
"Le.. Sebenernya ada apaan sih..?"
tanya Grace heran melihat Leo tergesa-gesa melangkah keluar dengan raut wajahnya yang terlihat sangat kacau.
"Lo boleh bawa .. "
timpal Leo seraya melemparkan kunci mobilnya kearah Grace.
dan dengan senang hati Grace menerima kuncinya bersemangat duduk dibelakang kemudi tanpa menanyakan alasan kenapa Leo mengajaknya ke rumah mertuanya. keinginan yang sedari tadi akhirnya di turuti juga oleh Leo. Ya, walaupun itu terpaksa agar Grace tak banyak bertanya.
saking bersemangatnya Grace mengemudi mobil barunya, Ia menyetel musik di audio mobilnya dengan suara kencang.
dan itu membuat Leo yang sedang fokus dengan ponselnya terganggu,
" kecilin dikit Grace.. kasian adenya.. " tegur Leo membuat Grace mengangguk pasrah.
"hmm.. "
Grace tidak mengecilkan volumenya melainkan mematikan musiknya sebab merasa takut melihat raut muka Leo yang saat ini terlihat garang.
Sepanjang perjalanan hening tanpa suara, Grace pun enggan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi mengingat Leo terlihat begitu kacau.
Keduanya telah tiba di tempat yang dituju dengan waktu yang cukup cepat, mengingat Grace terbilang pengemudi yang handal walau dalam keadaan hamil sekali pun.
Leo menggenggam erat tangan Grace saat hendak memasuki rumah kedua orangtuanya.
" apapun yang terjadi nanti, gue ada buat lo.. " bisiknya di angguki oleh Grace yang kembali bingung.
deg.
Grace seketika mematung melihat kehadiran wanita paruh baya yang sempat di lihatnya dulu.
dan itu membuatnya kembali mengingat kejadian naas yang hampir saja merenggut nyawa Leo.
" Leo.. tolong bantu tante "
ucap Ibunya Nadia menghampiri Leo.
Ya itu Ibunya Nadia yang berkunjung ke rumah orang tua Leo dengan memiliki maksud dan tujuan tertentu, tiada lain tiada bukan yakni berusaha agar putrinya terbebas dari hukuman.
Leo yang sudah menebaknya sedari awal, diam enggan menyahuti, tetapi dirinya masih menghargai kehadiran Ibunya Nadia dengan mencium punggung tangannya sopan tentunya di ikuti juga oleh Grace, tapi sialnya sikap sopan Grace tak di terima oleh Ibunya Nadia yang malah kembali duduk setelah menerima salaman dari Leo.
Melihat itu, Leo beserta orangtuanya menggeleng,
" Sini sayang duduk.. "
ajak Deti pada Grace yang masih berdiri mematung kebingungan.
Gracepun mendudukkan dirinya di sofa bersama Leo disampingnya.
"Leo.. tolong lepasin Nadia, kasian dia gak mau makan sama sekali.. bahkan Nadia nyaris mau bunuh diri.. "
ucap Ibu Nadia mulai terisak,
namun lagi-lagi Leo diam tak menyahuti, tangannya tak lepas menggenggam tangan Grace.
Sementara kedua orang tua Leo diam membiarkan Leo mengurus juga memutuskan masalahnya.
"Tolong Leo.. Lepasin Nadia, maafin dia, dia berbuat seperti itu karena sangat mencintaimu.. ".
Leo menghela napas mencoba tenang seraya melirik Grace yang sedari tadi hanya bisa diam memperhatikan.
"Maaf tante.. tapi tindakan Nadia sudah sangat keterlaluan.. Saya tidak mentolerir siapapun yang mau mencelakai istri saya.. "
ucapnya serius dengan wajah yang datar nan dingin itu.
"Tante tau Leo.. Nadia sudah berlebihan, tolong maafin dia.. tolong bebasin Nadia.. Dia sangat tersiksa dengan hukumannya, kasihanilah dia Leo, kamu tau sendiri dia sudah tidak memiliki Ayah sampai Tante gagal mendidiknya.."
Kini ini Ibunya Nadia berlutut di hadapan Leo penuh harap dengan senjata membawa-bawa nama ayah Nadia yang sudah tiada.
alih-alih Leo merasa iba terhadapnya, Leo malah membuang wajahnya malas.
berbeda dengan Grace yang tak tega, bagaimanapun di hadapannya hanya seorang Ibu yang perduli dengan putrinya.
Grace turut bersimpuh meraih pundak Ibunya Nadia mengajaknya segera berdiri, namun Ibunya Nadia menepis dengan kasar tangannya.
" Gara-gara kamu Nadia bertindak seperti itu.. kamu yang sudah rebut Leo dari anak saya.."
ucapnya setengah berteriak menatap tajam Grace.
Ibunya Nadia tersenyum sinis ketika pandangannya beralih kearah perut Grace,
" dasar gadis murahan.. "
mendengar itu, seketika tubuh Grace bergetar lemah, dengan sigap Leo membawa Grace kedalam dekapannya.
"Stop..!!! Sebaiknya silahkan anda pergi.. "
ucap Hendri dengan lantang mengusir Ibunya Nadia. tentu Ia tidak terima jika menantu kesayangannya mendapat hinaan seperti barusan.
"Saya tidak akan pergi sebelum mendapatkan keadilan untuk anak saya.. "
teriak Ibunya Nadia menggebu-gebu.
"Keadilan apa tante.. ?"
suara bariton membuat semuanya tersentak kaget, tetapi tidak dengan Leo yang memang sudah menghubunginya tadi di perjalanan menyuruhnya agar segera datang. siapa lagi kalo bukan Exel cowok yang tak kalah dingin dari seorang Leonard.
Exel kini tengah berdiri diambang pintu bersama Ari juga kedua sahabat Grace sempat mendengar percakapan barusan, tentu saja membuatnya geram.
" Keadilan apa yang ingin tante dapatkan..? Saya yang melaporkan Nadia. . tante mau apa? "
ucap Exel menantang dengan senyum sinisnya.
Ibunya Nadia menunduk bergetar dibuat ketakutan dengan tatapan Exel bak malaikat pencabut nyawa,
__ADS_1
"tolong bebaskan Nadia.. dia hanya khilaf.. "
ucapnya gelagapan tak berani mendongak ke arah Exel.
dan itu membuat semua membiarkan Exel menguasai keadaan, terlebih Leo yang hanya terfokus dengan Grace yang terkena serangan panik.
Exel menyunggingkan senyuman,
"Khilaf anda bilang..? Sudah jelas putri anda dengan sengaja merencanakan untuk mencelakai teman saya.. "
Exel kini terlihat berwibawa seperti pengacara proporsional membuat pembela tak berkutik, bahkan tak sudi memanggilnya dengan panggilan "tante".
"Putri anda sudah bertindak kriminal membahayakan nyawa orang, itu sudah masuk pasal perencanaan pembunuhan.. "
Ibunya Nadi memberanikan diri untuk mendongak,
"tolong bebaskan Nadia.. " ucapnya masih kekeh membela.
sementara Exel tersenyum kecut,
" Apa anda pikir putri anda akan jera jika saya membebaskannya sekarang..? Saya hanya mencoba menjadi warga negara yang baik.."
ucapnya santai mengitari tubuh si pembela yang berdiri dengan gemetaran,
" Kalo anda sayang dengan putri anda, biarkan dia mendapat pelajaran.. Jangan karna anda terlalu sayang dengan putri anda sampai salah kaprah seperti ini.."
ucap Exel kembali tepat di hadapan si pembela, dan sukses membuatnya semakin gemetaran menelan ludahnya.
" anda bisa lihat siapa disini yang merupakan gadis murahan.. "
Exel menyodorkan ponselnya membuat si pembela menutup mulut tak percaya melihat beberapa poto putrinya ketika menjadi wanita penghibur.
Ia sungguh tidak menyangka akan kelakuan Nadia selama ini membuatnya seperti mendapatkan tamparan yang keras sebab dirinya benar-benar telah gagal mendidik Nadia.
Exel menyunggingkan salah satu sudut bibirnya
"Sudah jelas..? dan satu lagi, anda bisa tanyakan dia, siapa yang merebut siapa yang meninggalkan.. "
ucapnya santai bersamaan dengan datangnya soni Astro.
"Silahkan.. jelaskan.. " ucap Exel bak hakim jaksa menatap Soni yang tengah gugup.
"cukup..!!! "
ucap Ibunya Nadia dengan lantang hendak pergi meninggalkan tempat yang membuatnya dipermalukan.
tetapi Exel mencekalnya seakan belum puas,
" Saya tidak akan melepaskan anda sebelum anda meminta maaf dan mencabut ucapan anda yang sudah menghina teman saya.. "
ucapnya serius.
perubahan raut wajah Exel membuat siapapun yang melihatnya saat ini tak mampu berkutik.
Exel menyeringai,
" Anda dengar nyonya..? kemanapun anda berlindung dan bersembunyi mata saya ada dimana-mana.. "
ucapnya telak membuat Ibu Nadia kembali gemetaran dan langsung berbalik badan menghampiri Leo juga Grace.
"Maafkan tante nak.. "
ucapnya gugup menatap Grace dan Leo bergantian.
"Minta maaflah dengan benar nyonya..! "
ucap Exel santai namun dingin membuat Ibu Nadia segera berlutut dihadapan Grace juga Leo.
Grace yang merasa tidak enak kini merangkul lalu memeluknya. sekali lagi Grace melihatnya sebagai seorang Ibu yang sedang melindungi dan berjuang untuk anaknya.
Ibunya Nadia pun lekas pergi setelah sebelumnya berpamitan secara baik-baik kepada keluarga Hendri.
" ini semua belum berakhir.."
umpatnya kesal dalam hati saat perjalanan pulangnya mendapatkan pengawalan ketat dari para anggota.
🍃🍃🍃
"Aaaa.. terpesona gayamu yang laki-laki banget.. "
Silvie sudah tidak tahan sedari tadi menahan jeritan dalam hatinya membuat semua tergelak.
Silvie berteriak seraya menghampiri Exel dan hendak memeluknya, namun dengan sigap Exel menahan kepalanya yang menyundul,
"Malu Sil.. " ucap Exel pelan.
" Barusan yang khutbah siapa bang El.. Gak malu tuh..? "
sahut Silvie mengerucutkan bibirnya membuat Exel mengulas senyuman sejuta watt seraya mengacak rambut atas Silvie.
sementara Silvie bersorak dengan menepuk-nepuk dadanya kegirangan dan membuat yang lainnya tergelak dengan tingkahnya.
"Emm.. Grace lo gak papa kan? " tanya Exel tanpa dosa.
"Gila lo el.. Pake bawa pasukan segala.. "
ucap Grace ketus. jujur dirinya pun turut panik saat mendengar suara gemuruh motor tadi.
" Semua instruksi dari yang maha lebay Leonard.. "
sahut Ari cengengesan,
Grace menatap nyalang ke arah Leo tanpa memperdulikan kehadiran kedua mertuanya.
"Lebay lo.. " ucapnya ketus.
__ADS_1
Leo diam tak menyahuti, tetapi dengan reflek mencium bibir Grace sekilas.
"Leonard..!!! " ucap Grace setengah berteriak membuat yang lainnya tersentak kaget dan panik melihat raut wajah Grace yang terlihat geram.
"Sorry.. " ucap Leo dengan lirih.
" Kurang lama.. " timpal Grace dengan lantang.
sontak semuanya langsung tergelak terkecuali Leo yang menepakkan telapak tangan pada dahinya merasa sebab malu dengan ucapan frontal dari istrinya.
"El.. keren banget.. Tante like.. "
ucap Deti cengengesan,
"Om juga like.. " timpal Hendri tak berwibawa.
Exel menanggapi dengan anggukan dan senyuman.
"Leo juga keren mah.. " sahut Leo tak mau kalah bak anak kecil yang mencari perhatian.
"Apanya yang keren? Yang ada kamu tuh lebay.. " goda Deti membuat semuanya tergelak
terkecuali Leo yang memasang wajah cemberut.
Cup.. satu kecupan di pipi nya
"Lo selalu keren..!!! " ucap Grace dengan nada menggoda, membuat yang lainnya melongo.
" Ehem.. Le jadi kan ke panti sekarang..? " tanya Exel mengalihkan. memang ada tujuan lain Exel datang ke sana.
"Hmm.. lo pada tunggu bentar, makan dulu ke apa ke.. "
sahut Leo seraya menarik lengan Grace dan membawanya ke lantai atas.
"Mau ngapain..? " goda Ari cengengesan.
"Bentar gue mau ngambil barang yang ketinggalan.. "
elak Leo berteriak di atas tangga membuat yang lainnya menggeleng.
____
Keduanya kini telah memasuki kamar yang bersejarah bagi mereka,
"Apaan Le yang ketinggalan..? " tanya Grace santai menyusuri seisi ruangan.
Grace tersentak saat Leo menutup pintunya dengan keras dan langsung menguncinya.
"Tugas mulia.. " timpal Leo ambigu menghampiri Grace yang mematung.
Grace kini merasa gugup saat Leo mendekapnya sebab arti ucapan Leo mengarah kemana,
"Le.. Mereka pada nungguin dibawah.. "
ucapnya mengingatkan dengan terbata-bata melihat Leo menyeringai siap menerkamnya.
"Gue gak peduli.. Lo harus tanggungjawab Grace.. Lo udah goda gue"
ucap Leo dengan suara mulai serak.
"Gue goda appp..."
pertanyaan Grace langsung terpotong sebab Leo membungkamnya dengan ciuman yang ganas membuat Grace tersengal sulit untuk mengatur napas.
Kini Leo menyibak atasan yang dikenakan Grace dan menemukan mainan kesukaannya, membuat Grace merintih sebab Leo dengan rakus menggigitnya bergantian.
Permainanpun berlanjut tanpa memperdulikan para sahabatnya yang menunggu di bawah dan membuat rencana mereka untuk pergi ke panti asuhan pasti tertunda.
Sekitar satu jam keduanya baru keluar kamar.
Leo memang cukup tangguh dengan permainannya seolah belum tuntas melepaskan kerinduannya pada Grace.
" Kalian kok masih disini..? " tanya Leo datar tanpa dosa.
" Cih.. Amnesia lo berdua..? dari tadi kita nungguin.. "
timpal Ari sok kesal, padahal dirinya kekenyangan sudah menyantap makanan lezat yang di sajikan oleh Deti.
" Tau lo.. Lo pada ngapain sih?ngambil barang lama banget.. "
ucap Megan ketus,
" Abis nengokin anak gue.. "
timpal Leo santai mengelus perut Grace yang terlihat salah tingkah.
Ke empatnya terbelalak mengerti apa maksud dari ucapan Leo,
" Anying.. Parah lo berdua begituan kagak tau waktu.. "
sahut Ari bergidik merinding.
" iri boss? kawin sono.. " timpal Leo mengejek.
"Udah.. ribut mulu lo.. Ayo buruan cabut.. "
timpal Exel mengalihkan sebab tidak akan ada habisnya jika mereka dibiarkan saling ejek dan malah menghambat rencananya.
" Logistik aman El..? " tanya Leo yang kembali ke mode serius.
"Hmm" sahut Exel mengangguk.
Exel memang selalu bisa di andalkan dalam keadaan apapun. dan itu membuat Leo janji pada dirinya sendiri untuk membantu apapun keperluan Exel nantinya seperti Exel yang selalu ada untuknya.
Mereka pun bergegas pergi ke panti untuk kunjungan sebagai bentuk rasa syukur atas kesembuhan Leo.
__ADS_1