
Sekarang keduanya tengah berada di dalam mobil yang masih terparkir apik di area parkiran kampus.
Leo memandang wajah Grace dengan tatapan bingungnya. sudah hampir lima belas menit Grace menangis sesenggukan di dekapannya, sementara istrinya itu tak kunjung menjawab pertanyaannya mengapa dia menangis.
" udah nangisnya belum..?" pertanyaan kesekian kalinya yang terlontar dari mulut Leo.
dan jawaban Grace masih sama, " belum..!" sahutnya ketus dan kembali terisak.
Leo menggeleng terkekeh pelan kala Grace malah semakin menyembunyikan wajah di dada bidangnya. kali ini Grace terlihat menggemaskan sekali ketika menangis seperti ini, terlebih Leo yang selalu menanggapinya seperti kepada anak kecil.
" hmm, kalo udah bilang yah.." ucap Leo seraya mengusap lembut rambut Grace. dan Grace mengangguk cepat membuat Leo terkekeh kembali, gemas sekali istrinya itu.
.
.
.
Beberapa menit kemudian Grace berhenti terisak. Wanita hamil itu lalu mendongak menatap Leo yang setia memandangnya.
" nangisnya udah.."
sontak saja Leo terkekeh geli karena sudah di buat gemas oleh Grace. Istrinya itu benar-benar menuruti ucapannya, padahal Ia hanya berlagak menjadi seorang ayah yang menenangkan putri kecilnya menangis.
Leo menangkup wajah Grace yang masih menatapnya dengan sorot mata yang terlihat lucu juga bibirnya yang kini cemberut, membuat Leo tak segan mengecup bibir candu itu dengan lembut.
" hmm, kalo nangisnya udah, berarti jawab pertanyaan gue yang tadi bisa..?" ucap Leo pelan dan di angguki Grace dengan lucunya hingga membuat Leo kembali terkekeh.
" so.. kenapa, kenapa lo bisa nangis..?" tanya Leo seraya menaikan sebelah alisnya.
" gue mau salad buah.." sahut Grace dengan napas yang tersengal akibat lamanya dia menangis.
Mendengar itu, seketika Leo tercengang dengan mata yang membola sempurna,
" salad buah, lo nangis cuma pengen salad buah..?" tanyanya memastikan, dan di agguki kembali oleh Grace dengan polosnya hingga terdengar helaan napas dari pria itu.
jika saja suasana itu seperti biasa, sudah pasti Leo akan mengomeli Grace yang jelas sudah menguji kesabarannya. Namun hanya dengan melihat ekspresi lucu istrinya itu, sudah berhasil membuat hatinya luluh seketika.
" hmm, emang kalo perut udah gede gini masih boleh ngidam yah..?" goda Leo sambil mengusap perut Grace membuat istrinya itu memajukan bibirnya sebal.
Leo terkekeh, " canda sayang.. ya udah kita cari yah salad buahnya.." ucapnya lembut sambil mengelus pipi Grace.
Grace menggeleng cepat membuat Leo menyerit heran. Pria itu sudah ancang-ancang menyiapkan dirinya jika Grace kembali menguji kesabarannya.
" gue mau salad buah bikinan si El.." ucap Grace menunduk ragu.
Leo menghela napas panjang, kemudian dia merogoh ponsel di kantong celananya dan segera menelpon orang yang di sebut oleh istrinya barusan yang tak lain adalah Exel sohibnya.
" ke parkiran sekarang.. gue tunggu.." titahnya kepada Exel.
Grace mendongak dan langsung menggelengkan kepalanya. dia merasa tidak enak jika harus merepotkan Exel. tetapi dia tidak berbohong, Grace benar-benar menginginkan salad buah buatan Exel saat itu juga. terlebih wanita itu sempat melihat Megan memakan makanan tersebut di temani oleh Silvie tadi di kantin. hingga pada akhirnya Grace mengurungkan niatnya untuk istirahat di tempat itu sebab merasa terabaikan.
" gak usah.." ucapnya tanpa bersuara membuat Leo langsung membungkamnya dengan jari telunjuknya.
" bangsat.. lo kalo mau absen, sendiri aja.. gak usah ngajak orang lain juga.." terdengar umpatan Exel di seberang sana.
" buruan.. ade lo nungguin.." sahut Leo tanpa basa-basi langsung menutup panggilan tersebut secara sepihak.
.
.
.
Tak butuh waktu lama, Exelpun datang menghampiri mobil Leo dengan langkah yang tergesa. kemudian pria itu langsung masuk dan duduk di bangku belakang.
" gercep juga lo.." celetuk Leo dengan nada mengejek menatap Exel dari pantulan kaca spion sebelum Ia melajukan mobilnya.
Namun Exel tampak tak minat untuk menyahuti ejekan sohibnya. dia lebih memilih beralih menatap Grace,
" ada apa Grace..?" tanyanya dengan cemas.
" ck, demi ade kesayangan, akhirnya lo absen juga.. lo cabut dari kelas gak takut kena marah Pak Anton.." celetuk Leo.
" ngapain takut, orang gue udah izin.. lagian dosen modelan gitu mah, mana ada marah.. apalagi gue izinnya mau nemuin si pemilik kampus-"
__ADS_1
" ck.. Ade lo minta di bikinin salad buah.." sela Leo ketus. Pria itu jelas tidak suka siapapun yang membahas hal itu jika dirinya sedang berperan sebagai seorang mahasiswa.
" bener Grace..?" Exel bertanya dengan wajah sumringahnya membuat pria di depannya berdecak kesal sebab merasa terabaikan.
Sementara Grace langsung mengangguk mengiyakan membuat Exel tersenyum senang karena merasa di butuhkan oleh wanita yang sudah Ia anggap adiknya itu.
" oke gue bikinin, berarti sekarang kita mampir dulu buat beli buah sama-"
" gak perlu.. kulkas gue semua ada kelewat lengkap.." sela Leo songong membuat Exel berdecak memutar bola matanya malas.
.
.
.
Merekapun sudah berada di rumah Leo dan Grace. tanpa membuang waktu, Exelpun segera melangkah ke dapur.
" gimana..? lengkapkan..? " ucap Leo yang tengah bersandar di dinding sambil mengamati Exel yang sedang mengobrak-abrik isi kulkasnya.
" iya, swalayan mah lewat.." sahut Exel sewot mendelikan matanya sekilas ke arah Leo.
lantas Exelpun mulai membuat makanan yang di inginkan Grace. tangannya begitu lihai memotong beberapa macam buah yang di ambilnya tadi di kulkas.
sementara Leo kini berlagak seperti mandor yang mengawasi pegawainya. dengan santainya Ia bersandar di dinding sambil bersidekap dada. bahkan pria itu sengaja membiarkan si kecil yang mulai mengganggu pekerjaan Exel.
Exel terkekeh geli kala si kecil mendongak ke arahnya sambil menarik ujung pakaiannya. kemudian pria itu berjongkok di hadapan si kecil,
" cio mau ini..? " Exel memberi sepotong buah kepada si kecil.
Exel kembali terkekeh dengan si kecil yang antusias menerima buah pemberiannya. Dia melirik sekilas ke arah Leo yang ikut terkekeh melihat si kecil.
" Cio sama papi dulu yah.. " ucapnya lembut sambil mengusap kepala si kecil. namun si kecil malah mengasongkan tangan meminta Exel untuk menggendongnya.
Exel menurut, tapi sebelumnya Ia melirik lagi ke arah Leo, berharap sohibnya itu peka dengan mengambil alih si kecil dari gendongannya. sialnya sohibnya itu malah mengangkat bahu acuh dan menertawakannya. pada akhirnya Exelpun mengerjakan pekerjaannya sambil menggendong si kecil.
" ya ampun.. kalian berdua gak ngeri Cio kena pisau apa? " celetuk Grace yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
" bapaknya geblek.. " sahut Exel sewot membuat Grace memicingkan matanya ke arah Leo.
" oh iya ya, yaudah bang bikin yang enak.. " timpal Grace membuat Exel mendengus kesal. Pria itu pikir Grace akan mengambil alih si kecil, atau minimal mengomeli Leo agar melakukannya. nyatanya pasangan itu memang sama gilanya.
" iya de.. " sahut Exel sewot dan terkesan tidak iklhas bagi Grace yang kini sudah memajukan bibirnya sebal.
" yang ikhlas dong, kayak sama si Megan.. lo ikhlas bin niat banget sampe nitipin ke bini lo.. "
deg.
seketika Exel menghentikan aktivitasnya sejenak, Dia mencoba mencerna apa yang di sampaikan Grace barusan. jantungnya langsung terasa mencelos mendengar itu. padahal dia membuat salad buah itu cukup banyak supaya Silvie mau berbagi dengan kedua sahabatnya termasuk Grace. Dia pikir istrinya itu akan memulai menerima sahabatnya kembali, namun setelah kejadian di parkiran tadi membuatnya berpikir kembali jika sikap Silvie belum sepenuhnya kembali seperti dulu lagi.
" tadi gue bikin banyak Grace biar lo bertiga makan bareng-bareng.. "
Sial. kalimat Exel malah membuat Grace teringat kejadian tadi. Dia sakit hati, dadanya terasa sesak . Grace sendiri tidak percaya dengan ucapannya barusan yang spontan keluar dari mulutnya. dia hanya merasa sedang berperan sebagai adik yang manja terhadap kakaknya.
dan jangan lupakan orang yang merasa paling sakit di sini. Leo, pria yang kini tengah mengeraskan rahangnya kuat. Dia jelas merasa lebih sakit jika melihat istrinya tersakiti. rupanya istrinya tadi bukan sekedar menangisi makanan, melainkan sikap sahabatnya.
" lagi-lagi lo pada nyakitin istri gue.. apa salahnya lo pisahin tuh salad buat istri gue El.. sengaja emang lo.. " Leo hanya bisa mengumpat di dalam hatinya. Dia bingung harus bereaksi seperti apa, dia takut jika salah berucap dan akan membuat istrinya kembali sakit hati.
" ehem.. " Leo mencoba menormalkan kembali perasaannya.
" Grace, ikut gue bentar dah.. gue mau minta tolong.. " ajaknya sambil meraih tangan Grace.
" minta tolong apaan..?" sahut Grace gelagapan. wanita itu belum sepenuhnya kembali normal.
Leo tidak menjawab, tetapi tangannya menuntun Grace agar mengikuti langkahnya hingga istrinya itu menurut mengikutinya. keduanya pun pergi dari dapur meninggalkan Exel yang kembali melanjutkan pekerjaannya bersama si kecil yang setia berada di gendongannya.
.
.
.
" ini konsepnya minta tolong apa nyuruh sih..? "
di sinilah Grace kini berada, di ruang kerja suaminya. Dia tengah menghadap monitor juga setumpuk berkas di atas meja kerja itu.
__ADS_1
" minta tolong sayang.. " sahut Leo sambil menoel dagu Grace membuat istrinya itu mendengus kesal.
" lo tau sendiri kan gue paling males kalo disuruh ngetik.. ribet tau gak "
" ck, ribetan mana sama custom motor langganan lo..? "
" itu kan beda Leonard, kalo disuruh ngetik kek gini bisa kriting jari-jari gue.. "
" kalo maen game enggak yah.. "
Grace benar-benar di buat kesal dengan Leo. suaminya itu selalu saja ada kalimat telak menyahuti ucapannya. pada akhirnya Grace pun mengerjakan apa yang di suruh suami menyebalkan itu. Dia mengetik dengan perasaan ogah-ogahan berkas yang Ia sendiri tidak tahu itu berkas apa. lebih tepatnya wanita itu tidak perduli dengan isi berkas-berkas itu.
" gitu dong, sekali-kali bantu suaminya.. dipikir gampang apa kuliah sambil kerja, apalagi dikejar deadline-"
" ck.. dipikir gampang apa kuliah sambil bawa bawa buntelan.. " sela Grace dengan pandangannya yang tidak beralih dari layar monitor di hadapannya.
Leo menggeleng terkekeh sambil mendekat ke arah Grace. kemudian Ia mengecup pucuk kepala istrinya.
" sabar yah, bentar lagi lounching.. " bisiknya di telinga Grace hingga istrinya itu mampu merasakan helaan napasnya.
" minggir lo, gak usah goda gue.. " ucap Grace ketus sambil berlagak menggosok lehernya. hal itu sukses membuat Leo kembali terkekeh.
" elah gitu aja kegoda.. gimana kalo lo liat ini.. "
sontak saja Grace terbelalak dengan apa yang di lakukan pria di hadapannya saat ini. pria itu kembali mendekatinya hingga membuatnya ternganga melihat sesuatu yang sangat sensitif terekspos begitu saja.
" Leonard kamprett lo.. "
...***...
sementara di tempat lain, Silvie sedang berdiri di samping motor Exel yang masih terparkir di area kampusnya. tetapi sedari tadi Dia tidak melihat kehadiran pemilik motor tersebut.
Silvie mendengus kesal, Dia merasa jenuh menunggu Exel yang tak kunjung muncul itu. bahkan suaminya itu sama sekali tidak memberinya kabar.
sebuah mobil mendekat ke arahnya, hingga membuat Silvie yang tampak sibuk menghubungi Exel, langsung menoleh.
" Sil.. gue pikir lo udah balik.. " Megan, orang yang berada di dalam mobil tersebut.
Silvie menggeleng kemudian beralih menatap Ari yang duduk di depan kemudi.
" Ri, bang El ko belum keluar juga yah.. "
" lah, bukannya tadi siang doi cabut duluan yah sama si Leo..? "
" dari siang? " tanya Silvie di angguki santai oleh Ari. " terus kenapa motornya di tinggal..? "
" pake mobil si Leo kali Sil.. kan si Grace juga pas jam makan siang cabut.. " celetuk Megan membuat Silvie menghela napas kasar.
Ari yang melihat ekspresi dari Silvie, kini menyunggingkan salah satu sudut bibir atasnya. sama seperti Megan, Ari juga sempat berpikir jika Silvie sudah menerima Grace kembali. itu sebabnya Ia santai memberitahu perihal Exel yang absen tadi siang.
jika Megan belum menyadari hal itu, berbeda dengan Ari yang langsung mengetahui bahwa Silvie belum menerima Grace, cukup hanya dengan melihat ekspresi wanita itu saja Ari bisa menyadarinya.
" itu di bengkel lagi trouble , lagi turun barang juga-"
" harus banget yah make tenaga laki gue.. kan montir laen banyak.. " sela Silvie kesal, dan itu sukses membuat Megan akhirnya menyadari jika Silvie belum kembali seutuhnya.
" mana gue tau, kerjaan Si El bagus makannya kepake kali.. "
" ya tapi kan gak harus nyuruh dia pas lagi ngampus juga keles.. "
" udah lo mending bareng kita aja.. " ucap Megan mengalihkan, dia tidak mau jika suami beserta sahabat yang notabenenya sama-sama bawel itu harus berdebat.
Silvie menggeleng menolak membuat Ari berdecak,
" kenapa gak mau, lo mau bawa motor laki lo? emang lo bisa? " hampir saja Ari menyebut nama Grace, wanita yang bisa membawa motor sport di antara sahabatnya.
kalimat itu saja sudah cukup membuat Silvie kesal karena merasa Ari sudah meremehkan kemampuannya. apa jadinya jika wanita itu mendengar nama Grace yang menjadi perbandingan kemampuannya.
" apa lo gak minat naik mobil jelek gue ya, jelek jelek juga hasil keringet gue sendiri ampe ke bool bool "
sontak Megan langsung mencubit pinggang Ari hingga suaminya itu meringis berlebihan.
" mulut, gak pernah di filter apa.. "
" elah.. lo aja kalo lagi kuda-kudaan sama gue kagak bisa di filter bie.. " sahut Ari santai seraya menaikturunkan kedua alisnya membuat Megan melotot sempurna.
__ADS_1
" yaudah gue ikut kalian deh.. "