
hari ini adalah hari kepulangan Grace dari rumah sakit setelah wanita itu dinyatakan benar-benar sudah sembuh.
Di kediamannya kini sedang melakukan pembersihan total untuk menyambut kedatangan Grace, dimana Deti sengaja membayar jasa beberapa orang untuk membersihkan rumah putranya. walaupun Deti tahu jika anak menantunya sebelas duabelas cuek akan kondisi rumahnya. tetapi kali ini Deti ingin memberikan kesan lebih nyaman untuk Grace, setelah menantunya itu terlalu lama menghirup aroma khas rumah sakit.
" kalian urus aja Cio sama Gwen, biar wangi pas ketemu sama maminya.. " titah Deti kepada Lilis dan Ratna yang sempat protes
. ya, mereka merasa masih mampu melakukan pekerjaan itu. lagipula mereka tidak kerepotan terlebih dua anak majikannya nampak anteng, apalagi si kecil Lucio yang excited mengasuh adiknya. dan itu sedikit membantu juga meringankan beban mereka.
" baik nyah.. " sahut mereka. pada akhirnya mereka paham dengan niat Deti yang terkesan perfeksionis itu. Lilis yang hendak menyiapkan makananpun jadi urung, sebab Deti sudah membawa beberapa masakan dari rumahnya.
" good, kalo gini kan saya jadi like.. sekarang tinggal duduk manis nunggu besan.. "
...****...
Di rumah sakit,
Leo sudah mengemas semua pakaiannya selama menginap di sana untuk menjaga istrinya ketika tahap pemulihan. begitupun dengan Grace, dia nampak segar setelah menyempatkan untuk mandi terlebih dulu.
" pake ini dulu biar tambah seger.. " Leo menunjukkan lipstik kepada Grace. " mau dipakein..? " tanyanya kala Grace hanya diam saja.
Grace mengangguk pelan membuat Leo mendekat menghampirinya. kemudian Pria itu memakaikan lipstik tersebut di bibir Grace.
" selesai.. lo selalu cantik Grace.. " ucap Leo yang belum menjauhkan wajahnya dari wajah Grace. bahkan wanita itu bisa merasakan helaan napasnya.
sial, Leo sangat menginginkan bibir candunya itu. akan tetapi Ia tertahan dengan sikap Grace yang hanya menanggapinya dengan senyuman tipisnya saja. sikap istrinya itu seolah membentengi keberanian Leo yang biasanya main terkam begitu saja kala tergoda.
Leo sendiri merasa heran dengan sikap Grace. padahal ketika istrinya itu baru siuman masih nampak baik-baik saja, berbincang dan bahkan mengajaknya berdebat seperti sebelum-sebelumnya. akan tetapi sejak dirinya kembali dari ruangan Silvie dan juga Megan, sikap Grace langsung berubah. dimana istrinya itu tidak berbicara padanya, bahkan untuk melakukan apapun istrinya itu selalu melakukannya sendiri tanpa meminta bantuannya.
" are you okay..? " pertanyaan untuk kesekian kalinya yang di lontarkan oleh Leo kepada Grace yang selalu setia mendiamkannya. dan lagi-lagi Grace menggelengkan kepalanya. ya, istrinya itu selalu menanggapinya dengan gerakan tubuh tanpa bersuara.
Leo menghela napas panjang ketika melihat Grace sudah mendahuluinya melangkah keluar. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, lebih tepatnya Leo tidak ingin memaksa Grace untuk berbicara kepadanya, setidaknya istrinya itu masih sudi menanggapinya walaupun dengan gestur tubuh saja.
.
.
.
Keduanya sudah berada di dalam perjalanan pulang. tidak ada yang bersuara baik Grace maupun Leo. keduanya sama-sama saling diam, dimana Grace memilih memalingkan wajahnya ke arah jendela. sementara Leo, Pria itu terpaksa fokus mengemudi sambil sesekali melirik kearah istrinya.
ketika mobil berhenti di lampu merah, Leo memberanikan diri untuk menyentuh tangan Grace, beruntung tidak ada penolakan dari istrinya membuatnya sedikit merasa lega.
" mau jajan dulu..? " tanyanya memecah keheningan sambil meningkatkan keberaniannya dengan mencium punggung tangan Grace yang masih berada di genggamannya.
Gracepun menggeleng lagi membuat Leo mengangguk menghela napas panjang. Leo mengetuk-ngetuk kemudi dengan jarinya, mencoba mencari bahan pembicaraan lain dan berusaha tidak menyinggung Grace juga membuatnya tidak nyaman.
" mau beliin sesuatu buat anak-anak..? " celetuk Leo pada akhirnya menemukan topik kali ini. menurutnya dengan membawa nama anak-anaknya, Grace bisa sedikit menanggapinya.
Gracepun mengangguk cepat tanpa menimbang-nimbang lagi. Dia terlihat sangat antusias, terlebih dengan bayi perempuannya yang hanya bertemu dengannya sekali saja waktu itu. rupaya Leo mengajaknya berinteraksi berhasil juga.
__ADS_1
" kayaknya Gwen udah pantes di pakein bando, dia juga belum punya, soalnya gue cuma sempet beli baju sama perlengkapannya aja, yang lainnya gue gak paham.. gimana kalo lo yang milihin? pasti pilihan lo cakep-cakep.. "
sontak saja Grace mengangguk tersenyum sumringah, bahkan dia membiarkan Leo mencium tangannya berulangkali.
seketika Leo teringat akan sesuatu hingga membuatnya menepuk dahinya kasar. Dia tidak sengaja berbohong, dia asal berbicara membawa kata bando. pasalnya benda tersebut sudah banyak dimiliki putri kecilnya, kado dari para karyawan dikantornya. dan Grace, Dia sama sekali tidak memperdulikan gerak-gerik Leo, Dia terlalu bersemangat untuk berbelanja keperluan anak-anaknya.
" mah, tolong umpetin semua aksesoris Gwen, terutama bando.. please mah.. " satu pesan singkat, Leo kirimkan kepada ibunya. Dia berharap semoga ibunya bisa diajak bekerjasama.
" kenapa? Gwen malah lagi make bando.. kamu mah bikin orang bingung.. "
Leo menghela napasnya kasar kala membaca pesan balasan dari ibunya. dia sendiri sangat mengutuk kecerobohannya yang asal berbicara itu. sepele, tetapi Dia tidak ingin terkesan mengada-ngada.
" lakuin aja mah, please.. ini antara hidup mati Leo.. 🥺 "
" iya.. iya.. pake bawa hidup mati segala.. "
.
.
.
setibanya di pusat perbelanjaan, keduanyapun berjalan berdampingan memasuki area tersebut. dimana Leo yang sudah mengenakan topinya sebelum Grace menyuruhnya. ah, Dia terlalu percaya diri jika istrinya itu akan melayangkan protes jika ketampanannya menjadi pusat perhatian orang-orang.
grep.. dengan beraninya Leo merangkul pinggang Grace yang sudah ramping lagi itu,
" mau makan dulu..? " tanyanya lembut.
" yaudah, kita langsung belanja aja.. anak-anak juga pasti lagi nungguin maminya.. " ucapnya lagi di angguki Grace setuju.
keduanya kini sudah berada di salah satu toko perlengkapan anak juga aksesoris. dimana Grace nampak bersemangat memilah-milah beberapa aksesoris lucu untuk bayi perempuannya. sementara Leo, Dia hanya bisa memperhatikannya saja.
" Grace, ini bagus gak buat Cio..? " Leo menunjukkan sebuah topi anak-anak yang Ia ambil secara asal. sekali lagi Leo berusaha berinteraksi dengan istrinya.
Grace mengangguk mengiyakan, Dia setuju dengan barang pilihan suaminya. kemudian Dia beralih kembali memilah-milah aksesoris di hadapannya.
Lagi-lagi Leo harus mencari cara agar tidak terabaikan. Dia mengambil jedai rambut yang kebetulan ada di depannya.
" sini biar lo leluasa.. " ucapnya sambil meraih rambut Grace yang tergerai begitu saja.
Grace mengangguk menurut, Dia membiarkan Leo melakukan sesuatu dengan rambutnya. Dia pikir tidak ada salahnya juga, dan memang apa yang dilakukan Leo, benar-benar membantunya agar lebih leluasa memilah.
Sementara Leo, lagi-lagi Dia mengutuk tindakan bodohnya itu. pasalnya Dia tidak suka jika leher jenjang nan mulus milik istrinya harus terekspos begitu saja. sial, Leo juga tergoda, mati-matian Dia berusaha menahan gejolak ketika melihat leher mulus itu.
Setelah selesai, Leopun mengambil alih membawakan barang-barang yang sudah dipilih oleh Grace. kemudian Dia membawanya ke kasir untuk melakukan pembayaran.
Leo berlagak tercengang ketika melihat total rincian belanjaan Grace. seolah menuduh istrinya sudah kalap berbelanja sehingga membuat isi dompetnya terkuras lumayan banyak.
" waw.. amazing.. " ucapnya sengaja mengeraskan suaranya agar Grace mendengarnya. berharap istrinya akan meladeninya. tak mengapa Ia harus dibilang "ogah rugi", asalkan Grace mau mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
" gila, jepitan rambut aja nyampe gope? emas juga bukan.. ck.. " celetuknya sok menyesal, berharap Grace akan mengomel dan mengajaknya berdebat. tapi sayangnya Grace tidak menyahutinya sama sekali. bahkan istrinya itu sudah keluar duluan dari toko tersebut.
" sabar Leonard.. " gumamnya ketika memperhatikan langkah Grace.
" Kira-kira kalo gue hajar malam ini juga, lo bakal protes gak?" tiba-tiba otak ngeresnya kumat kala harus di suguhkan dengan pemandangan sensitif. dimana Grace nampak membuka outer yang dikenakannya dan tak sengaja kaosnya juga ikut tersingkap hingga membuat perut ratanya keliatan.
" protes sih kayanya gak bakalan, tapi masa iya gue aktif sendiri.. "
Leo belum juga melajukan mobilnya karena terlalu antusias melihat aktivitas Grace, lebih tepatnya asyik mengamati bagian tubuh istrinya yang terekspos itu. Grace nampak kesulitan, karena salah satu kancing outernya mengait dengan rambut, dia juga tidak menyadari jika kaosnya juga ikut terangkat.
" sini biar gue bantu.. "
Leo sengaja berlagak kesulitan juga agar durasi tontonannya lebih lama. setelahnya, dia melakukan percobaan untuk memancing reaksi Grace. dengan keberanian yang sudah terkumpul, Leo memulai aksinya dengan menyentuh bagian sensitif di sana.
percobaan yang menghasilkan, Grace sama sekali tidak protes membuat Leo seolah mendapat lampu hijau untuk melanjutkan aksinya kembali.
" lo selalu dan semakin cantik Grace.." bisiknya ketika wajahnya sudah dekat dengan wajah Grace.
cup.. tanpa bisa di kendalikan lagi, akhirnya Leo berani untuk mencium bibir candunya itu. walaupun Grace tidak menolak, tetapi wanita itu melakukannya dengan pasif membuat Leo bekerja sendiri. dan tentu saja dengan sentuhan tangannya yang masih nakal disana.
beberapa menit kemudian, Leo menyudahi aksinya. Dia tidak ingin kebablasan, mengingat ini masih di tempat umum. setidaknya percobaannya itu membuahkan hasil dan tanggapan Grace cukup memberikan jawaban malam nanti. ehem..
" makasih sayang.. " di usapnya bibir Grace yang masih menyisakan salivanya dengan jempol Leo.
Leopun melajukan mobilnya keluar dari area pusat perbelanjaan tersebut dengan perasaan sedikit lega.
setibanya di rumah, keduanya langsung mendapat sambutan dari orangtuanya yang lengkap hadir di sana. juga kedua anaknya nampak segar, padahal seharusnya ini waktu jam tidur siang mereka.
" sayang, akhirnya kamu pulang nak.. " Deti langsung memeluk erat menantu kesayangannya, disusul oleh Anita juga yang lainnya secara bergantian.
" Grace kangen kalian semua kangen rumah ini.." sahut Grace tersenyum bahagia. " dan pastinya mami kangen sama Cio juga Gwen.. "
Grace langsung memeluk Lucio kemudian beralih ke putrinya yang berada di gendongan Ratna.
" si Mba.. " ucapnya ingin menggendong Gwen.
" hay cantiknya mami, mami beliin bando banyak buat Gwen loh.. "
sontak Deti tercengang dan langsung menahan kekehannya kala tak sengaja adu tatap dengan Leo, putranya itu mengedipkan matanya mengisyaratkan agar Ia bisa di ajak kerjasama.
Detipun mengangguk mengiyakan walaupun dia tidak paham apa yang terjadi sebenarnya.
" mami, mami.. " si kecil Lucio berceloteh sambil menyodorkan tangannya meminta Grace agar menggendongnya juga.
grep.. dengan cepat Leo yang menggendong si kecil Cio.
" maminya gendong adek dulu yah, abang sama papi.. nanti gantian abang yang di gendong mami.. iya kan mami? "
seolah mendapat kesempatan, tanpa menunggu jawaban dari Grace, Leo sudah mencium pipi istrinya itu.
__ADS_1
" ck jadi sama gue doang lo gak mau ngomong.. "