Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 98


__ADS_3

Leo dan Grace melangkah dengan gugup dan tegang, tetapi di antara keduanya sama-sama tidak ingin memperlihatkan bahwa nyali mereka tengah menciut.


" santuy.. " bisik Grace dengan nada mengejek. sementara Leo langsung berdecak seraya melangkah dengan angkuhnya.


Tampak kedua orangtua Grace juga orang tua Leo tengah duduk di sofa ruang keluarga.


Leo langsung menghampiri mereka lalu menyalami diikuti oleh Grace.


" Duduk.. " titah Hendri dengan ekspresi datanya.


Leopun hanya bisa mengangguk patuh mendudukkan dirinya bersama Grace di sampingnya.


Keduanya mencoba untuk tenang, memikirkan susunan penjelasan dalam pikirannya masing-masing.


untuk sekedar menanyakan kabar orangtua mereka pun susah sekali terucap dari keduanya.


Belum ada yang membuka pembicaraan ini sama sekali.


Leo menelan ludah susah kala mendapat tatapan dari mereka yang menyorotnya tak seperti biasa.


sedangkan Grace dengan tidak tahu dirinya malah menguap lebar. rupanya wanita itu masih merasakan kantuk.


" tadi kamu mendadak ninggalin kantor.. " suara bariton memecahkan keheningan.


Leo menelan ludahnya dengan cepat. Dia melupakan bahwa tempatnya bekerja itu masih di bawah naungan sang mertua. Leo menatap kedua orangtuanya, Dia bisa melihat guratan kecewa dari mereka.


" kamu ini bagaimana Leonard.. kalau kamu gak bisa bertanggungjawab gak usah sosoan nerima tawaran dari mertuamu gitu aja.. "


ucap Hendri terdengar dingin. Pria itu duduk dengan tegak bersidekap dada. Sedang Deti duduk santai di samping suaminya. Dia seolah membiarkan Hendri menginterogasi putranya.


Lagi-lagi Leo menelan ludahnya cepat. Dia terlihat seperti seorang terdakwa, bahkan dirinya menunduk tak berani mengangkat kepalanya. Dia tahu sang ayah sedang kecewa akan kesalahannya.


Sementara Grace sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi. dengan cueknya wanita itu menjatuhkan kepalanya di atas paha Leo. membiarkan suaminya berjuang sendiri.


" ck.. cari aman nih anak.. " batin Leo kesal. tetapi setelahnya Ia tersenyum seraya menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya. setidaknya ada yang bisa di pandang olehnya ketika menunduk. dan itu membuatnya mendapat kekuatan.


" maaf Dad.. tadi Leo buru-buru ke kampus.. " ucap Leo dengan terbata-bata.


Bram mengangguk paham sementara Hendri tersenyum miring, rahangnya semakin mengetat dengan kuat.


" kau tahu Leonard, berapa kerugian perusahaan mertuamu setelah kau tinggalkan klien seenaknya.. " ucap Hendri dengan tegas dengan tatapan sinis pada putranya itu.


Bram menggeleng seraya bangkit dari duduknya, kemudian menghampiri menantunya.


" sudahlah bung.. jangan terlalu dibesar-besarkan.. " ucapnya pada sang besan.


" Daddy bangga sama kamu nak.. " ucapnya seraya menepuk pelan bahu menantunya.


Leo akhirnya mendongak dan menatap Bram dengan wajah tidak mengerti.


" tindakanmu sudah tepat melindungi putri Daddy satu-satunya.. "


" itu memang kewajiban Leo Dad.. " sahut Leo dengan cepat. tangannya tak henti mengelus kepala sang istri.


kemudian Leo beralih menatap kedua orangtuanya. ingin sekali Leo segera memberitahukan kabar kehamilan Grace, akan tetapi Dia terlalu takut akan sang ayah yang akan menghakiminya dan semakin memandang dirinya sebagai pengecut jika mengetahui bahwa dirinya membiarkan Grace baku hantam dalam keadaan tengah mengandung.


" istirahatlah.. kau sudah bekerja keras hari ini. Daddy juga mau nginep di sini, mau nemenin Cio.. "


Leo mengangguk patuh kala mendapat usapan di bahunya.


" kali ini kau selamat Leonard.. " sahut Hendri terkekeh disusul pukulan dari sang istri.


" ishhh.. kasian tau anaknya.. "


" sekali kali mah.. "


Seketika Leo langsung menatap keduanya dengan tatapan tak ramahnya. Dia berdecak kesal kala melihat sang ayah yang tertawa tanpa dosa . Pria tua itu sudah melemahkan mentalnya dihadapan sang mertua.


" sebentar lagi Cio mau punya adik " ucapnya dengan santai.


Hendri berhenti tergelak, wajahnya terlihat terkejut. begitupun dengan yang lainnya langsung terbelalak.


" Silvie sama Megan sekarang lagi hamil.. "


terdengar helaan napas kompak dari mereka.


" syukurlah akhirnya mereka bakalan punya anak juga.. Cio jadi ada temennya.. " ucap Deti sumringah disusul anggukan setuju dari yang lainnya.


" Yah benar. Cio bakalan punya adek dua sekaligus.. "

__ADS_1


Hendri kembali tergelak. Pria tua itu sempat syok karena ucapan putranya yang terdengar ambigu.


sementara Leo menyeringai. raut wajahnya bak iblis. Dia sengaja menjeda kalimatnya membiarkan sang ayah mengambil napas dulu. Anak laknat ini hendak memberi perhitungan pada sang ayah. Siapa suruh Pria tua itu mempermainkan perasaannya.


" tapi Cio beneran mau punya adek.. "


" iyah.. adek dari sahabatmu kan.. " sela Deti.


Leo menggeleng dengan cepat.


" No.. Grace juga lagi hamil mah.. " sahut Leo santai. Dia menyunggingkan senyuman kala melihat orangtuanya nampak melongo tak percaya.


terlebih Hendri yang melebarkan matanya.


" Jangan bercanda kamu.. " ucap Hendri terbata.


" bercandanya gak lucu.. mamah gak like.."


" terserah kalian mau percaya atau enggak.. Leo gak ada waktu buat bikin lelucon.. "


Dengan santainya Leo bangkit dari duduknya dan menggendong Grace yang nampak pulas.


" kita istirahat duluan.. " ucapnya santai melangkah menuju kamarnya meniggalkan empat orang yang masih ternganga disana.


.


.


.


.


.


Leo membaringkan Grace di atas ranjang dengan hati-hati. ada perasaan lega di hatinya. setidaknya tadi mereka tidak menghujaninya pertanyaan.


Leo tersenyum ketir saat memandang wajah tenang Grace. kali ini dirinya tidak akan membiarkan Grace bertingkah bar-bar lagi. beruntung janin di dalam perut istrinya baik-baik saja.


Tak hentinya Leo mengucap syukur seraya mengelus perut Grace. wanita dihadapannya memang patut di acungi jempol dengan keberanian dan kemampuannya menghindar dari serangan musuhnya saat baku hantam kemarin.


Leo tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya jika Grace tidak mampu melawan dua pria jahat itu. Dia merinding sekaligus meringis membayangkan sepatu yang di kenakan pria-pria itu jika berhasil menendang perut istrinya.


Seketika Leo langsung mengerjapkan matanya " kenapa sayang..? mau sesuatu..? " tanyanya lembut dengan senyuman hangatnya.


Grace bangun dan duduk menyadarkan tubuhnya di kepala ranjang,


" udah kelar Le..? " tanya Grace tanpa dosa menaikturunkan alisnya.


Senyuman Leo langsung berubah menjadi cemberut.


" cari aman lo.. ganti baju sono.. " ucapnya sewot.


" ko gitu sih..? gue kan cuma nanya doang.. " Grace mulai menatapnya nanar.


deg.. Leo terkekeh pelan. kemudian membawa Grace ke dalam pelukannya.


" hmm.. maaf, jangan ngambek dong.. " ucapnya kembali terdengar lembut seraya mengusap punggung Grace. jujur, istrinya terlihat lucu jika berlinang airmata seperti saat ini. akan tetapi Dia tak tega membiarkan Grace bersedih hanya untuk melihatnya terkesan gemas saja.


Grace jarang sekali menangis, tapi akhir-akhir ini wanita itu lebih cengeng dan lemah dihadapannya. Leo mangut paham, mungkin ini efek morning sicknessnya.


" ganti bajunya yah.. " bujuknya seraya mencoba mengurai pelukannya, tetapi Grace malah mengeratkan pelukannya dan semakin terisak.


" kehamilan yang sekarang, gue gak dapet perhatian dari mereka lagi dong.. "


Leo menahan bibirnya agar tidak tertawa. istrinya terdengar merengek seperti anak kecil. Dia sudah menduga akan pikiran Grace yang takut kehilangan perhatiannya dari para sahabat.


" mereka punya tanggung jawab sekarang.. dan gue percaya kalo Lo itu bisa jaga diri tanpa mereka, Lo itu kuat, ibu yang hebat buat Cio juga istri yang selalu bikin suaminya jatuh cinta.. "


ucap Leo sejujurnya.


Grace melepaskan pelukannya, ucapan Leo barusan membuat dirinya merasa tenang.


Grace mengembangkan senyuman kala keduanya saling menatap.


" gue selalu ada buat lo.. jadilah Ibu yang kuat buat anak anak kita.." ucap Leo seraya mengusap kepala Grace dengan lembut.


" baiklah suamiku.. " sahut Grace terkekeh.


Leo meraih dagu istrinya. kemudian mendekatkan wajahnya membuat Grace gugup.

__ADS_1


cup.. dalam hitungan detik kedua bibir sudah menyatu. Leo menahan tengkuk Grace saat hendak melepas tautannya. Dia semakin memperdalam ciumannya.


Beberapa saat kemudian Leo melepaskan pangutan bibirnya guna memberikan kesempatan Grace untuk bernapas.


" gue mau mandi dulu.. gerah.. " ucap Grace gelagapan memalingkan wajahnya.


Leo tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah Grace yang merah karena salah tingkah.


" okeh.. kali ini lo harus tahan dulu.. "


πŸƒπŸƒπŸƒ


Sementara di tempat lain, Lolita sedang menatap nanar pada Orang yang disayanginya. Nenek dan adiknya tengah tertidur pulas di ranjang yang sengaja di sediakan satu kamar dengannya.


Lolita menghela napas panjang, keputusannya yang menerima Wilson tadi membuatnya terbebani. Dia takut orang akan mengiranya mengambil keuntungan dan merubah nasib dengan menjadi istri Wilson.


Akan tetapi tak bisa dipungkiri, Dia sendiri memang tertarik dengan Wilson saat pertama Dosen itu mengejar di kampusnya. Wanita mana yang tidak menaruh hati dengan ketampanan juga gelar yang dimiliki Dosen sekaligus dokter itu.


Hanya saja Lolita merasa tidak pantas untuk Wilson.


" kenapa belum tidur..? "


deg.. suara Wilson membuyarkan lamunannya.


" Pak Wilson.. ngapain masuk kesini..? " tanyanya gugup.


" istirahatlah biar cepat sembuh.. "


Lolita mengangguk kemudian menaikan selimut menutupi seluruh tubuhnya.


" agar rencana kita secepatnya dilaksanakan.. "


glek.. Lolita meremas selimutnya. ini seperti mimpi, gadis itu merasa konyol dengan keputusannya. bahkan dia belum mengetahui perasaan Wilson sebenarnya terhadap dirinya.


Wilson tersenyum miring. Dia suka sekali melihat ekspresi malu dari diri gadis dihadapannya.


" pak.. " panggil Lolita dengan ragu. Dia terus saja meremas kuat selimutnya, tetapi kali ini dirinya memberanikan diri menatap Wilson.


" hmm.. " sial. Wilson kalah jika harus beradu tatap dengan Lolita. gadis itu memiliki mata yang terlalu indah.


" kenapa bapak tiba-tiba mau memperistri saya.. saya bahkan gak tau kalau bapak suka sama saya atau enggak.. "


Lolita langsung mengatupkan bibirnya. Dia mengutuk pertanyaan bodohnya yang dirasa terlambat.


" tidurlah.. jangan sampai saya membalikkan pertanyaan. kenapa kamu mau menerima lamaran saya.. "


Lolita terdiam dan langsung menunduk. sementara Wilson mengusap kepala gadis itu. Ia paham dengan rasa tidak percaya diri dari Lolita. dan itu membuat Wilson semakin tertantang untuk membuat gadisnya merasa percaya diri melangkah bersamanya. terlebih usianya yang cukup jauh membuat Wilson harus bisa mengimbangi gadis itu.


" kamu akan tahu perasaan saya nanti di hari pernikahan kita.. "


🌿🌿🌿🌿


Leo ikut membaringkan tubuhnya di samping Grace yang sudah tidur mendahuluinya. tadi Leo menyempatkan diri menghubungi sohibnya untuk memberikan kabar mengenai kehamilan Grace.


tak lupa Leo menceritakan curahan hati Grace pada Exel.


Exel menanggapinya dengan kekehan. biarkan nanti mengalir seperti air. Exel tidak bisa menjamin akan kesiapan dirinya untuk keluarga Leo, mengingat dia juga punya tanggung jawab yang lebih terhadap istrinya.


dan Leo paham akan hal itu, Ia tidak memaksa sohibnya untuk selalu ada di setiap urusan keluarganya. hanya saja Leo menginginkan Sohibnya sesekali turut memperhatikan Grace walaupun sekedar menanyakan kabarnya.


Dia tak ingin Grace merasa terabaikan. begitupun sebaliknya, Leo juga akan melakukan hal yang sama pada keluarga kedua sohibnya.


.


.


.


.


Di sepertiga malam, Leo terjaga sebab merasakan sesuatu pada daerah intimnya. tetapi rasa kantuk yang tak bisa ditahan membuatnya membiarkan tangan lembut nan hangat memainkan barang pusakanya.


meskipun antara sadar dan tidak, Leo tetap memejamkan mata mencoba melanjutkan tidurnya.


Leo mengumpat dalam hati di tengah lenguhannya.


" ***.. susah payah gue nahan diri.. lo malah sengaja goda gue.. "


🀭🀭🀭*

__ADS_1


__ADS_2