
" becanda lo gak lucu Grace.. "
Leo, Pria yang kini sedang menatap sendu wanita yang sangat dicintainya tengah terbaring lemah sejak mengalami insiden di bengkel tiga hari lalu.
" bangun Grace.. gak mau liat anak kita hemm..? "
Leo merasa sedih juga terpukul, namun Dia berusaha menahan air matanya agar tidak keluar di hadapan Grace. walaupun pada kenyataannya Grace tidak akan tahu mengingat wanita itu tak kunjung sadarkan diri, tetapi Leo percaya jika Grace tidak suka melihat pria itu harus menangisinya.
" putri kita cantik Grace.. but, lo yang selalu cantik dimata gue.." Leo terkekeh pelan kala mengingat Grace yang selalu menekankan kalimat itu.
Pria itu kemudian mengusap lembut kepala Grace, wanita yang sudah memberikannya hadiah terindah yakni bayi mungil berjenis kelamin perempuan sesuai dengan tebakannya. ah..taruhan itu, Leo sudah tidak sabar melihat ekspresi istrinya yang kalah.
" tebakan gue benar Grace.. but, don't worry.. walaupun lo kalah, lo tetep dapet hadiah yang lo minta.. "
tangan Leo terhenti ketika tak sengaja menyentuh kening Grace yang nampak memar akibat mendapat pukulan benda tumpul tempo hari.
seketika Leo mengeraskan rahangnya kuat, sangat sulit menerima apa yang terjadi dengan istrinya.
brengsek.. Pria itu kembali mengumpat dirinya yang sudah gagal melindungi Grace dari kejadian nahas yang membuat istrinya itu terpaksa melahirkan secara caesar sebelum waktunya.
...***...
tiga hari yang lalu..
Silvie tidak bisa percaya begitu saja terhadap Exel yang berpamitan kepadanya untuk pergi ke bengkel. Silvie sendiri tahu jika hari ini anak sahabatnya tengah berulang tahun. Dia yakin jika Exel sangat ingin menemui anak itu walaupun dirinya sudah berusaha mencegahnya dengan cara apapun.
" cek dulu kesana deh, siapa tau emang beneran ke bengkel.. " walaupun merasa ragu, sekali lagi Silvie tidak ingin berburuk sangka dengan Exel, terlebih setelah kejadian itu suaminya masih menerima dan memperlakukan dirinya dengan baik.
Silviepun memutuskan pergi ke bengkel tempat Exel bekerja dengan menumpangi ojek. menguntit hanya untuk memastikan benar atau tidaknya jika suaminya itu pergi ke sana.
setibanya di bengkel, Silvie tidak menemukan keberadaan motor Exel, tetapi Dia melihat sebuah mobil boks terparkir di sana juga terbukanya rollingdor bengkel itu membuatnya bingung hingga akhirnya Dia terkekeh pelan.
" beneran lembur, lagi turun barang kayaknya.. " kini Silvie tersenyum bernafas lega. Dia yakin Exel sudah jujur terhadapnya, di mana suaminya itu benar-benar ada urusan. mengingat pemilik bengkel sedang sibuk dengan pestanya, mengharuskan suaminya itu untuk turun tangan di malam ini.
" besok lo boleh temuin Cio bang.. kalo bisa, gue juga mau ikut.. "
Di sisi lain, Grace yang sudah tiba di depan rumah Exel, harus menelan kekecewaan kala melihat rumah itu sepi tak berpenghuni.
" maaf neng, malem-malem gini mau kemana ya.." seorang pria menghampiri Grace yang masih berdiri di depan rumah tersebut.
" saya mau ke temen saya pak, tapi kayaknya orangnya lagi pergi.. " sahut Grace sedikit ketakutan.
" oh, neng Silvie.." tebak pria itu di angguki Grace antusias.
" baru aja pergi ke bengkel, kebetulan saya yang anter barusan katanya mau nyusul suaminya.. "
sontak saja Grace menyerit heran, mau ngapain mereka ke bengkel malem-malem gini.
" oh gitu yah, kalo gitu saya juga mau nyusul kesana.. " entah mengapa Grace sangat ingin bertemu mereka saat itu juga. hatinya seolah terketuk untuk mengalah dan mengemis agar Silvie kembali menjadi sahabatnya lagi.
" mau saya anter neng..? "
Grace menggeleng, " gak usah pak, makasih.. "
" tenang neng, saya orang sini juga.. tetangganya neng Silvie "
" eh bukan begitu pak, saya gak di bolehin naik motor dulu.. biar saya pesen taksi online pak.. "
" ya ampun, maaf neng.. saya gak engeh kalo si neng lagi hamil.. "
" iya Pak gak papa.. "
" kalo gitu saya temenin sampe mobilnya dateng yah.. "
Gracepun mengangguk mengiyakan niat pria itu mengingat keadaan di sana benar-benar sudah sepi.
.
.
.
sementara di tempat lain,
ketika Leo akan menyusul Grace yang pergi begitu saja setelah berpamitan tanpa menunggu izin darinya itu, kini harus tertahan oleh si kecil yang rewel karena kecapean dan kurang cukup istirahat.
Leo mencoba menghubungi seluruh anggotanya untuk menjaga juga mengawasi Grace dari kejauhan, walaupun Dia sendiri tidak tahu kemana tujuannya wanita itu pergi.
__ADS_1
" Sialan.. udah pada molor apa, kompak banget gak nyautin.. " pria itu melupakan bahwa anggotanya kelelahan setelah mendapat kesempatan untuk bermain sekaligus mengasuh si kecil tadi.
" punggungnya bedakin lagi, iya..? udah mau abis sebotol Cio.. baby tepung crispy siap papi goreng nih.. "
" Cio..!!! " suara yang sangat di kenal membuat Leo yang sedang mengusap punggung si kecil langsung menoleh ke arah pintu.
" kebetulan lo kesini.. kelonin nih anak lo.. "
" Lo sendiri mau kemana Le..? "
" mau kencan sama bini gue.."
" okeh, Cio bobo sama uncle yah.. "
mendengar itu rasanya Leo ingin muntah. kali ini Ia membiarkan sohibnya menjaga si kecil. walaupun masih kesal, tetapi saat ini Dia butuh sohibnya. ck..
.
.
.
kembali pada Silvie.
wanita itu langsung memutuskan untuk pergi setelah mengetahui siapa orang-orang yang berada di dalam bengkel itu.
komplotan perampok yang sudah lama mengintai bengkel yang selalu menyimpan banyak onderdil mahal menjadi sasarannya sekarang.
mereka sudah lama mengatur strategi hingga momen itu tiba.
" ada cewek cantik bos.. "
Sial. satu kata untuk Silvie yang kepergok oleh mereka yang langsung mengitarinya dengan tatapan buas siap menggerayangi tubuh molek itu membuat Silvie ketakutan.
" Woww.. sekali dayung dua pulau-"
bugghhh..
" lepasin temen gue brengsek..!!!"
" Grace.. "
buggghhh.. Silvie menendang dengan asal pria di hadapannya. sialnya pria itu malah tergelak mengejek kemampuannya.
" oh.. mau ngelawan ya.. "
bughhh.. pria yang akan menyerang Silvie langsung tersungkur setelah mendapat serangan dari Grace.
" cabut Sil.. " teriak Grace yang tengah baku hantam dengan komplotan perampok itu.
Silvie menggeleng menolak, bagaimana bisa dia meninggalkan Grace yang melawan perampok itu sendirian. terlebih para perampok itu menyerang Grace tanpa perasaan dan tidak memilah lawannya yang jelas-jelas seorang wanita bahkan tengah hamil.
" gue biang cabut, cabut Sil.. "
bughhh..
" Grace...!!!! "
.
.
.
" come on Grace.. mana kemampuan hebat lo..? katanya jago berantem, payah lo Grace.."
Ari melihat Leo sedang berdiri menatap kaca ruang penanganan Grace sambil meracau hebat.
Pria itu segera menghampiri Leo dan langsung mendekapnya begitu erat hingga sohibnya itu menangis sesenggukan.
pada akhirnya Leo menumpahkan rasa sedih juga terpukulnya kepada Ari yang tengah mendekapnya erat.
" Lo harus tenang Le, kasian si Grace.. " sekuat tenaga Ari tetap tegar dan berusaha menenangkan sohibnya.
" istri gue, anak gue Ri.. " lirih Leo.
Ari menepuk punggung Leo yang masih terisak di pelukannya,
__ADS_1
" mereka bakalan baik-baik aja.. lo berdo'a, serahin semuanya sama Tuhan.. "
...****...
" kita belum rundingin ngasih nama buat putri kita Grace.. "
Leo tampak tenang dengan senyuman hangatnya. kemudian Ia mengusap kembali kepala Grace dan mengecup keningnya dengan lembut.
sementara di luar ruangan, Exel berdiri sedari tadi sambil berusaha menahan air matanya kala melihat bagaimana cara Leo mencoba berinteraksi dengan Grace yang jelas-jelas tak sadarkan diri itu.
Exel tidak bisa mendengar apa yang di sampaikan sohibnya kepada Grace, Dia hanya diam mengamati dengan perasaan bersalahnya.
" berani lo baru nongolin muka sekarang.. "
Ari, Pria yang baru tiba di sana langsung tersulut emosi kala melihat kehadiran sosok Exel.
Exel terkesiap, belum sempat Ia menoleh, Ari sudah menarik kerah jaketnya kemudian menyeretnya tanpa perasaan hingga membuat para pengunjung di sana bergidik merinding melihat Ari yang di kuasai amarahnya.
Ari membawa Exel menuju halaman rumah sakit.
bugghhh.. tanpa babibu lagi, Ari langsung melayangkan bogeman ke wajah Exel hingga pria itu tersungkur ke tanah.
" kemana aja lo.. setelah si Grace hampir mampus, lo baru nongolin muka.. "
Exel diam tak menyahuti, bahkan untuk melawan Ari pun Ia enggan. Dia merasa memang layak mendapatkan perlakuan seperti ini, bahkan menurutnya belum sepadan jika di bandingkan dengan terpukulnya orang-orang di sekitar Grace.
Diamnya Exel malah membuat Ari semakin emosi. Dia yang menjadi saksi ketika Leo hampir kehilangan kewarasannya. dan Exel adalah orang yang menurutnya paling bersalah di sini.
Ari berjongkok di hadapan Exel, kemudian pria itu mencengkram kuat dagu Exel sambil menatapnya dengan tajam.
" mana yang katanya abang baik buat si Grace hemm? gue aja sakit liat keadaan si Grace lemah begitu, apalagi si Leo. itu semua karna lo sialan.. karna lo pengecut, karna lo gak bisa bijak.. "
" Ari stop.!!! " Silvie berteriak dan langsung menghampiri keduanya ketika Ari akan melayangkan pukulan lagi di wajah Exel.
Ari berdiri sambil menyunggingkan senyuman kala melihat Silvie yang langsung bersimpuh menghampiri Exel.
" abang gak papa..? " tanya Silvie langsung di sahuti Exel dengan gelengan kepala. kemudian wanita itu menatap tajam ke arah Ari.
" lo apaan sih, kita kesini cuma mau liat keadaan si Grace. lo maen hajar orang gitu aja.. "
" gak perlu, mending lo pada cabut aja sono.. kehadiran kalian gak ngaruh buat si Grace, gak bakalan bikin dia bagun juga kan-"
" urusan lo apa, pake ngelarang kita segala.. oke kita gak bisa bikin si Grace bangun, tapi apa salahnya sih kita liat dia sebentar-"
" kalo cuma formalitas, mending gak usah.."
" ck, berlebihan banget lo.. gue yakin si Grace juga gak papa, lagian anaknya selamet juga kan.."
" terus kalo gak selamet, lo masih bisa sesantai ini Sil..? gak ada gitu sedikit penyesalan atau rasa bersalah di diri lo hemm? "
" ya gak gitu juga, lagian lo bisa se care ini sama si Grace, beda sama gue dulu. padahal yang gue alamin lebih parah dari dia, gue kehilangan anak. dan gue sama sekali gak liat kalian semua sepeduli ini sama gue.. emang kalian tuh lebih peduli sama si Grace, apa-apa si Grace.."
" ck, terus aja lo teriak berlagak jadi korban, padahal lo tersangka paling sadis di sini.. Lagi-lagi lo enteng banget nyebut nama si Grace buat lo salahin..-"
" emang semuanya gara-gara dia..!!! "
sontak saja Ari kembali di kuasai amarahnya setelah dia mati-matian berusaha menahannya, mengingat lawan bicaranya hanya seorang wanita. Pria itu terkekeh pelan menatap Exel namun tatapan itu terlihat tajam bak iblis pembunuh.
" Lo liat El istri didikan lo.. ramah sekali mulutnya yah.. " ucapnya santai dan terlihat tenang.
" gue orang yang paling kalah selangkah dari lo sama si Leo. tapi lo pernah gak..liat bini gue ngebantah gue, lo pernah denger gak..keluhan dari dia yang di ajak hidup kere sama gue.."
Ari menghela napas sejenak lalu tersenyum tipis kala melihat dua orang di hadapannya menunduk bisu.
" gue paling tengil, paling banyak bacot. tapi gue gak sepengecut lo El.. lo boleh bangga karna lo udah berhasil bikin bini lo balik lagi.. tapi buat gue lo tetep gagal El, lo berhasil balikin raganya doang. tapi jiwanya enggak, udah direbut duluan sama setan.. "
Silvie melotot mendengar itu, dia tidak terima dengan ucapan Ari,
" so paling bener lo, gue datang dengan niat baik mau jengukin si Grace, lo seenaknya merembet kemana-mana, lo gak tau apa selama ini gue berusaha ngelawan rasa trauma kehilangan anak, gara-gara Dia mental gue rusak-"
" rusak yah? sini biar gue bikin parah mental lo.. " sela Ari dengan geramnya, ingin sekali rasanya Ia merobek mulut Silvie, wanita yang dia pikir akan sedikit sadar setelah mendengar ucapannya. sialnya wanita itu malah memancing emosinya lagi.
" sesekali kaca di rumah lo pake yang bener, lo ngaca.. lo mikir, coba posisi si Grace ada sama lo. cuih.. gue gak yakin kalo lo bakalan sekuat dia.. " Ari mengambil napas sebanyak-banyaknya sebelum kembali menuntaskan curahan kekesalan di dadanya. kemudian dia beralih menatap Exel.
" didik istri lo yang bener bos. " ucapnya santai sambil menepuk bahu Exel.
" bukan bini lo doang yang keganggu mentalnya. lo pikir si Grace enggak, selama ini dia pinter nyembunyiin karna emang dia cewek kuat ngalahin si Leo. ah iya..lo tau El, kalo bos lo hampir gila karna ulah lo berdua hmm? beruntung kehadiran anak-anaknya bisa nguatin dia.. So, sekali lagi mending lo cabut deh, ajak bini lo sebelum gue kehilangan kendali buat robek mulutnya.. "
__ADS_1
kemudian Ari melenggang pergi meninggalkan keduanya di sana. dengan sengaja Ari menabrak bahu Silvie, wanita yang tengah menatapnya tajam dengan napas yang menggebu-gebu. sialnya Ari malah menyunggingkan senyuman sambil berbisik di hadapan wanita itu.
" gimana mentalnya? masih waraskah? "