
" wah wah.. parah lo Grace, entar malem di rumah kan bisa, bisa lebih ganas maksudnya.. "
Ari, Pria itu sedari tadi berdiri di ambang pintu menyaksikan apa yang di lakukan oleh Grace terhadap Leo.
Dia juga sempat dan sangat antusias merekamnya di ponsel, tentu saja untuk bahan olokan jika di butuhkan nantinya. apalagi setelah melihat beberapa jejak di leher keduanya, Ari sangat ingin mengoloknya tadi, tetapi tidak sempat sebab mereka terlalu berlarut dengan Grace juga Silvie yang akur kembali.
" ngiler yah boss..? kasian sekali yang puasa.. " timpal Grace dengan nada mengejek, Dia sudah kepalang tertangkap basah oleh Ari.
sementara Leo, Dia sama sekali tidak ikut menimpali. pria itu langsung bangkit berdiri dan pergi ke belakang, namun Dia sempat mengelap bibirnya tepat didepan Grace hingga istrinya itu menatapnya heran.
nyawanya belum kumpul kali.. pikir Grace memaklumi sambil bengong menatap punggung Leo.
" jiahh.. yang abis buka puasa.. iler papi Leo aja serasa takjil.. " celetuk Ari terkekeh membuat Grace menoleh kearahnya.
" ngapain lo pulang, bukannya ada si kermi.. " tanya Grace mengalihkan, dia malas jika harus membahas kejadian memalukan barusan. apalagi jika berhadapan dengan Ari si mulut julid, bisa-bisa tidak akan ada ujungnya berdebat.
" hmm, Dia kan kesini buat jagain anak gue, bukan buat nyiapin makan siang.. " sahut Ari sambil mengangkat kantong besar ditangannya. kantong yang berisikan masakannya di kedai.
" kirain semuanya lo serahin sama mereka, termasuk ngasih nama anak lo.. ck, bapak macam apaan lo, males mikir.. "
" enak aja males mikir, gue udah nyiapin nama buat anak gue, malahan sebelum gue ngadoin-"
" lah terus? " sela Grace terkekeh geli.
" sialnya orang tua sama mertua gue malah pada suka nama yang di kasih si kamprett Exel.. " hampir saja Ari keceplosan membawa nama Leo, sohibnya itu juga sempat ingin memberi nama untuk putranya. Dia juga berbohong, Ari sendiri yang memilih nama pemberian dari Exel. Ari tentu saja tidak ingin menyinggung Grace, mengingat Leo yang tak kunjung memberi nama putrinya hingga berumur hampir satu bulan.
" emangnya lo mau ngasih nama anak lo apaan..?" tanya Grace penasaran. bisa-bisanya nama pemberian dari Ari yang notabenenya ayah dari bayi itu tidak terpilih.
" aep saepudin.. " jawab Ari asal dan itu sukses membuat Grace tergelak hingga kedua anaknya terbangun.
" hah.. mampus, anak-anak lo bangun.. selamat kerepotan suhu.. " ejek Ari sambil melengos ke belakang hendak meletakkan barang bawaannya.
" sialan lo Aep.. " umpat Grace menatap sebal ke arah langkah Ari dan kebetulan berpapasan dengan Leo membuat wanita itu beralih menatap suaminya.
rupanya selain mencuci mukanya di belakang, Leo juga sudah membuatkan susu yang kini berada di genggamannya untuk baby Gwen.
" cantik haus hmm? " Leo membawa baby Gwen ke pangkuannya dan segera memasukkan botol susu tersebut kedalam mulut mungil itu. hingga putrinya itu langsung berhenti menangis.
sementara si kecil Lucio, anak itu masih merengek karena tidurnya sempat terganggu oleh ulah ibunya sendiri. si kecil langsung menempelkan badannya di punggung dan melingkarkan tangannya di leher Leo hingga membuat ayahnya sedikit membungkuk ketika memberikan susu pada baby Gwen.
melihat Leo yang tampak kerepotan, Gracpun tidak tinggal diam, Dia menepuk-nepuk pahanya agar si kecil Lucio mau duduk di pangkuannya.
" abang sini sama mami, papinya kasian.. " ajaknya lembut.
si kecil Lucio menggeleng menolak, Dia malah mengencangkan pegangannya di leher Leo. beruntung ayahnya itu tampak tenang dan tidak terganggu sama sekali. tetapi Grace malah di buat merasa tidak enak melihat Leo kerepotan seperti itu.
" yaudah kalo abang gak mau, ade aja sini sama mami.. " ucap Grace seraya menyodorkan tangannya di depan Leo.
tanpa menyahuti apapun, Leo langsung menyerahkan baby Gwen kepada Grace. akan tetapi, begitu baby Gwen berada di tangan Grace, bayi itu langsung menangis kembali, begitupun dengan si kecil Lucio yang langsung turun dari punggung ayahnya dan menghampiri sang adik.
" no.. no.. " celoteh Lucio merengek kembali. seolah melarang Grace untuk memegang adiknya.
tidak ingin membuat kegaduhan di rumah orang, mengingat di sana ada bayi juga, Leopun berinisiatif mengambil kembali baby Gwen ke pangkuannya tanpa menunggu persetujuan dari Grace. dan ajaibnya, bayi itu langsung berhenti menangis, padahal mulutnya belum sempat di bungkam oleh botol susu tadi. begitupun dengan si kecil Lucio yang kini sudah duduk bersila di samping ayahnya.
" abang mau pegangin botolnya hemm? " tanya Leo kepada si kecil yang tampak mengamati adiknya. kemudian Leo memberikan botolnya kepada si kecil yang mengangguk antusias.
Grace mengela napas panjang dan menatap sendu pemandangan di depannya saat ini. sebagai seorang ibu, dia merasa tidak berguna sama sekali. kedua anaknya malah lebih membutuhkan Leo daripada dirinya.
" Grace, lo daripada di kacangin laki sama anak-anak lo, mendingan lo makan sono. gue sengaja bawa banyak sekalian buat lo, siapa tau setelah lo hibernasi lama pengen mukbang.. " celetuk Ari cengengesan. entah sejak kapan pria itu sudah duduk di sofa, mereka tidak menyadarinya.
" iya gue mau mukbang, nelen utuh kepala lo saepudin.. " sahut Grace kesal dan langsung pergi dari sana membuat Ari terkekeh geli. sementara Leo, dia masih tampak cuek dan tidak terganggu sama sekali.
.
.
.
__ADS_1
Grace kini sedang berada di dapur, dia benar-benar mengikuti saran Ari untuk makan. ah memang kebetulan dirinya sudah lapar, apalagi sudah rindu dengan masakan Ari yang selalu menggugah selera itu.
Grace tersentak kaget dan hampir tersedak makanannya ketika melihat Ari yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"ngapain lo kesini, lo bener-bener mau gue telen..? " ucap Grace ketus sambil mengunyah. mulutnya terlihat penuh dengan makanan membuat Ari menggeleng terkekeh.
" gue kesini takut lo nelen semua masakan gue, auto kelaperan bini gue entar.. " sahut Ari dengan santainya duduk di depan Grace. Dia memilih menghampiri Grace dan menggodanya daripada harus menyaksikan pemandangan haru diruang tengah tadi.
sementara Grace, dia paling malas jika aktivitas makannya terganggu. di amati Leo yang suaminya saja Grace tidak suka, apalagi oleh Ari si biang onar.
" ck, ngapain lo sosoan nawarin makan kalo takut gue abisin.. " ucapnya sewot sambil meletakkan sendok di piringnya secara kasar.
" gue bercanda woyy.. baperan amet.. " celetuk Ari menatap Grace yang langsung berdiri dan hendak pergi dari sana.
" bungkus.. " sahut Grace tanpa menoleh ke belakang, tetapi jari tengahnya sangat ramah sekali membuat Ari menelan ludahnya kasar.
" ck.. "
.
.
.
.
Grace langsung merubah ekspresi sebalnya menjadi tersenyum hangat ketika menghampiri ketiga malaikat hidupnya di ruang tengah. mereka nampak saling berinteraksi hangat, dimana si kecil Lucio berceloteh mengajak adiknya berbicara.
" mau pulang sekarang..? " tanya Grace kepada Leo, ini kali pertamanya Dia mengeluarkan suara khusus untuk suaminya.
" Lo mau balik ke kedai sekarang? " bukannya menjawab, Leo malah bertanya. namun bukan kepada Grace, melainkan kepada Ari yang baru saja dari dapur.
" iyalah, kasian si Iyan kerepotan.. " sahut Ari sambil meletakkan kantong yang berisikan masakannya di hadapan Grace.
" nih gue bungkusin banyak, biar lo kenyang.. " lanjut Ari terkekeh mengejek membuat Grace memajukan bibirnya sebal.
" siap.. kuy..!!! " tanpa bertanya alias protes, Aripun menyanggupinya. mungkin mereka kerepotan jika harus memangku masing-masing satu anak. atau bahkan sohibnya lelah kurang beristirahat sehingga tidak mampu mengemudi.
.
.
.
kini mereka sedang berada di perjalanan pulang, dengan Ari yang mengemudikan mobilnya bersama si kecil Lucio yang merengek meminta duduk di depan. sementara baby Gwen berada di pangkuan Grace duduk di belakang. dan Leo? pria itu sudah terpejam sejak mobil tersebut mulai melaju.
" no.. no.. " ucap Ari frustasi ketika si kecil Lucio berulang kali menekan klakson. tak hanya itu, tangan si kecil tidak bisa diam, apa saja yang ada dijajaran kemudi Dia sentuh dan dipukul-pukul membuat Ari menggeleng frustasi, apalagi ketika lampu sen tak sengaja menyala hingga pengendara lain mengomelinya.
" ck, pecicilan kayak emak bapaknya-"
" gue denger Aep saepudin.. " celetuk Grace di belakang membuat Ari berdecak sebal. bisa-bisanya nama yang disebutnya asal malah jadi bahan ledekan.
beberapa menit kemudian, suasana di dalam mobil tersebut menjadi hening. si kecil Lucio sudah terlelap di bangku samping kemudi membuat Ari menepikan mobilnya sebentar untuk memasangkan pengaman kepada si kecil.
Ari di buat menggeleng kesal ketika melihat ke bangku belakang. dimana Grace malah ikut ketiduran, sementara bayi di pangkuannya terlihat masih segar menatap langit-langit mobil tersebut.
" Le.. woy. " bisiknya pelan sambil menggoyangkan lengan Leo agar sohibnya itu segera bangun.
" hmm, kenapa? " sahut Leo membuka mata perlahan.
" itu si Grace molor, ilernya takut netes ke anak lo.. " sempat-sempatnya Ari bercanda, padahal Dia takut jika Grace tanpa sadar melepas pegangannya di bayi itu.
sementara Leo, dia langsung mengucek matanya. kemudian Ia segera mengambil baby Gwen dari pangkuan Grace yang hampir saja terlepas itu. tadinya Leo hanya pura-pura tidur untuk memberikan perhitungan kepada Grace. Dia sendiri mengutuk kecerobohannya yang membiarkan baby Gwen di pangku oleh Grace. mengingat istrinya itu mudah mengantuk jika dalam perjalanan, apalagi tadi sempat makan dulu di rumah Ari.
" ck.. enak-enak semaleman begadang, sampe kompak molor, makanya lainkali kalo mau kemana-mana tuh bawa si mbak.. " celetuk Ari mengomel. tentu Dia sangat menyayangkan kecerobohan dua orang di belakangnya.
Leo diam tak menyahuti, menganggukpun enggan. Dia masih panik melihat bayinya itu akibat kecerobohannya.
__ADS_1
" kalo lagi puasa gak usah ngomongin yang enak-enak saepudin.. "
sontak saja keduanya tercengang melihat Grace membuka matanya. sial, rupanya wanita itu juga pura-pura tidur agar Leo mau mengambil baby Gwen dari pangkuannya, lebih tepatnya agar Leo bangun.
ya, Grace sudah merasakan gerak-gerik Leo yang akan membalas mendiamkannya. tentu dia tidak mau itu terjadi. maka dari itu Dia akan berusaha agar semuanya kembali normal seperti dulu lagi.
...****...
hari sudah gelap.
Silvie dan Exel sedang makan malam, memakan masakan Ari yang di bawa Silvie seperti biasanya selama Dia menjaga anak sahabatnya itu.
walaupun lelah sepulangnya dari kedai, Ari selalu menyempatkan memasak terlebih dulu untuk keluarga Exel, sebagai bentuk terimakasih karena Silvie sudah menemani dan menjaga istri juga anaknya.
" dah lo pulang tinggal ngangkang.. " selalu saja itu yang di ucapkan Ari kepada Silvie ketika hendak pulang.
.
.
.
" walaupun Silvie tau kalo si Grace pasti dan selalu maafin orang, tetep aja masih gak nyangka.. " ucap Silvie yang sudah menceritakan kejadian tadi kepada Exel.
" sekarang tugas kita jaga kepercayaan si Grace, jangan sampe yang udah-udah kejadian lagi.. " sahut Exel mengingatkan. Dia sendiri juga tidak menyangka semudah ini mendapat maaf dari keluarga sohibnya. apalagi ketika mendengar Grace yang langsung berbaur tanpa mengungkit kesalahan istrinya membuatnya percaya tidak percaya. ingin sekali rasanya dia menyaksikan kejadian tadi.
" iya bang, Silvie janji gak bakalan nyakitin si Grace lagi.. " ucap Silvie mengangguk mantap. Dia menyetujui apa yang diucapkan Exel.
" semuanya Sil, bukan si Grace doang.. jangan nyakitin orang-"
" iya iya.. abang juga jangan bikin Silvie sakit mulu.. " sela Silvie cemberut sebal membuat Exel terkekeh dan langsung paham kemana arah ucapan tersebut.
" tenang.. kan Ac-nya udah di pasang.. "
" ck.. apa hubungannya, itumah kalo Silvie ngeluh kegerahan baru abang bilang gitu.. "
" sama aja.. "
...*****...
kembali ke keluarga Leo.
" ck.. gue kayak orang bego dari tadi nungguin tuh anak gak masuk masuk juga.. "
Grace tampak mondar-mandir di depan cermin di kamarnya menunggu Leo yang tak kunjung masuk selepas makan malam tadi.
Grace sudah siap dengan jurus jitunya untuk mencairkan sikap dingin Leo terhadapnya. yakni dengan mengajaknya melakukan tugas mulia kembali, dimana Grace yang akan memimpinnya nanti. Dia sudah menyiapkan diri, dimulai dari membersihkan diri sebersih dan sewangi mungkin hingga pakaian yang melekat di badannya sekarang, cukup memberi isyarat bahwa Grace mengajak Leo untuk bercinta kembali malam ini, yaitu pakaian dinas kurang bahan.
.
.
.
malam semakin larut, Grace sudah berbaring di tempat tidur tanpa menutup badannya dengan selimut. tadi Dia sempat menanyakan perihal Leo kepada Lilis melalui pesan singkat. dan ternyata suaminya itu sedang berada di ruang kerjanya.
" emang gak bisa di lanjut di kantor apa, paling gak nyuruh bawahnya yang ngerjain kek.. " gumam Grace yang mulai bosan menunggu.
" ck, udah siap-siap gue mau servis lo Leonard.. "
" hmm, samperin aja kali ya, toh yang laen udah pada tidur ini.. "
Grace langsung bangkit dan berjalan keluar dari kamarnya tanpa mengubah penampilannya. Dia sudah menyiapkan mentalnya untuk menggoda Leo nanti di ruangan sana.
ceklek....
Grace terbelalak sekaligus kesal dengan apa yang dilihatnya begitu pintu terbuka. ternyata Leo sudah tidur. Leo bahkan sepertinya sudah menyiapkan secara matang untuk mendiamkannya. terbukti dengan Leo yang terlelap saat ini, dimana suaminya itu sudah mengenakan pakaian tidur tanpa Grace sadari. bahkan Leo tidur di atas sofa bed yang entah sejak kapan berada di ruangan itu.
__ADS_1
" ck.. si kamprett, malah lebih parah dari gue.. "