Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 162


__ADS_3

Hari sudah sore, bertepatan dengan Exel yang baru selesai dengan pekerjaan yang menurutnya sangat melelahkan. padahal Grace sudah membantunya terlebih dulu dengan membongkar seluruh tangki dari tiga motor tersebut.


" lo cuma tinggal ngeringin tangkinya doang, lama banget dah.. " begitulah kiranya ejekan dari Grace saat menyuruhnya makan siang. dan Exel mengakui kepayahannya dalam bekerja, terlebih harus melakukannya dengan manual tanpa peralatan seperti biasanya di bengkel.


selain kemampuannya yang sedikit kurang, Exel juga terganggu dengan kehadiran dua keponakan kesayangannya yang membuat pekerjaannya baru tuntas sepetang ini. itu juga karena para pengasuh berhasil membujuk dua malaikat kecil untuk segera mandi. jika tidak, entah sampai kapan pekerjaannya akan selesai atau malah akan berujung membawanya ke bengkel. Grace bisa semakin besar kepala mengejeknya, jika itu benar-benar terjadi.


" udah selesai Den..? " tiba-tiba Lilis menghampiri Exel yang tengah membereskan peralatannya.


anggukan ramah sebagai jawaban dari Exel yang nampak kelelahan membuat Lilis bersiul dan menjentikan jemarinya kepada dua sosok yang berdiri di belakangnya.


" biar kami bantu Den.. " seru Ida penuh semangat ikut berjongkok di dekat Exel membuat Lilis berdecak kesal muak akan kelakuan juniornya itu, Ida selalu tak paham dengan peringatan yang selalu Ia serukan jika Pria dihadapannya itu spesies yang sama dengan Tuannya, masih saja cari muka.


sementara Ratna terkekeh pelan penuh kemenangan, katakanlah Dia tega membayangkan sehabis ini temannya akan menjadi korban sang komandan, lagi. memang sejak kehadiran Ida di rumah sana membuat posisi Ratna aman dari ocehan Lilis.


" Den Exel biar makan dulu.. ini semua biar kita beresin.. " celetuk Lilis terkesan mengusir Exel, ah tidak.. Dia berupaya menjauhkan Exel dari Ida, karena Ia yakin jika Pria itu merasa tidak nyaman. namun terlepas dari itu semua, Lilis juga memang sudah menyiapkan makanan untuk Exel sebagai bentuk terimakasih, bagaimanapun juga, motor yang dikerjakan Pria itu merupakan miliknya.


Exel mengangguk antusias, padahal Ia masih kenyang dari makan siangnya, terlebih sedari tadi Wanita dihadapannya menyuguhkan minuman juga cemilan untuknya.


" hmm, makasih Bi.. " sahutnya sambil berdiri. entah terimakasih untuk hal apa, namun kali ini Ia merasa terselamatkan dari tatapan puja Wanita dihadapannya.


Lagi, Ratna terkekeh penuh kemenangan menghampiri Ida yang ternganga menatap punggung kepergian Exel. lantas Ratnapun menepuk pelan bahu temannya agar bersabar, ah.. lebih tepatnya Ida harus menyiapkan diri sama seperti dirinya yang langsung menutup telinga.


" Idaaaa...!!!! " tepat sekali, sang komandan sudah berteriak dan tak segan menjewer kuping Ida membuat wanita itu meringis kesakitan.


" lain kali biarin Den Cio sama Non Gwen masukin air ke sini.. "


entah setan apa yang merasuki Lilis sehingga berani melebarkan daun telinga yang memerah itu, telinga yang tidak pernah mendengar dan kepala yang tidak mampu mencerna setiap peringatannya.


" ampun Mbok.. kapok..besok gak ulangi lagi.. janji. "


bukannya luluh, Lilis malah semakin kesetanan dengan mengeratkan cengkeramannya dan bergantian ke telinga sebelah. sedangkan Ratna tidak bisa menolong temannya selain berdoa takut di jadikan sasaran juga oleh Lilis. kembali Ia menyiapkan diri dengan membuka mulutnya dan bersiap menirukan gaya bicara sang komandan.


" endasmu kapok..!!! "


...-------...


sementara di dalam Tuan rumah sedang menikmati waktu luangnya yang langka, mengingat keduanya selalu sibuk setiap harinya baik untuk kuliah maupun bekerja.


" mami cantik.. " seru Lucio di angguki setuju oleh Gwen. keduanya sama-sama memuji kecantikan sang Ibu. Namun yang dipuji malah menguap malas, seolah tahu kedua anaknya itu hanya mencari aman agar tidak mendapat omelan darinya.


" mami memang selalu cantik.. tanyain aja sama papi, iya kan sayang..? " ucap Grace menekankan kata sayang berharap Pria tengah duduk di sofa sana mengiyakannya. karena memang kalimat itu selalu keluar dari mulut Leo sebagai senjata jika sewaktu-waktu Grace merajuk.


" hmm.. mami selalu cantik.. " sahut Leo tanpa menoleh, bahkan dia tidak tahu keadaan Grace sekarang. intinya Leo sedang cari aman ketika mendengar decakan kesal dari arah tempat tidur. akan repot nantinya jika Grace merajuk juga bermood buruk yang pastinya merusak momen langka ini.


" tuh kan.. kalian denger sendiri.. " seru Grace mendongak sombong bak baru mendapat jackpot.


kedua anaknya mengangguk kompak, " tapi mami tambah cantik kalo-"


terdengar helaan napas panjang di sana, sehingga membuat kalimat dari Lucio terpotong. " hmm.. suka-suka kalian lah.. "


" yes..!!! " Lucio langsung mengajak sang adik untuk Hivi dan melanjutkan kembali aktivitas mereka. melakukan kegiatan seni mural seperti hobi Grace namun media yang digunakan ialah wajah sang Ibu.


Grace tampak pasrah ketika kedua anaknya melakukan sesuatu di wajahnya, lebih tepatnya Ia membiarkan apapun selama kedua anaknya tidak berisik dan memperebutkan satu benda tidak penting seperti biasanya. karena Grace tidak suka, itu sangat menjengkelkan dan menguras kesabarannya yang hanya setipis tisu.

__ADS_1


" mami, warna apa yang cocok buat pipi cantik mami..? "


" kayaknya pink bagus.. " jika saja putranya tidak menyelipkan kata pujian, sudah dipastikan Grace akan mengomeli kedua anaknya yang memang sudah diperingatkan untuk tidak berisik.


Gwen mengangguk patuh akan suruhan Lucio, kemudian anak itu mulai memoleskan taburan padat ke pipi Grace dengan warna yang ditunjuk sang kakak. keduanya kali ini sangat kompak bermain-main dengan wajah sang Ibu dalam keheningan.


Lucio yang lebih mengetahui tabiat sang Ibu ketimbang Gwen, mengisyaratkan sang adik agar tidak mengeluarkan suara yang nantinya akan membangunkan singa garang dihadapannya.


pernah satu kejadian dimana mereka memperebutkan mainan yang sudah jelas masing-masing sama memilikinya, begitu murkanya sang Ibu yang baru bangun dari hibernasi panjangnya dengan rambut berantakan macam singa. dan itu membuat Lucio sedikit lebih cerdik untuk membual persis seperti sang ayah guna membalikkan mood sang Ibu.


" huhh.. pegel juga epribadeh.. " seru Grace. Dia mengubah posisi duduknya menjadi tengkurap di tempat tidur tanpa memperdulikan penampilannya yang kini seperti badut akibat ulah kedua anaknya. dan setiap pergerakannya tentu diikuti oleh Lucio juga Gwen yang belum puas berkarya.


" f**k..!!! iklannya panjang banget, padahal gue udah langganan. fix tuh barang yang di iklanin, gue sumpahin kagak laku.. siapa suruh ganggu.. " Grace mengumpat kasar tanpa memperdulikan kedua anaknya yang masih setia disampingnya. Dia hanya fokus dengan tontonan maraton di laptopnya.


Sementara Leo yang biasanya akan menegur Grace jika mengeluarkan kata kasar dihadapan kedua anaknya, kali ini Pria itu malah sama sebelas duabelas dengan Grace. bahkan Dia lebih parah daripada istrinya. dengan entengnya kata-kata kasar keluar dari mulutnya ketika kesulitan dalam menyelesaikan game online yang sekarang tengah dimainkannya.


" Grace.. Grace.. " Leo tampak heboh menghampiri Grace, namun lagi-lagi wanita itu hanya menguap malas menanggapinya. kerena Grace yakin jika Leo akan meminta bantuan darinya.


" lo ngomong apa ke, say hi.. say hello-"


" ck.. Hode.. " ejek Grace, namun Leo tidak perduli. Pria itu benar-benar membutuhkan pertolongan dari Grace.


Leo sudah menodongkan ponselnya di depan wajah Grace, berharap istrinya mau mengeluarkan suara agar rival online nya percaya jika akun miliknya itu hanya seorang perempuan. pengecut bukan? maka tak jarang Grace akan mengejeknya begitu.


seseorang yang berdiri di ambang pintu kamar tersebut, sedari tadi mengamati kegiatan keluarga kecil itu dengan tatapan miris.


Exel, Pria itu tidak benar-benar menuruti saran dari Lilis agar segera makan, karena memang merasa masih kenyang. maka dari itu Exel ingin mengajak dua keponakannya bermain sebentar sebelum Ia beranjak pulang.


" Cio.. Gwen.. " panggilnya seraya tersenyum hangat membuat kakak beradik itu menoleh sumringah dan langsung menghampirinya.


sementara Tuan rumah nampak tak minat sama sekali walaupun sekedar menoleh, mereka masih asyik dengan dunianya masing-masing.


" uncle..!!! "


Exel berjongkok menyambut pelukan keponakannya, kemudian menatap teduh wajah mereka bergantian. Pria itu menghela napasnya berat, " katanya udah mandi..? " namun pertanyaan itu hanya tersimpan di dalam hatinya ketika melihat penampilan anak-anak itu yang sama sekali tidak menggambarkan anak kecil pada umumnya selepas mandi.


cih, bagaimana bisa anak dari orang berpengaruh dan kekinian bisa selusuh ini, padahal sudah jelas mereka memiliki tiga pegawai sekaligus.


rasanya ingin sekali Exel memandikan kembali keponakannya, namun Ia tidak ingin membuat mereka tersinggung.


tidak, bukan untuk kedua sahabatnya melainkan untuk ketiga pegawai rumah ini yang mungkin sudah bekerja keras dan maksimal untuk mengurus anak majikannya. bagaimana bisa Exel setega itu menyinggung mereka.


" uncle.. Cio mau ikut, mau nginep.. "


Exel terdiam bingung. bukan Ia menolak, tentu saja Dia sangat senang jika Cio menginap dirumahnya, lagi. Hanya saja Exel tidak tega dengan Gwen jika harus berjauhan dengan Cio. Exel tahu betul, walau dua anak itu selalu ribut setiap waktu, namun selalu merindukan satu sama lain jika terpisah. Exel pernah dibuat panik dan langsung mengantarkan Cio larut malam ketika mendengar Gwen rewel "parah".


Apa perlu mengajak Gwen juga? ya, Exel akan mencobanya dan meminta ijin kepada kedua sahabatnya. dengan begitu Ia tidak perlu mencemaskan Gwen lagi.


" Grace.. Cio nginep di tempat gue ya.. " bukan tanpa alasan Exel memilih meminta ijin kepada Grace ketimbang pada Leo. ya, wanita itu harus selalu diprioritaskan.


" hmm.. "


Exel berdecak kesal mendengar sahutan dari Grace yang terkesan tidak perduli. wanita itu lebih memilih fokus dengan tontonannya dan sama sekali tidak menganggap kehadirannya. seolah semuanya terlihat rabun dimata Grace terkecuali layar laptop dihadapannya. paling tidak Grace menahan atau mengeluarkan kalimat wejangan untuk anaknya, misal jangan nakal di tempat Exel.

__ADS_1


Exel kemudian beralih menatap Leo yang terlihat sama acuhnya. Dia tidak habis pikir dengan dua insan itu. jika saja Exel ada diposisi mereka, tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan anaknya. Quality time versinya sangat berbeda dengan mereka.


kasihan sekali nasib keponakannya.


" bucinin drakor.. realnya gak ada romantisnya sama sekali.. payah.. "


tepat, Grace sudah terpancing. wanita itu langsung mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap nyalang ke arah Exel. kemudian Ia membalikkan layar agar Pria itu melihatnya juga.


" lo pikir semua Drakor genrenya romantis? emangnya si kermi? nonton drakor sampe ngehaluin oppa Korea kesetanan.. "


Exel melirik sekilas ke arah layar yang ditunjukkan Grace, dan memang benar jika Grace sama sekali tidak menonton film asal negara ginseng itu dengan genre romance, namun Exel tidak perduli itu. kerena tujuannya memancing atensi wanita itu.


sementara Leo, pria itu langsung menghentikan aktivitasnya dan beralih memperhatikan pertunjukan yang sangat dinantikannya. kapan lagi Ia melihat kakak adik itu berantem. semoga saja benar-benar berantem, ck..


" Cio boleh nginep kagak nih..? " Exel berusaha kembali ke topik utama. Dia tidak ingin memancing emosi Grace lebih yang takutnya malah akan merusak rencananya.


" bodo amat.. bawa adenya sekalian..!!! " sahut Grace sewot. Dia benar-benar kesal dengan Exel yang sudah mengacaukan kenikmatan dunianya.


Exel terkesiap, disisi lain Ia merasa senang karena secara tidak langsung Grace mengijinkannya untuk membawa Gwen juga. Dia tidak perlu repot-repot membujuk adiknya itu. namun di sisi lain perasaan miris kembali hadir. apakah Grace sudah tidak perduli dengan kedua anaknya hanya karena mereka terlalu hyperactive dan terkesan nakal menurut Grace?.


" ok.. baiklah, gimana Le? " kini Exel beralih meminta pendapat Leo, bagaimana pun juga Dia butuh kepastian dari sohibnya juga.


Leo mengangguk menyetujui. " gak ngerepotin..? "


di sana Exel langsung berdecak kesal memutar bola matanya jengah. pertanyaan basa-basi yang sudah biasa sohibnya lontarkan seolah terkesan tidak enak, padahal pada kenyataannya sohibnya itu merasa senang karena tidak akan ada yang mengganggu aktivitas malamnya. ck.. dasar..


" pake mobil kalo gitu.. "


ah.. Exel semakin yakin jika sohibnya itu terlampau senang. terbukti dengan usulan langsung untuk menggunakan mobil. benar-benar menyebalkan.


Exel mengangguk cepat dan merangkul kedua keponakannya untuk segera bersiap sebelum hari mulai gelap, ah tidak.. sebelum Grace berubah pikiran lebih tepatnya.


.


.


..


.


" jangan nakal ya.. " peringkat Grace kepada kedua anaknya. kalimat yang berlaku untuk semua hal, seperti mengacaukan warung Exel dan menghabiskan isinya. itu memang pernah.


" siap mami.. "


setelah semuanya siap, peralatan dan kelengkapan Lucio dan Gwen. lantas Exelpun berpamitan kepada tuan rumah. namun ada sesuatu di benaknya yang membuatnya menyeringai. sesekali Exel mau bermain-main dengan adiknya yang garang. Dia ingin tahu respon Grace dan juga Leo jika mengetahui dua anaknya yang lucu akan tinggal cukup lama di rumahnya.


Exel dan kedua anak itu sudah memasuki mobil yang disediakan Leo karena jika harus naik motor , tentu tidak baik bagi anak-anak apalagi diwaktu malam.


Grace dan Leo melambaikan tangan kearah mobil yang akan keluar dari pekarangan rumahnya, namun seketika keduanya dibuat melotot sempurna kala mendengar ucapan Exel yang terkesan berniat akan mendoktrin anak-anaknya.


" jangan kangen kalo mereka betah gak mau balik.. "


" Exel sialan... "

__ADS_1


__ADS_2