
" coba lo liat, nomornya sama gak..?" Grace menunjukan ponselnya kepada Ari untuk memastikan sama atau tidaknya orang yang selalu mengirimkan pesan kepadanya juga. kali ini Grace mencoba terbuka, tidak ada yang perlu Ia sembunyikan lagi baik dari suami maupun sohibnya, tentunya Ia belajar dari pengalaman, sekecewa apa Leo kala itu ketika dirinya tidak terbuka.
" lo berdua dapet pesan, bini gue tiap hari dapet kiriman bunga.." celetuk Exel kala Grace dan Ari sedang fokus mencocokan nomor tersebut. pada akhirnya Exelpun terbuka akan apa yang dialaminya akhir-akhir ini setelah Grace terbuka juga.
" ya itu wajarlah, bini lo kan can-" sahut Ari langsung terhenti dan kembali fokus dengan ponsel milik Grace setelah mendapat tatapan tajam dari Exel.
" ck, bunga bakal apaan, kalo tiap hari kirimin sembako baru oke.." gumam Exel namun terdengar jelas oleh mereka semua sampai dibuat menggeleng terkekeh.
" beras masih aman El.?." celetuk Leo tiba-tiba saja mulut julidnya kumat membuat yang lainya kembali terkekeh tak terkecuali istrinya sendiri. Sementara Exel langsung mendelik sebal,
" tinggal seleter puas lo...?" sahut Exel ketus, sialnya sohib laknatnya malah terus terkekeh mengejeknya.
Exel nampak berpikir sejenak, kemudian satu senyuman manis terbit dari wajah tampannya khusus untuk Ari sohibnya, tiba-tiba saja dia terpikirkan akan sesuatu.
" Ri, gimana kalo gue usaha kelontong aja, kaya madura mart yang warungnya rapih itu.."
" bangsat, lo malah bahas itu lagi, gue bilang entar ya entar sialan.." sahut Ari kesal, namun bukan karena Exel menagih janjinya, tetapi sikap yang ditunjukan sohibnya itu sungguh menggelikan.
Sementara Grace dan Leo kompak menyerit bingung dan tak paham apa yang tengah d bahas dua manusia itu,
" lo berdua bahas apaan dah, pake bawa kelontong segala.." ucap Grace penasaran.
" itu si kampret mau buka usaha sendiri katanya, ya udah gue dukung dong ya-"
" tapi modalnya kagak diacc juga.." sela Exel sewot dan langsung mendapat toyoran dari Ari dengan gemasnya. Ya, mungkin hanya Ari yang tidak menyukai wajah so imut sohibnya itu.
" ya sabar lah anying.." timpal Ari tak kalah sewotnya.
" ehem, lo gak perlu bikin proposal El, gue acc sekarang nih.." celetuk Leo tiba-tiba, pria itu mengeluarkan ponselnya dan langsung menampilkan menu m-banking dihadapan mereka.
Sontak saja Exel tersenyum sumringah, sementara Ari langsung melotot dan mencekal tangan Leo yang hendak mengetikkan nominal di ponselnya. Berhasil, Leo berhasil mengompori sohibnya itu.
" sialan, gak asik lo so keren.." ketus Ari yang pada akhirnya melakukan apa yang hampir dilakukan Leo barusan, yakni mengirim modal untuk Exel sohibnya. " seneng lo yah.."
Exel mengangguk tersenyum sumringah kala melihat ponselnya yang baru saja mendapat notifikasi itu, nominal yang dikirimkan Ari untuknya sangat tidak main-main. maka dari itu Ia akan mempergunakannya dengan baik dan bijak.
" makasih ayahnya Ray.." ucap Exel lembut dan tulus, bahkan Pria itu tak segan mencium pipi Ari hingga sohibnya itu melotot sempurna.
" cih, anying.. najis, najis, najis cuihhh.." Ari benar-benar frustasi dengan tingkah Exel, dia langsung mengelap pipi dan menghilangkan bekas bibir sohibnya itu dengan kasar.
" alah sosoan nolak, anggep aja ngaplus bundanya Ray-"
" ya tapi gak sama lo juga bego.." sela Ari sambil menoyor kepala Exel.
" terus sama ayam kampus gitu.."
" ih najis, Le urus nih si kampret ngapa ngedadak kek ulet bulu gitu sih.." ucap Ari seraya menuding kepala Exel dan menatap Leo penuh permohonan. Matanya sampai berkaca-kaca saking frustasinya dengan Exel yang kini hendak menyosor pipinya lagi.
" El.." panggil Leo dingin sambil menjentikkan jemarinya membuat Exel menoleh dan langsung menormalkan ekspresinya kembali, stay cool.
Dan Ari, pria itu mengelus dadanya lega. Ternyata hanya dengan aura yang di tunjukan Leo berhasil mengultimatum Exel.
Sementara Grace, dia menggeleng jengah melihat kelakuan suami beserta kedua sohibnya itu. terlebih dengan Exel, gara-gara pria itu pembahasannya malah melenceng kemana-mana.
" gimana Ri, sama kagak..?" ucapnya pada Ari hingga membuat pria itu menepuk jidatnya cengengesan dan kembali mengamati ponsel milik Grace.
" lo pada ngerasa aneh gak sih, kek ada orang yang sengaja bikin rumah tangga kita-kita pada kacau.." ucap Grace kembali mengira-ngira, dan langsung di angguki yang lainnya yang nampak berpikir ke arah sana juga.
" beneran sama anjir.." celetuk Ari tiba-tiba heboh membuat yang lainnya ikut penasaran, tak terkecuali dengan Exel yang langsung menyambar ponsel Grace dari tangan Ari.
seketika mata Exel langsung melotot horor, dia mengeraskan rahangnya kuat kala mengetahui siapa pemilik nomor tersebut, yang tak lain adalah orang yang sangat berpengaruh di hidupnya.
" shittt.. Gue tau nomer itu.." ucapnya dingin membuat pria yang duduk disampingnya, kini menelan ludahnya kepayahan. Siapa lagi kalau bukan Ari, dia mendadak gemetaran kala Exel yang dari tadi so imut, sekarang benar-benar menunjukan jatidiri yang sebenarnya, buas.
" lo tau..? Siapa El..?" tanya Grace penasaran.
Exel tidak menjawab, dia malah bangkit dari duduknya dengan kasar membuat yang lainnya terlonjak kaget.
" El.. mau kemana lo..?" teriak Ari bingung kala Exel melangkah pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
" kejarlah anying.." celetuk Leo sambil menoyor kepala Ari hingga pria itu menganga melihat Leo dan Grace sudah bangkit dari duduknya juga.
...*...
" hadeuh perasaan gue jadi tiba-tiba gak enak gini ya, tuh anak ngapa gak nongol-nongol sih.." ucap Megan gelisah karena Grace tak kunjung kembali ke kelasnya.
" lo sih pake ninggalin dia gara-gara gengsi ketemu sama laki lo.." sahut Silvie kesal.
" ya sorry, lagian gue juga beneran kebelet kali.." timpal Megan tanpa dosa, Dia tampak menghubungi ponsel Grace berulangkali, namun sahabatnya itu tak kunjung mengangkatnya.
Baik Silvie maupun Megan kini sama sama menggigit jarinya khawatir dengan Grace. Ah bukan karena khawatir dengan diri Grace, mengingat mereka tau betul jika sahabatnya tengah bersama Leo dan juga suami mereka. pasalnya Grace mengantongi flashdisk berisikan tugas mereka yang harus di kumpulkan sekarang .
" mampus Me.. Mampus.."
" lo berdua cari si Grace.." celetuk salah satu teman sekelas mereka yang tampak ngosngosan membuat keduanya mengangguk.
" gue liat si Grace pergi sama Leonard sama laki lo Megan, kayak buru-buru gitu ngejar si Exel, tau dah pada kemana.."
" kuy.." tanpa babibu lagi Megan bergegas pergi dari kelasnya dengan menyeret lengan Silvie, dia berniat bolos juga, toh tugasnya juga ada pada Grace pikirnya.
.
.
Keduanya sudah berada di parkiran,
" nih pake helm gue aja.." titah Megan menyodorkan helm miliknya kepada Silvie sebelum sahabatnya itu melayangkan protes.
Silvie mengangguk patuh dan mengenakan helm milik Megan karena helm miliknya terbawa oleh Exel.
" ini tujuan kita kemana Me.?" tanya Silvie yang sudah duduk di jok belakang motor Megan.
" ya kemana lagi kalo gak ikut ngejar mereka.." sahut Megan santai.
" emang lo tau mereka kemana?"
" cih, dahlah kita balik ke rumah lo aja, gue kangen sama Ray.. kasian tuh anak ema bapaknya lagi ribut.. Lo berdua ributin apaan sih..?"
Seketika Megan langsung menepikan motornya di bahu jalan membuat Silvie terkejut. Megan menghela napas panjang sebelum menceritakan apa yang di alaminya itu kepada Silvie, dan bukan tanpa alasan Ia menepikan motornya terlebih dulu, mengingat sahabatnya yang satu ini selalu terkesan lambat dalam mencerna ucapannya alias lemot.
sama dengan yang lainnya, Silviepun tergelak kala mendengar cerita dari Megan, namun pada akhirnya Ia berhenti kala mendapat sorotan tajam dari sahabatnya itu.
" yaudah coba gue liat nomor yang ngirimin lo pesan itu Me, jadi penasaran gue.." pinta Silvie membuat Megan menyerahkan ponselnya.
dan lihatlah, Silvie langsung terbelalak menutup mulutnya tak percaya kala mengetahui siapa pemilik nomor tersebut. dan otaknya seolah bekerja dengan baik untuk menghubungkan ucapan teman sekelasnya tadi mengenai Grace dan yang lainnya mengejar Exel.
" gue tau mereka pergi kemana.." ucap Silvie terdengar lirih membuat Megan menyerit bingung, kenapa tiba-tiba Silvie tampak murung.
" kalo gitu lo yang bawa aja cong.." dengan santainya Megan turun dari motornya dan membiarkan Silvie untuk mengendarainya.
" oke lets go.."
...***...
Disini sekarang Exel berada. Dia berdiri di hadapan gedung sebuah perusahan ternama. tempat di mana Ia pernah mengais rejeki untuk menghidupi istri kesayangannya.
" lo jangan gila El.." Ari langsung turun dari motornya sambil membuka helmnya dengan paksa. Begitupun dengan Leo dan Grace, mereka langsung menghampiri Exel.
Ketiganya berhasil mengejar Exel yang membawa motor dengan kecepatan tinggi. Pria itu benar-benar kesetanan di kuasai amarah dan juga rasa kecewa tentunya untuk orang yang selama ini sudah mengusik kehidupan rumah tangga kedua sohibnya.
" anjir si El udah kek mau ngajak tawuran aja.." celetuk Grace diangguki setuju oleh Ari.
" tau tuh anak nemu dimana itu tongkat.." sahut Ari heran kala melihat Exel menyeret tongkat besi di lengannya.
Sementara Leo, dia tidak tinggal diam untuk mencegah aksi Exel yang takutnya membahayakan orang sekitar. Terlebih beberapa para pegawai kantor tersebut sangat mengenal Exel dan juga dirinya sebagai pengusaha bukan sebagai berandalan seperti penampilannya sekarang.
" lepas anjing.. Gue harus bikin perhitungan sama si tua bangka.." ucap Exel menggebu kala Leo mencoba merebut tongkat besi di lengannya.
" lo jangan aneh-aneh El.." berhasil, Leo membuang tongkat besi itu ke sembarang arah dan langsung membawa Exel kedalam dekapannya agar sohibnya itu sedikit lebih tenang.
__ADS_1
Jangan tanyakan bagaimana Grace dan Ari saat ini, sudah pasti keduanya bergidik geli bahkan rasanya ingin hilang saja dari muka bumi ini saat itu juga.
" uwwu sekali si anying.."
" yoi, bini sendiri mah lewat.."
.
.
.
Merekapun memasuki gedung tersebut dengan Leo yang berada di depan dan tentu saja para pegawai yang melihat kehadirannya langsung membungkuk hormat kepada pengusaha muda tersebut.
" selamat siang tuan Leonard, apa ada yang bisa saya bantu Tuan.." ucap sang resepsionis kala Leo menghampiri meja tersebut bersama Exel yang masih setia Leo rangkul pinggangnya agar sohibnya itu tidak kabur atau bahkan bertindak aneh lagi.
Sementara Ari dan Grace berdiri tidak jauh dari keduanya. Mereka tampak jengah dengan sikap yang Leo tunjukan terhadap Exel.
" vibesnya kek BL mau cek-in, ya gak? Si Leo same, si El uke.." bisik Ari berniat menggoda Grace dan sialnya Ia langsung mendapat injakan maut dari wanita itu.
" oh shittt, setelah sekian bulan purnama merindu kelap-kelip bintang di langit yang biru sebiru hatiku.." Ari terus saja meracau kemana-mana, injakan yang didapatnya benar benar sakit bukan main. dan Grace dengan santainya Ia menginjak kaki Ari yang sebelahnya lagi hingga membuat pria itu kembali meringis dan meracau berlebihan.
" berisik lo pake bawa-bawa kaum sodom segala, gue colok lubang septitank lo pake tongkat besi tadi mau gak..?"
sontak saja Ari langsung menggeleng menolak, membayangkannya saja Ia bergidik merinding apalagi harus mengalaminya.
.
.
.
" apa Tua Shaw ada di ruangannya?" tanya Leo tanpa menatap lawan bicaranya dan itu berhasil membuat sang resepsionis menunduk gugup.
" Tuan Shaw sedang kedatangan tamu Tuan.." sahut si resepsionis sambil melirik Leo dan Exel secara bergantian.
Tanpa menyahuti dan malas berbasa-basi lagi, keduanya langsung menuju ruangan Shaw bersama Ari dan Grace yang mengikuti dari belakang.
Setibanya di depan ruangan Shaw, dengan tidak sopannya Exel membuka pintu ruangan tersebut tanpa memperdulikan ayah mertuanya yang sedang menerima tamu sekalipun itu tamu penting. Persetan, yang pasti dia sangat kecewa dengan ulah mertuanya itu.
" dugaan yang tepat.." celetuk Shaw dengan santainya tersenyum menyambut kedatangan rombongan itu.
Exel yang nampak ngosngosan tiba-tiba di buat tercengang kala melihat siapa tamu yang sedang menyambangi ayah mertuanya itu. Begitupun dengan yang lainnya hanya bisa menunduk dan segera menyalami kedua pria tua itu.
" papi.." lirih Exel masih berdiri mematung sambil menatap ayahnya yang sudah sangat lama tak berjumpa dengannya setelah kejadian pengusiran itu.
Segera Exel menormalkan kembali ekspresinya. Jujur, ingin sekali rasanya Ia memeluk sosok pria tua itu, namun di tidak ingin terlihat lemah di hadapan semuanya. Dia juga harus ingat tujuan awal menyambangi tempat itu yang tak lain untuk memberi perhitungan kepada si pengusik yang tak lain adalah ayah mertuanya.
" kalian mau tau siapa dalang di balik prang ini..?" celetuk Shaw seolah paham tujuan mereka kesini.
" what, prang..? Enteng banget ya tuan takur ngeprang ampe gue puasa kuda kudaan sama bini gue.." gumam Ari kesal namun terdengar jelas oleh semuanya.
" papimu El.." celetuk Shaw kembali sambil menunjuk Berwin dengan santainya.
" what the f**k.." Ari dengan lantangnya. hari ini Dia benar-benar di bikin frustasi oleh Exel, ini lagi malah di tambah dengan ayah dari sohibnya itu.
" lagian kalian anteng anteng banget sama rumah tangga kalian yang sederhana itu.." timpal Berwin dengan santainya memberikan alasan mengapa bisa mengerjai mereka.
Tau ekspresi Ari saat ini?
" harusnya seneng dong anaknya adem ayem.. Tau ah anjing gue pusing.."
Drettt..
" si kermi pingsan.."
Lagi, Ari hampir menangis saking frustasinya.
" ini lagi yang ngeprang.."
__ADS_1