
Selama percakapan keduanya dipinggir jalan menjadi perhatian Nadia di kejauhan yang sedari tadi membuntuti mereka secara diam-diam.
Merasa mendapat kesempatan saat Grace jauh dari jangkauan Leo,
Nadia segera tancap gas melajukan mobilnya kearah Grace tanpa ampun. namun bukannya Grace yang Nadia tabrak, melainkan Leo yang hendak melindungi Grace langsung terpental jauh.
"Sial... " sejenak Nadia terdiam melihat Leo terkapar, rasa bersalah timbul di benaknya. bagaimanapun juga dirinya masih menginginkan cinta Leo.
Nadia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk melarikan diri.
Sepanjang perjalanan dirinya dikejar-kejar oleh anak Karya Bakti juga anak anak Tunas Bangsa, tak lupa anak Astro pun turut mengejar mobil Nadia mengikuti instruksi dari Exel yang dengan sigap mengkoordinasikan ketiga kelompoknya untuk segera mengejar mobil Nadia.
Aksi kejar-kejaran pun berlangsung begitu dramatis dimana Nadia semakin menjadi-jadi membawa mobilnya menabrak apapun yang menghalangi jalannya sebab merasa panik diikuti rombongan motor sport bak konvoi.
Dan tak butuh waktu lama, akhirnya merekapun dapat mengepung Nadia dan segera menyerahkannya kepihak yang berwajib.
...----------------...
Sebelumnya saat Exel hendak pulang membawa motor Leo,
di perjalanan Ia merasa gelisah dan tidak enak dengan perasaannya sebab tiba-tiba bayangan Leo tersirat di benaknya, mengingat Leo dengan bersungguh meyakinkan Exel jika sudah tidak perlu di dampingi olehnya.
Exel menajamkan penglihatannya melihat Grace berteriak histeris dengan memangku kepala Leo yang berlumuran darah.
Exelpun segera menghampiri keduanya seraya menghubungi ambulan juga Ari untuk segera mengejar pelaku yang sudah menabrak sohibnya.
Setelah ambulan datang, Leopun segera di larikan ke rumah sakit terdekat untuk segera diberi pertolongan dimana Grace setia menemaninya. sementara Exel dengan motornya membuka jalan di depan agar mempermudah semuanya.
Sepanjang perjalanan Grace tak melepaskan genggaman tangannya pada Leo,
"Leo.. Lo harus bertahan demi anak lo.. Gue butuh lo Leo.. Gue butuh lo..
ucapnya menangis sesenggukan.
Tak lama ambulan pun tiba di rumah sakit, dengan sigap para perawat membawa Leo ke ruangan IGD untuk segera melakukan penanganan.
"Mbanya tunggu disini.. " ucap salah satu suster melarang Grace yang hendak ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.
Gracepun pasrah mendudukkan dirinya dengan lemas.
tak lama Exel datang menghampirinya
"Grace.. " panggil Exel dengan lirih, dan tanpa aba-aba Grace langsung menghambur memeluknya.
"Gue jahat El.. Gue egois.. " ucap Grace terisak di dekapan Exel.
Exel mengusap punggung Grace mencoba menenangkannya, walaupun dirinya sendiri sama terpukulnya. Tetapi Exel tidak akan membiarkan Grace merasa bersalah meskipun pada kenyataanya ucapan Grace barusan memang benar adanya.
"Lo harus tenang Grace.. Suami lo pasti baik-baik aja.. " ucapnya menenangkan seraya mengurai pelukannya dan menuntun Grace agar duduk disampingnya.
Grace terdiam menatap kosong mengutuk dirinya sendiri sampai Ia terkesiap oleh suara isakan dari orang yang duduk di sampingnya.
Ya, itu adalah Exel yang terisak,
"Harusnya gue gak lepasin lo Le.. Harusnya gue gak nurutin kemauan lo.." gumamnya masih terdengar jelas oleh Grace.
"Gue gagal jagain lo Le.. Gue biarin lo berjuang sendiri, gue bodoh.. Gue bodoh.. Bisa-bisanya gue kecolongan.. "
Exel semakin terisak menyiksa diri.
Sementara Grace terenyuh melihat kelemahan seorang Exel dan membuat Grace baru menyadari jika Leo dikelilingi orang-orang yang peduli tanpa pamrih bahkan menomorduakan kehidupan pribadi mereka.
Grace menepuk pundak Exel,
"El.. Makasih lo selalu setia nemenin suami gue,
gue tau bukan cuma gue yang terluka, dia lebih terluka karena keegoisan gue.. Ini semua salah gue El.. "
lirihnya menatap Exel dengan sendu. Grace kembali merasa bersalah sebab tak pernah menyadari jika bukan dirinya saja yang kacau, melainkan semua orang di sekeliling Leo turut berusaha menyatukan mereka kembali, namun dengan bodohnya Grace tak pernah memperdulikan nya.
__ADS_1
sementara Exel menggeleng tidak setuju dengan ucapan Grace yang menyalahkan diri sendiri, tetapi saat ini Exel tidak mampu berkata apapun.
Cukup lama mereka duduk di sana menunggu tim medis menangani Leo sampai Hendri dan Deti menghampiri keduanya dengan wajah yang panik.
Deti segera memeluk Grace yang kembali terisak,
"Mah.. Ini semua salah Grace.. Harusnya Grace yang celaka mah, Grace gak mau kehilangan Leo mah.. Grace cinta sama Leo.. Grace butuh Leo mah.. "
ucap Grace sesenggukan tanpa jeda di dekapan Ibu mertua.
"Udah sayang.. Kamu harus tenang, Kasian cucu mamah.. " timpal Deti mengelus rambut Grace mencoba menenangkannya.
jika saja kepribadian Deti sebagai mertua jahat, tentu Ia akan menghujani Grace dengan makian saat ini, tetapi hal itu tidak Deti lakukan, walaupun dirinya dengan Hendri tahu sikap Grace yang tak memperdulikan Leo saat memperjuangkan cintanya kembali. dan hal ini harusnya Grace syukuri bukan?
Grace menggeleng masih di dekapan Deti dan kekeh terus menyalahkan dirinya sendiri,
"Grace udah berdosa mah sama Leo, Grace bukan istri yang baik buat Leo, Grace egois udah jauhin Leo, gak patuh sama Leo.. " ucapnya kembali sesenggukan.
Deti mencoba terus menenangkan Grace, begitupun dengan Hendri yang menatap iba menantunya,
" Nak, sebelum kamu nyalahin diri sendiri, papah lah yang bersalah sayang.. sebab papah lepas tangan gak mau bantu suamimu selama ini" ucap Hendri mengelus rambut Grace yang masih berada di dekapan Deti.
semua berebut menyalahkan diri sendiri, dan sekali lagi ini patut bahkan wajib Grace syukuri sebab memiliki mertua yang bisa menenangkannya di saat seperti ini.
dan kini bergantian, Grace menghambur ke pelukan Hendri, dan perlahan dirinya mulai tenang.
Masih menunggu Leo sedang di tangani oleh tim medis, Grace duduk di samping Deti dengan menjadikan bahu sang mertua sebaai sandarannya dan tangan yang setia berada di genggamannya saling menguatkan dan berdoa untuk Leo.
sementara Hendri berbicara dengan Exel secara intens menanyakan kronologi kejadian naas tersebut. Exel pun menjelaskan dengan rinci walau terbata-bata seraya terisak, namun Hendri masih bisa memahaminya.
Hendri sendiri tidak heran dengan sifat Exel saat ini, terlepas dari sifat manusiawi yang bisa menangis, di matanya Exel tetap si bocah kecil yang manja mengingat persahabatan mereka sejak kecil tentu Hendri tahu sifat asli mereka.
"pelakunya udah ditangkap om.. " ucap Exel terbata,
"Siapa..? " tanya Hendri penasaran.
"Cih.. Gadis itu lagi.. Gak jera jera..!!! " ucap Hendri mengepalkan kedua tangannya.
Mendengar penuturan Exel yang mengatakan bahwa Nadia merupakan pelakunya membuat Hendri dan Deti terkejut. mereka tidak menyangka jika Nadia akan bertindak nekat, begitupun dengan Grace sama terkejutnya, Ia masih ingat betul ucapan Nadia kemarin yang berniat akan menghancurkannya. Grace pikir itu hanya omong kosong.
Dan sekali lagi Grace terkagum dengan para sahabat suaminya yang tidak tinggal diam dan sigap dengan jiwa solidaritas tinggi memburu pelaku tabrak lari tersebut mengalahkan kecepatan aparat kepolisian.
Dokterpun keluar dari ruangan tersebut membuat mereka antusias menghampirinya terutama Grace yang kembali cemas,
"Dokter.. Gimana keadaan suami saya.. "
"Pasien masih kritis, beliau terlalu banyak mengeluarkan darah sehingga membutuhkan donor darah segera.. "
Blughh..
Belum selesai Dokter menyampaikan kondisi Leo, tiba-tiba Grace tak sadarkan diri.
Sudah sekitar tiga jam Grace baru bisa membuka matanya, Ia mengedarkan pandangan dan mendapati Anita juga kedua sahabatnya.
"Leo.. " lirihnya seraya mencoba bangkit, namun kedua sahabatnya menahannya.
"Grace.. Lo harus istirahat, gak boleh kecapean, tadi lo ngeplek..
Lo gak mau kan anak lo kenapa-napa.. "
ucap Megan lembut.
Grace menggeleng, kekeh hendak bangkit,
"Tapi gue mau ketemu Leo..gue mau tau keadaannya sekarang.. Gue harus temenin dia.. " ucap Grace mulai terisak.
"Lo harus tenang Grace.. Suami lo udah lewatin masa kritisnya.. '
Ucap Megan menenangkan.
__ADS_1
" Yoi Grace.. Gercep banget bang El.. Orang yang mau donor udah kaya antri sembako gratis, antusias banget.. "
sahut Silvie cengengesan mencoba menghibur Grace, dan sialnya malah mendapat toyoran dari Megan.
"Itulah mangkanya kita harus melihat sisi baik seseorang,
suami lo kan orangnya baik peduli sesama,
saat seperti ini dia gak kesusahan mendapat pertolongan.. "
ucapan sok bijak Megan barusan membuat Grace tertampar, Ia menunduk terdiam kembali merasa bersalah sebab keegoisannya sudah membutakan segalanya.
"Nak.. Makan dulu yah.. " Anita membuyarkan lamunan Grace mencoba menyuapi nya.
Grace menggeleng menolak, "Grace mau nemenin Leo bu.. "
ucapnya memelas.
"tentu boleh nak... tapi makan dulu yah, suamimu sedih nanti liat istrinya lemah.. diakan taunya Istrinya kuat.. "
Ucap Anita membujuk Grace, kedua sahabatnya pun mengangguk setuju.
akhirnya Grace mengangguk mengiyakan seraya membuka mulut memakan makanannya dengan lahap.
Selepas menghabisi makannya, Grace diantar oleh kedua sahabatnya menuju ruang perawatan dengan menggunakan kursi roda sebab kondisinya yang tidak diperbolehkan untuk berjalan.
Melihat Leo terbaring lemah matanya terpejam dengan beberapa peralatan medis melekat ditubuhnya membuat Grace kembali terisak. suami yang Ia sia-siakan perjuangannya kini harus menanggung penderitaan kembali karena melindunginya dari celaka.
"Leo.. Sayang bangun.. Lo janji kan mau lindungi gue, ayo bangun sayang.. Gue butuh lo.. "
Lirih Grace melihat sang suami tak kunjung bangun membuat kedua sahabatnya turut terisak melihat Grace seperti orang bodoh membangunkan Leo yang terpejam.
Grace meraih tangan Leo yang terdapat selang infusan,
"Lo malaikat tak bersayap Leo.. gue sayang sama lo, ayo Leo kita pulang.. " lirihnya menggenggam tangan Leo.
"Grace.. Ayo lo harus balik kekamar lo.. Lo harus banyak istirahat.. "
ucap Megan tak tega seraya mengusap pundaknya.
"Gue mau disini Me.. biarin gue istirahat disini di samping suami gue.. "
Ucap Grace memelas sambil menghujani kecupan pada tangan Leo yang di genggamnya.
"Lo gila Grace.. Lo tidur kan gocan, bisa kesiksa entar laki lo... "
sahut Silvie tak tahu tempat membuat Megan menoyor kepalanya geram.
"Yaudah bawa ranjang gue kesini.. pokoknya gue mau istirahat disini.. "
timpal Grace kekeh.
"Grace.. Dengerin gue, lo boleh nemenin laki lo, tapi lo harus sehat dulu, kasian anak lo, si Leo juga pasti sedih kalo denger anak istrinya kenapa-napa.. "
ucap Megan membujuk Grace.
"Pokoknya gue mau jagain dia.. " ucap Grace masih kekeh.
Silvie menghela napas dalam-dalam,
"Ya ampun Grace.. Lo jangan keras kepala, yang mau jagain laki lo banyak, tau sendiri kan laki lo sebaik apa, Semua mau jagain laki lo Grace.. Lo balik kekamar lo ya.. "
Timpal Silvie nyerocos tanpa jeda dan sukses membuat Grace mengangguk patuh, sementara Megan mengacungkan jempol bangga terhadapnya yang bisa membuat Grace menurut. tapi tetap saja Megan gemas menoyor kembali kepal Silvie karena suara ceprengnya yang tidak tahu tempat.
"Bantuin gue bentar" ucap Grace hendak berdiri membuat aktivitas keduanya yang saling menoyor kepala langsung terhenti, dan dengan sigap keduanya membopong dan menahan tubuh Grace.
Grace menatap Leo yang terpejam tenang, kemudian membelai rambut seraya mengecup keningnya,
"Leo.. Gue istirahat dulu ya.. Gue janji mau pulang sama lo.. "
__ADS_1