Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 138


__ADS_3

" sebaiknya anak-anak di rumah aja sayang, biar mbaknya yang jaga.. " bujuk Deti supaya Leo tidak membawa kedua anaknya ikut ke rumah sakit. bagaimanapun juga tempat tersebut tidak di anjurkan untuk anak-anak terlebih bayi, tentu sangat rentan akan penyakit.


" biar ketemu maminya sebentar mah, ajak juga si mbak, kalo perlu bibi sekalian.." sahut Leo yang tengah memasangkan sepatu pada kaki Cio.


" hmm baiklah.. " timpal Deti pasrah. kemudian wanita itu keluar dari kamar tersebut dan segera mengajak Ratna juga Lilis untuk ikut pergi juga.


" Cio mau ketemu mami hemm? " Leo mendongak menatap wajah si kecil yang nampak sumringah itu.


si kecil mengangguk antusias, " mami.. mami.. " celotehnya membuat Leo terkekeh pelan.


Leo sudah biasa mendengar si kecil memanggil Grace dengan lancar, berbeda dengan dirinya. kerena pada dasarnya usia si kecil dalam masa serba mengikuti keadaan sekitar. dan sialnya si kecil malah mengikuti ala Grace, misalnya sedang mencari Leo dengan berteriak ke seluruh penjuru rumah.


" good boy.. " sahut Leo sambil mengacak gemas rambut si kecil. kemudian Ia menuntunnya keluar.


" bibi beneran boleh ikut den..? " celetuk Lilis sumringah menghampiri Leo yang baru saja keluar dari kamarnya bersama si kecil.


Leo mengangguk tersenyum, " tolong adeknya di gendong yah bi.. "


" siap den.. " tanpa babibu Lilis segera masuk ke dalam kamar dan langsung menggendong bayi yang masih terlelap diikuti Ratna yang membawa perlengkapannya. keduanya kemudian menyusul sang majikan yang sudah berada di dalam mobil.


mobilpun mulai melaju keluar dari pelataran rumah tersebut. dimana Deti duduk di depan bersama si kecil yang berada di pangkuannya. sementara di jok belakang di tempati Ratna juga Lilis yang memangku bayi yang tengah terlelap itu.


" emmbaaa.. " si kecil berontak mengasongkan tangannya ke belakang. Dia ingin Ratna yang memangkunya. lantas Ratnapun menyambutnya dengan antusias.


" abang mau deket adek yah..? " ucap Ratna kala melihat si kecil tampak mengamati adiknya.


" kayaknya kamu harus nambah suster, gak mungkin kan anak kamu semuanya ke pegang sama si Mbak.. " celetuk Deti seraya melirik Leo yang tengah fokus mengemudi. Dia teringat betapa kerepotannya Ratna kala harus mengurus cucunya. terlebih ketika Lucio rewel seperti tadi.


" Leo sudah pikirin itu mah, tapi Leo juga harus rundingin juga sama Grace.. " sahut Leo melirik sekilas ke arah Deti.


" kelamaan sayang, kasian mbaknya.. " timpal Deti melas, dan seketika Ia menelan ludahnya kasar kala melihat ekspresi Leo yang tiba-tiba kurang bersahabat. dan itu membuat Deti mengutuk kesalahannya berucap.


" maksud mama istri Leo juga lama bangunnya, iya..? " sahut Leo terkekeh pelan, tetapi raut wajahnya menunjukkan kekecewaan terhadap sang Ibu.


" bukan gitu sayang.. maksud mama tuh kasian mbak.." ucap Deti gelagapan. Dia bingung selanjutnya harus mengatakan apa pada Leo. Dia tidak ingin membuat mental putranya kembali terganggu karena ucapan pesimisnya.


sementara di belakang, Lilis dan Ratna merasakan atmosfir yang berbeda. terlebih Ratna yang merasa tidak enak karena namanya yang jadi pemicu Ibu dan anak harus berdebat.


" maaf nyah, gak papa kalo saya jagain dua-duanya, sama sekali gak repot kok, abang Cio juga anaknya anteng.. tapi kalo emang aden mau nambah suster buat adek, saya seneng jadi ada temen.. " ucap Ratna menunduk gugup.


tidak ada sahutan baik dari Deti maupun Leo. keduanya sama-sama memalingkan wajahnya. jika Deti takut kembali salah berucap, sementara Leo? jangan di tanya, pria itu moodnya langsung rusak.


" jadi selama ini aku bukan temanmu Ratna..? " ah ini lagi malah nambahin, membuat Ratna kembali merasa tidak enak dan bersalah akan ucapannya barusan yang tidak sengaja menyinggung wanita di sampingnya.


Lilis. wanita itu menyikut Ratna sambil melotot ke arahnya. bisa-bisanya Ratna seberani itu menyelah pertikaian majikannya. dia sendiri saja tidak berani, apalagi harus berhadapan dengan Tuannya ketika mode kesal.


" bibi kan keluarga saya, udah saya anggap ibu sendiri malah.. " ucap Ratna jujur, tapi sialnya Lilis malah menanggapinya berlagak ingin muntah.


" ck, nganggep keluarga dari mananya? kamu jajan seblak aja gak mau bagi.." sahut Lilis sewot.


" saya jajan apa aja perasaan nawarin bibi dulu, malah belum di tawarin, sampean suka nyomot duluan kayak cilok kemaren.. "


" yah tak pikir udah gak di makan sama kamu.. "


" itu masih panas, tapi gak papa.. berani nyomot berati sampean udah anggep saya anak.. "


" ck.. ngarep.. "


tanpa keduanya sadari, dua orang di depan sedari tadi menajamkan pendengarannya menyimak gumaman mereka. Deti yang kini terkekeh pelan, sementara Leo sekuat tenaga menahan getaran bibirnya agar tidak tertawa. Leo tidak menyangka jika mereka ternyata seakrab ini.


*

__ADS_1


Setibanya di halaman rumah sakit, Leo segera membuka bagasi mengambil stroller untuk bayinya yang masih berada di gendongan Lilis. kemudian Pria itu mengambil si kecil Cio dari tangan Ratna.


" kalian yang sabar yah, tunggu maminya Cio.. " ucap Leo terdengar lembut membuat Deti yang mendengarnya, membelalakkan matanya. jarang sekali Ia melihat putranya berinteraksi dengan kedua pegawainya, apalagi selembut itu.


sementara Lilis dan Ratna hanya bisa mengangguk cepat, setelahnya keduanya sama-sama melongo tak percaya kala sang majikan mulai masuk kedalam rumah sakit tersebut.


" ini mimpi bukan ya? tampar saya bi.. "


" oh dengan senang hati.. "


...***...


Di tempat lain,


Silvie sedang berada di kediaman kedua orangtuanya. Di mana sang Ayah yang memaksa membawanya ke sana. padahal Dia ingin sekali pulang ke rumahnya, bahkan ingin menemui Exel terlebih dulu untuk mencurahkan semua kejadian tadi di rumah sakit. ya, walaupun dia sendiri tahu jika Exel sedang mendiamkannya juga, tapi setidaknya suaminya itu tidak sekejam kedua orangtuanya.


Wanita itu tampak mengurung diri di dalam kamarnya. sudah di buat kesal dengan tindakan ayahnya, sekarang ibunya malah turut mendiamkannya. sekedar menyuruhnya makan pun di wakili para pelayan.


" hah, gak salah nih ngasih makan anaknya mie instan doang.. " gerutunya kesal. karena merasa lapar, akhirnya Silvie pun memakan makanan tersebut dengan lahapnya.


Ditengah aktivitas menyantap makanannya, tak sengaja pandangannya mengarah ke meja rias. di sana terpampang bingkai poto dirinya bersama kedua sahabatnya. poto kebersamaan mereka ketika menghabiskan waktu sebelum menghadapi ujian akhir sekolah.


" Grace.. " lirih Silvie kala melihat poto tersebut. dimana tangan Grace tampak merangkul dirinya sedang tangan yang sebelahnya lagi terlihat menjitak kepalanya dengan gemas.


seketika air mata Silvie keluar tanpa aba-aba. melihat poto itu, Dia teringat akan kejadian dulu yang membuatnya hampir mendapatkan pelecehan. jika saja Grace terlambat datang, mungkin Silvie sudah kehilangan sesuatu yang berharga di dalam dirinya.


" kalo lo juga gak ada pas di bengkel, gue gak tau nasib gue sekarang gimana.. " perasaannya kian penuh penyesalan. kejadian yang menyisakan trauma baginya juga orang-orang terdekat dengan sahabatnya, tak terkecuali Exel suaminya sendiri.


" abang El aja sampe segitunya mikirin lo Grace, gimana si Leo.. " Silvie menangis sejadi-jadinya. kali ini Dia membenarkan ucapan Ari tempo hari. bukan hanya dirinya yang harus dikasihani atas terganggunya mental.


" Lo bener Ri, gue paling sadis disini.. gue emang pantes dapetin ini semua. " gumamnya terisak. Dia bahkan merasa semua yang di dapat belum sebanding dengan pengorbanan juga kelapangan hati Grace.


" gue tau lo pemaaf Grace, tapi seandainya lo gak mau maafin gue.. gue terima.. gue emang gak pantes dapet maaf dari lo.. " kalimat ini juga yang Silvie ucapkan langsung di hadapan Grace tadi sebelum sahabatnya itu kejang-kejang.


Tuhan, sebagai umat-Mu yang kurang taat, hamba memang tidak pantas mendapat pengampunan juga terkabulnya doa hamba selama ini.. tapi kali ini izinkan hamba meminta kembali , angkatlah semua penderitaan sahabat hamba.. berikan dia kehidupan yang panjang juga kebahagiaan bersama keluarga kecilnya. sesungguhnya hamba sangat menyayanginya Tuhan, maka dari itu.. buanglah keegoisan pada diri hamba..


setelahnya, Silvie membuka mata perlahan. entah mengapa Ia merasa tenang nan damai. ya, Dia tidak pernah merasa setenang ini sejak dirinya harus kehilangan calon anaknya.


" ck, gue bukan cuma jauhin mereka.. tapi gue udah jauh dari Tuhan gue sendiri.. " gumamnya terkekeh pelan.


Silvie kemudian menatap lekat poto tersebut. Dia merasakan kedua sahabatnya seolah nyata berada disampingnya. buru-buru Silvie menghapus air matanya, karena dia tahu jika kedua sahabatnya tidak suka jika dirinya menangisi mereka. apalagi Grace, sahabatnya itu tidak suka dikasihani apalagi ditangisi.


" semoga Tuhan dengerin Doa gue guys.. "


...***...


kembali ke rumah sakit.


Grace sudah melewati masa kritisnya setelah mendapat penanganan khusus tadi. kini di luar ruangannya nampak Ari dan Exel tengah duduk dihimpit oleh Wilson ditengah-tengah mereka.


kedua sohib tampak harap-harap cemas menunggu kehadiran Leo yang tak kunjung tiba. sudah sekitar tiga jam lebih mereka menunggu di sana sejak Leo meninggalkan tempat itu.


sementara Wilson, pria itu tampak tenang dan santai memainkan ponselnya, membuat dua pria di sampingnya berdecak kesal.


" lo dari tadi gak jawab kita bang, gimana kondisi si Grace.. " celetuk Exel kesal di angguki Ari.


" tau lo, dokter macam apaan sih lo, keluarga pasien nanya kagak di jawab-jawab.. " timpal Ari sama kesalnya.


" dokter transit kan Ri.. nih lagi transit jadi wibu dulu.. " ejek Exel santai di susul kekehan dari Ari.


" mainnya anime bos.. diulang-ulang juga masih di tonton aja.. " sahut Ari.

__ADS_1


" noh liat gantungan hapenya, wibu gak tuh.. "


Wilson memutar bola matanya jengah melihat mereka santai sekali menertawakan apa yang di tontonannya barusan.


" berisik lo..tadi diem-dieman, sekalinya akur kompak banget ngatain orang.. " ucapnya sewot.


" woah pak dokter ngambek.. " celetuk Ari terkekeh dan langsung mengajak Exel hivi. keduanya melanjutkan candaannya dengan Wilson yang nampak pasrah di jadikan bahan roastingan mereka.


seketika tawa mereka hilang kala melihat sosok Leo bersama rombongan di kejauhan. dimana Leo tengah mendorong stroller bersama si kecil Lucio di sampingnya melangkah ke arah mereka.


" mampus lo El, ini yang gue tunggu-tunggu.. " celetuk Ari sambil menyikut lengan Exel. sedari tadi Dia memang menunggu momen bertemunya Leo dan Exel, lebih tepatnya Ia menunggu Leo yang diyakininya akan mengusir Exel.


sementara Exel diam tak menyahuti. Dia terlalu fokus menatap si kecil dari kejauhan. Dia juga penasaran dengan sosok bayi yang berada di stroller itu, sebab Ia belum sempat melihatnya.


" hayo lo El, lo liat noh matanya.. auto di depak lo, sebelum itu terjadi mending lo cabut gih, mau gue yang wakilin si Leo-"


" berisik anying, lo malah bikin gue down tau gak.." sela Exel sambil berbisik kala Leo dan rombongan semakin mendekat. Exel tampak menunduk gugup membuat Ari terkekeh mengejeknya.


Berbeda dengan Exel, Leo tampak tenang berjalan ke arah sana. Dia sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiran Exel. Dia lebih mementingkan tujuannya, yaitu mempertemukan kedua anaknya dengan Grace.


*


*


*


Ari menyeringai jahat kala Leo sudah mendekat ke arahnya. ditiupnya tengkuk Exel yang masih menunduk membuat sohibnya itu semakin gugup.


" El.. mereka udah deket El.. " goda Ari menakut-nakuti. " satu... dua.. ti-"


" papi.. papi.. "


sontak saja semua tercengang kala si kecil berlari ke arah Exel dan langsung memeluk kakinya. bukan itu yang membuat mereka terkejut, tetapi panggilan si kecil untuk Exel, jauh dari ekspetasi.


begitupun dengan Leo, dia juga terkejut dengan panggilan itu. tetapi Ia tidak bisa melakukan apapun, apalagi mengumpat anaknya sendiri.


maka dari itu dia berusaha tetap stay cool di hadapan mereka yang nampak ingin melihat ekspresinya.


" gimana kondisi si Grace..? " ucap Leo mengurai ketegangan. sekali lagi tujuannya adalah Grace.


Wilson yang sudah berdiri, kini mendekat ke arah Leo dan menepuk bahunya pelan agar pria itu sedikit lebih rileks.


" ayo, biar lo liat sendiri... " ucapnya sambil merangkul bahu Leo, tetapi pria itu langsung menipisnya.


" jangan larang anak-anak gue ikut masuk.. " ucap Leo dengan sorot mata yang mengancam.


sementara Wilson malah terkekeh pelan, " oke, siapa yang larang sih, gue tau mereka mau ketemu maminya.. "


" ck.. curang kagak ngasih tau juga.. " celetuk Ari ketus membuat Wilson menoleh ke arahnya sambil menjulurkan lidahnya.


sementara Leo langsung masuk ke dalam bersama bayinya tanpa berminat meladeni mereka.


" cih, dokter sialan.. gak ada lucu-lucunya lo.. " Lagi-lagi Ari kesal dengan Wilson.


" lo pikir kita bakalan gemes gitu, yang ada pengen muntah tau gak, iya kan El..? woy El..! asyik bener ya di panggil papi.. "


sementara Exel sudah malas meladeni Ari, Dia lebih memilih melepas kerinduan bersama si kecil. " jangan panggil uncle gitu yah, kasian papimu.. "


" El, biar Cio ketemu maminya dulu.. " celetuk Wilson membuat Exel langsung menurunkan Cio dari gendongannya.


" hmm.. Cio ketemu mami dulu gih.. nanti maen lagi sama uncle.. " ucapnya sambil mengusap kepala si kecil.

__ADS_1


seulas senyuman terbit dari Wilson. sengaja Ia tidak memberitahukan kondisi Grace saat ini pada siapapun. Dia ingin Leo terkesan orang yang pertama mengetahuinya. dan biarkan Leo melihatnya secara langsung.


" kehadiran anak juga terkabulnya doa buat orang sebaik lo.. itu keajaiban buat kondisi lo sekarang. . "


__ADS_2