Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 115


__ADS_3

Sesosok perempuan tengah memperhatikan aktivitas keluarga kecil Leo. Dia tersenyum ketir melihat betapa bahagianya keluarga Leo. di mana Leo juga Grace tertawa lepas mengajak si kecil bermain air kolam yang terdapat banyak ikan itu. sederhana, tetapi si kecil sangat excited begitupun dengan Grace juga Leo yang terlihat bahagia.


Sementara perempuan itu hanya bisa menatap iri terhadap keluarga lengkap Leo. berbeda dengan dirinya yang merasakan kesepian.


Silvie, perempuan yang akhir-akhir ini merasa kesepian setelah kehilangan calon anaknya. hari-harinya terasa hambar, bahkan perhatian juga kasih sayang yang Exel berikan untuknya, terasa tidak sehangat dulu.


" Sil.. " Megan menyentuh pelan bahu Silvie membuat sahabatnya itu terkesiap.


" mau pulang bareng gak? " tanya Megan.


Silvie menggeleng menolak, " lo duluan aja, gue nunggu bang El katanya mau jemput.. "


Megan mengangguk pasrah, " okeh, gue cabut duluan.. " ucapnya di angguki Silvie.


sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Silvie, Megan menghela napas berat, menatap sendu ke arah Silvie yang kembali mengamati aktivitas keluarga Leo.


Bukannya Megan tidak tahu apa yang tengah Silvie rasakan, Ia bisa dengan jelas melihat keresahan di wajah sahabatnya itu. hanya saja Megan tidak ingin membuat Silvie merasa tertekan jika terus menasihatinya. Exel saja sebagai suaminya yang tidak pernah bosan menasihati Silvie dengan halus, masih tidak di dengar, apalagi Megan.


*


" stop boy, lama-lama papi bau amis.. "


Leo mencoba menghentikan aksi si kecil yang mengusap wajahnya dengan air kolam ikan tersebut. sementara si kecil bukannya berhenti malah semakin menjadi-jadi dengan mencelupkan tangannya ke kolam itu dan mengulangi aksinya lagi dan lagi.


" good boy..! " Grace ikut menimpali sambil tergelak. wanita itu tampak senang jika suaminya menderita akibat ulah si kecil.


Leo mendengus sebal melihat Grace yang malah mengompori si kecil. kemudian Ia menggendong paksa si kecil menjauh dari kolam tersebut. tetapi sebelum melangkah menuju mobilnya, Leo mengusapkan tangannya yang sengaja Ia celupkan dulu di kolam tersebut ke wajah Grace. jelas hal itu membuat istrinya yang tengah tergelak seketika langsung murka.


" Leonard sialan.. " umpat Grace setengah berteriak menghampiri Leo yang melarikan diri dengan senyuman jahilnya.


" liat Cio, mami kalo marah tambah cantik.. " ucap Leo ketika Grace mendekat. istrinya itu tampak menghembuskan napas kasar, wajahnya cemberut menahan kesal. sialnya Leo suka sebab Grace terlihat begitu menggemaskan.


" apa-apaan lo? bini ngambek malah di suruh nyetir.. bujuk dulu kek.. " ucap Grace kesal sebab Leo dengan santainya menyodorkan kunci mobil kepadanya.


Leo terkekeh, " yaudah maaf ya sayang.. " ucapnya sok pasrah membuat Grace memutar bola matanya jengah.


" idih basi, lagian kenapa gak lo yang bawa aja sih..? tega banget bininya hamil suruh nyetir.. "


" itu tadi lo nyetir pas berangkat.. " sahut Leo santai, " kalo gue nyetir Cio siapa yang megang? "


Grace menggeleng menyunggingkan bibirnya, " terus pas lo kesini siapa yang megang Cio? itu lo bisa nyetir sambil bawa Cio.. pokoknya gue ogah bawa, mau molor.. "


" itu dia biar lo gak tidur.. "


perdebatan di depan mobil terus berlanjut sampai si kecil berceloteh sendiri sambil menggoyangkan tubuhnya kegirangan.


" ada apa Cio? " tanya Grace bingung melihat Cio yang terus saja menghentakkan kakinya.


Grace dan Leo menoleh dengan kompak ke arah yang di tatap oleh Cio. rupanya seseorang sedari tadi menggoda si kecil.


" El.. " ucap Leo heran menautkan kedua alisnya menatap orang tersebut yang melangkah menghampirinya.


" ngapain dia kesini? gak ada kelas kan, bukannya ada miting juga.. " gumam Leo heran.


" jemput bininya kali.. " sahut Grace santai.


" jemput bininya? " tanya Leo memastikan di angguki oleh Grace. sejenak Leo nampak berpikir seraya melihat raut wajah Grace yang nampak tenang dan biasa saja. apakah istrinya itu menjalani aktivitas kuliahnya dengan baik, mengingat sekarang ada Silvie yang mulai masuk kembali.


" Cio.. " panggil Exel kala sudah mendekat. Pria itu langsung mengambil si kecil dari gendongan Leo. si kecil nampak kegirangan kala Exel menggendongnya, keduanya sama-sama melepaskan kerinduan.


Sementara Leo dan Grace sama-sama diam membiarkan Exel yang terus mencium gemas si kecil. Leo juga enggan membuka pembicaraan atau sekedar basa-basi. dia terlalu berhati-hati memilah kalimat mengingat Grace tengah bermasalah dengan istri sohibnya itu.


" Cio ikut papi jemput mami yah? " tanya Exel kepada si kecil. sementara si kecil menanggapi dengan meremas kepala Exel.


interaksi tersebut tak luput dari perhatian orang-orang di sekitarnya. mereka berdecak kagum melihat Exel yang biasanya terkesan dingin, bisa sehangat itu jika bersama si kecil.


terlepas dari itu semua, ada sosok perempuan yang mengepalkan tangannya kesal. Dia merasa putus asa karena kehilangan calon anak yang pastinya menjadi sumber kebahagiaan suaminya. perempuan itu melangkah tergesa-gesa menghampiri Exel yang tengah asyik dengan si kecil.


" bang Ayo..! "


Exel menurut, Ia tidak ingin membuat istrinya kesal berkepanjangan. terlebih di sana banyak pasang mata yang memperhatikannya.

__ADS_1


Pria itu menyerahkan kembali si kecil ke tangan Leo,


" Cio, uncle pulang dulu yah.. " ucapnya lirih seraya mengusap lembut kepala si kecil.


Exel belum puas melepas kerinduan dengan si kecil. tetapi melihat kekesalan di wajah Silvie, membuatnya menurut pasrah.


sementara Leo menyunggingkan sudut bibirnya ketika meraih si kecil dari Exel. senyumannya tampak mengejek Exel yang terkesan pecundang tunduk dengan sikap buruk Silvie. sohibnya itu terlihat tidak punya pendirian juga tidak tegas terhadap istrinya.


" pulang sono lo, gak usah nemuin Cio lagi. bikin nangis anak gue aja.. "


Leo mengumpat kesal kala si kecil kembali menangis sejadi-jadinya.


sementara Grace malah terkekeh. Pria di hadapannya itu terlihat lucu, bagaimana tidak, Leo mengumpat ketika mobil Exel sudah menjauh. sia-sia bukan?


" udah ayo. gak jelas lo ngomel gitu.. " Grace dengan santai masuk ke dalam mobilnya. akhirnya Ia memilih mengemudi mengingat Leo tengah kewalahan menenangkan si kecil yang menangis.


sepanjang perjalanan si kecil terus saja menangis membuat Leo kewalahan. bahkan segala cara dan upaya membujuk si kecil agar diam sudah di lakukan oleh Leo, tetapi hasilnya nihil.


Lucio berhenti menangis dengan sendirinya karena kelelahan sampai terlelap di pangkuan papinya.


Leo menatap si kecil dengan sendu. di kecupnya kening yang basah dengan keringat itu. si kecil terlelap dengan mulut yang sedikit menganga dan masih terdengar sesenggukan akibat menangis terlalu lama membuat Leo kesal menyalahkan Exel. ya, karena kehadiran sohibnya itu membuat si kecil kembali rewel.


" besok besok papi gak bakalan biarin Cio nangis kayak gini lagi.. " gumamnya terdengar jelas oleh Grace yang kembali terkekeh.


" ini gara-gara si Exel sialan.. " Leo kembali mengumpat membuat Grace menggeleng.


" brisik lo.. udah kayak emak-emak aja lo.. "


" emang bener kan gara-gara si El anak kita rewel " sahut Leo sewot membuat Grace berdecak sebal.


" gak usah nyalahin orang.. emang kebetulan kali Cio rewel, lagian masa iya anak anteng terus.."


" emang kenyataannya dia yang salah.. " sela Leo tak mau kalah.


Grace menggelengkan kepalanya, " terserah lo dah, yang jelas siapa aja pasti gak enak kalo di jadiin sasaran atau di salahin.. "


" ya kalo salah ya salah.. emang gara-gara dia Cio jadi rewel " Leo semakin tidak mau kalah. Dia merasa istrinya itu malah membela orang yang menyebabkan putranya rewel.


sementara Grace terkekeh pelan,


akhirnya ungkapan itu mengalir begitu saja. Grace bercerita dengan pembawaannya yang tenang. Dia terlihat mahir mengontrol emosinya. tetapi percayalah, saat ini jiwanya begitu rapuh. ingin rasanya Grace berteriak kencang saat itu juga kala mengingat kembali masalah yang menerpanya.


Sementara Leo langsung menoleh ke arah Grace. menatapnya dengan sendu. Dia tahu perempuan di sampingnya itu sedang tidak baik-baik saja.


tadi Leo sengaja mengamati Silvie . Dia ingin tahu bagaimana sikap juga respon wanita itu ketika bertemu dengan istrinya. sepertinya hati Silvie belum terketuk untuk bersikap biasa dengan Grace membuat Leo bisa menyimpulkan bahwa istrinya tidak baik-baik saja. maka dari itu Leo sengaja bersikap menyebalkan mengajak Grace berdebat. sayangnya istrinya itu terlalu serius menanggapi ocehannya.


" Grace.. " panggilnya dengan lirih.


Grace menoleh dan tersenyum, seolah tahu Suaminya merasa bersalah. " it's okay.. gue baik-baik aja.. " sahutnya santai.


Leo menghela napas berat. selalu saja itu kalimat yang di dengarnya. Ia pun mengalihkan tatapannya ke jendela. Dia tidak ingin membahas masalah yang akan membuat Grace kembali merasa sedih.


.


.


.


" Grace, buka dasbor. ada sesuatu buat lo.. " ucap Leo mencairkan suasana ketika mereka tengah di lampu merah.


Gracepun menurut, Dia menyerit heran melihat suatu benda yang baru diraihnya. " buat gue..? " tanyanya di angguki Leo.


Grace berdecak sebal mengamati benda tersebut membuat Leo menautkan kedua alisnya.


" kenapa? lo gak suka? bukannya tadi pagi ngedumel masalah aksesoris.. "


sontak Grace melongo. padahal Ia hanya bergumam, tetapi Leo bisa mendengarnya bahkan langsung merealisasikannya.


" bisa gak sih ngasihnya entar pas di rumah, terus lo pasangin di leher gue biar ada romantisnya gitu.. " Grace bahkan membayangkan jika Leo melakukannya tadi di kampus di tengah-tengah para pengamat. Dia ingin memberi ultimatum kepada mereka.


Leo terkekeh, " sorry kecepatan yah, yaudah entar gue pasangin di rumah.. "

__ADS_1


" serah lo.. " sahut Grace ketus.


...****...


di waktu yang sama, Silvie kembali merajuk sepanjang perjalanan pulangnya. Dia tidak terima akan Exel yang terus menasihatinya dengan membawa-bawa nama Grace.


" Abang gak bisa ngertiin istrinya.. Grace lagi Grace lagi.." ucap Silvie kesal.


sementara Exel menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak tahan dengan sikap Silvie.


" gue tanya? dimana letak kesalahan si Grace? selama ini lo selalu minta di ngertiin perasaan lo. sementara lo? pernah gak lo mikirin gimana perasaan dia.. "


" belain aja terus si Grace.."


" dengerin gue Sil, si Grace sahabat lo, atas dasar apa sih lo bisa benci banget sama si Grace. lo bisa seenaknya bersikap kayak gini tanpa mikirin perasaan dia. "


Silvie terdiam dengan wajahnya yang masam, tetapi Exel seperti mendapat angin segar dengan diamnya Silvie. kali ini Pria itu akan mencecar kembali istrinya itu.


" jawab gue Sil? "


" karna dia selalu menang dari gue.. " sahut Silvie dengan nada tinggi membuat Exel mengepalkan tangannya kuat.


" salah. lo yang selalu menang segalanya dari dia.. masalah mental? sama dia juga terganggu atau bahkan dia lebih parah.. siapa yang tau kalo si Grace pinter nyembunyiin. buka mata sama hati lo Sil.. "


" abang belain aja dia, emang suka kan sama si Grace.. "


" gak usah nglantur sil, gue ngomong gini karna lo tanggung jawab gue.. "


" terserah.. jangan maksa gue buat kembali kayak dulu lagi.. "


Exel mencengkram kemudi dengan kuat. rahangnya mengeras.


" terserah yah? "


Silvie mengerjapkan matanya berulang kali. jantungnya berdetak kencang kala Exel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. " bang.. jangan gila.. " ucapnya ketakutan terlebih melihat raut wajah Exel yang dingin.


Silvie merasa cemas dengan sikap Exel yang tiba-tiba dingin itu. biasanya Exel akan mengalah, tetapi kali ini sepertinya suaminya itu sudah kehabisan kesabaran. seperti bom waktu yang siap meledak membuat Silvie takut Exel tidak bisa bertahan bersamanya.


bluggghhh.. Exel membanting pintu mobil dengan keras. kemudian Ia melangkah untuk membukakan pintu istrinya.


Silvie mengerut heran ketika membuka matanya. Exel tidak membawanya pulang ke rumah. tetapi malah membawanya ke kediaman orangtuanya.


" kenapa kesini bang? " tanya Silvie dengan suara pelan. tetapi Exel masih diam tak menjawab. Pria itu melangkah dengan angkuhnya di depan Silvie.


Keduanyapun masuk ke rumah megah tersebut. di sana sudah ada Shaw ayah Silvie beserta ibunya tengah menikmati secangkir teh hangat.


" loh.. kalian ko gak ngabarin mau kesini? tau gitu mamih masakin.. "


" gak perlu repot-repot mih, El cuma sebentar kok.. " ucap Exel seraya menyalami kedua mertuanya diikuti oleh Silvie.


Shaw mengamati Silvie yang membisu. biasanya putrinya itu terlihat ceria, bahkan suka berteriak saat masuk.


" kamu kenapa sayang..? " tanyanya seraya membelai lembut rambut Silvie.


Silvie menggeleng tersenyum mengisyaratkan dirinya baik-baik saja. Dia melirik Exel yang duduk disampingnya. Pria itu tampak tenang seperti tidak terjadi apa-apa.


" apa ada yang menyakitimu nak? " kini ibunya Silvie yang bertanya. dan lagi-lagi Silvie menggeleng tersenyum.


Sementara Exel menyunggingkan senyumnya. selama ini Dia sudah menutupi sikap buruk Silvie dari mertuanya. berharap Ia bisa mendidiknya sendiri dengan baik sebagai suami. tetapi nyatanya Silvie keras kepala juga hatinya. akankah Exel menyerah begitu saja?


" El.. ada apa? apa yang terjadi? jangan coba-coba nyakitin putri papih.. " ucap Shaw penuh ancaman dengan tatapan tidak ramahnya.


Sementara Exel tersenyum dengan pembawaannya yang tenang.


" El mau balikin putri papih.. "


deg..


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2