Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 139


__ADS_3

" hmm, gue harus tau keadaan si Grace.." seru Silvie. Dia sudah memantapkan hatinya untuk meminta maaf kepada semua orang yang yang sudah disakitinya termasuk Grace.


Silvie kemudian mengambil hoodie di dalam lemarinya, dan mengenakannya bersama topi juga masker. Dia tidak ingin di usir kembali nantinya. Dia hanya ingin mengetahui kondisi Grace saat ini.


" udah kek sasaeng aja.." gumam Silvie terkekeh pelan kala menatap penampilannya di depan cermin. penampilan yang sangat tertutup dan hanya matanya saja yang terlihat.


kemudian Silvie segera melangkah ke arah pintu dengan senyum semangatnya. seketika raut wajahnya berubah menjadi masam kala meraih handel pintu tersebut yang sulit sekali di buka.


" mam.. bukain please..!!! " teriaknya sambil menarik-narik handel dan memukul-mukul pintu tersebut.


Tidak ada sahutan dari luar membuat Silvie memilih memanggil ibunya melalu sambungan telepon, berharap ibunya mau membukakan pintu dan mengizinkannya untuk menemui Grace.


" ih nyebelin, pake ganti password wifi segala.. mana pulsa gue sekarat lagi, ck.." gerutunya kesal sambil menendang pintu.


tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya ketika pandangannya tertuju ke arah pintu balkon. Senyumannya kembali hadir ketika melihat pintu itu terbuka.


" ck, kenapa gak dari tadi, lo emang lola Sil.." gumamnya terkekeh pelan, kemudian Ia segera menuju balkon itu untuk memanggil siapapun di luar, misalnya tukang kebun yang pastinya tengah bertugas saat ini.


Seketika Silvie melotot kala melihat banyak sekali pengawal di bawah sana. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan kedua orangtuanya. mereka sangat kejam, menganggapnya seperti tahanan saja.


" bege.." umpatnya menepuk dahi frustasi kala hendak menelpon Exel agar menjemputnya. dengan perasaan jengkel, Silviepun membanting ponsel yang menurutnya tidak berguna itu. padahal ponselnya itu masih baru, Exel yang membelikannya guna mengganti ponsel yang rusak akibat ulah yang sama seperti sekarang.


" pokonya gue harus cabut sekarang juga. kalo perlu gue lompat.. "


nyalinya seketika menciut kala melihat ke bawah, betapa tingginya jarak dari balkon ke bawah sana, membuatnya menelan ludah kepayahan.


kemudian Silvie memejamkan matanya sambil menghela napas dalam-dalam agar merasa lebih tenang.


" gue tunggu lo Sil.." sebuah bisikan membuat Silvie tersenyum.


sosok Grace yang tersirat di benaknya membuat Ia langsung bersemangat, bahkan adrenalin tinggi yang di miliki sahabatnya itu seolah menular kepadanya.


" lo tunggu, gue pasti ke sana Grace."


Silvie semakin bersemangat kala baru menyadari di samping kamarnya ada sebuah pohon besar, dimana salah satu dahannya menempel ke pagar balkon itu.


tanpa membuang waktu, Silviepun segera menaiki pagar itu dan melompat ke dahan pohon dengan hati-hati. tidak ada rasa takut dalam dirinya. tanpa berpikir panjang, Ia melompat dari pohon tersebut.


bluggh..


" anjay, lo liat Grace.. khodam lo lagi gue pinjem.." gumamnya cekikian kala berhasil mendarat dengan sempurna.


kemudian Silvie melangkah dengan mengendap-endap dengan wajah penuh waspada, dia berjalan menuju halaman belakang untuk menghindari para pengawal itu.


setibanya di sana, Silvie kembali mendapat tantangan. Dia harus memanjat tembok tinggi yang dipenuhi kawat berduri.


Wanita itu kembali menelan ludahnya kepayahan kala merasa nyalinya berkurang. Ia memejamkan matanya kembali, dia butuh banyak adrenalin juga kekuatan untuk melewati tembok itu.


lagi. bayangan sosok Grace kembali menyuplai energi untuk Silvie. ambisinya untuk menemui sahabatnya itu membuat ketakutannya hilang seketika. dengan semangat yang menggebu, Silvie pun mulai melancarkan aksinya.


tubuhnya terasa lentur nan ringan kala memanjat tembok itu. Dia tidak memikirkan resiko akan terluka akibat kawat berduri di sana.


" woyyy..!!! " salah satu pengawal melihat Silvie, membuat wanita yang hendak melompat itu terkesiap.


jantungnya terasa berdetak dua kali lebih kencang dari sebelumnya, sekujur tubuhnya kini gemetaran ketika melihat pengawal itu mengajak teman-temannya.


" tangkap Dia..!!! "


" sial.. ayo Grace, pinjemin gue kodam lo lagi.. "


Silvie sudah kehilangan akal sehatnya, Dia langsung melompat begitu saja membuat kaki kanannya terkilir.


" berhenti penyusup..!!! "


" sialan mereka ngiranya gue penyusup.." umpat Silvie kesal. seharusnya sebagai nona muda, Silvie mendapat penjagaan dan perlindungan. sekarang Ia malah menjadi sasaran para pengawal yang mengejarnya.


Silvie sudah kepalang, lagipula Dia tidak bisa menjamin para pengawal akan melepaskannya begitu saja, sekalipun mereka mengetahui bahwa dirinya adalah nona muda mereka.


Silviepun berlari sekuat yang Ia bisa. Dia tidak berpikir dalam melangkah, kakinya yang hanya beralaskan sendal rumahan harus menginjak apa saja, hingga Dia tidak sengaja menginjak beling tajam yang sudah menembus kakinya.

__ADS_1


" it's okay, ini gak seberapa dibandingin pengorbanan lo Grace.. "


sekarang Silvie hanya bisa melangkah pelan dan tertatih. satu kakinya yang terkena beling, Ia seret dengan paksa mengikuti kaki yang sebelahnya lagi. kaki yang terkilir tadi, yang kini dipaksa kuat menompang tubuhnya.


Langkahnya semakin jauh, sesekali Silvie menoleh ke belakang, heran.. tidak ada satupun pengawal yang terlihat mengejarnya. padahal tadi ketika masih di area rumah orangtuanya, para pengawal begitu sigap mengejarnya yang dituduh sebagai penyusup.


" ojek mbak.. "


Silvie menoleh terkesiap juga waspada. seseorang tiba-tiba menawarinya jasa ojek. satu lagi yang membuatnya heran, pasalnya di kawasan komplek perumahan tersebut jarang bahkan tidak pernah masuk ojek.


Silvie terdiam, Dia nampak menimbang-nimbang tawaran tersebut. jujur, Dia sudah sangat lelah berjalan, terlebih kakinya semakin sakit jika di terus paksa.


Dia mengamati penampilan orang tersebut dari atas sampai bawah. orang tersebut usianya terlihat masih muda. Silvie ragu jika pemuda itu memang ojek, mengingat motor yang digunakan adalah motor sport yang tidak memungkinkan untuk membawa penumpang, lebih tepatnya kenyamanan penumpangnya.


" lo orang sini juga ya bang..? " tanyanya hati-hati.


pemuda itu mengangguk kikuk membuat Silvie manggut-manggut paham. " gimana mbak? ojek gak nih..? ".


Silviepun mengangguk mengiyakan dan meminta helm yang menggantung di sana.


" lo gabut apa gimana bang..?" tanyanya penasaran.


" lagi ada tugas mbak.. "


" tugas..? "


" iya tugas dari kampus, kayak penelitian gitu.. "


" ohh.."


Silviepun enggan melanjutkan percakapannya lagi. apapun alasan pemuda itu, setidaknya Dia ada tumpangan untuk segera pergi dari kawasan itu.


Di tengah perjalanan, Silvie menajamkan penglihatannya ketika motor yang ditumpanginya baru saja menyalip motor matic yang sangat di kenalnya.


" OMG.. Megan..."


...***...


Leo tengah menatap Grace yang masih terpejam itu. Dia duduk bersama si kecil Cio yang berada di pangkuannya. sementara bayi yang sudah terbangun dari tidurnya, kini berbaring di samping Grace.


" mami.. mami.. " si kecil Cio berceloteh sambil menunjuk Grace membuat Leo mencium pipinya gemas.


sementara bayi mungil nampak seolah membangunkan Grace, tangan mungilnya menyentuh tepat di area dada Grace, membuat Leo yang melihatnya langsung tersenyum ketir. seharusnya bayinya itu mendapatkan asupan dari sana sama seperti Lucio.


" Cio sayang mami yah.." ucapnya lembut pada si kecil Cio, kemudian Ia mendekatkan anaknya itu dengan Grace dan menyatukan tangan mereka.


" Grace, mereka datang buat lo.. gak mau bangun hemmm..? " bisiknya di telinga Grace seraya mengusap lembut kepalanya.


Leo yakin dengan menghadirkan kedua anaknya akan menjadi pengaruh besar untuk kondisi Grace. dulu saja ketika Exel mengalami hal yang sama seperti Grace, bisa sadar saat Ia membawa si kecil Cio. apalagi telepati seorang ibu dan anak-anaknya sungguh tiada batasnya.


" bangun sayang.. kita butuh lo, gue butuh lo.. ada banyak hal yang perlu gue rundingin sama lo.. " ucap Leo yang sudah terbiasa dengan keadaan. Dia selalu yakin, meskipun Grace belum siuman, tetapi istrinya itu mampu mendengar setiap apa yang diucapkannya.


kira-kira hanya sekitar tiga jam lebih Leo meninggalkan Grace. namun Leo merasa sudah banyak melewatkan perkembangan kondisi istrinya itu. dimana sudah tidak ada lagi peralatan medis yang melekat di tubuh Grace kecuali alat oksigen dan jarum infusan yang masih menancap di tangannya. sementara Wilson hanya menginformasikan jika kondisi Grace ada kemajuan.


ck, sama aja kayak informasi dari si curut..


" kita perlu rundingin ngambil suster satu lagi buat adek.." gumamnya terkekeh pelan. kemudian Leo mendekatkan mulutnya kembali di telinga Grace hendak membisikkan sesuatu.


" kalo lo bolehin, gue mau susternya yang lebih mudaan.. "


" ngomong apa lo Leonard..? "


Leo menggeleng terkekeh. sudah biasa Dia merasa Grace menyahutinya. lagipula Leo tidak akan seberani itu mengucapkan kalimat barusan di hadapan Grace jika tengah sadar, yang ada Ia bisa menjadi sasaran amukan istrinya itu.


Leo mendudukkan si kecil Lucio di tepi ranjang agar putranya itu mudah berinteraksi dengan Grace dan juga adiknya.


ah, bayi itu.. belum juga memiliki nama.


" hmm, gue juga nunggu lo buat kasih nama putri kita-"

__ADS_1


" Laeticia Gwen.. "


deg... Leo terkesiap, jantungnya berdetak lebih kencang kala mendengar sahutan yang terasa benar-benar sangat nyata kali ini.


kemudian Leo mendongak memastikan apakah suara itu benar-benar nyata keluar dari mulut Grace. Lagi-lagi Dia dibuat terkejut kala melihat Grace sudah membuka matanya.


" Ya Tuhan..!!!" teriaknya. perasaan antara terkejut, percaya tidak percaya juga tentunya perasaan haru bahagia, kini menjadi satu.


Leo sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi, Dia langsung mendekap Grace, dan tanpa sadar teriakannya tadi terdengar ke luar ruangan. hingga membuat orang yang berada di luar, kini berbondong-bondong segera masuk karena penasaran juga khawatir tentunya.


semuanya terbelalak melihat Grace yang sedang dalam pelukan Leo, kini sudah siuman. terkecuali si Dokter transit yang tampak santai membuat Exel dan Ari menatapnya penuh kekesalan juga curiga.


" Lo udah tau si Grace sadar, ngapa gak bilang-bilang anying.. " celetuk Ari geram di angguki Exel yang sama geramnya.


" tau lo so misterius.. " timpal Exel sewot membuat Leo melepaskan pelukannya dan langsung menoleh ke arah tiga pria itu.


Wilson menelan ludahnya kasar kala mendapat tatapan tajam dari Leo, Pria itu seolah mengintimidasinya.


" gue gak tau kalo si Grace udah sadar, asli sumpah.. " ucapnya kikuk. " gue juga kaget denger teriakan lo Leonard, ternyata istri lo udah sadar.. " lanjutnya gelagapan.


Pria itu tampak mengedipkan mata ke arah Grace, agar pasiennya bisa di ajak kompromi. sekali lagi Wilson hanya ingin membuat Leo terkesan orang paling pertama menyaksikan Grace membuka matanya. sial, niat hati memberi kejutan untuk Leo, dia sendiri yang malah jantungan.


melihat Wilson mengedipkan matanya ke arah Grace, membuat Leo beralih menoleh ke arah istrinya.


" apa? lo ngarep gue gak bangun-bangun, iya? biar lo bisa bebas sama suster muda lo gitu.. " ajaib, Grace langsung memiliki tenaga untuk mengawali perdebatan dengan Leo.


Leo menggeleng terkekeh pelan, Ia sangat merindukan momen ini, momen dimana Grace mengajaknya berdebat.


" gak gitu sayang-"


" ck..bini baru siuman, lo udah ngajak gelut aja.. sikat suhu.. " celetuk Ari santai membuat yang lainnya terkekeh, begitupun dengan Exel yang mengajaknya hivi.


tiba-tiba ponsel Exel bergetar tanda panggilan masuk, nama yang tertera di sana membuatnya menyerit heran.


" Megan, ngapain video call..? " gumamnya heran. pasalnya Ia tidak pernah menerima panggilan tersebut dari Megan.


tidak ingin ada kesalahpahaman, lantas Exelpun segera memberikan ponselnya kepada Ari.


" bini lo nih, penting kali.. "


" Oh iya, hape gue lowbat.. " sahut Ari cengengesan.


" maen game mulu sih lo.. " timpal Exel ketus dan langsung mendapat sumpalan di mulutnya dengan jari Ari.


" syhuttt.. Lo diem, gue mau ngomong sama bidadari dulu.. " ucap Ari bangga seraya menaikturunkan kedua alisnya membuat Exel berlagak ingin muntah. tetapi Ari tidak peduli, dia segera mengangkat panggilan itu dengan wajahnya yang sumringah.


seketika raut wajah Ari langsung berubah, dia terbelalak kala layar ponsel tersebut menampilkan sosok Silvie. wanita yang hampir Ia renggut nyawanya.


" hehh.. kermi, ngapain lo make hape bini gue? lo mau macem-macem sama dia hah..? " ucapnya geram tanpa memperdulikan orang di sekitar, termasuk Exel yang memperhatikannya.


" heh curut demit.. bini lo mau lahiran.. " sahut Silvie tak kalah geramnya membuat Ari melongo tak percaya.


" eh si anying maen tutup aja.. "


...****...


sementara di seberang sana. Silvie langsung mematikan sambungannya secara sepihak, Dia tidak ingin berdebat kembali dengan Ari, terlebih Dia tahu jika pria itu tampak berada di ruangan Grace.


Sekarang Silvie sudah berada di dalam taksi bersama Megan yang tengah kontraksi itu. Silvie tidak habis pikir dengan Megan. bisa-bisanya sahabatnya itu bertindak nekat mengendarai motor.


" lo nekat banget Me, lagian lo kenapa gak nelpon ambulan sih, minimal lo nyetop taksi.." omelnya kesal, tetapi wajahnya menunjukkan kecemasan.


di usapnya punggung Megan yang katanya terasa panas itu. " lo yang kontraksi, gue yang mules.. "


" ini lagi, gue dari tadi ngomel-ngomel karna saking paniknya, lagi-lagi lo santai banget cengar-cengir.. "


" gue kangen lo Sil, kangen lo ngomel kek gini.. " sahut Megan sambil memejamkan matanya. Dia berusaha kuat menahan rasa mulas di perutnya.


" ck.. kangen kok sama bawelnya.. " sahut Silvie salah tingkah. rasanya jantungnya ingin melompat keluar saja. ternyata sahabatnya itu tidak pernah menyimpan dendam atas apa yang sudah di dapat darinya.

__ADS_1


kini Silvie meraih tangan Megan untuk di genggamnya. rasa sakit di sekujur tubuhnya seolah hilang begitu saja. luka di kakinya pun Silvie lupakan.


" cukup gue yang kesel sama si curut sialan.. lo jangan Me.."


__ADS_2