Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 109


__ADS_3

" ternyata lo bisa sakit juga.. " ucap Leo pada seseorang yang tengah berbaring lemah di ranjang pasien.


" gue juga manusia kamprett.. "


Ari yang sedari tadi menahan sakit di perutnya terus berdecak kesal saat Leo menjenguknya. alih-alih prihatin, sohibnya itu malah terus meroastingnya.


tadi ketika Leo sedang bekerja, Dia mendapat kabar bahwa Ari dilarikan ke rumah sakit karena lambungnya bermasalah.


Leo menasehati Ari habis-habisan mengalahkan orangtua juga istri sohibnya itu. Leo tidak habis pikir jika penyakit sohibnya bisa separah ini. Dia juga sangat menyayangkan sikap Ari yang mengabaikan kesehatannya.


Ari yang mengidap GERD yang terbilang cukup parah ditambah vertigo yang Dia punya membuatnya muntah-muntah hari ini sehingga diopname.


Selama ini Ari selalu mengabaikan gejala penyakitnya. Dia memandang sebelah mata dan membiarkan penyakit itu terlambat di tangani sehingga terjadi peradangan yang memperburuk kondisinya.


...----------...


Leo melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dimana waktu menunjukkan pukul setengah tiga. ternyata cukup lama juga Dia berada di sana.


" gue cabut dulu Ri, cepet sembuh lo.. biar kerja makin keras, inget.. utang lo ama Tuan Exel masih banyak.. " ucapnya dengan sedikit sarkastik, mengingatkan Ari agar tidak terlalu ngoyo dalam bekerja.


hanya sekedar melunasi hutangnya pada Exel sebenarnya Leo mampu melakukannya.


hanya saja sohibnya itu terlalu keras kepala dan berlagak gigih menolak penawarannya. jangankan Leo, tawaran dari orangtuanya saja Ari menolaknya mentah-mentah.


Yang di khawatirkan Leo terjadi juga, dimana Ari terlalu bekerja keras sehingga mengabaikan kondisi kesehatannya.


" udah sono lo cabut.. lagian lo ngoceh mulu dari tadi.. " sahut Ari kesal.


Leo terkekeh menepuk pelan bahu Ari. " inget bos, cepet sembuh.. hutang lo bukan sama si El aja.. " bisiknya santai membuat Ari terbelalak hingga berdecak kesal.


" gila lo.. kagak ikhlas banget biayain pengobatan gue, tau gitu mending gue pindah kelas aja.. kagak usah Viaypi segala.."


Lagi-lagi Leo terkekeh, suka sekali menggoda Ari dengan sikap ogah ruginya. padahal keduanya itu anak Sultan.


" pindah sono, mumpung baru sehari.. " sahutnya enteng.


" cabut Leonard, lama-lama gue bisa gila kalo lo ada di sini.. Lo tau salah satu penyebab asam lambung naik, itu stress.. dan lo yang bikin gue stress sialan.. "


" uuuhhh takuttt.. " sahut Leo dengan nada mengejek. kemudian Ia melengos melarikan diri ke luar ruangan.


Saat Leo melangkah hendak keluar rumah sakit tersebut, tiba-tiba Ia terhenti saat melewati ruangan VVIP lainnya. dimana ruangan tersebut merupakan tempat Silvie tengah di rawat juga.


Leo merasa bimbang antara mampir sebentar atau langsung pergi. terlepas merasa tidak ingin menyakiti perasaan istrinya, Leo juga tidak enak jika tidak mampir melihat kondisi Silvie. terlebih Ia sempat bertemu dengan Exel yang menyempatkan menjenguk Ari tadi.


" Loh.. gak masuk Le? malah bengong di sini.. " ucap Exel yang baru saja dari kantin.


Leo terkesiap, " eh, iya.. ini mau masuk.. " sahutnya gelagapan.


lantas Leopun masuk mengikuti Exel. tidak ada salahnya jika Ia mampir sebentar sebagai bentuk solidaritas terhadap keluarga sahabatnya.


" sumpah demi apa gue bisa ketemu Leonard di sini.. " celetuk seorang perempuan yang tengah duduk di samping ranjang Silvie.


Alya, teman sekelas Silvie yang sedang menjenguknya kini melongo tak percaya melihat kehadiran pangeran tampan sekaligus pemilik kampusnya. Dia harus mengabadikan momen ini dan akan memamerkannya dengan bangga kepada teman yang juga mengagumi sosok Leonard.

__ADS_1


" gimana keadaan lo Sil..? " tanya Leo seraya mendekat ke arah Silvie.


" mendingan Le.. kemungkinan besok udah boleh rawat jalan.. " Exel yang menyahuti sebab Silvie nampak diam dan memalingkan wajahnya.


Dia tahu saat ini Leo dan Grace adalah orang yang selalu di salahkan oleh istrinya. meskipun Exel berusaha menasehati Silvie bahwa semuanya adalah takdir dari sang Pencipta, tetap saja istrinya itu selalu menyalahkan mereka atas semua yang terjadi.


" syukurlah.. gue tahu lo ibu yang kuat Sil, mudah-mudahan secepatnya Tuhan ngasih kepercayaan lagi sama lo berdua.. "


suara Leo terdengar lembut membuat Alya yang sedari tadi merekam interaksi idolanya itu menutup mulut tak percaya. selama ini Pria di hadapannya selalu bersikap dingin saat di kampus. hal ini harus segera di pamerkan kepada teman-temannya.


Alya terkekeh pelan saat melihat notifikasi di ponselnya, secepat itu mereka menanggapi poto dan video yang baru saja di kirimkan olehnya.


kebanyakan dari mereka memberikan komentar kagum disertai emoticon love, tanpa memperdulikan Grace yang juga bergabung di grup tersebut. mereka melupakan istri sesungguhnya sosok Leonard.


" Amin.. thanks Le.. " sahut Exel seraya menepuk bahu Leo. sementara Silvie tampak menyunggingkan senyuman. wanita itu tampak putus asa setelah dokter menyatakan jika rahimnya lemah.


" kalo gitu gue cabut dulu El.. Sil.. " pamit Leo.


Exel mengangguk kemudian mengikuti langkah Leo yang hendak keluar.


" Le, maafin sikap istri gue.. " ucapnya saat keduanya sudah di luar.


Leo mengangguk tersenyum tipis, " gakpapa, santai aja.. wajar bini lo kayak gitu. dia masih ngerasa kehilangan, lo harus tetap di samping dia buat suport.. " ucapnya dengan serius.


" pasti Le, terus gimana si Grace..? "


Exel merasa tidak enak hati dengan Grace. dia tahu pasti perasaan wanita itu sedang tidak baik-baik saja. mengingat sikap istrinya yang tak bersahabat terhadap Grace membuat Exel merasa bersalah sudah gagal mendidik Silvie.


" seperti yang lo bayangin El.. " sahut Leo terdengar ambigu. kemudian Dia melenggang pergi meninggalkan Exel yang termenung di sana.


...---------...


Leo segera pergi menuju kantornya kembali setelah mendapat kabar dari Megan yang mengirimkan tangkapan layar pesan grup yang tengah membahas tentang dirinya. Megan juga mengatakan jika Grace sedang berada di kantornya saat ini, informasi tersebut tentu dari Viola yang memberitahunya.


Leo mendesah frustasi, kemungkinan Grace membaca isi pesan-pesan tersebut. Iapun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di gedung kantor, Leo segera melangkah dengan cepat berharap istrinya masih disana. Dia akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


" selamat sore Tuan.. " sapa salah satu karyawannya. tetapi Leo tidak menanggapi sama sekali. Pria itu tergesa menuju lift.


dan alangkah terkejutnya saat pintu lift terbuka, di sana sudah berdiri Grace bersama si kecil.


Leo menelan ludah kasar saat melihat ekspresi istri yang sudah kembali dia buat kesal. baru saja keduanya akur, ada lagi masalah.


" sayang.. kenapa gak pake stroller.." Leo hendak mengambil alih si kecil dari gendongan Grace. Dia tidak tega dengan wanita yang perutnya membuncit harus menggendong Lucio yang berat badannya kian bertambah.


Grace memberikan si kecil ke tangan Leo, " buru-buru.. " sahutnya terdengar tenang. Yah, Grace berusaha mengontrol emosinya, dia masih memikirkan harga diri suaminya di hadapan para pekerja yang mengamati mereka.


" sorry, udah bikin lo nunggu lama.. " ucap Leo dengan pelan.


Grace mengangguk dan tersenyum, " gak masalah, gue sama Cio emang gak tepat waktu dateng ke sini, ah lebih tepatnya kita gak tau diri ngarepin waktu Tuan Leonard, sedangkan yang di arepin lebih peduli sama istri orang.. "


Leo terdiam, merasa tersentil dengan kalimat panjang istrinya. Dia mengeraskan rahang dengan kuat. " maafin papi Cio.. " ucapnya penuh penyesalan.

__ADS_1


si kecil tersenyum menatap Leo dengan berbinar, tangan mungilnya terus memukul wajah sang Ayah yang tengah menggendongnya.


" hey boy.. stop mukul papi, Cio marah sama papi hemm? "


sementara Grace menyunggingkan sudut bibirnya. mungkin si kecil juga kecewa dengan ayahnya. kemudian Ia melangkah mendahului Leo menuju mobilnya.


" sayang.. maaf.. " ucap Leo yang berhasil menyusul Grace yang sudah membuka pintu mobilnya.


melihat Grace yang diam tanpa ekspresi membuat Leo seolah kesulitan bernapas. Dia sudah mengecewakan istrinya.


Leo membiarkan Grace yang sudah duduk di balik kemudi. bukannya dia tidak khawatir mengingat Grace tengah hamil, tetapi kali ini Leo tidak bisa berkata apapun. dia harus mengalah.


tingkah laku si kecil yang aktif mengganggu Leo dengan terus memukul wajahnya membuat Leo kehilangan kesempatan menjelaskan kepada Grace apa yang sebenarnya terjadi. terlebih istrinya itu tampak cuek mengemudi dengan headset yang melekat di kupingnya. seolah mengisyaratkan jika Grace tidak menerima penjelasan apapun darinya.


" lo emang pengecut Leonard.. " umpatnya pada diri sendiri saat melirik Grace yang sedang asyik mengemudi sambil bersenandung.


...******...


Leo meletakkan si kecil yang sudah tertidur pulas, kemudian Dia menuju kamarnya dengan langkah gontai.


saat pintu kamar terbuka, Leo tidak mendapati Grace di sana. ekor matanya melirik pintu balkon terbuka, sudah dipastikan Grace berada di sana.


Leo menghela napas panjang, ingin sekali menegur Grace agar tidak duduk di depan sana mengingat waktu sekarang ini petang.


" sayang.. " Leo duduk di samping Grace yang tengah menatap kosong ke arah depan. Dia bisa mendengar helaan napas istrinya dengan jelas.


Leo meraih tangan Grace kemudian menyusupkan jemarinya. " ayo masuk, gak baik bengong di luar, bentar lagi gelap.. "


sementara Grace nampak tenang, tetapi hatinya terasa nyeri dan kehilangan kata-kata untuk menanggapi Leo. padahal tadi dia sudah merangkainya untuk meminta penjelasan dari suaminya. tetapi melihat sikap Leo yang tidak berusaha melakukan itu membuat Grace mengurungkan niatnya.


Grace menahan napas ketika Leo bersimpuh di hadapannya, Pria itu bahkan sudah mencium punggung tangannya cukup lama.


Leo mendongak menatap Grace yang diam seribu bahasa, " maaf.. maafin gue Grace.. "


Grace menggigit bibirnya, dia enggan untuk membuka suara. bahkan hatinya belum siap memaafkan Leo kembali. kalimat penyemangat dari Leo untuk sahabatnya membuat Grace merasa sangat sakit hati.


apapun alasannya, Grace tetap merasa cemburu. dia sudah tidak perduli jika dikatakan egois. selama ini dirinya sudah mengalah untuk berbagi waktu suaminya kepada Silvie dengan alasan ngidam.


katakanlah Grace tega. mengingat Silvie sudah tidak lagi mengandung, maka apa yang menjadi alasan Leo menyempatkan diri menjenguk Silvie tanpa sepengetahuan dirinya.


" maafin gue Grace.. " ucap Leo kembali dengan lirih.


Grace menghela napas panjang, mendengar Leo yang terus berucap maaf membuat Grace terkesan jahat jika tidak mengampuninya.


" buat apa minta maaf..? " Grace menatap Leo dengan lekat. " lo gak perlu minta maaf, toh disini gue yang salah gak ngabarin lo dulu mau ke kantor sama Cio.. "


" nggak.. gue salah Grace, gue biarin lo sama Cio nunggu lama, sementara gue.. "


" sementara lo asyik nemenin sahabat gue.. " sela Grace seraya berdiri beranjak masuk ke dalam kamarnya.


Leo menatap kepergian Grace dengan melas. Dia meringis di dalam hati, hanya kerena wanita lain yang notabene sahabatnya Grace, membuat istrinya itu terlihat rapuh bahkan hampir hancur.


" Ya Tuhan.. tolong hamba-Mu ini, lembutkanlah hati istri hamba.. "

__ADS_1


__ADS_2