak dulu lagi El, gue mau lo bisa ajak si Silvie buat dateng ke acara Cio.. "


mendengar itu, Exel membeku seraya menelan ludahnya kepayahan sebelum akhirnya Ia mengangguk pelan.


" gue bakalan usahain buat lo-"


" no.. tapi buat kalian.. " sela Grace.


Exel mengangguk seraya tersenyum. Grace benar, ini semua untuk kehidupannya. dia akan berusaha memperjuangkan Silvie kembali seperti dulu walaupun terdengar mustahil, tetapi Ia akan mengusahakannya.


Exel kembali beralih menatap si kecil setelah mendengar bayi itu berceloteh. seketika matanya terbelalak kala melihat si kecil melepaskan genggaman tangannya.


" woah.. anak gue udah mau lari.. " Exel langsung beranjak dari duduknya, kemudian menghampiri si kecil yang sedang berdiri tegak, si kecil berceloteh seraya menggerakkan kedua tangannya seolah pamer kemampuannya kepada Exel, membuat pria itu tergelak dengan tingkah gemasnya.


sementara Grace tersenyum menatap keduanya dengan nanar.


" lo udah ngelewatin banyak momennya El.. "


bluggg.. suara benda jatuh membuat Exel juga Grace kompak menoleh kearah suara tersebut.


" Silvie.. " gumam Grace terkejut melihat kehadiran sosok perempuan yang baru saja menjatuhkan barang terebut.


Grace terlihat panik seolah dirinyalah yang bersalah di antara hubungan mereka. kemudian Ia segera bangkit hendak mengejar Silvie yang tiba-tiba menghilang itu. namun langkah Grace terhenti ketika Exel mencekal lengannya.


Exel menggelengkan kepalanya membuat Grace menyerit heran.

__ADS_1


" gak usah.. " ucap Exel santai membuat Grace menggeleng kesal.


" enak banget lo bilang gak usah.. yang ada dia makin benci sama gue sialan.. "


" percuma kalo lo kejar, dia lagi emosi.. -"


ucapan Exel terhenti kala melihat Grace menghentakkan kakinya masuk kedalam rumah membuatnya menggeleng mengulum senyuman.


...****...


" menjijikkan, gue benci sama lo berdua.. "


Silvie memaksa kakinya untuk pergi dari sana, kemudian Dia melajukan kembali mobilnya dan segera pulang.


sepanjang perjalanannya, Silvie menangis terisak mengingat kejadian tadi. Dia memukul kemudi penuh emosi ketika berhenti di persimpangan jalan.


" gue juga bisa ngasih anak buat lo.. " ucap Silvie seraya mengelus perutnya yang kembali datar itu.


tiba-tiba wanita itu tergelak sejadi-jadinya dengan wajah yang menyeramkan.


" yah, gue masih bisa punya anak.. "


.


.


.


.


perasaan sedih kembali datang setibanya Silvie di rumah. Dia menatap selembar poto USG calon anaknya dulu dengan mata yang memerah


" seandainya masih ada kamu di disni nak.. " gumamnya lirih seraya mengusap perutnya.


Silvie kemudian mengusap pipinya yang basah. Wanita itu kini merasakan sesak ketika bayangan Grace tiba-tiba hadir di benaknya. Dia berpikir Gracelah penyebab semuanya ini, terlebih kali ini Ia harus menerima kenyataan bahwa Exel terlihat tidak berusaha mengejarnya tadi.


...***...


sore harinya suasana di sekitar kediaman Exel tengah riuh karena kehadiran sosok Pria berpenampilan gagah dengan setelan jasnya.


Leo, pria tersebut turun dari mobilnya dengan supir kantor yang membukakan pintu untuknya. mobil tersebut berhenti tepat di depan sekumpulan Ibu-ibu yang tengah bergosip ria.


pria tampan itu membuka kacamata hitamnya membuat orang yang di sana menganga tak mengedipkan matanya.


" kalo gitu saya permisi Tuan.. " ucap sang supir seraya membungkukkan badannya di hadapan Leo.


" hmm.. hati-hati.. " sahut Leo terdengar dingin.


" baik tuan.. "


Leo melangkah dengan sedikit merengkuh melawati orang-orang yang masih menganga itu.


" busettt dah gantengnya bikin ngiler.. " celetuk salah satu ibu-ibu di angguki yang lainnya setuju.


sementara Leo terus melangkah tanpa memperdulikan bisikan bisikan tersebut. Dia memasuki area halaman rumah dimana di sana terparkir mobil yang di kenalnya membuat Ia tidak susah payah mencari rumah yang ditujunya.


senyuman terbit diwajahnya kala melihat si kecil keluar bersama Exel.


" ck.. Cio gak mau papi gendong? " ucapnya sok kesal sebab si kecil menolaknya dengan berpegangan erat pada leher Exel.


" Cio betahan sama uncle yah.. " ejek Exel seraya terkekeh.


sementara Leo tersenyum miring. wajahnya menyeringai,


" ck duren bodong buronan emak-emak. . " sahutnya santai membuat Exel mendesah kesal.

__ADS_1


" mami mana boy..? "


" molor.. " sahut Exel ketus.


Leo tampak menaikan sebelah alisnya menatap Exel heran. sementara pria yang di tatapnya kini menghela napas dalam.


" bini lo lagi merajuk.. " ucap Exel. kemudian Ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi.


" lo sendiri kenapa gak ngejar bini lo? " tanya Leo setelah mendengarkan cerita Exel.


" buat apa..? "


" ya buat jelasin lah.. "


" ck.. jelasin apaan? kalo gitu, seolah kita yang salah.. terus dia makin besar kepala... "


" yah, lo gak mikir kalo bini gue korban lo berdua.. " sahut Leo kesal seraya meninggalkan Exel begitu saja.


kemudian Leo masuk dan menghampiri Grace yang tengah terlelap di dalam salah satu kamar rumah tersebut.


Pria itu duduk di tepi ranjang, menatap Grace yang terpejam dengan sedikit menganga.


diusapnya rambut Grace dengan pelan. " sayang.. " bisiknya membuat Grace menggeliat.


cup.. satu kecupan di bibir Grace membuat wanita itu langsung membuka matanya.


" Leo.. " Grace langsung memeluk suaminya secara tiba-tiba.


Leopun menyambut pelukan Grace seraya mengelus rambut panjang istrinya itu. kemudian Dia menangkup wajah Grace.


" ayo pulang.." ucapnya seraya merapikan helaian rambut yang menutupi wajah Grace.


Leo bertingkah seolah Ia tidak mengetahui apa yang tengah terjadi pada istrinya.


begitupun dengan Grace, wanita itu tidak akan bercerita kepada Leo, dia tidak ingin merusak momen kedua sohib yang sedikit ada kemajuan itu.


kedua manik mata tengah saling menatap satu sama lain.


Grace sangat terpesona dengan ketampanan Leo. walaupun penampilannya tak serapi tadi pagi saat Dia melihatnya ketika hendak berangkat kerja, tetap saja itu tidak mengurangi daya tarik suaminya.


sama halnya dengan Leo yang sangat suka wajah istrinya ketika bangun tidur, sangat menggemaskan.


" iler noh.. " celetuk Leo membuat Grace mengerjapkan matanya. istrinya itu terlihat memajukan bibirnya sebal. dan Leo suka itu, Iapun tergelak melihat ekspresi istrinya.


sementara Grace dengan sengaja menyusupkan wajahnya kembali ke dada bidang Leo dan berlagak mengelap mulutnya dengan jas suaminya.


Leo terkekeh sambil mengacak gemas rambut Grace.


" semua bakalan baik-baik aja Grace.. " batinnya lirih.


Lagi-lagi Leo merasa kesal dengan Exel. baginya sohibnya itu tetaplah seorang pecundang. bagaimanapun juga Ia tidak rela jika harus kembali melihat istrinya sedih akibat ulah mereka.


" nanti beli dulu kebab yah.. " ucap Grace dengan nada manja.


Leo mengangguk tersenyum.


" baiklah apa si yang nggak buat istriku yang cantik.. "


" ish.. ini anak kita yang mau tau.. " sela Grace mengelak. pipinya merona kala mendengar kalimat lembut dari suaminya.


" hmm oke oke, cantiknya papi yang mau yah... " sahut Leo seraya mengelus perut Grace.


setelah semuanya siap, merekapun keluar menghampiri si kecil yang anteng bermain dengan Exel.


" ayo Cio pulang, pamit dulu sama uncle.. " ucap Leo. pria itu tampak menormalkan kembali ekspresinya ketika menatap Exel.

__ADS_1


" dan lo El, besok sebelum jam tujuh, lo harus usahain tiba di bengkel.. gue gak mau tau.. "


__ADS_2