
Leonard beserta istri dan kedua anaknya belum pulang juga dari kediaman Exel juga Silvie. Leo menuruti permintaan Lucio dan Gwen yang masih betah di sana. beruntung baik dirinya maupun Grace, tidak ada kegiatan penting hari ini.
sedangkan keluarga Ari sudah pulang sejak pagi tadi. sebelumnya Ari memasak makanan terlebih dahulu untuk para sahabatnya sarapan dengan menu sesuai permintaan mereka, beberapa masakan khas daerah minang yang sangat menggugah selera, apalagi masakan yang dilengkapi santan, mereka sangat menyukainya.
kini dua keluarga sedang menikmati sarapan dengan makanan berat yang di masak oleh Ari. mereka makan di atas karpet yang sudah di gelar. meskipun di rumah tersebut tersedia meja makan, namun mereka memilih untuk duduk lesehan.
Leo berdiri mematung menatap berbagai macam menu masakan di hadapannya. Ia tak habis pikir dengan kelakuan sohibnya yang memasak makanan dengan jumlah yang cukup banyak, namun begitu cepat masakan itu tersaji.
" si kunyuk keknya udah pro.. " ucapnya seraya menggeleng takjub.
" yoi.. udah kayak mau hajatan aja.. " timpal Exel yang sama takjubnya. sayang orang yang dipuji tidak ada di sana. namun jika saja Ari ada mereka belum tentu segampang itu memujinya. ck..
" makanan segini banyak siapa yang mau abisin..? " celetuk Silvie kebingungan. Dia juga tak menyangka jika Ari akan memasak sebanyak itu. setau Silvie, Pria itu hanya menuruti sarannya yang mengucapkan masak saja sesuai anggaran. seketika Silvie langsung teringat akan orang yang memberi anggaran untuk sarapan hari ini, tiada lain yakni Leo. dan bisa di simpulkan jika Leo memberi uang dengan nominal yang banyak. lantas siapa yang patut di salahkan?
" dahlah anjirr.. tinggal makan gak usah rib_"
" Grace..! " bukan suaminya yang menegur Grace, melainkan Exel yang menegur agar wanita itu tidak berkata kasar di depan anak-anak.
Grace yang tidak sabaran dan hendak menyendok nasi, langsung urung ketika mendapat tatapan dingin dari Exel. apalagi ketika Beth anak dari Pria itu ikut bersuara membuatnya langsung menunduk malu. " berdoa dulu aunty.. "
" iya sayang.. aunty mau doa dulu kok, tapi mau ademin dulu nasinya.. " kilah Grace membuat orang dewasa lainnya menahan tawa. terlebih Leo, dia lebih memandang Grace seperti anak kecil yang tengah salah tingkah.
selesai berdoa Leo berinisiatif menyendok nasi untuk Grace yang saat ini terlihat merenung. sepertinya istrinya itu ragu atau takut salah bergerak, bisa-bisa kembali ditegur oleh Exel maupun anaknya.
" mau pake apa say-"
" papi.. abang juga mau disendokin.. "
" adek dulu.. "
" abang dulu.. "
belum sempat Leo menyelesaikan kalimatnya, kedua anaknya berebut meminta Ia melakukan hal yang sama terhadap Grace. Pria itu tersenyum hangat menanggapi keributan kedua anaknya. berbeda dengan Grace yang memasang wajah masamnya.
" bentar yah.. buat mami dul-"
" gue bisa sendiri.. " sela Grace sembari menyambar piring di tangan Leo. kemudian wanita itu menyendok beberapa lauk yang ada dihadapannya sehingga piringnya terisi penuh nan menggunung, membuat Leo dan juga Silvie meneguk ludahnya kepayahan. apakah Grace akan mampu menghabiskan makanan sebanyak itu?
berbeda dengan Exel yang langsung berdehem menegur Grace, Pria itu kembali menunjukkan rasa tidak sukanya akan sikap Grace di depan anak-anak. sialnya Grace kali ini tak menghiraukan teguran Exel, Dia memilih langsung menyantap makannya karena merasa benar-benar lapar, terlebih lauknya terlihat sangat menggugah selera.
" ngapa malah bengong..? bukannya di makan, lagi diet lo..? " celetuk Grace kala melihat Silvie yang malah memperhatikannya dan nampak bergidik beberapa kali. bagaimana tidak, Grace terlihat begitu rakus memasukkan makanan kedalam mulutnya.
" lo kayak baru nemu makanan enak Grace.. " celetuk Silvie sambil memulai suapan pertama.
" yoi.. gue kan biasanya makan sayur bayem.. " sahut Grace sekenanya, namun mampu membuat Silvie mendongak hingga hampir tersedak karena merasa tersinggung. sementara Exel hanya menggeleng mendengar sarkas Grace.
dan Leo? ah Pria itu tidak begitu memperhatikan, Dia lebih fokus menyuapi kedua anaknya yang entah mengapa selalu berebut mencari perhatiannya. bahkan kedua anaknya tidak keberatan memakan kuah pedas demi Leo sudi menyuapi mereka.
" Le itu ponakan gue gak papa makan pedes..? "
" it's ok uncle.. kami suka pedas.. iya kan dek? " timpal Lucio di angguki setuju oleh sang adik. keduanya langsung mendapat usapan lembut di kepala dari sang ayah sehingga membuat mereka memekik kegirangan seolah baru mendapat apresiasi.
begitupun dengan Exel yang memberikan senyuman hangatnya untuk kedua anak itu. jarang sekali mereka akur, namun demi mendapat perhatian ah lebih tepatnya mencuri perhatian papi-nya dari mami, mereka tiba-tiba bisa akur.
...**...
selepas sarapan, Exel pamit untuk bekerja ke bengkel. namun ada yang keberatan dengan kepergian Pria itu, berbeda dengan anaknya yang memang sudah terbiasa, kedua anak Leo kini merengek meminta Exel agar tetap di rumah menemani mereka bermain.
" nanti siang uncle sudah dirumah.. " celetuk Leo meyakinkan kedua anaknya, namun membuat Exel meyerit kebingungan hingga akhirnya Pria itu berdecak setelah mendapat anggukan mantap dari Leo mengisyaratkan dirinya agar tidak protes. cih.. bos mah bebas, kenapa kagak sekalian suruh bolos aja sih.
__ADS_1
" really..? "
Leo mengangguk membuat kedua anaknya bersorak kegirangan.
Exel kemudian menghampiri Silvie, dia teringat akan masakan yang banyak tadi, terlebih kebanyakan semuanya mengandung santan. Dia pikir makanan-makanan itu harus cepat habis.
" nanti di bagiin tetangga aja.. " ucap Exel setelah mencium kening Silvie.
" biar emak yang bagiin.. " lanjutnya di angguki setuju oleh Silvie.
sama halnya dengan Exel, Leopun berpamitan untuk keluar sebentar. alih-alih kedua anaknya yang protes, malah sikap Grace yang terlihat murung. apakah istrinya itu tidak mau ditinggalkan barang sebentar?
" bentar doang sayang.. gak nyampe dua jam ko.. " Leo mengacak gemas rambut Grace, kemudian mengecup lembut keningnya. dan Grace hanya menanggapi dengan anggukan, namun wajahnya terlihat murung.
kedua Pria itu akhirnya pergi bertepatan dengan kedatangan Emak Iyan yang memang sudah biasa membantu keluarga Silvie. kedatangan wanita paruh baya itu langsung disambut pelukan oleh putri kecil yang sudah dianggapnya cucu.
" Emak..!!! "
Grace dibuat terkekeh pelan ketika melihat ibu dan anak begitu kompak menghampiri wanita paruh baya itu. Silvie bahkan tidak terlihat sama sekali bahwa wanita itu merupakan anak dari seorang pengusaha sukses. Dia nampak lebih terlihat sebagai gadis biasa saat ini.
Emak Iyan menyambut putri kecil yang sudah dianggapnya cucu sendiri. di usapnya kepala anak itu dengan lembut.
" hari ini jadwalnya nimbang neng.. "
" asyik.. dapet biskuit mari sama bubur kacang ijo.. " timpal Silvie memekik girang seraya mengajak putri kecilnya untuk melakukan hivi.
Sementara Grace yang baru akan mencium tangan emaknya Iyan dibuat tercengang dengan tingkah kegirangan ibu dan anak itu. Dia tak habis pikir, hanya perkara makanan sederhana bisa membuat keduanya begitu bahagia. namun ada sedikit rasa sesak di dada, Grace tahu betul bagaimana kehidupan sahabatnya sebelum ini. apapun akan mudah didapatkan oleh seorang Silvie.
" abang sama adek mau ikut gak..? "
" ikut.. kami mau ikut.. " sahut Lucio penuh semangat, bahkan anak itu tidak tahu kemana Silvie akan mengajaknya.
" apa boleh mami..? "
...***...
Hari ini keadaan posyandu di kawasan tempat tinggal Silvie sangat ramai tidak seperti biasanya. para ibu-ibu begitu heboh dengan kehadiran sosok wanita yang parasnya tak kalah cantik dari Silvie yang sebelumnya menyandang mamah muda paling cantik di sana.
mereka juga sebelumnya tidak percaya jika Grace sudah memiliki dua anak. melihat bagaimana postur tubuh wanita itu sangat tidak meyakinkan jika pernah mengandung bahkan dua kali.
" ngedadak pada dateng, biasanya pada mager ogah-ogahan.. " celetuk Wanita paruh baya yang tengah menjadi bahan rebutan tiga balita yakni Emak Iyan. secara tidak langsung tujuannya juga menyinggung Silvie yang selalu absen di kegiatan itu. walaupun Ia sendiri tidak keberatan, namun setidaknya Silvie menyempatkan waktu menemani anaknya ke posyandu.
" woah.. gue kalah saing bestie.. "
Grace memutar bola matanya jengah karena sedari tadi dirinya selalu menjadi pusat perhatian yang lainnya. padahal Ia sudah berpenampilan sesederhana mungkin untuk mengimbangi Silvie. namun lihatlah tingkah sahabatnya itu sangat kekanak-kanakan nampak merajuk dengan memajukan bibirnya.
" lo selalu cantik Sil.. " jangan tanya dapat dari mana kalimat pujian itu, yang pasti Grace hanya ingin sahabatnya tidak bertingkah merajuk yang nantinya akan merusak momen.
" tapi baju yang lo pake bikin lo kebanting.. "
Sial, baru saja Silvie dibuat berbinar dengan pujian itu, seketika Ia kembali murung menekukan wajahnya masam.
tiba-tiba tangan Grace terulur meraih tangan Silvie yang tengah menunduk murung. ada perasaan menyesal di hati Grace, seharusnya Ia tidak menyinggung penampilan sahabatnya. justru Ia harus memberi apresiasi karena Silvie dengan mudahnya melewati dan menjalani kehidupan yang jauh dari sebelumnya. dimana sahabatnya itu selalu mendapat perlakuan manja dan di penuhi kemewahan.
" sorry.. gue gak maksud.. ah lo selalu cantik Sil sama apapun yang lo pake.. "
Silvie menggelengkan kepalanya membuat Grace menyerit heran sekaligus siap-siap mencari kata yang tepat agar Silvie tidak tersinggung lagi.
" no.. gue bukan iri sama penampilan lo Grace, tapi gue iri sama yang lo lakuin.. "
__ADS_1
Seulas senyuman terbit dari Emaknya Iyan yang sempat merasa was-was takut kedua sahabat itu bertengkar.
Silvie tentu merasa iri dengan apa yang Grace lakukan hari ini. bagaimana tidak, Grace dengan entengnya mengeluarkan dana untuk membagikan cenderamata berupa bingkisan sembako untuk para ibu-ibu dan juga keperluan lainnya untuk anak-anak yang antusias hadir di posyandu.
selain itu, Silvie tentu juga merasa menyesal, kenapa bukan Dia yang melakukan itu, dan kenapa bukan sedari dulu Ia menyadarinya. padahal Ia tentu mampu untuk melakukannya. Exel tentu sangat mendukung bahkan tambah jatuh cinta terhadapnya.
" Gue pikir kedepannya lo bakal lanjutin Sil.. "
Silvie mengangguk antusias. ya.. Dia akan melanjutkan jejak kebaikan Grace. Dia tahu sendiri jika sahabatnya itu sangat tidak suka di puji secara berlebihan jika melakukan aksi sosial seperti ini.
" kedepannya juga, gue bakal nemenin Cio sama Gwen ke posyandu.. " lanjut Grace terdengar lirih. betapa menyesalnya Dia sudah melewatkan salah satu momen tumbuh kembang kedua anaknya. dimana mereka begitu mudah beradaptasi dan bersosialisasi dengan orang-orang baru tanpa melihat kasta.
Sekarang giliran Silvie yang menggenggam tangan Grace. apa bedanya Ia dengan sahabatnya. sama-sama Ibu yang buruk pikirnya.
" Gue juga Grace.. pastinya sambil darma.." timpalnya cengengesan membuat Grace ikut terkekeh.
" ikhlas dari kita.. halal buat orang.. " seru keduanya kompak.
...***...
Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Grace baru bangun dari tidurnya setelah makan siang tadi. Wanita itu segera keluar dari dalam rumah tanpa mencuci mukanya terlebih dulu.
" woah.. nyonya baru bangun.. " Ari berceletuk tanpa dosa membuat Grace memasang wajahnya cemberut.
sementara Leo yang tengah sibuk membantu Exel, segera menghampiri Grace yang berpenampilan acak-acakan apalagi rambutnya bak singa.
" udah bangun hemm.. " tanpa aba-aba Ia mengecup bibir Grace berusaha mengembalikan mood istrinya agar lebih baik.
Tepat, Grace langsung tersenyum setelah mendapat perlakuan hangat dari Leo. Pria itu menepati janjinya yang akan kembali secepat mungkin.
" sorry, gue ketiduran.. "
Leo menaikan sebelah alisnya seraya menatap Grace yang tengah menunduk seolah menyesal. " ketiduran apa kekenyangan..? "
" dua-duanya.. " sahut Grace cengengesan. biasanya Ia akan menaikan intonasinya dan mengajak Leo berdebat apalagi pertanyaan barusan seperti mengejeknya.
namun dengan melihat apa yang tengah Leo kerjakan saat ini membuat Grace mengenyampingkan hal itu. Dia sedang terpesona dengan kebaikan suaminya.
Grace merasa sangat beruntung dan bangga memiliki Leo saat ini. dimana Leo tanpa pikir panjang membantu Exel membenahi warungnya. Leo juga menambah dispenser bahan bakar disana.
" makin betah dong anak-anak nongkrong disini.. "
" hmm, lagian kalo gue perhatiin, dari sini agak jauh ke pom. so.. buat ngemudahin warga sini juga lah.. " sahut Leo mengangguk tersenyum, namun dirinya menahan sedikit rasa kesal demi terciptanya mood baik seorang Grace.
" yoi.. Astro jangan dikasih yang subsidi El.. "
" gak lah anjirr, ya kali motor pada cakep bensinnya subsidi.. "
" lah itu si Iyan.. pertali- "
" gue cuci tangan dulu..!!! " Tiba-tiba saja Leo beranjak masuk ke dalam rumah. padahal jika alasannya hendak mencuci tangan. diluar juga ada kran air dan juga di warung tersedia wastafel.
" lo sih pake nyebut nama tuh anak.. " celetuk Exel tak segan menoyor kepala Ari yang ternganga memperhatikan kepergian Leo.
" lah ngapa emang..? lagian gue heran, si Leo masih aja cemburu sama si Iyan.. sama si Soni kagak, jelas-jelas tuh anak pernah mau nyab-"
" mulut lo curuttt.. " Lagi-lagi Exel menoyor kepala Ari bahkan lebih kasar dari sebelumnya. Exel jelas kesal karena sohibnya sudah mengingatkan kejadian buruk pada Grace.
Yang di tegur malah cengengesan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
" sorry suhu.. "
" yaelah.. malah pada ngambek.. laki bini susah ke tebak emang.. "