
Tidak ada kalimat lagi yang Leo ucapkan sebab Grace sama sekali tidak menyahutinya. Dia bersyukur setidaknya istrinya itu mau menghampirinya walaupun antara sadar dan tidak.
Grace benar-benar terlelap begitu tenang dan damai dalam dekapan Leo. Hingga pagi menjelang, Dia sudah tidak menemukan Leo di sampingnya. bahkan si kecilpun sudah tidak ada di sana.
Grace melirik jam yang menggantung di dinding. ah rupanya Ia bangun kesiangan akibat terlalu nyenyak tidur dalam dekapan hangat sang suami, terlebih sebelumnya Grace memang dalam keadaan kekenyangan karena terlalu banyak makan.
" pagi bi.. "
Lilis yang sedang bebenah menoleh ke arah pintu kamar si kecil, dimana sang majikan menyapanya sambil menggeliat juga menguap membuatnya menggeleng berdecak.
" nyenyak banget si non tidurnya.. gak ada kuliah non? "
seketika mata Grace membola kala mendengar ucapan Lilis. hari ini Dia ada jadwal kuliah dan tepat setengah jam lagi kelas Wilson akan segera dimulai.
" mampus kalo gue telat, tuh dosen kalo ngasih hukuman suka gak kira-kira.. "
Grace tahu jika Wilson tidak pernah pandang bulu untuk menindaklanjuti siapapun yang telat dalam mata kuliahnya. tak terkecuali Grace yang notabene istri pemilik kampus tersebut. padahal jika di pikir kerena Leo lah Wilson bisa mengajar di sana. entahlah, Wilson hanya ingin bersikap profesional saja.
Grace menggaruk rambutnya yang berantakan sambil mondar-mandir di depan kamar si kecil.
" ini kalo gue lagi gak isi bisa aja gak telat, gue ajak si Rosi lari sat set sat set.. kelar urusan.. "
" Non malah mondar-mandir, apa emang gak ada kuliah hari ini? " celetuk Lilis membuat Grace menepuk jidat.
" Grace bakal telat bi, kelasnya mulai setengah jam lagi.. "
" lah si non tau telat ngapain masih diem aja.. "
" ini Grace lagi mikir, biar gak telat.. "
" kelamaan mikir makin telat non, udah bolos aja non.. "
" ish.. bi Lilis menyesatkan.. "
Lilis terkekeh seraya menggaruk kepalanya, " yaudah non kalo gitu, mendingan si non naik helikopter aja gimana.. biar bibi deh yang ngomong sama aden.. "
Grace mengacak rambut kasar, semakin gila saja ide Lilis itu. walaupun di sana tersedia helipad, tetapi jelas Dia tidak ingin membuat heboh seluruh penghuni kampus jika Ia benar-benar berangkat dengan helikopter.
" oh yah bi, papinya Cio udah berangkat yah.. " tanya Grace dengan ragu.
Lilis mengangguk, " tadi Den Leo buru-buru katanya mau ke rumah sakit dulu.."
" fiks, mending bolos sekalian.." sela Grace.
blughh..
__ADS_1
belum sempat Lilis melanjutkan ucapannya kembali, Grace sudah menutup pintu kamar dengan rapat.
" waduh.. si non keburu ngambek, harus telpon den Leo ini mah.."
...**...
Hari ini Grace kembali merasa hancur. padahal baru saja Dia akan memulai kembali menjadi lebih baik lagi bersama Leo, namun nyatanya Pria itu bahkan tidak berusaha memperbaiki hubungan rumahtangga yang sedang tidak baik-baik saja ini. Leo memilih kembali perduli dengan sahabatnya.
Grace kembali membaringkan diri di bawah gulungan selimut. Di luar tiba-tiba turun hujan sangat deras. kali ini membolos kuliah memang tepat, pikirnya.
Grace menangis dalam diam saat kembali teringat akan suaminya, tiba-tiba Ia merasa sesak di dadanya. air matanya lolos begitu saja, padahal Dia sudah mati-matian menahannya.
ceklek..
Grace mengusap matanya secara bergantian saat seseorang masuk kedalam kamarnya. kemudian Ia memilih pura-pura tidur.
" sayang.. Grace.. " suara Leo terdengar menggigil. Pria itu tampak basah kuyup.
Grace mencoba mengintip kemana perginya suara itu. rupanya suara suaminya yang hendak masuk ke kamar mandi. Grace memajukan bibirnya sebal karena Leo melewatinya begitu saja.
tak lama Leo keluar dengan pakaian yang sudah digantinya. Pria itu mengenakan kaos panjang beserta celana trening karena sekujur tubuhnya merasa dingin.
Grace mengintip dan memperhatikan setiap gerakan yang di lakukan oleh suaminya, dari mulai menyisir rambut sampai melangkah menghampirinya, hingga membuatnya menutup kembali matanya dengan rapat.
" demi Silvie babang tampan rela keujanan.. "
" Grace.. sebelumnya gue mau minta maaf atas semua kesalahan yang gue perbuat sama lo.. "
Leo sengaja menggantung kalimatnya sebab ingin melihat ekspresi Grace. dan ternyata istrinya itu diam tak menyahuti, tetapi sepertinya kali ini wanita itu minat mendengarkannya.
Leo menghela napas panjang sebelum melanjutkan kembali penjelasannya yang sebelumnya Dia percayakan kepada Lilis.
" kemarin si Ari masuk IGD, ternyata dia diem-diem punya penyakit di lambungnya, parahnya dibarengin vertigo makannya sampe opname.. " ucapnya begitu tenang, sementara Grace masih diam tak menyahuti.
" pas gue mau balik lagi ke kantor, gue papasan sama si El, dia ngajak gue masuk buat jengukin istrinya. menurut lo pantes gak kalo gue cabut gitu aja? "
Leo menatap Grace yang masih terdiam memunggunginya. Dia menunggu istrinya untuk mengatakan sesuatu kepadanya. tetapi hingga kini Grace masih bungkam tidak mengatakan sesuatu.
" Grace.. apa gue emang gak pantes dapet maaf dari lo? " tanya Leo dengan pelan, tetapi istrinya itu tetap diam dengan tatapan datar ke depan.
Dada Leo terasa menyempit. sikap Grace berhasil membuatnya lemah. kemudian dia mengalihkan tatapannya ke arah lain, bahkan Ia bangkit dari duduknya.
" okeh gak papa kalo lo belum bisa maafin gue, makasih.. setidaknya lo ngasih kesempatan gue buat ngomong.. "
Leo melangkah keluar dari kamar itu, meninggalkan Grace yang terus saja membelakanginya. Dia seperti tak di anggap oleh istrinya sendiri.
__ADS_1
sementara Grace menoleh kala mendengar pintu di tutup oleh Leo.
..." Leo.. " genangan air yang sedari tadi tertahan kini tumpah begitu saja membasahi pipinya. ...
...***...
Hujan semakin deras, udarapun semakin dingin rasanya. berlama-lama berdiam diri di kamar membuat Grace merasa lapar. memang sedari bangun tidur Ia sama sekali belum memasukkan makanan apapun ke dalam mulutnya.
lantas Gracepun ke luar dari kamarnya dan melangkah menuju dapur. sesampainya di meja makan, dibukanya tudung saji yang menampilkan aneka masakan yang sangat menggugah selera.
Grace menyantap makanannya hanya seorang diri. Dia tersenyum ketir ketika pandangannya tertuju ke arah jendela. di sana ada interaksi yang hangat antara suami juga anaknya.
Leo mengajak si kecil Cio melihat hujan di balik jendela kaca. si kecil terdengar tertawa saat air hujan tersebut menyentuh beberapa tanaman di bawah jendela.
" Cio suka? nanti papi ajak Cio mandi ujian deh.. "
keduanya terlihat bahagia melihat hujan, sementara Grace kini menggigit bibir bawahnya. makanan lezat yang disantapnya pun rasanya terasa hambar. ingin sekali rasanya Ia bergabung bersama suami juga anaknya di sana. tetapi setelah sikap yang ditunjukkannya kepada Leo, apa Ia pantas?
" bodo.. kan ada Cio.. " Grace menyambar gelas yang berisikan air minum dan Ia teguk sampai habis.
Kemudian dengan cueknya Grace menghampiri Leo juga Cio yang masih asyik melihat hujan.
" wah Cio suka yah liat ujan.. "
Leo mengulum senyuman. lihatlah siapa yang di ajak bicara, siapa yang di sentuh oleh Grace. yah, istrinya itu seolah tidak merasa berdosa memeluknya begitu saja dari belakang.
apakah Grace sudah memaafkannya dan malu untuk mengucapkannya? entahlah, yang pasti Leo membiarkan apa saja yang akan Grace lakukan, Dia tidak ingin istrinya itu merajuk kembali.
Lucio, bayi yang sudah bisa merangkak itu terlihat senang sekali menepuk-nepuk kaca, terlebih mendengar suara ibunya barusan.
Grace memajukan bibirnya kesal karena merasa terabaikan. Leo malah asyik menggoda si kecil. padahal Ia sudah menurunkan sedikit harga dirinya.
melihat si kecil yang sedang menggenggam biskuit di tangannya, membuat Grace menemukan ide untuk menarik perhatian Leo karena Dia sudah kehabisan akal.
" Cio.. aaa.. mami minta biskuitnya.. " Grace terpejam dan membuka mulutnya berharap si kecil mau memberikan biskuitnya.
" udahan yah sayang, tangannya cuci dulu, tuh mulut Cio juga belepotan.. "
mendengar itu Grace langsung membuka matanya. Ia menghentakkan kakinya kesal, kemudian mengikuti si kecil yang di bawa oleh Leo.
" biar sama saya aja Den.. " ucap Ratna dengan sopan.
Leo mengangguk kemudian memberikan si kecil kepada Ratna.
" eitsss.. mau kemana..? " Leo menyeringai mencekal lengan Grace yang hendak menyusul si kecil bersama Ratna.
__ADS_1
sontak Grace pun menelan ludahnya kepayahan karena gugup, terlebih Leo menatapnya begitu lekat. Pria itu semakin mendekat hendak membisikkan sesuatu.
" cuaca mendukung mami.."