Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 55


__ADS_3

Malam makin larut, Anita terjaga dari tidurnya setelah mendengar suara teriakan dari kamar Grace.


Anita bergegas pergi ke kamar Grace dengan panik. di dapatinya Grace sedang mengigau parah dengan badan yang menggigil tetapi suhu tubuhnya sangat panas.


Dengan panik dan penuh kecemasan Anita segera menghubungi Leo.


Tak lama Leopun datang dengan langkah yang tergesa-gesa.


"Sayang.. "


Leo segera memeluk Grace dengan menangis terisak tanpa memperdulikan kehadiran Anita.


"Nak.. Sepertinya ini gara-gara kehujanan tadi.. "


Ucap Anita melihat kondisi Grace saat ini yang menggigil dan meracau kemana-mana.


"Leo lo jahat.. Gue benci sama lo gue benci.. "


Grace meracau dengan mata yang masih terpejam.


"Maafin gue.. "


Ucap Leo masih terisak memeluk Grace begitu erat.


"Lo cowok paling brengsek yang gue kenal.. Lo gak mau ngakuin anak lo sendiri.. Lo jahat Leo lo jahat.. "


Leo terdiam menatap sendu wajah Grace, Ia kembali mengutuk kebodohannya sendiri


"Kenapa lo tega Leo.. Gue pikir adanya anak yang gue kandung udah bisa sempurnain hidup lo, tapi lo begitu jahat gak mau ngakuin anak yang gue kandung.. Lo emang brengsek Leonard.. "


tanpa sadar Grace mulai terisak membuat Leo semakin bersalah terhadapnya.


"Apa cuma gue yang mengharapkan kehadiran anak ditengah keluarga kecil kita.. ?"


mendengar itu, Leo langsung menggeleng dengan cepat seraya mengeratkan pelukannya.


"No Grace.. " ucapnya dengan lirih tidak membenarkan ucapan Grace.


"Selama ini gue gak pernah mikirin nunda buat ngandung anak lo..


Gue bener-bener mau nyempurnain hidup lo Leo, bahkan gue siap ngadepin cemoohan dari orang-orang yang berpikir buruk tentang gue seperti sekarang,


tapi lo dengan entengnya gak mau ngakuin anak yang gue kandung..tadinya gue sempat berpikir mau mengakhiri hidup gue.. Lebih baik gue nyusul nyokap gue biar lo puas..


Tapi gue gak sebodoh dan selemah itu, gue harus bertahan buat anak gue walaupun lo udah hancurin hidup gue, tapi anak gue udah nguatin gue buat bertahan.. "


Grace menangis sesenggukan seraya mencengkram lengan Leo yang mendekap nya.


"Apa gue memang seseorang yang mudah buat lo lupain..?


Mari kita akhiri semuanya..


gue bakalan coba buat lupain lo Leo.. walaupun itu sulit, tapi gue harus berusaha buat lupain semua kenangan kita..


Lepasin gue Leo.. sebaiknya kita jalani hidup kita masing-masing.. "


sontak Leo menggeleng menolak masih terisak. Tak ingin Grace semakin menjadi, Ia meminta Anita untuk segera mengambilkan obat penurun panas.


Anita pun menurut seraya pergi keluar dari kamar Grace dengan tergesa-gesa mengambilkan obat untuknya.


"Izinin saya buat rawat Grace sebentar bu.."


Lirih Leo pada Anita yang sudah kembali membawa obat untuk Grace.


Anita yang paham segera keluar.


Kini Leo mulai memasukkan obat tersebut ke dalam mulut Grace tanpa membangunkannya.


kemudian Leo melakukan kembali "skin to skin" seperti dulu yang pernah dilakukannya terhadap Grace ketika menggigil.


Leo melepaskan pakaiannya juga pakaian Grace, dan kembali memeluknya dengan erat untuk menenangkan Grace.


Benar saja, perlahan Grace mulai tenang dan berhenti meracau sampai benar-benar terlelap dengan pulas, tetapi tidak dengan Leo yang berusaha tetap terjaga memastikan Grace tidur dengan tenang.


...****************...


Malam berganti pagi,


Pagi sekali Leo bergegas pergi sebelum Grace terbangun dari tidurnya.


Leo mengingatkan Anita agar tidak memberitahu kehadirannya semalam kepada Grace.


Ia tidak ingin Grace merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.


Grace terbangun menggeliat merasa segar dan mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang.


"Ternyata cuma mimpi.. "


Gumamnya melirik tempat tidur disampingnya.


Grace berpikir semalam Ia bermimpi tidur dengan Leo disampingnya yang setia memeluk dan membelainya seperti nyata.

__ADS_1


Sejenak Ia terdiam seraya menyentuh dahinya yang sangat terasa saat Leo mengecupnya.


"Apa separah ini gue gak bisa lupain lo Leo..? "


Grace menggelengkan kepalanya, dengan cepat menepis semua pikirannya tentang Leo.


"Come on Grace.. Lo harus jaga kewarasan demi anak lo.. "


Ucap Grace dengan semangat seraya bangkit menuju kamar mandi.


Tak lama Gracepun keluar kamarnya dengan berpakaian sekolah lengkap menghampiri Anita yang sedang menyiapkan sarapan.


"Loh nak.. gak istirahat aja..? " tanya Anita khawatir akan keadaan anak sambungnya.


"Grace harus sekolah bu, bentar lagi kan ujian, Grace gak mau ketinggalan pelajaran.. "


Ucap Grace meyakinkan Anita seraya mengulas senyuman.


"Ya sudah.. tapi sarapan dulu yah.. " timpal Anita dengan lembut seraya menyendokkan makanan untuk Grace membuat Grace mengangguk mengiyakan.


"Masakan Ibu enak..Boleh Grace bekal ke sekolah..? "


"Tentu nak.. Biar Ibu siapin yah.. "


Anita pun menyiapkan bekal untuk Grace.


Selepas menghabiskan sarapannya Grace berpamitan pada Anita dan meminta ijin menggunakan salah satu mobil Ayahnya.


"Hati-hati nak.. Apa gak sebaiknya sama supir aja..? "


Ucap Anita cemas.


"Gak usah bu..Grace jago nyetir hee. Leo aja suka.."


seketika Grace terdiam saat kembali mengingat kenangannya bersama Leo.


Anita menatapnya sendu mengerti apa yang dirasakan anak sambungnya.


Melihat itu, Grace merasa tidak enak dengan Anita yang mengkhawatirkan dirinya.


" Bu Grace boleh minta uang jajan gak..? "


ucapnya cengengesan mencoba menghibur Anita.


dan benar saja, Anita langsung tersenyum dengan tingkah Grace seperti gadis kecil yang mencoba merayunya.


Iapun menyodorkan beberapa lembar uang merah kepada Grace.


"Kebanyakan bu.. Grace kan udah bawa bekal.. Segini juga cukup bu.."


"Yasudah Nak.. Hati-hati yah.. Semangat belajarnya, Jangan terlalu banyak pikiran.. Kasian cucu Ibu.. "


Ucap Anita melirik perut Grace yang membuncit.


mendengar itu, Grace tersenyum sumringah dengan mata yang berbinar,


"Ibu benar, ini cucu Ibu.. makasih ya bu.. "


Ucap Grace berhambur memeluk Anita dan langsung di sambut oleh Anita dengan senang hati.


Grace mulai melajukan mobilnya keluar dari area rumah tersebut.


Grace tidak menyadari jika sedari tadi mobil Leo membuntutinya untuk memastikan dirinya baik-baik saja sampai tiba disekolah.


Grace memarkirkan mobilnya dengan apik. tak lama mobil Leo datang dibelakangnya membuat Grace malas untuk keluar dari dalam mobilnya sebelum Leo benar-benar hilang dari pandangannya.


Bukan Grace namanya jika harus mengalah, tanpa memperdulikan Leo dirinyapun keluar dari mobil dengan wajah datarnya.


Para penggemar yang sedari tadi sudah setia menunggu merasa bersalah dengan Grace.


Semua menghampiri Grace untuk meminta maaf pasal hari kemarin.


beruntung kemarin dengan segera pihak sekolah mengumpulkan seluruh siswa untuk memberitahukan perihal status pernikahan Grace dan Leo. begitupun dengan berita yang tranding tentang pengakuan Nadia membuat semua merasa bersalah terhadap Grace.


Grace hanya bisa menanggapi dengan anggukan dan senyuman kepada mereka yang tidak hentinya meminta maaf.


"Gue kalo jadi kak Grace, gak bakalan sanggup buat sekolah.. "


"gue gak nyangka kalo mereka udah merit.. Makin gemes gue bayangin anaknya ntar mirip siapa.."


"Pastinya bakalan jadi anak yang kuat kaya emaknya.. "


Bisikan-bisikan para penggemar membuat kedua sahabat Grace merasa geram.


"Bisa gak sih kalian gak gibahin si Grace, udah untung dia legowo maafin kalian.. "


Ucap Megan dengan dingin menatap tajam para penggemar di angguki Silvie yang kali ini tak kalah judesnya dengan Megan membuat para penggemar langsung diam tak bergeming seraya menundukkan kepalanya.


"Grace lo baik-baik aja kan..? "


Tanya Silvie penuh kecemasan menghampiri Grace.

__ADS_1


"Lebay lo.. "


Ucap Grace menoyor kepala Silvie.


"Gue kan khawatir Grace.. Si Leo ada nyamperin lo gak..? "


Tanya Silvie penasaran.


"Guys .. Gue mohon jangan bahas masalah ini lagi.. "


ucap Grace menatap serius kedua sahabatnya.


"Okeh.. Gue kangen kegilaan lo.. " timpal Silvie cengengesan merangkul bahu Grace, membuatnya kembali mendapatkan toyoran di kepalanya.


Ketiganya pun berjalan menuju kelasnya seraya saling melempar ejekan.


Leo bernapas lega melihat Grace dari kejauhan mudah sekali berubah mood, walaupun Ia tahu bahwa Grace menyimpan rapat perasaan lukanya, tapi setidaknya Ia merasa lega melihat Grace kembali ceria bersama kedua sahabatnya.


____


tiba waktu Istirahat Grace memutuskan untuk memakan bekalnya di taman belakang sekolah ditemani kedua sahabatnya.


sementara Leo memutuskan untuk tidur di UKS setelah menahan rasa kantuknya sebab terjaga semalaman. Ari setia menemaninya, lebih tepatnya ikut tertidur bersama Leo.


Sementara Exel mencari keberadaan Grace untuk memastikan kondisinya.


Exel menghampiri Grace cs yang tengah asyik menyantap makanannya masing-masing di taman belakang.


"Ehem.. "


Exel berdehem membuat ketiganya menoleh ke arahnya.


"Grace gimana keadaan lo..? "


Ucap Exel dengan wajah yang cemas, sementara Grace menyunggingkan senyuman,


"Menurut lo..? " ucapnya ketus membuat Exel menghela napas dalam-dalam harus bersabar menghadapi Grace.


"Gue tau lo itu bukan cewek yang lemah,


Lo berusaha kuat buat anak lo..


Gue juga tau sikap si Leo yang udah berlebihan, tapi gue mohon beri dia kesempatan buat memperbaiki semuanya , ini semua juga demi anak kalian.."


Ucap Exel dengan lembut jauh dari jatidirinya selalu dingin membuat ketiganya terdiam terlebih Silvie yang sedari tadi menjerit didalam hati mengagumi Exel.


Grace mengatur napas mencoba tenang, walaupun Ia merasa kesal dengan ucapan Exel yang mengharuskannya memberi kesempatan kepada Leo, tetapi tidak mungkin Exel harus menjadi sasaran kemarahannya pada Leo.


"El.. Sebaiknya lo pergi, percuma lo mau ngomong sampe mulut lo berbusa juga gue tetep sama pendirian gue buat jauhin temen lo..But, Gue apresiasi kerja keras lo semua yang udah ngebantu mecahin masalah gue sama temen lo, tapi lo gak perlu mencampuri urusan rumah tangga gue sama temen lo bahkan sampai mengemis kaya gini demi temen lo.. "


Ucap Grace dengan tegas seraya menepuk bahu Exel, membuat Exel mengangguk paham akan perasaan Grace saat ini.


"Oke kalo gitu gue cabut dulu.. Jaga diri lo baik-baik Grace.. "


ucap Exel dengan lirih menatap Grace tak tega sebelum pergi, namun tertahan oleh Grace


"Tunggu El.. " teriak Grace menghentikan langkah Exel dan kembali menghampirinya.


"Ini lo kasih buat temen lo.. "


Ucap Grace seraya menyodorkan kartu ATM kepada Exel, berniat untuk tidak berurusan lagi dengan Leo termasuk nafkah yang diberikan oleh Leo selama ini akan di kembalikan oleh Grace.


Exel mengangguk lalu menerimanya, dirinya kembali menatap Grace dengan sendu. kali ini Exel benar-benar melihat kelemahan dari seorang Grace, walaupun dengan susah payah Grace menyembunyikannya, tetap saja Exel bisa melihat dan mengerti luka yang di rasakan Grace akibat ulah sohibnya.


Menghela napas dalam-dalam, Exel mengangkat tangannya ke arah Grace,


"Grace setelah ini lo boleh hajar gue.. " ucapnya dengan lirih, rupanya Exel mengusap pucuk kepala Grace bak seorang kakak terhadap adiknya. inilah sisi lain dari seorang Exel yang jarang di lihat banyak orang.


Entah mengapa Grace hanya diam tak bergeming, seolah tidak keberatan dengan kelancangan Exel terhadapnya. Jika saja situasi dalam keadaan normal, tentunya Exel pasti akan menerima pukulan atau injakan maut dari seorang Grace.


mata Grace mulai berkaca-kaca, dirinya hanyalah manusia biasa yang bisa merasakan luka, dan kali ini Ia tak pandai menyembunyikannya.


Grace mendongak menatap Exel seperti mengharapkan sesuatu darinya, kemudian beralih menoleh kearah Silvie seolah meminta ijin padanya. bagaimanapun juga dirinya harus menjaga perasaan Silvie sebagai sahabatnya yang merupakan kekasih Exel.


Silvie mengangguk mengulas senyuman, seolah mengerti apa yang di inginkan oleh sahabatnya saat ini, yakni sebuah dukungan untuk menguatkan mentalnya.


setelah mendapat anggukan dari Silvie, Grace menghambur memeluk Exel dengan mata yang tak mampu lagi membendung buliran cairan yang tertahan sedari tadi.


Exelpun menyambut memeluk Grace dan membiarkannya menumpahkan seluruh perasaan lukanya.


Exel mengusap rambut Grace yang tergerai mencoba menenangkan dan menguatkannya. perlakuan Exel terhadap Grace begitu lembut, bahkan Silvie yang sebagai kekasihnya pun belum pernah mendapatkannya.


jika saja orang lain yang melihat adegan saat ini, pasti akan salah paham dan beranggapan keduanya ada main api, tetapi tidak dengan Silvie yang malah mendukungnya.


"Thanks El.. Si Silvie beruntung punya lo.." ucap Grace lirih mengurai pelukannya,


Grace menatap Exel sejenak kemudian menunduk, dirinya merasa lancang sudah berani memeluk Exel.


Grace sendiri merasa jika Exel sudah seperti kakaknya sendiri, terlebih dirinya merupakan anak tunggal.


Exel hanya mengangguk tersenyum, sebelum pergi Exel menoleh ke arah Silvie seolah meminta maaf terhadapnya. dan Silvie menanggapinya dengan anggukan. tidak ada rasa kecewa dan cemburu di hatinya, melainkan rasa bangga dan percaya terhadap Exel.

__ADS_1


Kali ini Silvie menunjukkan sisi lainnya di balik sifatnya yang terkesan manja.


"Gue bakalan berusaha buat kalian balikan lagi.. " Exel.


__ADS_2