
" sarapan dulu bang.. "
Silvie, wanita itu sedari pagi sudah berkutat di dapur dengan peralatan masaknya. Dia bahkan mendahului ayam berkokok di pagi ini demi menyiapkan sarapan untuk Exel sebelum berangkat bekerja.
Exel mengangguk nurut, kemudian Dia mendudukkan dirinya di kursi sambil mengamati setiap gerakan Silvie yang tengah menyendokan nasi serta lauk untuknya.
" Beth lagi di rumah emak.. " celetuk Silvie sebelum Exel menanyakan keberadaan putri kecilnya.
Beth, nama putri pasangan tersebut. nama khusus pemberian dari Leo ditengah-tengah pertikaian antara Shaw dan Berwin yang bersikukuh ingin memberikan nama untuk cucunya. dan Exel lebih memilih nama pemberian dari sohibnya ketimbang dari orangtuanya tanpa menerima protes dalam bentuk apapun. mungkin diantara ketiga sohib, Exel lah yang patut dikategorikan sebagai anak pembangkang. bahkan Dia sudah terbiasa memanggil Tua Bangka, baik untuk Berwin ayahnya maupun Shaw mertuanya sendiri.
Lalu dari mana Leo mendapat nama tersebut? ah.. waktu itu dengan keberaniannya Ia berceletuk di antara pertikaian dua besan. dan nama Beth lah yang tiba-tiba terpikir olehnya. salah satu nama pemeran dari serial film Zombie favoritnya bersama Grace, sama dengan nama belakang putranya Grimes. walaupun Dia terkesan malas sekali berpikir, namun nama-nama tersebut memiliki makana yang baik.
Kembali lagi ke Exel. Pria itu tampak menghela napas panjang. sudah biasa Ia tidak mendapati putri kecilnya ketika dirinya terbangun dari tidur. putrinya sudah pasti akan Silvie titipkan di rumah Iyan Astro. seperti saat ini juga Dia sudah terbiasa dengan menu sarapan yang itu-itu lagi. sayur bening bayam dan tempe goreng, masakan yang baru dikuasai oleh istrinya.
" enak banget.. " puji Exel setengah berdusta sebelum Silvie mengoceh menanyakan bagaimana rasa masakannya. dan kalimat itu Exel jadikan untuk membungkam kecerewetan istrinya. Exel tidak mau ambil pusing, bahkan Dia tidak berani protes ketika Silvie menitipkan putrinya dengan alasan sibuk memasak, sekedar sayur bayam.
seketika raut wajah Silvie tampak merona mendengar pujian dari Exel. Dia sama sekali tidak bosan dengan kalimat itu setiap harinya, sama seperti menu masakan yang dia sajikan, sama sekali tidak bosan untuk memasaknya selagi suaminya sudi memakannya bahkan memujinya.
" yaudah besok Silvie masak ginian lagi.. " sahutnya antusias.
belum kenyang Exel menikmati rona di wajah Silvie, seketika senyumannya luntur kala harus menerima kenyataan yang monoton lagi.
" hmm.. boleh.. " timpal Exel pasrah dan melanjutkan kembali menyantap makanannya yang terasa hambar itu.
Setelahnya, Exel berpamitan kepada Silvie dengan melakukan sepaket kecupan seperti biasanya mereka lakukan setiap hari.
" abang berangkat dulu.. baik-baik di rumah.. jangan dipaksain kalo capek.. " ucapnya sambil mengusap kepala Silvie. istri yang selalu mengeluhkan pekerjaan rumahnya walupun Exel sendiri yang selalu menuntaskannya. misalnya cucian baju yang masih berbusa, dan pekerjaan lainnya selalu Exel yang menuntaskannya sehabis pulang bekerja.
masalah warung kelontong? emaknya Iyan Astro yang ikut andil bahkan menyambi mengasuh anak mereka. maka dari itu, terkadang Exel bertanya kepada dirinya sendiri apa yang harus dikeluhkan Silvie? semuanya sudah terkendali tanpa tenaga istrinya. Exel juga bisa saja membayar orang untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya dari pagi pulang sore. akan tetapi Ia tidak ingin menyinggung perasaan Silvie yang selalu mengklaim sebagai ibu rumah tangga idaman.
" iya bang hati-hati.. "
Exel mengangguk dan mulai melajukan motornya yang sedikit basah oleh air embun, mengingat Ia berangkat di pagi buta. biasanya Exel akan menunggu dulu putrinya dengan emaknya Iyan sebelum berangkat, namun suatu urusan mengharuskannya berangkat sepagi ini.
...-----...
" harus hari ini juga? "
" Yoi.. lo kaya gak tau si bos aja.. "
Exel menghela napasnya dengan kasar. baru saja Ia direpotkan dengan pengecekan stok sparepart di gudang dan juga harus menghadapi beberapa supplier yang datang bergantian ke bengkel, kini Ia mendapat tugas menuntaskan pembukuan yang mengharuskannya menemui pemilik bengkel tersebut.
"ck.. kenapa gak ke kesini aja tuh orang.. " gumamnya kesal terhadap sang pemilik bengkel yang tak lain adalah Leo sohibnya. merepotkan sekali bosnya itu, menyuruh seenaknya.
" bosmah bebas.. " celetuk Ronald yang tak sengaja mendengar gumaman Exel.
Exel mengangguk setuju, " hmm.. bebas mau ngasih upah berapa juga.. " sahutnya terkekeh mencoba menghibur diri. terlepas dari itu, Dia juga ingin mengingatkan Ronald dan montir yang lainnya akan kebaikan sang bos yang selalu memberi upah dengan jumlah yang tak main main. bagaimana pun juga Exel tidak mau sosok sohibnya di pandang buruk sebagai bos oleh teman-temannya. biarkan hanya dirinya yang mengumpat. ck..
" kalo itu kita setuju.. bengkel mana yang ngupahin montir gede kek kita.. " sahut Ronald mengangguk mantap disusul yang lainnya juga, yang memang menyetujui jika bosnya selalu menghargai tenaga siapapun.
.
.
.
Exel sudah tiba di kediaman Leo, Dia masih mengenakan wearpack bengkel kerena terlalu buru-buru, dan lagi ini masih terhitung jam kerjanya.
" lagi ngapain bos? " baru saja Exel turun dari motornya, dia disuguhkan dengan kehadiran wajah berantakan Grace.
Grace sedang duduk sembarangan di garasi, Dia masih mengenakan kolor dan kaos polos bekas tidurnya tadi malam, serta sendal jepit kebanggaan dan juga rambut yang acak-acakan membuat Exel yang melihatnya menggeleng terkekeh.
__ADS_1
" menurut lo..? " sahut Grace ketus, bisa-bisanya Exel bertanya yang sudah jelas tahu jawabannya.
" Cio apa Gwen? " celetuk Exel menanyakan siapa pelaku yang membuat wanita di hadapannya bisa sekesal itu.
Grace saat ini sedang membersihkan tangki bensin yang terisi air. walaupun itu bukan motornya, melainkan motor milik ketiga pegawainya , namun hanya Grace yang bisa melakukan pembersihan dan juga pembongkaran tangki tersebut.
sebelumnya, Grace memang membelikan ketiga pegawai rumahnya masing-masing satu unit motor matic guna keperluan sewaktu-waktu dibutuhkan. tak jarang Grace juga suka meminjam sekedar ke minimarket depan komplek bersama anak-anaknya.
tapi pagi ini ada kejadian yang membuatnya harus ekstra bersabar menghadapinya. dimana kedua anaknya memasukkan air kedalam tangki tangki itu memperagakan apa yang mereka lihat di pom bensin.
" dua-duanya.. pusing gua.. " sahut Grace yang masih sibuk dengan aktivitasnya.
" lo gak usah nyalahin mereka, anak kecil mana ngerti kalo orang gedenya teledor naro konci.. tiga-tiganya lagi.. " ucap Exel mengingatkan, karena memang tidak sekali duakali kejadian seperti ini terjadi pada Grace. kedua anak Grace memang hyperactive dan serba ingin tahu sehingga kejadian seperti ini sudah tak aneh lagi bagi Exel.
mendengar ocehan yang malah membuat moodnya semakin berantakan, seketika Grace langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap nyalang ke arah Exel.
" bawel lo.. mending lo lanjutin nih.. masih jam kerja kan..? " sela Grace sewot membuat Exel menelan ludahnya kepayahan. belum juga melaksanakan tugas dari Leo, Dia malah harus mengerjakan tugas dari Grace juga.
" kenapa? gak bisa bongkar manual hmm? " ejek Grace dengan wajahnya yang menyeringai.
Exel memutar bola matanya malas. Dia agak menyesal memberi nasihat kepada orang yang sedang dikuasi kekesalan. tapi apa salahnya jika Ia melindungi keponakannya. menasihati Grace malah berbuah kesialan dan berujung ejekan saja.
" uncle.. !!! " suara kompak kedua anak Grace yang tiba-tiba menghampiri Exel dan berebut untuk digendong membuat Pria yang mematung merasa terselamatkan.
" hey.. uncle mau kerja dulu okey? " sahut Exel seraya mengusap kepala mereka secara bergantian. Dia berharap agar Grace sedikit tersentuh untuk mengurungkan niatnya.
" ya betul.. uncle gak bisa diajak maen dulu.. " Grace menimpali dengan raut datarnya membuat Exel memajukan bibirnya kesal. Dia pikir caranya memelas akan berhasil, namun ternyata sia-sia.
" no.. uncle please.. " Lucio tampak memohon diikuti Gwen agar Exel bermain bersama mereka. keduanya memeluk erat kaki Exel membuat Pria itu kesulitan bergerak.
Exel kemudian berjongkok dan menatap keduanya dengan lembut memberi pengertian.
" uncle harus benerin motornya mbak.. siapa yang buat hemm? "
" tau anak siapa si lo berdua.. "
" Grace..! " tegur Exel menatap tajam ke arah Grace. ini bukan pertama kalinya Grace melontarkan kalimat kekesalan kepada kedua anaknya yang bahkan belum sepenuhnya mengerti mana yang baik mana yang buruk.
mendapat tatapan tajam seperti itu, Grace langsung menunduk sambil cemberut. bahkan sikapnya lebih kekanak-kanakan dari pada kedua anaknya. itu mengapa Exel selalu menyuruh Grace dan Leo untuk berkaca, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya harus berlaku bagi mereka. dari mana lagi sifat petakilan Cio dan Gwen kalau bukan dari mami papinya?
" say Sorry.. "
Lucio dan Gwen mengangguk patuh kala Exel menyuruh mereka meminta maaf kepada Grace. ah lebih tepatnya Exel juga ingin Grace berpikir dua kali ketika harus kesal kepada anak-anaknya. bagaimana bisa anak selucu itu disalahkan ibunya sendiri.
" sorry mami.. " seru keduanya dengan kompak menghampiri Grace dan langsung berebut memeluknya.
" mami yang harusnya minta maaf.. mami gak marah kok.. bi Lilis yang marah.. "
cih.. Exel mendengus kesal, baru saja Dia bernapas lega dan terbuai dengan sikap manis mereka, sempat-sempatnya Grace mengelak.
setelah merasa puas memeluk maminya. keduanya pun kembali mendekati Exel dan masih mengharapkan pamannya agar bermain saja bersama mereka.
" papi mana hmm? "
" masih molor..! " sela Grace kembali ke mode kesalnya.
Exel menggeleng terkekeh, rupanya selain tingkah random anak-anaknya, ada pemicu lain yang membuat mood Grace buruk hari ini.
" bangunin papi gih.. uncle ada perlu sama papi.. "
" pembukuan? serahin sama gue.. udah lo urus aja tuh tangki tangki.. "
__ADS_1
Sial. satu kata umpatan di dalam hati Exel. upaya mengalihkan perhatiannya, malah cepat terendus oleh Grace yang seolah tahu niatannya untuk menghindari tugas itu.
" makan dulu sono.. " celetuk Grace membuyarkan lamunan Exel. anggaplah ajakan makannya kali ini sebagai bentuk terimakasih karena Exel bisa menundukkan Lucio dan Gwen untuk segera meminta maaf kepadanya.
Exel menggeleng menolak, Dia harus segera melakukan tugasnya, karena setelahnya Dia berniat akan bermain dengan keponakannya.
" gue udah makan tadi di rumah.. "
" oh iya.. popay.. " celetuk Grace terkekeh mengejek. Dia sudah hatam dengan menu sarapan Exel, karena memang Silvie selalu memposting masakannya dengan bangga di akun sosial media.
" bi Lilis masak sayur lodeh sambel ikan asin.. ter-"
" iya gue mau.. " sela Exel antusias mengikuti Grace masuk ke dalam rumah. bagaimana bisa Ia menolak makanan yang akhir-akhir ini langka dimakannya. terlebih Ia memang belum merasa kenyang sepenuhnya. Exel juga biasanya akan melanjutkan makan di kedai Ari ataupun di cafe sebelah bengkel setelah sarapan dengan menu monoton nan hambar.
tetapi Exel masih bisa bersyukur dengan Silvie yang selalu masak sayur bayam, setidaknya itu menjadikannya alasan agar tidak membawa bekal ke tempat kerja. karena memang sayur bayam biasanya tidak bisa bertahan lama.
.
.
.
.
Grace tersenyum tipis kala melihat Exel begitu menikmati makanannya dengan lahap. ada perasaan tidak tega di dadanya ketika mengetahui Pria yang sudah Ia anggap sebagai kakaknya sendiri itu harus makan dengan menu yang sama dan tanpa rasa setiap harinya. Grace juga sangat menyayangkan ketidakmampuan Silvie dalam hal memasak, padahal di jaman secanggih ini tentu banyak referensi yang memudahkan kehidupan umat seperti memasak.
" lo gak pernah nyicipin masakan sendiri? "
" ngapain? gue yakin enak kok.. toh langsung ludes sama abang El.. "
" terus lo makan apaan? "
" delivery dong.. kalo gak masakan emaknya si Iyan.. "
itulah kira-kira percakapan Grace bersama Silvie yang membuat Grace menepuk jidat frustasi. entah setebal apa kesabaran Exel menghadapi istri macam Silvie. yang pasti tidak seperti dirinya yang memiliki kesabaran setipis tisu. Lucio dan Gwen saja yang masih kecil bisa kena omelannya. ck..
.
.
.
Grace kemudian masuk kedalam kamar hendak membangunkan Leo. suami yang belum mengetahui kejadian pagi ini karena terlalu pulas setelah olahraga semalam yang cukup menguras tenaga. ehem..
" Leonard.. lo gak bangun, terong lo gue satuin sama sayur lodeh mau..? "
" shhiiittt... " Leo langsung mengumpat kesal walaupun nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. pasalnya selain berteriak tepat di kupingnya, Grace juga memelintir keras barang berharganya yang baru saja beristirahat itu.
" mangkanya bangun.. anak lo noh berulah lagi.. "
" ck.. pecicilan kek emaknya.. " sahut Leo seraya menggosok-gosok telinganya yang terasa pengang. kemudian Ia beranjak menuju kamar mandi dengan santainya membiarkan belalai menggantung kemana-mana.
" sialan.. lebih pecicilan mana sama yang dulunya masukin tusuk sate ke lubang kunci motor orang di parkiran minimarket hemm? " teriak Grace tak terima dengan ucapan Leo. sedikit tahu mengenai masa lalu suaminya dari mama mertua menjadikannya sebagai senjata untuk berdebat seperti sekarang.
tak lama Leo keluar dari dalam kamar mandi dan masih dalam keadaan n*k*d. Dia sengaja memperlihatkan barang kebanggaannya di hadapan Grace. siapa tahu istrinya itu akan meminta pengulangan semalam.
" kalo dulu tusuk sate masuk lubang kunci, sekarang boleh dong-"
" gak.. buruan noh Si El nungguin.. kasian anak orang tibang minta tandatangan lo doang dibikin repot.. "
" ck.. kasian abang El.. " sahut Leo dengan bibir menye-menye sehingga membuat Grace tak segan menumpuknya dengan bantal.
__ADS_1
Leonard nyebelin..