
Sial. satu kata umpatan yang keluar dari mulut Grace ketika bibirnya hampir berhasil mengecup bibir pria tampan dihadapannya. sial memang, gerimis yang datang tiba-tiba membuat adegan yang ingin dilakukan wanita itu gagal total.
kini keduanya tengah berteduh di salah satu stand kuliner. melihat raut wajahnya Grace yang tengah kesal, Leo hanya bisa menggeleng terkekeh. tentu saja dia tahu apa yang akan dilakukan istrinya tadi, ada perasaan tidak tega namun sedikit lega karena itu tidak terjadi. mengingat itu di tempat umum dan juga ada banyak pasang mata juga kamera yang menyoroti mereka.
" mau jajan gak..? " ucapnya seraya mengelus lembut rambut Grace berusaha mengembalikan moodnya.
Grace akhirnya mengangguk mengiyakan dan menatap satu persatu makanan yang tersaji di sana. " mau makan itu.. "
" hmm.. ayo duduk, biar gue pesenin.. " sahut Leo lembut kemudian mengajak Grace untuk duduk di bangku yang tersedia disana.
lagi. kehadiran sepasang kekasih itu membuat stand tersebut menjadi ramai dengan para pengunjung dan memilih menyantap apa yang dimakan Leo dan Grace juga.
" please, jangan pake sambel oke.. " ucap Leo kala tangan Grace hendak meraih sambal cabai. Leo bukannya tidak membolehkan Grace untuk makan pedas, hanya saja melihat sambal di sana membuatnya sedikit ragu. beruntung istrinya langsung mengangguk patuh.
" kenapa gak di makan..? " tanya Grace heran kala melihat Leo sama sekali tidak menyentuh makanan dihadapannya. Pria itu malah terlihat asyik mengamatinya yang sedang makan.
Leo menggeleng tersenyum seraya menghapus noda dibibir Grace dengan ibu jarinya hingga membuat istrinya bersemu salah tingkah.
" lo selalu cantik Grace.. "
" uhukkk.." seketika Grace langsung tersedak, dan Leo segera menyodorkan air mineral kepadanya. " please Leonard, kalo mau ngebual jangan pas gue lagi makan.. untung gak pedes-"
" itu mangkanya gue larang.. bisa-bisa keselek biji cabe-"
" oh.. jadi lo beneran ngebual nih.. ck.. " sela Grace ketus dan memalingkan wajahnya Kesembrang arah, hingga beberapa detik kemudian matanya membola membuat pria dihadapannya langsung panik.
" eh gak gitu sayang-"
" helm.. helm gue Le.. " sela Grace cemas kerena tiba-tiba teringat helm kesayangannya yang masih nyantol di motor, antara takut kehilangan dan juga kehujanan, itu yang ada di otak Grace sekarang.
sementara Leo yang tadinya sempat panik, kini Ia menggeleng terkekeh kemudian kedua tangannya meraup wajah Grace dengan gemasnya dan mengarahkan pandangannya ke arah dimana motornya terparkir hingga istrinya itu tersenyum lega.
" Grace.. " panggil Leo dengan suara beratnya dan sukses membuat Grace gugup kala menoleh kearahnya.
" hmm.. " hanya itu yang bisa keluar dari mulut Grace. dia terlalu gugup sekaligus terpesona dengan ketampanan suaminya sendiri. terlebih rambut yang sedikit basah karena gerimis tadi, malah membuat Leo semakin berkharisma saja.
Grace dibuat semakin gugup ketika Leo meraih tangannya dengan lembut. Grace menggigit bibir bawahnya saat merasakan debaran di dadanya terasa tidak beraturan. Dia menunggu apa yang akan diucapkan suaminya sekarang. kata cinta atau ungkapan lainnya yang selalu Grace nantikan.
" ayo pulang.. " ajak Leo dengan santainya bangkit dari duduknya meninggalkan Grace yang melongo bengong hingga wanita itu mengerjapkan matanya sambil mendesah kesal.
" sialan lo yah.. gue pikir mau ngomong apaan.. aylopyu ke apa ke.. gak peka banget emang.. " gerutu Grace yang pada akhirnya mengikuti langkah Leo menuju parkiran.
tau? para pengunjung lainnya juga langsung menghentikan aktivitas makannya begitu pasangan tersebut pergi dari stand itu.
.
.
.
" makasih banyak bos.. " ucap juru parkir kegirangan kala pemuda tampan dan keren memberinya beberapa lembar uang merah padanya.
" hmm.. thanks udah nyelametin helm kesayangan istri gue bang.. " sahut Leo terdengar dingin namun tulus karena juru parkir tersebut sudah menyelamatkan helm kesayangan istrinya. padahal yang dilakukan orang itu hanya membungkus helm milik Grace dengan kantong kresek, tidak ada istimewanya bahkan sama seperti helm milik orang lain juga. beruntung bukan?
sementara juru parkir tersebut dibuat menganga, bukan pasal menyelamatkan helm yang membuatnya terkejut, tetapi penuturan Leolah yang membuatnya melongo tak percaya.
" istri..kirain partner aplikasi ijo-"
__ADS_1
" kenapa? lo pikir gue l*n*te.. " celetuk Grace tiba-tiba membuat orang tersebut menelan ludahnya kepayahan. sementara Leo langsung mencekal lengannya dengan lembut.
" maaf neng..saya bercanda, saya kira kalian berdua-"
" apa? pasangan alay yang malam mingguan skidipapap di tempat gelap.. "
" udah sayang.. " sela Leo lembut dan tak lupa tersenyum semanis mungkin. jujur, dia juga kesal dengan juru parkir tersebut, namun untuk saat ini Ia memilih fokus mengembalikan mood istrinya.
" perlu lo tau, kita udah punya anak dua jalur halal.. "
" sayang udah, ayo pulang.. " bujuk Leo seraya menarik lengan Grace dan memakaikannya helm. beruntung istrinya itu menurut mengikutinya menaiki motor.
" sekali lagi gue liat muka lo, abis lo.. " celetuk Grace seraya membuka kaca helmnya ketika motor yang ditumpanginya melewati juru parkir tersebut.
sial, orang itu malah terkekeh dan terkesan meremehkan Grace hingga membuat wanita itu benar-benar murka. " wah anjing.. nantangin.. " teriaknya kesal tanpa memperdulikan keadaan sekitar. bahkan jika Leo memelankan sedikit laju motornya, Grace tak segan untuk turun dan menghajar orang itu. namun sayang, suaminya itu malah menaikan kecepatannya seolah melarang Grace untuk melakukan hal tersebut.
" lo gimana sih.. bini sendiri di katain l*n*te aplikasi ijo, bukannya belain malah kabur.. payah lo.. "
" aplikasi ijo apaan? ojek online, toko online, atau-"
" najis.. pokonya gue kesel sama lo Leonard, lo gak pernah peka.. bahkan lo lupa hari ini hari apaan.. "
" hari sabtu malam minggu.. "
" dahlah males.. "
dibalik helmnya, Leo hanya bisa terkekeh pelan. yang tadinya khawatir dengan perubahan mood pada diri Grace, namun kenyataannya dia senang jika istrinya cemberut seperti saat ini, menggemaskan.
Leo menarik tangan Grace dan melingkarkan di perutnya. tanpa protes, Grace menurut bahkan Ia memasukkan tangannya ke dalam saku jaket milik Leo hingga membuat pria itu tersenyum, mungkin udara malam membuat Grace merasa kedinginan sehingga balutan sarung tangan pun tak cukup pikirnya.
Salah, tebakan Leo salah sebab bukan karena merasa dingin alasan Grace memasukkan tangannya melainkan ingin mengambil ponsel miliknya di dalam sana.
Grace sama sekali tidak minat menyahuti Leo, karena jujur Dia sudah terlanjur kecewa dengan suaminya itu. pengecut yang memilih cari aman dan tidak membela ketika harga diri istrinya di rendahkan orang lain.
Grace kemudian menelepon seseorang setelah sebelumnya Ia mengirimkan pesan broadcast di grup geng motornya menggunakan ponsel Leo yang Ia ambil tadi.
" hmm.. lokasinya udah gue kirim.. kalian tinggal silaturahmi-"
chitttt.. suara rem dan ban depan yang bergesekan dengan aspal jalanan, membuat Grace mematikan panggilannya karena terkejut.
" lo mau ngapain Grace.. jangan aneh-aneh.. " ucap Leo tampak cemas karena tahu apa yang akan dilakukan istrinya itu yang tak lain hendak memberi perhitungan kepada juru parkir tadi.
namun sialnya Grace sama sekali tak mengindahkannya, intinya sudah kepalang kesal dengan juru parkir dan malah lebih kesal dengan suami yang tak melindunginya sama sekali.
" diem gak usah protes.. peduli apa sih lo sama bini sendiri.. " sahut Grace ketus membuat Leo menghela napasnya kasar. bagaimanapun juga Dia tidak ingin jika istrinya itu berulah dengan jiwa barbarnya itu. apalagi sekarang mereka sudah memiliki dua anak, apa salahnya sedikit berubah.
brumm.. suara motor dari belakang berhasil menyusul mereka ketika Leo hendak melajukan kembali motornya dan langsung urung karena motor tersebut menghadangnya.
Leo menyerit heran tanpa berniat sedikitpun untuk turun dari motornya, begitupun dengan Grace. wanita itu menyunggingkan senyuman dan memperhatikan orang yang berani menghadangnya. Grace juga menunggu apa yang akan di lakukan Leo terhadap orang itu dan sejauh mana suaminya itu akan melindunginya.
terlihat motor yang menghadang mereka itu ditumpangi dua orang yang dipastikan adalah sepasang kekasih dengan usia tak tak jauh dari Leo dan Grace.
" motornya cakep bos.. " celetuk pemuda yang menghadang itu sambil turun dari motornya diikuti pasangannya juga. pemuda itu tampak membuka helm ala slow motion kemudian memperhatikan dengan lekat motor yang ditunggangi Grace dan Leo sambil tersenyum meremehkan, dan lagi-lagi diikuti pasangannya.
" sama-sama moge.. tapi cakepan punya gue.. " lanjut pemuda itu dengan sombongnya Dia menggeser badan dan menunjuk motornya yang bertengger disana.
sementara baik Leo dan Grace sama-sama menggigit bibirnya menahan tawa dengan apa yang dilakukan pemuda itu. keduanya langsung bisa menyimpulkan jika pengetahuan seputar otomotif pada pemuda itu masih terbilang awam dan jelas bukan tandingan mereka.
__ADS_1
namun keduanya diam sambil memperhatikan gerak gerik pemuda itu yang terkesan sombong dengan motor yang katanya lebih keren itu. apalagi Grace, dia tampak minat sekali memperhatikan penampilan sepasang anak muda itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
ya pemuda itu tampak merogoh sisir kecil dari saku jaketnya kemudian menyisir rambut lepeknya dan mengantongi kembali sisir itu kedalam jaket. bahkan Grace dibuat terkekeh kala baru menyadari jika jaket yang di kenakan pemuda itu, tadi berjejer di beberapa stand pakaian.
" jamet, beli motor boleh ngadat sama emaknya kali.. jual kebon apa jual sawah.. " gumam Grace cekikikan dan hanya terdengar oleh Leo saja. suaminya itu langsung menegurnya melalui tepukan pelan di paha, ya walaupun sebenarnya Leo sendiri tak kuasa menahan tawanya juga.
" Ngomong-ngomong berapa duit nih bos? pasti lebih murah sama motor gue punya kan.. "
Leo mengangguk, Dia seolah tertarik menanggapi pemuda itu. apalagi Leo merasa jika Grace terhibur juga, terbukti dengan moodnya yang seketika langsung berubah begitu saja.
" iya bang ini mah murah banget, setengah dari motor lo punya.. " sahut Leo santai merendah membuat pria itu kembali tersenyum meremehkan.
sementara Grace, dia terkekeh dan mengangguk mengiyakan saja perkataan Leo barusan. toh di jelaskan juga tidak ada gunanya dan tidak berpengaruh samasekali dengan pemikiran pemuda itu yang memang awam seputar otomotif. jika saja pemuda itu tahu harga motor yang diejeknya, ah tidak.. bahkan helm yang di kenakan Grace saja lebih mahal dari pada harga motor milik si pemuda itu.
" jamet jamet.. pake helm lising aja belagu tingkat kecamatan.. " celetuk Grace terkekeh pelan dan lagi-lagi mendapat teguran dari Leo.
" berapa cc emang? boleh dong diadu.. " tantang pemuda itu sambil menendang ban depan motor Leo dengan kasar hingga membuat sang empu langsung melepaskan helmnya karena merasa sudah lancang.
" kecil cuma seri-"
" tu.. tu.. tuan.. Tuan Leonard.. " seketika si pemuda langsung gelagapan ketika melihat sosok pria yang tantangnya yang tak lain adalah bos besar di tempat Ia bekerja.
Sial. Dia baru menyadari jika Tuannya itu juga merupakan pemimpin geng motor yang terkenal di kota ini. wajahnya langsung pucat dengan keringat dingin yang mulai keluar di dahinya. apakah nasib pekerjaannya akan selamat?
gue kan baru liat Tuan Leonard pake motor ini..
" gimana? jadi adu gak nih..? " celetuk Leo membuyarkan lamunan pemuda itu. sebenarnya dia juga terkejut ketika pemuda itu memanggilnya Tuan. hanya saja sebisa mungkin Leo menyembunyikan rasa terkejutnya, begitupun dengan Grace yang sama terkejutnya.
pemuda itu langsung menggeleng dengan cepat sambil menunduk gugup. walaupun dia tak tahu menahu mengenai tenaga motor yang di tunggangi Leo, namun Dia hapal betul dengan kemampuan balapan tuanya itu dari hawar-hawar temannya bekerja.
" maaf Tuan.. maafkan saya, jangan pecat saya Tuan.. " tiba-tiba saja si pemuda itu memohon dengan bersimpuh di kaki Leo.
" anda bekerja dikantor saya..? " tanya Leo dengan mode dingin bak CEO kejam di cerita-cerita novel.
namun percayalah saat ini Leo mati-matian menahan tawanya, apalagi Dia mengetahui jika Grace tengah terkekeh dan memang hanya dirinya yang tahu karena keduanya memakai intercom helm. sepertinya menarik juga sedikit mengerjai si pemuda agar istrinya terhibur.
" iya Tuan.. tolong jangan pecat saya Tuan.. "
" hmm, bangun.. " titah Leo dingin membuat si pemuda mengangguk patuh dan langsung bangkit berdiri.
" memangnya kau bekerja di bagian apa..?"
" O.. O.. OB Tuan.. ampun jangan pecat saya.. " sahut si pemuda menunduk gugup, dia jelas tidak berani membalas tatapan horor dari Tuannya itu.
Leo manggut-manggut paham, karena memang Dia tidak sepenuhnya mengenal para pekerja di kantornya. jangankan sekelas OB, bagian lainnya saja Leo tidak tahu lebih tepatnya tidak mau tau selain staf sekertaris.
" udah lepasin aja, kasian entar dia mikirin cicilan motornya.. lo gak liat tulisan lising di helmnya segede gaban gitu.. itu biar otaknya kerja keras buat bayar cicilan.. " celetuk Grace sambil menepuk bahu Leo hingga membuat suaminya mengangguk sok setuju. padahal dia hanya ingin bermain-main sebentar saja.
" oke, kali ini kau beruntung karna istri tercantikku gak sabar minta pulang.. "
" hey, apaan lo kamprett? lo yang minta balik tadi, kang parkir lo diemin, giliran si jamet lo ladenin.. heran gue.. "
" hmm, sorry.. cantik jangan ngambek dong.. "
" dih gak jelas lo.."
jangan lupakan si jamet yang langsung ngibrit kabur membawa kekasihnya di tengah perdebatan unfaedah itu.
__ADS_1
" Mudah-mudahan beneran gak dipecat.. "