Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 67


__ADS_3

Hari-hari kebebasan setelah terlepas dari status sebagai pelajar mereka lalui dengan berbeda seperti teman yang lainnya, dimana keduanya tengah antusias menjalani hari-hari menanti kehadiran buah hati mengingat kandungan Grace sudah memasuki bulan untuk melahirkan.


Grace menjalani kesehariannya dengan santai dan tenang, walaupun sebelumnya dirinya merasakan ketegangan menuju bulan dimana dirinya akan mengalami persalinan, namun kini Grace semakin antusias menyambut sang buah hati sebab Ia rajin membaca artikel atau menonton video seputar persalinan , terlebih mengenai metode-metode persalinan secara normal.


Grace memang sangat menginginkan melahirkan secara normal, dan Ia tertarik dengan salah satu metode tiup-tiup yang tengah viral di berbagai laman media sosial.


sementara Leo mulai berlebihan dan heboh menyambut hari kelahiran anaknya, Ia sangat menjaga Grace, meluangkan waktu lebih banyak dirumah untuk menemani Grace, sesekali Leo mengecek ladang usahanya, dan terkadang menyuruh kedua sohibnya untuk mewakilkan.


Bahkan Leo membiarkan kedua sohibnya ataupun kedua sahabat istrinya untuk bermain dirumahnya daripada nongkrong gak karuan diluar.


Sekali lagi Leo ingin menjadi suami dan Ayah yang siaga.


🍃🍃🍃


Pagi sekali Grace mengajak Leo untuk menemaninya joging disekitaran komplek rumahnya mengingat anjuran dari Dokter kandungannya untuk lebih banyak bergerak agar mempermudah juga melancarkan persalinannya nanti.


" Leo.. pake topi lo, gue gak mau yah ketampanan lo di nikmati sama emak-emak ato cabe-cabean. "


ucapnya ketus saat Leo sedang bersiap untuk menemaninya joging.


Leo dibuat terkekeh dengan sikap Grace yang cemburu namun terselip memuji ketampanannya,


"hmm.. Sini sayang.. " Leo menyuruh Grace duduk di meja rias,


Gracepun menurut mendudukkan dirinya di bangku dengan wajahnya yang masih cemberut tanpa berucap, dan itu membuat Leo semakin gemas terhadapnya.


dengan cekatan Leo menyisir rambut Grace dan mengikatnya tinggi seperti ekor kuda.


sebelumnya Grace meminta ijin untuk memotong rambutnya pendek karena merasa gerah, tetapi Leo tidak mengijinkannya mengingat dirinya sangat suka sekali dengan rambut panjang Grace yang indah dan pastinya sering menjadi sasaran ketika dirinya merasa gemas terhadap Grace.


________


" jalan santai aja Grace.. "


ucap Leo pelan menggenggam tangan Grace.


" hmm.."


walaupun Grace masih cemberut, tetapi dirinya tak lepas bergelendotan pada lengan kekar Leo sebab ekor matanya berhasil menangkap para kaum hawa yang mengikuti mereka.


" bentar sayang.. "


Leo membungkukkan badannya dihadapan Grace, kemudian mengikat tali sepatu Grace yang terlepas.


tanpa Leo sadari Grace tersenyum merekah dengan perlakuannya yang sederhana namun terkesan romantis.


" Makasih papi.. "


ucap Grace dengan lantang sengaja mengompori para penguntit.


Leo mendongak tersenyum mendengar panggilan dari Grace yang jarang sekali Ia dengar,


" oke boy.. Nanti Papi tengokin yah.. "


ucapnya semangat seraya mengelus perut Grace lalu menciumnya cukup lama.


Leo memang sangat antusias untuk sering mengunjungi anaknya terlebih saran dari Dokterpun sama guna mempermudah jalan lahir nanti saat Grace bersalin.


Mata Grace membola, ingin sekali dirinya menendang Leo yang masih mencium perutnya saat ini juga, tetapi para penguntit membuatnya harus bersikap manis.


" Sayang.. udah .. "


ucapnya sok manja menyuruh Leo bangkit dengan meraih tangannya.


Kini keduanya telah sampai di taman tengah komplek perumahan.


Grace memilih melakukan senam gerakan-gerakan kecil menikmati sinar matahari pagi, sementara Leo melakukan fitnes menikmati fasilitas yang tersedia lengkap di taman tersebut.


" aaa.. Papah muda, maco begitu.. udah ganteng romantis lagi.. "


"Mau gak romantis gimana, istrinya aja cantik banget.. "


" Hot Daddy, mengguncang jiwa kejombloanku.. "


Grace memutar bola mata jengah mendengarnya, kesal sebab Leo menjadi pusat perhatian mereka terlebih tubuh kekar yang berkeringat membasahi kaosnya membuat dada bidangnya terjiplak dengan sempurna. dirinya saja yang sudah biasa menikmati tubuh kekar Leo masih bisa di buat terpana apalagi mereka.


Merasa risih, Grace menyudahi aktivitasnya, Ia pun menghampiri Leo ,


" Sayang.. balik yuk capek.. "


Grace dengan manja mengelap keringat di wajah Leo yang tak sudi jika yang lain menikmati ketampanan suaminya.


Leo yang menyadari jika Grace saat ini sedang cemburu menahan tawanya, Iapun meraih tangan Grace untuk digenggamnya.


Keduanyapun berjalan melangkah dengan mesra, dimana Grace asyik berdelendotan pada Leo yang hanya miliknya.


" Mau naik taksi..? "


tanya Leo seraya mengelus lembut perut Grace.


" Lebay.. Orang udah deket juga... "


timpal Grace ketus.


jika saja para fans dadakan masih mengikuti keduanya, tentu Ia akan menerima penawaran Leo dengan manja.


"Mau digendong..? "

__ADS_1


"No..!!! "


" Katanya capek..? " goda Leo menoel dagu Grace.


"Gue capek liatin suami gue jadi objek cabe-cabean.. "


timpal Grace ketus memalingkan wajahnya.


Leo terkekeh kembali mengelus perut Grace,


" Liat Boy.. Mami makin cantik kalo ngambek.. "


ucapnya seraya melirik wajah Grace yang tengah cemberut.


Grace tersentak, bayi yang berada di dalam perutnya menggeliat, begitupun dengan Leo yang ikut merasakan gerakan diperut Grace seolah merespon ucapannya.


" Wah.. rupanya anak Papi gak sabar mau ditengokin.. "


ucapnya kegirangan mengoceh dengan perut Grace dan terus mengelusnya berharap sang anak kembali bergerak, tetapi Grace langsung menepisnya,


" Ngaco lo.. Sotoy banget "


ucap Grace melengos pergi.


sementara Leo menggeleng terkekeh seraya mengikuti langkahnya.


_____


saat keduanya telah tiba di depan rumah, terlihat sudah ada mobil Exel terparkir didepan rumah mereka.


" Ngapain nih si kitty pagi-pagi udah kesini..? "


ucap Grace melirik Leo,


Leopun menaikan kedua pundaknya tanda tak tahu akan maksud Exel menyambangi rumahnya.


" Wihh.. Ada apa gerangan uncle kesini ? "


ucap Grace santai menyapa kedua sohib Leo yang tengah menunggu keduanya di ruang tamu.


ya, rupanya Ari juga ikut dengan Exel.


" Mau minta makan mom.. "


timpal Ari cengengesan, sementara Exel memasang wajah serius.


" Belum pada sarapan lo..? "


tanya Grace kembali pada kedua sohib Leo.


" biar gue siapin makan dulu, bibi lagi pulang kampung.. "


ucap Leo seraya bangkit, namun segera Grace mencegahnya.


" Gapapa gue aja.. Lo temenin aja noh dayang-dayang lo kayaknya lagi galau.. "


timpal Grace cengengesan melengos pergi ke dapur.


" Ada apa? "


tanya Leo menatap kedua sohibnya yang terlihat gusar.


" Le.. temenin gue le.. "


kini Exel merengek sama persis dengan Leo waktu ngidam sungguh tidak ada wibawanya.


Leo mengerutkan dahinya belum paham maksud Exel.


" temenin gue nemuin bokap si Silvie.. Bokap gue masih di ausy..Si kunyuk juga gak berani nemenin sendiri.. "


ucap Exel kembali seraya menggoyangkan lengan Leo bak anak kecil minta diajak main.


Leo menahan tawanya melihat tingkah Exel yang tidak ada kesan coolnya sama sekali,


" Cih..Pengecut lo.. "


timpal Leo dingin, padahal ingin sekali menertawakannya.


" Yah.. Lo mah enak dulu di kawinin paksa, please Leo temenin gue kalo perlu lo ajak bini lo.. "


Exel masih merengek membuat kedua sohibnya terkekeh geli.


Memang benar saat ini ayahnya Exel sedang berada di luar negeri, tetapi bukan itu alasan Exel meminta Leo untuk menemaninya melainkan Ia tak punya nyali bercerita kepada orangtuanya terlebih sang Ayah yang terkesan kejam suka menyita segala fasilitasnya.


saat ini Exel benar-benar dilanda kebingungan, dimana Ia mendengar akan dijodohkan dengan anak dari rekan bisnis sang Ayah. disisi lain sang kekasih mendesaknya agar segera menemui orangtuanya untuk menjelaskan hubungan keduanya pada mereka.


ya.. memang selama ini keduanya belum memperkenalkan satu sama lain kepada orangtua masing-masing.


" Yoi bro, siapa tau si Grace bisa jinakin bokap si Silvie.. "


timpal Ari cengengesan di angguki oleh Exel, sementara Leo langsung menoyor kepalanya,


" ck.. lo kata bini gue pawang hewan buas apa..?" sahut Leo tak terima, sementara Exel segera meraih tangannya hendak membujuknya kembali.


" Leonard.. Please..!!! temenin gue.. "


Exel terus saja merengek membuat Leo memijat kedua alisnya merasa frustasi dengan tingkah Exel seperti anak kecil.

__ADS_1


Jujur, Leo sendiri tak punya nyali jika harus menghadapi ayahnya Silvie, mengingat ucapan Grace kalau ayah Silvie seperti "tuan takur"


membuat ketiganya bergidik merinding saat membayangkannya.


Akan tetapi Leo sendiri sudah berjanji akan membantu sohibnya tersebut apapun, kapanpun dan dimanpun.


" Hmm, iya.. mana laporan lo..? " ucap Leo pasrah seraya bangkit menuju ruang kerjanya diikuti kedua sohibnya.


" Mau kan Le temenin gue..? "


" Hmm.."


" Beneran..? "


" Hmm.."


" janji..? "


" hmm.."


"Gak pake boong kan? "


" berisik lu.. " Leo sungguh frustasi dengan rengekan Exel begitupun dengan Ari yang langsung menoyor kepalanya.


Ketiganya kini sedang fokus dengan laporan usaha Leo dan perusahaan mertuanya setelah Exel sumringah kembali sebab Leo mengiyakan keinginannya.


Leo mulai terjun ke perusahaan mertuanya setelah mencoba mempelajari ilmu tentang bisnis diusianya yang masih muda.


Leo dan Grace juga sudah sepakat akan melanjutkan pendidikan di dalam negeri dan tak memperdulikan beasiswa kuliah di universitas ternama diluar negeri yang sudah pasti merupakan impian semua orang, keduanya memilih kuliah sambil fokus mengurus anak nantinya.


ditengah seriusnya membahas soal perusahaannya, Leo kembali membayangkan persalinan yang akan di alami oleh Grace.


rasa cemas kini kembali menghantuinya. walaupun dirinya yang mengalami ngidam, tetap saja menurutnya Grace lah yang paling berjuang rela selama sembilan bulan mengandung anaknya, bersabar menjalani aktivitas sebagai pelajar ditengah kehamilan dan tak pernah memperdulikan omongan orang yang mempertanyakan kehamilannya saat masih sekolah.


" Lo kenapa Le..? " tanya Ari keheranan dengan sikap Leo yang tiba-tiba berbeda.


" hmm.. Nyokap lo pas lahiran si dila normal kan? "


tanya Leo dengan raut wajah yang cemas.


" Iya, ngapa emang..? " timpal Ari bingung.


" nyokap lo ngerasain sakit gak..? "


" mana gue tau, gue kan molor waktu si Dila lahir.. "


timpal Ari cengengesan tanpa beban dan dosa.


Grace yang sedang bergelut di dapur tiba-tiba di buat terkejut mendengar teriakan juga jeritan dari arah ruang kerja.


" perasaan dari tadi pada anteng.. ngapa sekarang teriak teriak..? "


Ketiganya kini tengah serius menonton tayangan perjalanan menjadi seorang Ibu, berjuang mempertaruhkan nyawa demi melihat kehadiran bayi mungil di dunia.


" Mamih, maafin El.."


Exel terisak mengingat semalam Ibunya meminta dirinya menemani belanja bulanan yang tak di indahkan olehnya.


" Bunda maafin Ari.. janji gak berantem lagi sama Dila.. "


Ari tak kalah menangis sampai sesegukan sementara Leo merenung memikirkan nasib istrinya nanti berjuang untuk melahirkan anaknya. " gue harus gimana biar lo gak kesakitan Grace.. "


Merasa penasaran sebab ketiganya lama tak kunjung keluar Gracepun akhirnya menghampiri mereka .


Brakk..


Grace terbelalak melihat pemandangan dihadapannya, dimana tiga pria tampan yang selalu dingin kini tengah bersimpuh dipojokan ruangan menghadap layar laptop.


Ketiganya tengah menutup mata dengan telapak tangannya dengan kompak badan gemetaran seperti sedang menonton Film horor padahal yang ditonton adegan Ibu sedang melahirkan.


Jika iya pun sedang nonton film horor sangat tidak mungkin ketiganya menciut ketakutan.


Grace menggeleng terkekeh geli, seandainya sedari tadi Ia menyaksikan pemandangan tersebut, sudah pasti Grace akan merekamnya untuk bahan olokan nantinya.


" pada ngapain lo..? " tanya Grace dengan suara lantang membuat ketiganya mendongak kompak segera menutup layar laptopnya.


" gak ngapa-ngapain.. "


sahut Leo gelagapan sementara kedua sohibnya menunduk gugup.


Grace menyunggingkan senyuman dengan tatapan meremehkan,


" masih pagi aja lo pada ketakutan, gimana tengah malem lo nonton horornya.. Payah lo pada.. "


ejek Grace yang mengira jika mereka sedang menonton film horor, sungguh jika saja semua anggota gengnya melihat para junjungannya saat ini pasti memalukan.


Leo menghela napas tenang mencoba untuk terlihat baik-baik saja,


" sayang.. udah masaknya? " tanyanya mengalihkan.


" Hmm.. udah sono pada makan, gue mau mandi dulu.. "


titah Grace melengos keluar membuat ketiganya bernapas lega bersamaan.


ceklek... Grace kembali dengan menyembulkan kepalanya di pintu.


" Cuci dulu mukanya.. " ejek Grace terkekeh melihat ketiganya yang berwajah sembab habis menangis.

__ADS_1


__ADS_2